Sabtu, 30 Juni 2012

Natin Melakukan Continuous Improvement

Oleh:  Dadang Kadarusman

Tiga tahun lalu, perusahaan sudah mencanangkan proyek Continuous Improvement. Di tahun pertama inisiatif itu dijalankan semua bagian perusahaan terlibat secara aktif. Para manager dari kantor pusat rajin keliling ke setiap kantor. Termasuk kantor cabang. Banyak kegiatan yang dilakukan. Seru. Dan boleh dibilang sampai heboh banget. Semuanya pada antusias. Dilombakan. Ada hadiahnya segala.
 
Di tahun kedua, masih ada beberapa kegiatan yang jalan. Tapi nggak seheboh sebelumnya. Menjelang akhir tahun kedua itu, program kegiatannya sudah seperti mobil yang nyaris kehabisan bensin. Lebih tepatnya, seperti pedati yang ditarik oleh keledai kelaparan yang sudah berhari-hari tidak makan. Jalannya tersendat-sendat. Napasnya terbatuk-batuk. Dan udara bau keluar dari knalpot keledai itu.
 
Di tahun ketiga. Semua kegiatan itu sudah dinyatakan almarhum. Alias tidak diteruskan lagi. Nggak terlalu jelas juga sih, apa penyebabnya. Orang bilang sih katanya karena program itu dinilai gagal. Padahal kalau pernah ada juaranya berarti kan ada yang berhasil dong? Aneh banget kan kalau dipukul rata semuanya sebagai sebuah kegagalan. Kalau mau disebut gagal ya nilai gagal aja yang benar-benar gagal. Tapi yang berhasil, ya sebut berhasil dong dan diteruskan dengan inisiatif bagus lainnya.
 
Ada juga yang bilang kalau proyek itu tidak diteruskan karena biayanya mahal sekali. Mau melakukan perbaikan kok nggak mau mengeluarkan biaya sih? Semua orang bisnis mestinya nggak fokus kepada biaya. Tapi fokus kepada laba. Biarpun biayanya tinggi kalau labanya tinggi, ya jangan dihentikan dong.
 
Itulah masalahnya. Dalam meeting top management disimpulkan kalau semua kegiatan itu tidak menghasilkan laba. Semua investasi tidak kembali dalam bentuk keuntungan apapun selain kehebohan semata.
 
Kalau dimata orang-orang kubikal, cara seperti ini disebut sebagai ‘manegemen e-e ayam’. Untuk pertama kalinya terjadi kesepakatan antara kubikal baru dan kubikal lama. Lebih tepatnya lagi, kesamaan pendapat antara Opri dan Voldy. Jarang-jarang loh, mereka punya pandangan yang sama. Teman-teman semuanya sih yakin banget kalau hal ini merupakan sebuah ‘pertanda’. Tapi. Opri dan Voldynya sendiri percaya kalau kesamaan pandangan itu hanyalah kebetulan belaka.
 
Biasanya mereka selalu berbeda sudut pandang. Kadang memang secara alamiah berbeda. Namun, kadang juga sengaja mereka buat dengan semangat; yang penting beda pendapat. Makanya perbedaan pendapat mereka jadi sering nggak mutu.
 
Tapi kalau soal pemberhentian proyek Continuous Improvement ini mereka tidak bisa tidak sependapat. Mungkin mereka gagal menemukan alasan untuk berbeda pendapat.
 
Opri dan teman-temannya yang paling sebel dengan pemberhentian proyek itu. Sejak awal, merekalah yang paling antusias menyambut inisiatif itu. Para manager nggak perlu susah payah merayu. Atau meyakinkan mereka soal manfaat proyek itu. Dari awal pun mereka sudah membuka diri dengan gagasan itu. Makanya. Penghentian proyek itu cukup menyakitkan bagi mereka.
 
“Rasanya seperti sudah diciumin sama laki gue. Begitu gue udah ‘on’, eh dia langsung loyo…. Terus tidur mendengkur…..” begitu Mbak Aster  mengilustrasikan perasaannya.
 
Fiancy, dan Jeanice melongo aja seperti orang yang bego. Mereka terjebak diantara berpikir keras supaya mengerti maksudnya dan penasaran kepengen tahu gimana rasanya. Air muka Aiti dan Sekris nggak jauh beda dengan mereka. Hanya Opri aja yang lebih kelihatan cuek bebek. Sepertinya dia cuman dewasa badannya aja. Sedangkan sistim hormonan didalam tubuhnya belum mateng. Atau. Mungkin dia terlalu tomboy untuk mikirin yang begituan.
 
Mbak Aster beda. Dia tertawa cekikikan sambil menepuk lengan Mrs.X. “Elo tuch ya, ngomong sembarangan didepan anak kecil…” katanya.
 
Voldy inginnya berbeda pendapat 180 derajat. Tapi khusus untuk hal yang satu ini sulit sekali. Soalnya. Kelompok mereka adalah penetang keras ketika dulu inisiatif itu baru mulai dijalankan. Butuh pengorbanan besar untuk menerima hal-hal yang menuntut mereka mengubah kebiasaan itu. Soal 5 S misalnya. Mana bisa dijalankan tanpa adanya perubahan, kan?
 
Secara semua orang sudah merasa nyaman dengan kelakuannya selama ini. Sekarang mereka mesti melakukan itu. Dan meninghentikan yang ini. Padahal antara ini dan itu ada jurang yang cukup lebar. Nggak gampang kan buat melompat. Dibutuhkan komitmen tinggi dan kerja keras untuk memaksa diri mereka sendiri buat berubah.
 
Makanya. Mereka kesal sekali waktu program itu tidak diteruskan. Tepat sekali ilustrasi dari Mrs,. X itu. Memang sih. Management bisa menjelaskannya secara diplomatis. Semua karyawan sudah pada pinter menerapkan 5S. Tapi kalau nggak ada yang mengontrol secara konsisten seperti sebelumnya, mau sampai kapan itu kerapihan bisa diwujudkan. Dalam waktu 2 minggu juga udah bisa dibayangkan kalau selasar tempat lalu lalang menuju ke pantry bakal kembali dipenuhi oleh kardus-kardus yang nggak jelas isinya apa.
 
Teman-teman Voldy sudah mengingatkan kalau seharusnya mereka ikut mendukung inisiatif management dalam menghentikan kegiatan ini. Alasan utamanya tentu karena mereka harus beda dengan Opri dan gengnya.
 
Cuman. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa kalau Voldy sendiri yang sudah mengambil keputusan. Mereka hanya merasakan kalau ada perubahan besar dari Voldy yang tidak merasa tabu lagi untuk punya pandangan yang sama dengan Opri. Sepertinya ini merupakan sebuah ‘pertanda’.
 
Memang sulit sekali untuk bisa dimengerti. Namanya saja ‘Continuous Improvement’. Kecuali kamus bahasa inggris yang salah mendefinisikannya, continuous itu kan artinya berkesinambungan. Dilakukan secara terus menerus. Jadi, Continuous Improvement’ itu artinya perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Alias berkelanjutan, a.k.a. nggak pantes dihentikan.
 
“Bukan dihentikan. Tapi diteruskan secara mandiri oleh masing-masing individu,” begitu Sekris mengatakan sebagai penyampai pesan dari Pak Mergy yang berperan sebagai wakil dari managemen.
 
Yahh…
Mana ada orang yang mau mengambil inisiatif sendiri untuk melakukan perbaikan. Kalau pun ada cuman satu atau dua orang. Soalnya. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk melakukan segala sesuatu juga seenak udelnya aja. Nggak usah yang rumit rumit deh. Soal Seiton, misalnya.
 
Kalau menurut briefingnya waktu itu, Seiton itu berarti Rapi. Segala sesuatunya mesti dibalikin ke tempatnya yang semestinya sesuai dengan ketetapan dan keputusan, supaya setiap saat bisa digunakan. Gampangnya, nggak usah nyari-nyari kemana-mana lagi. Kalau nyari, ya ke tempat yang sudah ditetapkan itu. Kalau disitu nggak ada, berarti sedang dipakai orang lain.  Sabar. Ngantri.
 
Masalahnya. Ini ngatri sudah sejak jaman batu. Tapi staplesnya kok nggak balik-balik. Emangnya orang lagi ngerjain apa kok sampai pakai staples selama berabad-abad gitu? Lagian juga. Semua orang di kubikal kayaknya nggak ada yang sedang pakai staples.   Tapi staplesnya nggak ada di tempat semestinya.
 
Padahal alat penojos paku kecil itu sedang sangat dibutuhkan. Sekarang dia nggak ada di tempatnya. Nggak tahu lagi mesti nyari dimana? Ngeselin banget, kan? Lagi dipinjem sama hantu apa ya? Karena hantu itu keturunan Syaiton. Makanya Syaiton mau deketan sama Seiton. Jangan-jangan. Emang manusia ditakdirkan untuk nggak bisa seiton. Nggak bisa rapi. Soalnya seiton udah temenan sama syaiton. Artinya. Yang bisa rapi itu cuman setan.
 
Umpatan sekasar apapun emang bisa gampang terlontar kalau lagi kesel kayak itu. Ini ada setumpuk dokumen foto kopian yang mesti distaples buat meeting para boss yang bakal dimulai 10 menit lagi. Sudah dari tadi telepon Sekris berdering-dering karena semestinya dokumen itu sudah berada di ruang meeting sebelum peserta pada hadir. Ini nih. Gara-gara continuous improvement yang nggak continue ini.
 
Gimana nggak kesel coba. Setiap kubikal sudah punya perlengkapan standar masing-masing. Staples. Gunting. Paper clip. Perforator. Penghapus. Semua sudah ada. Tapi itu yang namanya orang pinjam-pinjam perlengkapan orang lain. Oh, Tuhan, rasanya pengen meremukkan kerupuk!
 
“Kris, staples yang elo pinjam kemarin mana? Balikin dong!” Teriakan Aiti makin menyulut kekesalan Sekris.
 
Teriakan Aiti + dering telepon dari ruang meeting = Pengen nyemburin Api!
 
“Kan udah gue balikin ke meja elo!” Sekris akhirnya meledak juga. “Staples gue yang elo pinjam minggu lalu kemana?”
 
“Yeee, elo tuch ya. Pan udah langsung gue balikin!” balas Aiti.
 
“Mana? Nggak ada di meja gue!!!” hardik Sekris sekali lagi.
“Mene gue tehe!!!”timpal Aiti nggak peduli.
 
“Lain kali elo jangan pinjam-pinjam lagi staples gue ya!” balas Sekris.
“Kebalik kali, Kris… “ kilah Aiti. “Kemaren elo yang pinjam punya gue. Sampai sekarang nggak balik….”
 
“Aihhh… gadis-gadis cantik ini kok malah pada berantem sendiri….” Mbak Aster  melerai keributan itu. “Ini, gue temukan dua staples. Satu punya elo. Dan satu lagi milik elo, nih…..” Katanya sembari mengodorkan staples yang dimasukkan kedalam amplop itu.
 
“Oooh, jadi selama ini…” Sekris yang sudah kepalang kesel melotot kearah Mbak Aster .
“Eit…, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan itu, cantik….” Mbak Aster  yang sudah tahu apa yang dikatakan Sekris langsung memotongnya. “Ini tidak seperti yang elo pikirkan….”
 
“Emangnya, ketemu dimana, Mbak?” Aiti tidak sabar untuk menimpali.
“Pantry…” jawab Mbak Aster  pendek.
 
“Jadi biang keladinya si….” Kedua gadis itu berteriak menumpahkan kekesalan.
“Nah…, jangan salah sangka dulu….” Mbak Aster  kembali menghentikan kata-kata mereka sebelum keluar nama tertuduh dari mulut mereka. “Natin menemukan kedua staples kali itu di tempat sampah….” Tambahnya.
 
“Haaah?” kedua gadis itu ternganga seperti tidak percaya. ‘Kok bisa staples gue nyangkut di tempat sampah?’ begitulah suara hati keduanya.
 
“Sudah. Sudah nggak perlu begitu…” Mbak Aster  menghentikan tatapan mata tajam yang saling menghunjam itu. “Yang penting kan staplesnya sudah ketemu.”
 
“Sini gue yang buka amplopnya,” Sekris menarik amplop berisi dua staples itu dengan kasar. “Lagian staples aja kok pake amplop!”
 
“Jangan kasar gitu ya!” Aiti yang nggak terima membalas menariknya.
 
“E-e-eeee…., ini kok gadis-gadis malah pada rebutan staples….” Mbak Aster  memegang keduanya.
 
“Sekali-kali rebutan cowok, kek… “ Semua orang menoleh kearah datangnya celetukan itu. Fiancy menutup mulutnya sambil meringis. Dia nggak tahan dengan pelototan setiap pasang mata.
 
“Nggak lucu, tauk!” Sekris dan Aiti mendampratnya secara bersamaan.
“Lebih nggak lucu lagi kalau elo pada ngerbutin staples….” Opri ikutan nimbrung.
“Elo jangan sok tahu gitu ya Pri…” Sekarang Aiti dan Sekris berbalik memelototi Opri.
 
Mbak Aster  hampir keteteran juga menahan mereka. Untung sekarang Mrs. X  ikut ngebantuin hingga akhirnya keadaan bisa kembali aman dan terkendali.
 
Setelah diyakinkan kalau Sekris sedang terburu-buru menyiapkan dokumen meeting, akhirnya Aiti memberikan kesempatan kepadanya untuk membuka amplop berisi kedua staples mereka. Ketika amplop itu terbuka, tampaklah dua buah staples yang mereka cari-cari. Namun, staples-staples itu berada dalam posisi sedang menjepit sehelai kertas kecil. Seperti penjepit kepiting yang sedang menggenggam mangsanya gitu deh.
 
Semua orang tahu kalau itu adalah kerjaan Natin. Soalnya, di kertas yang terjepit kedua staples itu tertulis menu hari ini yang bunyinya begini:
 
CONTINUOUS IMPROVEMENT ITU
BERARTI MEMPERBAIKI TERITORIMU SENDIRI
 
Orang-orang kubikal yang sejak seharian ini pada mengomel soal diberhentikannya kegiatan continuous improvement seperti sedang terkena sindiran. Mereka kesal dengan kegiatan kantor yang tidak konsisten itu. Lebih kesal lagi karena penghentian itu justru dilakukan ketika mereka sendiri sedang seneng-senengnya. Tambah sebel lagi kalau mengingat penghentian menyebabkan reward jutaan hilang. Hanya gara-gara management melihat tidak ada profit yang didapatkan. Sehingga menilai kalau investasi itu nggak menghasilkan apa-apa.
 
Jika apa yang dikatakan oleh Natin itu benar. Maka sebenarnya mereka nggak perlu bergantung kepada program angin-anginan managemen. Mau ada program itu secara kelembagaan atau tidak, nggak usah dipikirin lagi deh. Soalnya. Seperti Natin bilang. Continuous improvement itu berarti memperbaiki teritorimu sendiri. Untuk memperbaiki teritori sendiri kok mengharapkan management yang mengurusinya. Ya kita sendiri dong. Toh manfaatnya ya buat kita-kita juga.
 
Tapi. Kan bagus juga kalau inisitaif itu dikoordinasikan dengan baik oleh perusahaan. Emang bagus. Tapi kalau perusahaan nggak melakukan itu, apa kita mau diam saja dan membiarkan ketidakberesan terus terjadi di teritori kita sendiri? Kalau itu terjadi. Kitanya sendiri aja yang bego. Teritori sendiri kok dibiarkan nggak terurus begitu.
 
Aiti menghampiri Sekris. Lalu dia membantu temannya itu untuk membundel semua dokumen itu dengan staplesnya. Opri. Jeanice. Fiancy dan teman-teman lainnya juga nggak tega membiarkan Sekris pontang-panting nyiapin bahan meeting yang sebentar lagi akan dimulai itu.
 
Program continuous improvement itu dihentikan karena nggak kelihatan menghasilkan laba, katanya. Memang sih, tempat yang paling gampang untuk melihat manfaat financial dari kegiatan itu adalah di manufacturing. Bukan di kantor operasional. Kalau dimanufacturing, bisa mudah dilihat penambahan produksi. Atau pengurangan terjadinya wasting. Kalau di kantor operasional kan nggak segampang itu.
 
Tapi, kata Natin, itu tidak berarti proses continuous improvement di kantor operasional tidak bisa diukur. Misalnya. Gara-gara orang nggak disiplin dengan penempatan alat-alat kerja seperti staples itu. Berapa banyak waktu yang terbuang hanya karena nyari-nyari alat-alat itu. Kalau waktu itu adalah uang, maka kita bisa menghitung benefitnya secara kualitatif dengan cara mengkonversi waktu yang terbuang itu dengan nilai pekerjaan setiap orang yang terlibat didalamnya.
 
Mungkin managemen lupa jika program continuous improvement itu juga mempunyai manfaat intangible. Yang nggak bisa dilihat secara kasat mata. Tapi sebenarnya bisa dirasakan oleh mereka. Malahan. Yang disebut intangible itu sebenarnya tangible juga. Misalnya, kerapihannya. Ruang-ruang yang bersihnya. Benda-benda yang tertatanya. Itu kan tangible banget. Tapi ya sudahlah. Sekarang kita tidak berada pada posisi untuk mengambil keputusan. Tapi ilmu ini cukup menjadi bekal yang bisa kita gunakan kelak. Kalau kita sudah menduduki posisi yang bisa menentukan arah kebijakan perusahaan.
 
“Aduuuh… gimana sih! Ini meeting sudah hampir dimulai!” Aliran darah semua orang nyaris berhenti ketika mendengar Pak Mergy bergegas keluar dari ruang meeting. Sudah kebayang deh kemarahan besar beliau kalau tahu jika dokumen-dokumen itu masih belum juga selesai di staples. Apalagi panggilan teleponnya sedari tadi tidak digubris Sekris.
 
Semua tangan gemetaran. Bukannya makin cepat nyetaples. Eh malah jadi pada berhenti. Apalagi ketika getaran langkah tergesa-gesa dari Pak Mergy semakin terasa mendekati mereka.
 
“Anak-anak!” suara keras beliau menyentak. “Ada yang tahu nggak dimana pulpen baru saya pemberian Pak Presiden Direktur?” Oooooh… semua orang merasa lega. Ternyata perhatian Pak Mergy terkuras kepada pulpennya yang hilang. Bukan pada dokumen meeting yang belum selesai di staples itu. Mereka menggelengkan kepala. Lalu buru-buru nyetaples lagi.
 
Pak Mergy semakin uring-uringan mencari-cari pulpennya. Bergegas ke kamar kerjanya. Lalu kembali lagi. “Anak-anak! Berhenti sebentar dong. Bantu saya menemukan pulpen itu,” katanya. “Malu saya kalau sampai Pak Presiden Direktur tahu jika pulpen itu hilang…” katanya.
 
Dengan enggan semua orang membalikkan badan. Mau tidak mau mereka mesti membantu Pak Mergy menemukan alat tulisnya yang tercecer itu. Namun, ketika mereka melihat kearah Pak Mergy. Mereka nyaris pingsan menahan tawa.
 
“Kenapa kalian malah pada nyengir kaya gitu?” pelotot Pak Mergy.
Sambil menahan rasa geli dan tawa yang hampir meledak, Opri menunjuk kearah telinga beliau. “It-itu… yang nyelip ditelinga Bapak apa?”
 
Bunyi prêt-pret-pret keluar dari mulut Opri yang bocor karena tekanan udara yang menyelinap disela-sela jari tangan yang menutupinya.
 
Pak Mergy langsung meraba telinganya. Lalu katanya; “O iyyya…eh.. heheh… t-tadi saya yang menyimpannya disini…..”
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…....
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan itu mereka tidak boleh menunggu perintah dari perusahaan. Belum tentu perusahaan menjadikannya sebagai agenda utama. Kalau sudah dilakukan oleh perusahaan pun, belum tentu juga akan diteruskan. Padahal, melakukan perbaikan itu merupakan kewajiban setiap pribadi. Seperti kata Natin kalau continuous improvement itu berarti memperbaiki teritorimu sendiri.
 
Menu hari ini dari Natin sejalan sekali dengan nasihat Rasulullah. Sabda beliau; “Barangsiapa yang keadaan dirinya hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa yang sama dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang rugi. Dan barangsiapa yang keadaannya lebih buruk dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang bangkrut…..”  
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!

 
Catatan Kaki:
Continuous improvement itu bukan tentang yang rumit-rumit. Melainkan menyangkut hal-hal sederhana dalam diri kita yang bisa diperbaiki dari waktu ke waktu.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Senin, 11 Juni, 2012 21:47

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar