Sabtu, 30 Juni 2012

Personal Insight: Bertanya Pada Orang Yang Tepat



Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Pepatah mengatakan jika orang yang malu bertanya itu bisa sesat dijalan. Oleh karenanya ketika kita berada di wilayah yang asing kita bertanya kepada orang-orang mengenai jalan mana yang harus ditempuh agar bisa sampai ke tempat tujuan. Ternyata pepatah itu tidak hanya memiliki makna harfiah, melainkan juga kaya makna simbolik. Artinya, bukan hanya ketika mencari alamat ditempat yang asing kita bertanya; melainkan juga ketika hendak melakukan sesuatu yang kita tidak memiliki cukup ilmu tentangnya.  
 
Namun demikian, ternyata ada beberapa syarat agar dengan bertanya itu kita benar-benar bisa terhindar dari ketersesatan. Sebab, faktanya; justru akibat dari bertanya itu kita malah bisa menjadi tersesat. Nah, supaya hal itu tidak terjadi; maka kita mesti bertanya kepada orang yang tepat. Jika tidak, maka kita akan mendapatkan jawaban yang mungkin malah semakin menjauhkan kita dari tempat yang kita tuju. Memangnya ada ada orang yang tidak tepat untuk dijadikan tempat bertanya? Tentu. Buktinya, ketika Anda menanyakan suatu lokasi, kadang Anda mendapatkan jawaban ini; “Maaf, saya orang baru disini.” Atau begini;”Tinggal dua belokan lagi aja kok, Mas. Satunya belok kiri. Satunya lagi belok kanan.”  
 
Ijinkan saya berbagi hasil eksperimen kecil yang saya lakukan. Pekan lalu setelah memfasilitasi sebuah training untuk salah satu klien di kawasan SCBD, saya punya jadwal pertemuan lainnya pada jam 17.30. Tantangannya adalah; di wilayah itu berlaku pengaturan lalu lintas 3 in 1 sehingga saya tidak bisa melintasi jalan utama. Maka saya pun bertanya; kalau saya mau menuju ke lokasi meeting itu, jalur manakah yang harus saya lalui agar tidak terkena 3 in 1?  
 
Orang pertama memberikan petunjuk arah sambil menyiratkan keraguan diwajahnya.  Orang kedua memberikan petunjuk jalur yang sama dengan orang pertama, namun bedanya orang ini terlihat cukup yakin ketika mengatakannya. Kemudian di lapangan parkir, saya kembali bertanya pada seseorang. Dan. Dari orang ketiga ini saya mendapatkan jawaban yang benar-benar berbeda. Jalur yang direkomendasikannya sama sekali bukanlah yang tadi dijelaskan oleh orang pertama dan kedua.
 
Sekarang, ada tiga jawaban dari hasil bertanya kepada 3 orang. Dua jawaban pertama identik. Sedangkan 1 jawaban lainnya sama sekali bertolak belakang. Rekomendasi manakah yang harus saya ambil? Tentunya rekomendasi yang ke-3. Yang tidak populer. Dan ‘suaranya’ paling sedikit. Lho, kok begitu? Bukankah sebaiknya diambil jawaban yang direkomendasikan orang terbanyak? Tidak. Tahukah Anda mengapa? Begini: Kedua orang yang jawabannya sama itu memberi tahu jalur bebas 3 in 1 yang ‘SEHARUSNYA SAYA TEMPUH’. Sedangkan orang yang jawabannya berbeda itu – yang hanya satu orang itu – merekomendasikan jalan bebas 3 in 1 yang BIASA DIA LALUI.
 
Dapatkah Anda menemukan perbedaan dari kedua jawaban itu? Tepatnya, membedakan antara rekomendasi tentang jalan yang (1) ‘seharusnya saya tempuh’ dan (2) ‘biasa dia lalui’. Kelompok pertama bisa memberikan nasihat terbaik, memenuhi akal sehat, sesuai dengan kaidah umum. Sedangkan kelompok jawaban kedua adalah jawaban yang mungkin tidak umum, namun berakar dari pengalaman langsung orang yang merekomendasikannya. Sebuah penemuan setelah mencoba berbagai jalur alternatif.
 
Maka bertanya kepada orang yang tepat itu sangatlah penting. Karena hanya dari orang yang tepat itulah kita bisa mendapatkan jawaban yang akurat. Dalam konteks kehidupan kita, itu berarti kita perlu bertanya kepada orang yang benar-benar memiliki pemahaman sekaligus pengalaman dalam melintasi jalan itu. Sehingga mereka tidak hanya bicara soal teori. Bukan sekedar membacakan textbook. Bukan pula, memberikan nasihat berbalut rasa percaya diri dan teknik canggih ilmu komunikasi saat merekomendasikan sesuatu yang dia pun tidak pernah membuktikannya sendiri.  
 
Semua orang yang kita tanya, mungkin memberikan jawaban yang benar – menurut penilaian dirinya sendiri. Bisa benar karena pernah mendengar orang lain mengatakannya. Bisa benar karena pernah membaca di buku atau literature lain yang memuatnya. Dan bisa juga benar karena menurut ‘logikanya’ semestinya jawaban itulah yang benar. Namun, diantara semua kebenaran jawaban itu ada jawaban yang lebih baik. Yaitu jawaban yang datang dari orang yang bukan sekedar tahu, melainkan juga pernah mengalaminya sendiri. Sehingga dia faham benar lekuk liku dan tikungan tajam serta tanjakan dan turunan curam selama menempuh perjalanan itu. Semoga kita bisa bertanya kepada orang yang selain pandai menasihati; juga pernah menempuhnya. Atau setidaknya, sedang melakukan perjalanan yang sama dengan yang kita tanyakan kepadanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

 
Catatan Kaki:
Kita bisa bertanya kepada orang yang tahu dari mendengar. Bisa juga kepada orang yang faham karena membaca. Namun, jauh lebih baik lagi jika pertanyaan itu diajukan kepada orang yang membaca, mendengar, dan mengalaminya sendiri.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Senin, 18 Juni, 2012 19:52

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar