Sabtu, 30 Juni 2012

Menghadapi Atasan Yang Ditakuti



Catatan Kepala:Atasan yang ditakuti itu seperti pintu gerbang yang terbuka lebar menuju pertumbuhan pribadi dan perkembangan karir di jalur paling cepat.”
 
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Seseorang berjalan di selasar kantor. Tiba-tiba dia berbelok secara mendadak. Kenapa dia berbelok? Karena dia melihat kalau boss besar sedang berjalan di selasar yang sama menuju ke arahnya. Dari pada harus berpapasan dengan boss, dia memilih untuk pura-pura berbelok. Kondisi yang saya ilustrasikan ini bukanlah rekaan semata. Itu adalah kejadian nyata di dunia kerja kita. Apakah Anda pernah menemukan situasi yang sama di tempat kerja Anda? Sekarang, mari bayangkan; ketika semua orang menjauhi atasan yang ditakuti itu – Anda justru mendekat kepadanya. Seandainya Anda berhasil menjadi mitra terdekatnya; kira-kira manfaat apa yang bisa Anda dapatkan?

Diantara sekian banyak orang yang menghindari berpapasan dengan atasan yang ditakuti itu, ada satu karyawan yang melakukan hal berbeda. Dia berjalan lurus. Berpapasan. Saling menyapa. Dan ternyata? Dia tidak mengalami hal buruk apapun. Bahkan, kemudian orang ini menjadi semakin dekat dengan atasan yang ditakuti itu. Lalu, dia mendapatkan kepercayaan yang lebih besar. Dan jabatan yang lebih tinggi. Orang ini menemukan bahwa atasan yang ditakuti itu seperti pintu gerbang yang terbuka lebar menuju pertumbuhan pribadi dan perkembangan karir di jalur paling cepat. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengambil manfaat dari kehadiran atasan yang ditakuti, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
1.      Kita membutuhkan mentor tangguh. Kualitas tinggi hanya bisa diraih melalui konsistensi atas tindakan-tindakan luar biasa. Untuk bisa konsisten, kita butuh kedisiplinan. Sedangkan sifat alamiah manusia adalah melakukan sesuatu sesuka hati. Sayangnya, hal-hal yang dilakukan sesuka hati itu sering lebih mengedepankan ‘apa yang kita suka’ daripada apa yang semestinya kita lakukan. Karena cenderung mengikuti ego, kita sering tergoda untuk melakukan ‘yang enak-enaknya saja’. Walhasil, kualitas pribadi kita menjadi semakin jauh dari keunggulan. Atasan yang sangat menuntut biasanya adalah pribadi yang tegas dalam menerapkan kedisiplinan. Kita sering tidak menyukainya karena dia menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang ‘bukan yang kita inginkan’. Padahal, orang seperti inilah yang bisa menjaga kita untuk tetap dalam jalur tindakan-tindakan luar biasa itu. Itulah mentor yang tangguh.
2.      Memandang dari sudut yang sama. Ketidakcocokan kita dengan orang lain seringkali hanya disebabkan oleh perbedaan sudut pandang. Ketika kita memandang dari sudut yang sama, tiba-tiba saja semua persepsi menjadi sama. Lalu perbedaan menjadi tidak bermakna lagi. Begitu pula halnya dengan hubungan antara atasan dan bawahan. Kita sering tidak menyenangi atasan karena kita belum memiliki kesamaan pandangan. Bukan karena kesalahan atau kerusakan moral yang bersangkutan.  Oleh karenanya, penyebab utama mengapa kita tidak cocok dengan atasan adalah karena kita tidak menggunakan sudut pandang yang sama dengannya. Belajarlah untuk menggunakan sudut pandang yang sama. Maka kita, akan memahami, mengapa atasan kita berprinsip atau bertindak seperti itu. Dan kita bisa menemukan kecocokan dengannya. Sehingga kita sudah tidak takut lagi kepadanya.
3.      Berikan masukan secara tulus. Kebanyakan orang berprinsip begini;’Sia-sia saja memberi masukan pada atasan. Dia tidak akan mau mendengar masukan dari kita”. Dari pada menyampaikan kritikan itu secara langsung, mereka pilih menggunjing atau berkasak-kusuk di belakang. Walhasil, kedua belah pihak tidak mendapatkan manfaat apapun. Mana yang Anda suka, seseorang membicarakan keburukan Anda dibelakang. Ataukah orang yang datang kepada Anda, lalu menyampaikan masukan dan kritikan itu langsung kepada Anda? Normalnya, Anda pilih opsi kedua. Begitu pula atasan Anda. Terlebih lagi jika kebanyakan orang takut untuk bertemu dengannya. Maka ketika Anda sanggup memberikan masukan konsttruktif yang tulus kepadanya; Anda akan menjadi orang yang langka baginya. Dan nilai Anda akan menjadi semakin baik dimatanya.
4.      Raih kepercayaan darinya. Setiap orang membutuhkan orang lain yang bisa dipercaya. Tidak selalu terkait hal-hal rahasia. Tetapi juga hal sederhana soal kepercayaan dalam mengerjakan suatu penugasan. Atasan Anda tidak punya banyak pilihan. Karena beliau tahu jika kebanyakan karyawan ogah dikasih tantangan pekerjaan yang susah. Maunya yang gampang-gampang saja. Jika Anda mengambil arah yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya. Lalu Anda membuka diri untuk kemungkinan penugasan yang berat itu, maka Anda berpeluang untuk memperoleh kepercayaan yang sangat sulit diberikan itu. Atasan Anda punya tugas-tugas penting yang tidak bisa diselesaikan sendirian olehnya. Beliau butuh mitra terpercaya. Yang handal. Tangguh. Tahan banting. Bisa diajak berlari kencang. Dan tidak mengkerut saat dilecut. Jika Anda bisa memenuhi kriteria itu, maka Anda akan bisa meraih kepercayaan darinya.
5.      Berfokus kepada kinerja dan profesionalitas. Jika diperhatikan dengan seksama, setiap atasan yang ditakuti selalu mempunyai ‘orang dekat’. Dan coba perhatikan lagi, setiap orang yang dekat dengan atasan yang ditakuti berpeluang untuk dituduh  secara negatif. Dengan dekat kepada atasan yang ditakuti, mungkin ada juga orang yang memandang Anda secara miring. Namun, prasangka negatif itu bisa sirna jika selama membangun kedekatan itu Anda menunjukkan kinerja dan profesionalitas yang tinggi. Memang mudah untuk menuduh yang tidak-tidak kepada orang yang kinerjanya buruk dan profesionalitasnya rendah. Namun, kepada orang yang nyata-nyata menunjukkan kemampuan yang tinggi, bahkan lawan pun akan respek kepadanya. Maka tantangannya adalah; bisakah kita menjadi orang dekat sang atasan yang ditakuti itu, dengan mengedepankan kinerja dan profesionalitas kita yang tinggi.
Memang banyak kok atasan yang sulit. Perfeksionis. Menuntut. Bawel. Banyak maunya. Sering menyuruh yang susah-susah. Faktanya, atasan seperti itu sering dijauhi oleh bawahannya. Artinya, hanya sedikit orang yang bisa masuk ke dalam ‘wilayahnya’. Oleh karenanya, hanya  sedikit pula orang yang menjadi pilihan untuk diberinya kepercayaan yang lebih besar. Bagaimana Anda melihat situasi itu? Apakah sebagai keadaan menyebalkan. Ataukah sebagai peluang?  Pilihannya ada di tangan Anda. Namun mari bayangkan jika Anda bisa menjadi salah satu dari orang yang sedikit itu. Bukanlah ada begitu banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan? Dicoba deh.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

 
Catatan Kaki:
Bukan atasan yang harus menyesuaikan diri dengan kita. Jika ingin maju, kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan gaya mereka.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Minggu, 10 Juni, 2012 23:24
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar