Sabtu, 30 Juni 2012

Menjadikan Diri Kita Aset Penting Perusahaan



Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Catatan Kepala:Ketika tiba masa kadaluarsanya, maka produk-produk terbaik sekalipun bisa berubah dari aset menjadi sampah. Sumber daya manusia, tidak ubahnya seperti produk itu.”
Saya menyimak sebuah forum intelektual yang membahas perdebatan seru dan berkepanjangan mengenai kebenaran tentang anggapan bahwa manusia itu adalah aset perusahaan. Terasa sekali jika perdebatan itu, dipenuhi semangat untuk menggugat terhadap komitmen perusahaan dalam menempatkan manusia sebagai aset perusahaan. Meskipun top management bolak-balik mengatakan jika karyawan itu adalah aset perusahaan, namun faktanya; didalam pembukuan, karyawan tidak pernah tercatat sebagai aset. Beda dengan mesin produksi misalnya, yang selalu disebut sebagai aset. Namun. Seperti arena perdebatan lainnya. Tampaknya tidak menghasilkan hal  berarti selain wacana belaka. Kalau Anda sendiri, merasa menjadi aset perusahaan atau tidak?

Setiap bulan, system komputer memberi laporan tentang stok produk yang masih tersimpan di gudang. Para manager terkait tahu detailnya. Termasuk masa kadaluarsa masing-masing item. Namun, kadang-kadang ada produk yang tidak berhasil dijual hingga tiba tanggal kadaluarsanya. Sehingga suka atau tidak, harus dimusnahkan dengan pengawasan yang sangat ketat. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua produk itu aset bagi perusahaan. Ketika tiba masa kadaluarsanya, maka produk-produk itu sudah berubah dari aset menjadi sampah. Sumber daya manusia, tidak ubahnya seperti produk itu. Apakah bisa dimasukkan sebagai aset atau tidak, sangat bergantung kepada kualitas dirinya sendiri. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjadikan diri kita sebagai aset bagi perusahaan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  
1.      Tujuan rekrutmen dan tujuan utama perusahaan. Pasti, semua  perusahaan punya tujuan utama (ultimate goal). Dan alasan mereka merekrut kita adalah untuk membantu tercapainya ultimate goal itu. Gampangnya, tujuan utama itu dituangkan dalam target-target. Bisa berupa angka-angka ataupun ukuran-ukuran lain berdasarkan kriteria perusahaan. Apakah kita bisa membantu perusahaan mewujudkan target-target yang menjadi terjemahan ultimate goal perusahaan itu atau tidak, sangat menentukan apakah kita masih layak disebut sebagai aset atau tidak. Merekrut kita, bukanlah tujuan akhir perusahaan. Oleh karenanya, masuknya kita ke perusahaan itu baru sebuah langkah awal. Karena, nasib kita selanjutnya akan sangat ditentukan oleh kontribusi kita pada pencapaian ultimate goal perusahaan itu.
2.      Penyelesaian pekerjaan dan laba perusahaan. Bottom line, adalah segala-galanya. Karena baris paling bawah dari laporan keuangan itu mencerminkan berapa banyak imbal hasil yang bisa didapatkan pemilik perusahaan atas investasinya. Itulah yang disebut sebagai laba. Karyawan sering berpikir sebaliknya; yang penting pekerjaan beres. Atau yang penting target penjualan tercapai. Kita jarang berhitung berapa banyak ongkos yang harus dikeluarkan untuk mencapainya. Padahal, ongkos itu sangat menentukan bottom line. Makanya tidak heran kalau banyak karyawan yang berprinsip ‘asal kerjaan beres’ tapi tidak memperhatikan kualitasnya. Atau dampak yang ditimbulkan dari pekerjaan terhadap laba yang dihasilkan perusahaan.  Meksipun dengan laba itulah, perusahaan bisa melakukan sesuatu untuk  karyawan.
3.      Penurunan nilai karena waktu dan perilaku resisten. Dalam pembukuan, lazimnya ada depresiasi. Nilai aset berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Nilai mesin mungkin menjadi nol setelah umurnya mencapai 50 tahun. Nilai karyawan bisa dianggap menjadi nol ketika usianya mencapai 55 tahun alias usia pensiun. Kedua situasi itu wajar. Tapi. Ada kalanya nilai mesin dijadikan nol kalau produk yang dihasilkannya tidak lagi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh strategi baru perusahaan. Mesin bisa dijual. Dan diganti dengan yang lebih cocok. Karena mesin lama, ‘resisten’ dengan perubahan strategy dan arah pengembangan perusahaan. Karyawan, lebih canggih lagi kalau soal menunjukkan perilaku resistennya kepada kebijakan perusahaan. Dan karyawan yang resisten, biasanya nilainya berkurang secara drastis. Tapi karyawan yang mau beradaptasi, nilainya membumbung tinggi.
4.      Pertukaran posisi aset dan liability. Dalam pembukuan, kita kadang melihat perpindahan dari aset menjadi liability. Atau sebaliknya. Ukurannya bisa dibuat sesederhana ini: Apakah sesuatu itu menghasilkan lebih banyak pendapatan dari kewajiban perusahaan atau sebaliknya. Jika kita percaya bahwa sebagai karyawan kita ini layak disebut sebagai aset, maka kita juga perlu fair melihat kemungkinan yang sebaliknya. Faktanya, tidak semua karyawan yang menghasilkan lebih banyak kontribusi bagi perusahaan daripada beban biaya plus tunjangan-tunjangan lainnya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Anda sendiri masuk kedalam kategori mana? Apakah Anda layak disebut sebagai aset perusahaan? Ataukah Anda lebih cocok ditempatkan dalam kolom ‘liability’? Hal itu tidak penting bagi orang lain. Namun. Mungkin sangat penting bagi Anda. Yang jelas, aset selalu membikin hepi.
5.      Kapasitas manusia dan kapasitas mesin produksi. Kita dan mesin, sama-sama aset penting. Bedanya, mesin tidak suka menolak jika disuruh menggunakan kapasitas produksinya hingga 100%. Kita? Kalau merasa bayarannya kurang, kenapa harus kerja 100%? Memang, kadang mesin membandel juga. Itu terjadi ketika mesinnya rusak. Kalau karyawan membandel, apakah bisa dikatagorikan sebagai karyawan yang rusak seperti halnya mesin yang membandel itu? Kelihatannya tidak cocok ya. Begini saja: Jika mesin produksi hanya dipakai 25% dari total kapasitasnya, maka mesin itu tidak rugi apapun. Tapi, jika kapasitas diri kita hanya terpakai 25% dari kapasitas diri yang sesungguhnya, maka kita benar-benar rugi karenanya. Kita rugi karena kemampuan kita bisa hilang. Dan kita juga rugi karena, tidak mendapatkan hasil optimal untuk diri dan orang-orang yang kita cintai.
Tidak perlu ikut-ikutan terjebak dalam dikotomi tentang sesuatu yang abstrak. Atau terjebak dalam istilah-istilah dalam textbook management yang tidak membumi. Sudahlah. Biarkan hal itu menjadi santapan para akademisi. Atau ahli management tingkat tinggi. Bagi kita. Cukup fokus saja kepada bagaimana kita bisa menjadikan diri kita sendiri menggunakan kesempatan kerja yang kita miliki ini untuk terus mengeksplorasi seluruh kemampuan. Karena jika kita bisa bekerja secata optimal hingga di puncak kapasitas diri kita. Tak perlu diragukan lagi jika kita bisa menjadi aset perusahaan. Yang bernilai tinggi.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DeKa – Dadang Kadarusman – 4 Juni 2012

 
Catatan Kaki:
Seorang karyawan layak disebut aset perusahaan, hanya jika keberadaannya benar-benar menyokong kemajuan perusahaan. Tapi kalau malah membuat perusahaan jadi ruwet, ya dia bukan aset.
 
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Minggu, 3 Juni, 2012 21:36
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar