Sabtu, 30 Juni 2012

Inilah Cara Mengatasi Galau



Kegiatan menulis sebenarnya dapat pula digolongkan sebagai terapi yang mampu menetralisir, bahkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, hingga ke taraf depresi sekalipun”.
Dr. James Pennebeker 
Great Hypnotist
Entah kapan pertama sekali istilah galau merebah di Indonesia. Ia menyebar bak virus mematikan bisa beredar lewat udara. Terlepas kapan pertama dia lahir dan merasuki buah bibir orang-orang. Bahkan, iklan menjadi menarik karena terjangkit virus ini. Sementara saya sendiri, mendengar “galau” lewat televisi.

Apalagi di facebook, hampir setiap hari ada menyebutnya. Begitu hebatnya kata ini. Meski saya tidak memahami makna kata ini sebelumnya. Tetapi, saya sering menyebutnya, supaya suasana kelas training sedikit relaks. Terkadang, juga agar dianggap gaul.
Sebenarnya yang hebat, bukanlah kata itu sendiri. Justru, penyebar yang membuat pendengar itulah lebih hebat. Karena, dia mampu menanamkan sebuah pesan, langsung tertancap di bawah sadar pendengarnya. Proses memasukkan pesan ini, tak ubahnya seperti penghipnotist handal. Menghipnosis dalam kondisi terjaga tanpa tidur, tetapi pesannya tersampaikan dengan baik. Bahkan diingat selamanya.
Bila demikian, mulai sekarang kita harus mewaspadai penghipnosis handal yang menetap hampir di seluruh rumah penduduk Indonesia raya ini. Anda tentu faham maksud saya kan? Itu lho, televisi. Kedahsayatan menghipnosisnya, mengalahkan hipnotist manapun. Sekalipun Rommy Rafael. Karena, dia mampu melenakan kita. Siang dan malam. Benar kan?
Menelusuri kata galau
Sementara itu, mari kita kembali dengan hikayat galau. Agar maksud dari tema catatan ini, ramah dalam tatanan pengertian Anda. Saya mencari padanan katanya di internet, supaya mendapat pengungkapan dengan bahasa lebih membumi. Di sana saya dapatkan, galau sejajar dengan khawatir, bimbang, gelisah, panik, bingung, cemas dan pikiran tidak karuan.
Nah, kira-kira, pada minggu pertama bulan April 2012. Pikiran saya agak tidak karuan. Dampaknya, emosi saya pun juga tidak stabil. Saya lupa persisnya, apa kejadiannya saat itu? Namun, rasa-rasanya, seperti bingung harus melakukan apa. Dan, serba salah jika bertindak. Begitulah yang saya alami.
Lazimnya, bila pikiran timbul tenggelam yang tak mampu saya kontrol muncul. Maka, saya segera duduk bersila dan memfokuskan diri saya hanya pada nafas masuk dan keluar. Menyadari setiap percikan-percikan gambar berseliweran tak jelas judulnya. Serta, menikmati proses yang sedang  saya alami.
Menulis dapat mengatasi galau
Akan tetapi, pada 4 April yang lalu. Saya menempuh langkah berbeda. Saya mau mengamalkan hasil penelitian para pakar—yang intinya—menulis bisa menenangkan jiwa. Menulis dapat mengatasi permasalahan pikiran. Seperti penelitian Seorang ahli bahasa, Dr. Stephen D. Krashen, dalam hasil risetnya yang termuat dalam buku “The Power of Reading.
Menulis dapat membantu kita memecahkan masalah yang membelenggu pikiran kita. Karena dengan menulis, kita akan mampu mengekspresikan apa saja yang hendak kita tuangkan, yang barangkali selama ini telah lama terpendam.
Selain itu, Dr. James Pennebeker, guru besar psikologi University of Texas, Austin, Amerika Serikat dalam “Journal of Consulting and Clinical Psychology” edisi April 1998, menyebutkan. 
Orang-orang yang memiliki kegiatan menulis, pada umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat daripada mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. Dengan mental sehat hal itu tentunya akan memberi stimulan yang positif pada tubuh kita secara fisik.
Menulis dapat mengatasi depresi
James menambahkan, Kegiatan menulis sebenarnya dapat pula digolongkan sebagai terapi yang mampu menetralisir, bahkan bisa menyembuhkan berbagai penyakit jiwa, hingga ke taraf depresi sekalipun
Seperti telah dibuktikan dalam penelitiannya di Fakultas Psikologi Universitas Southern Methodist, orang yang mengalami suatu penyakit mental akibat masalah sosial atau mungkin trauma akibat peristiwa yang dialaminya di masa lalu, akan menjadi merasa lebih sehat. 
Secara ilmiah, di mana orang-orang yang diteliti, lalu diuji sampel darahnya, baik sebelum mereka melakukan kegiatan penulisan, maupun sesudahnya. Naskah yang mereka tulis adalah curahan hati mereka terhadap peristiwa atau trauma social yang pernah dialaminya.
Hasilnya, terdapat peningkatan sel darah putih pada saat mereka sudah menuliskan apa-apa yang menjadi curahan hati mereka, ketimbang sebelum mereka menulis.
Ini yang saya lakukan 
Lalu, saya segera menyalakan laptop, dan membuka new document. Langsung saja, tanpa memikirkan apa yang harus saya tulis? Saya mengetik dan mengetik saja. Saya tidak tau persisnya apa yang mau saya uraikan. Namun, saya hanya mengikuti emosi yang bergejolak di dalam diri saya, akibat kegalauan tadi.
Luar biasanya, setelah saya menulis mencurahkan apa yang saya rasakan, sebanyak dua paragraf. Ya. Dua paragraf, bukan halaman. Tiba-tiba saja, pikiran galau perlahan-lahan mulai menghilang. Perasaan saya pun menjadi tenang. Bahkan, menariknya, saya menghasilkan sebuah tulisan saat itu.
Sungguh menarikkan? Oleh sebab itu, saya menyarankan kepada Anda, bila sedang galau, segera menulis perasaan Anda di atas selembar kertas, atau pada gadget Anda. Laptop juga bisa. Mudahan-mudahan kegalauan Anda segera hilang. Seperti yang sudah saya praktekkan.
Ciganjur, Minggu, 29 April 2012
Rahmadsyah Mind-Therapist
Selasa, 5 Juni, 2012 01:54

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar