Sabtu, 30 Juni 2012

Properti Juga Portofolio

Oleh: Andre Vincent Wenas

Informasi adalah unsur krusial jika properti jadi bagian dalam portofolio investasi Anda. Kapan waktu yang tepat untuk beli, dan kapan mesti jual. Salah satu kiatnya adalah rajin ngobrol dengan agen properti.

Kalau perlu, jalin hubungan dengan lebih dari 10 agen properti. Dengan begitu, di setiap hari kerja, Anda bisa menggali informasi dari satu agen, dan kembali ke agen yang
sama dua minggu kemudian. Lagipula, dengan cara itu informasinya bisa lebih obyektif dan seimbang.



Kalau Anda ada rencana menyekolahkan anak ke luar negeri boleh juga Anda pertimbangkan investasi properti di mancanegara. Pilih negara yang aman, stabil mata uangnya, dan masih bertumbuh serta kualitas pendidikannya tinggi. Singapura misalnya.

Konon, harga properti di sana naik sekitar 10% tiap tahun, sementara, tingkat inflasinya tak lewat 1 digit dan suku bunganya di bawah 5%. Maka prospek keuntungannya jelas di depan mata.

Dus, banyak orang memilih properti di Singapura karena faktor lokasinya yang dekat dan keamanannya yang terjamin. Juga ada kepastian hukum yang jelas. Enggak ada soal SARA atau perbedaan perlakuan antara pribumi dengan nonpribumi. Kondisi ekonominya maju dan sosial-politiknya damai. Dengan begitu, harga propertinya boleh diyakinkan akan naik teus tiap tahun.

Beli properti di Singapura bisa lewat broker asing yang banyak beroperasi di sini. Mereka kerap mengadakan pameran, sekaligus menyediakan notaris, bahkan juga bank yang akan membantu membiayai investasi properti Anda. Fee buat apara broker asing ini pun standar saja, yakni sekitar 2,5% dari harga properti.

Amerika Serikat juga salah satu sasaran investasi properti. Sistem hukum yang membolehkan orang asing membeli proerti dan tanpa diskriminasi membuat daya tariknya tinggi. Selain mata uang dolar yang stabil, unsur lainnya adalah: regulasi yang tidak berbelit dan administrasi yang rapih.

Selama Anda tepat waktu dalam mencicil, membayar pajaknya, dan tidak melakukan kecurangan, maka aman saja.

Sistem pembayarannya cukup longgar. Periode cicilan bisa sampai 20 tahun-30 tahun, sama halnya di Singapura. Tingkat sukubunga pun rendah, cuma sekitar 5%-an. Lagi pula, pendidikan di AS jelas masih menjadi acuan dunia.

Sebagai bandingan di Indonesia, rata-rata sukubunga di kisaran 18%. Sementara, kenaikan harga di sini belum pasti. Kecuali Anda, dapat lokasi yang super bagus, atau menurut istilah fengshui daerah "kepala naga".

Namun, bukan berarti bisnis properti di Indonesia tanpa prospek. Kembali, banyak-banyaklah berhubungan dengan para agen properti supaya Anda juga dapat feeling-nya. Rajin kunjungi pameran properti, biasanya saat pameran ada diskon harga sampai 10%-15%, lumayan.

Saat pameran, Anda pun bisa sekaligus membandingkan berbagai produk dari sisi kualitas, lokasi, paket harga, dan bertanya prospek pembangunan wilayah sekitar properti yang akan sangat mempengaruhi nilai masa depan properti yang Anda beli.

Saat in, di Indonesia juga mulai banyak sekolah dan universitas yang berstandar internasional (dengan bahasa Inggris sebagai pengantar kuliah) yang bagus juga untuk dipertimbangkan.

Misalnya, di kawasan industri Jababeka, Cikarang, ada President University. Di kawasan Tangerang ada Universitas Pelita Harapan dan Swiss-German University. Di Kawasan Kalibata ada IPMI Business School yang menawarkan program S-1 dan S-2 berstandar internasional. Juga di beberapa lokasi sekitar Jabodetabek, bahkan di Surabaya.

Membeli properti di kawan yang punya masa depan - dari sisi industri/bisnis, infrasturktur, rekreasional, dan pendidikan - akan sangat menjamin future-value suatu properti.

Selain sisi pendapatan dan keuntungan, perlu dicermati pula sisi biaya perawatan properti. Konon, biaya perawatan properti di mancanegara berkisar 5% dari nilai rumah.

Uniknya, porperti itu bisa diapakai sendiri saat mendampingi anak-anak sekolah, namun nilainya akan terus naik. Mulailah berinvestasi dan bersiaplah untuk sukses.

-----------------------------------------------------------------------
Catatan:  Artikel ini pernah dikontribusikan oleh Kontributor ke Tabloid Bisnis KONTAN, Minggu V, April 2007.  Segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas kekayaan Intelektual, menjadi tanggung jawab Kontributor
Minggu, 3 Juni, 2012 23:54

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar