Sabtu, 30 Juni 2012

Natin Hanya Bertugas Menyeru



Ada sisi lain Natin yang jarang terungkap.
Sebenarnya. Diantara sekian banyak orang yang menyukai Natin. Ada juga orang yang tidak menyukainya. Meskipun mereka punya alasannya sendiri-sendiri tapi kalau ditelusuri sampai ke akarnya. Ternyata alasan yang berbeda-beda itu berakar kepada satu sumber yang sama. Yaitu; Natin menyerukan tentang kebaikan.
 
Natin mengajak orang untuk jadi lebih baik. Itu loh yang membuat banyak orang seneng sama Natin. Dan. Itu juga yang membuat orang lainnya sebel sama Natin.
 
Loh? Kok gitu? Ya emang begitu.
Ternyata. Nggak semua orang suka sama orang yang ngajak memperbaiki diri. Ngajak lebih giat. Ngajak lebih gigih. Kalau dengan santai-santai aja sudah seneng? Ngapain harus jadi lebih rajin? Nyape-nyapein diri sendiri aja. Iya kan?
 
Biasalah. Soal pro dan kontra itu pasti ada.
Dan kayaknya sih, Natin sudah paham benar soal itu. Makanya dia terus saja menjalankan kebiasaannya untuk menyampaikan pesan-pesan positif. Menuliskan kalimat-kalimat inspiratif. Atau sekedar menghibur teman-teman yang lagi pada gondok.
 
Pernah juga loh ditanyakan sama dia. Kenapa sih kok santai-santai aja meskipun ada orang yang nggak suka sama dia? Mestinya kan dia protes dong. Kan dia sama sekali nggak ganggu siapapun. Malah dia berusaha untuk mengajak orang lain menjadi pribadi yang lebih baik kok. Eh, ini malah disebelin.
 
Gile banget si Natin itu. Dengan nyantainya dia bilang kalau para Nabi aja dimusuhin banyak orang. Apalagi hanya seorang office boy. Jadi, kenapa mesti pusing dengan orang-orang yang tidak menyukai kita, ketika kita berusaha untuk berbagi kebaikan dengan mereka. Dan mengajak mereka untuk juga sama-sama menjadi orang yang lebih baik….
 
Prinsip yang dipegang teguh Natin itu membuat dirinya kuat dengan reaksi dan perlakuan apapun dari lingkungannya. Natin seperti memiliki baju besi yang tidak bisa ditembus oleh senjata apapun yang berniat untuk melukainya. Dia kebal dengan komentar buruk. Tahan dari kesinisan orang-orang yang nggak suka padanya. Ya…, persis seperti dia bilang; Nabi saja banyak yang nggak suka, kok. Apalagi hanya seorang office boy seperti saya….
 
Salah satu tuduhan yang sering diterima Natin dari orang-orang yang nggak suka sama dia adalah; “Si Natin itu antek-anteknya management!”
 
Tuduhan itu kasar banget. Tapi. Mereka punya alasan sendiri makanya berani bilang begitu. Kalau diperhatikan, seringkali nasihat-nasihat Natin itu seolah-olah berpihak kepada management.
 
Misalnya waktu Natin mengajak orang-orang di kubikal untuk memahami karakter pekerjaan. Nggak semua orang mau terima itu dengan gampang. Selain ada yang mengganggapnya bener dan masuk akal. Ada juga orang yang menganggapnya sebagai alat management untuk meredam biar karyawan nggak banyak protes. Terima aja pekerjaan apapun yang diberikan perusahaan.
 
Kalau ditelusuri lagi sih ada hubungannya dengan kejadian-kejadian lain. Kira-kira enam bulan sebelum Natin jadi Office boy  terjadi perubahan yang cukup besar di kantor. Sebenarnya, kubikal itu nggak bisa menampung semua karyawan dan staff. Tapi karena space ruangan yang masih tersedia untuk disewa sangat terbatas, terpaksa deh semuanya digabung di lokasi apa adanya. Nggak cuman staff yang uyel-uyelan.  Manager juga banyak yang dapat satu ruangan untuk berdua.
 
Bulan January itu ternyata ada tenant lain yang nggak memperpanjang sewa ruangan. Makanya kantor langsung menyewa space itu untuk dijadikan perluasan soalnya sudah sangat perlu banget. Tapi karena tambal sulam gitu ya, kedua space kantor itu nggak bisa dijadikan satu. Selain sudah terpasang furniture dan perlengkapan lain yang lumayan mahal banget bisa rusak kalau dibongkar. Kedua space itu juga terhalang oleh tenant lain yang menyewa pas di sebelah kiri lift. Ya udah deh, meskipun di lantai yang sama tapi ruangannya jadi terpisah.
 
Jadi sebenarnya ada dua kelompok kubikal. Biar gampangnya, bisa disebut sebagai kubikal lama dan kubikal baru. Di kubikal lama itulah Opri dan teman-temannya bertugas. Kebanyakan cewek. Nggak semua cewek sih. Tapi mayoritasnya ya cewek-cewek itu. Sedangkan di kubikal baru yang di space ruangan yang baru itu dihuni kebanyakan oleh cowok-cowok. Ceweknya cuman sedikit. Voldy yang menjadi pentolan disana.
 
Buat management, pindahnya mereka ke kubikal baru itu merupakan sebuah kehormatan. Mereka dikasih tempat yang semua fasilitasnya serba baru. Tapi dimata orang-orang itu, malah sebaliknya. Mereka malah meras diusir, katanya. Ngaco kan, mereka itu. Lagian juga, jarak mereka cuman beda beberapa langkah aja kok diributin.
 
Nah, dari kelompoknya Voldy inilah kebencian sama Natin sering muncul. Mereka biasanya nongkrong di warung kopi Mak Minun yang letaknya persis di seberang jalan kantor. Tinggal nyeberang dari tanggal lobi. Belok kanan kira-kira 50 meter. Udah deh sampai diwarung kopi itu.
 
Kedua kubikal itu punya persepsi yang berbeda soal jam 8 pagi. Kalau buat orang di kubikalnya Opri, jam 8 teng itu berarti mulai kerja pak pik pek. Tapi kalau di kubikalnya Voldy, jam 8 itu artinya semua orang mesti ngopi di warkopnya Mak Minun. Yang penting sudah ngabsen dulu di mesin deket meja resepsionist. Terus nyalain komputer. Ngeloyor deh keluar. Mereka baru datang lagi ke kubikal nanti. Kalau sudah jam Sembilan lewat seperempat.
 
Nah, di warungnya Mak Minun ini penyataan “Si Natin itu antek-anteknya management!” pertama kali lahir.
 
Bakal CLBK nih, antara Opri dan Voldy. Bukan Cinta Lama Bersemi Kembali. Tapi Cekcok Lama Berkobar Kembali. Sejak sebelum pisah kubikal, kedua orang itu emang sama-sama nggak nyambungnya.
 
Opri bukanlah orang yang selalu setuju dengan apa yang dikatakan oleh Natin. Setidaknya, dia tidak langsung menelan bulat-bulat semua yang dikatakan Natin. Bahkan, dia sering menjadi penentangnya sampai dia benar-benar mengerti apa maksudnya. Tapi. Dia juga sebel banget dengan sikap Voldy yang sudah kelewatan itu. Dia hampir melabraknya kalau saja tidak dihalangi oleh teman-teman yang lainnya.
 
Bukan perkara gampang kalau hal itu sampai kejadian. Secara Voldy dengan gengnya pasti nggak bakalan tinggal diam. Selain bisa jadi tontonan orang-orang, persetruan yang sudah dibawa ke luar kantor bisa membuat citra perusahaan tercoreng, kan?
 
“Elo nggak usah sebegitunya kali Pri…” kata Jeanice ketika mereka berjalan kembali menuju ke kubikal.
 
“Ya nggak bisa dibiarin begitu aja dong Jean,” balas Opri. “Kalau enggak dikasih pelajaran, mereka bakal tambah kurang ajar.” Katanya.
 
“Natin juga nggak pernah tersinggung kok dengan ulah mereka,” Fiancy menimpali.
“Natin begitu karena dia nggak berani, Fi….” Sanggah Opri. “Gimanapun juga dia kan office boy. Mana bisa ngelawan orang-orang yang sok gitu…” dia bilang begitu sambil menonjok angin kosong.
 
Itu adalah tonjokkan yang tadi tidak jadi dilontarkannya ke hidung sok mancungnya Voldy. Nggak jadi nonjok karena sudah keburu dipegangin sama orang-orang.  Bukan perkara gampang juga mengendalikan orang seperti Opri. Meskipun ngakunya cewek, tapi tenaganya minta ampun deh...
 
Butuh 5 orang yang megangin dia. Ditambah satu meja yang di gulingkan untuk memisahkan mereka berdua. Meja itu pun masih bisa tersungkur terkena tendangan Opri. Dia baru benar-benar bisa ditenangkan ketika Jeanice mendapatkan ping di gadgetnya. Karena tangannya udah kesemutan gara-gara megangin Opri, dia langsung nyamber gaggetnya hanya setengah detik setelah bunyi  ‘kulilang’ terdenger.
 
Begitu membuka isi pesannya. Dia langsung tersenyum. Lalu memperlihatkan layar monitornya kepada Opri. “Nih Pri, elo baca deh.” Katanya.
 
Sambil menahan emosi, Opri meliriknya. Disitu dia membaca ini:
 
TUGAS KITA ADALAH MENYERU
BUKAN MENGUBAH KEADAAN ORANG LAIN
 
Kenapa coba, banyak orang yang kesel kalau orang lain nggak mau mengikuti ajakannya pada kebaikan? Kata Natin, itu karena kita terlalu berharap untuk bisa memperbaiki hidup dan perilaku orang lain. Padahal. Nggak ada seorang pun yang bisa mengubah perilaku dan kehidupan seseorang selain dirinya sendiri.
 
Jangankan manusia seperti Natin. Manusia terpilih yang suci sekelas para Nabi dan Rasul pun nggak sanggup membuat manusia berubah. Bahkan. Tuhan sendiri. Telah menggugurkan hak yang dimiliki-Nya untuk mengubah manusia. Makanya dalam kitab suci pun Tuhan bilang, kalau Dia; “tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka mengubahnya sendiri.” Bukan karena Tuhan tidak mau. Bukan pula karena Dia tidak mampu. Tapi Dia mensyaratkan itu. Sebelum Dia bantu orang itu untuk berubah.
 
Sombong sekali kalau kita mengira bisa memperbaiki kehidupan orang lain. Takabur juga kalau kita merasa bisa menjadikan orang lain lebih baik daripada yang sebelumnya. Tidak tahu diri, kalau kita merasa berjasa kepada orang-orang yang berhasil mengubah hidupnya. Sungguh. Kita ini hanya sekedar menyeru. Sedangkan yang mengubahnya adalah diri mereka sendiri.
 
Dalam istilah Sang Nabi; Amar makruf, nahi munkar… Artinya, mengajak manusia kepada kenaikan dan mencegah mereka dari perbuatan yang buruk. Nggak lebih dari itu. Makanya, tidak ada paksaan dalam berbuat kebaikan. Atau menghindari keburukan. Kalau teman kita ingin menjadi baik, ya itu pilihannya sendiri. Kalau mau terus-terusan buruk juga ya itu terserah dirinya sendiri dong.
 
Kalimat itulah yang membuat Opri bisa mengendalikan diri. Dia sudah tidak terlalu bernafsu lagi untuk adu jotos sama Voldy. Setidaknya untuk saat ini. Setelah menepiskan tangan teman-teman yang pada memeganginya, Opri langsung pergi. Sambil mencolekkan jempolnya kepada hidungnya sendiri.
 
Natin sudah mencontohkan jika mengajak orang di kantor untuk menjadi lebih baik itu tidak selalu disambut secara positif. Ada saja yang memandangnya dari sisi negatif. Malah sampai membencinya segala. Jangan heran. Karena begitulah warna warni kehidupan. Jika kita hanya ingin yang mudah-mudah dan indahnya saja, maka kita sepertinya mau melarikan diri dari realitas.
 
Akui saja realitas yang kita hadapi saat ini.
Ada siang, ada malam. Ada hitam, ada putih. Ada baik, ada buruk. Ada teman sekantor kita yang gampang diajak bener. Dan ada juga yang ndableknya minta ampun. Bahkan malah balik menghardik setiap kali diajak untuk melakukan hal yang baik-baik. Begitulah Yin dan Yang. Namun dalam setiap keburukan pun, selalu terselip nilai-nilai kebaikan.
 
Sesekali, bahkan kita perlu mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang seperti Voldy. Ingat Yin dan Yang sekali lagi. Supaya kita bisa sadar bahwa dalam setiap keburukan pun, tersimpan kebaikan. Hanya saja, kebaikan itu sering tersembunyi. Sama seperti keburukan yang sering kali bersembunyi dibalik, kalimat-kalimat manis yang terdengar baik.
 
Makanya, kita nggak bakalan gampang terperdaya oleh kata-kata manis yang berbisa. Dan kita juga nggak bakal langsung memvonis buruk orang-orang yang tampaknya kurang baik. Misalnya, apa yang dikatakan oleh Voldy pagi tadi di warung Mak Minun. Dia bilang; Dunia tidak seindah bacotnya si Natin…..!
 
Entah itu benar suara hatinya sendiri. Atau karena dia terlalu sering membaca status-status antagonis di facebook. Makanya sampai keluar kata-kata seperti itu. Kalau sampai kedengeran sama orangnya, gimana? Padahal, kalaupun orang itu melakukan kesalahan, maka kesalahannya adalah mengajak orang lain kepada kebaikan.
 
Tapi, kata-kata Voldy itu mengandung kebenaran. Seperti dia bilang. “Dunia tidak sindah bacotnya si Natin!” Kenyataannya emang demikian kan? Nggak semua orang bisa diajak bener….
 
“Berapa kali sih mesti saya bilang kalau ini sudah waktunya kerja! Jam segini kok masih pada nongkrong di warung kopi!!” Pak Mergy terlihat marah sekali ketika memergoki mereka di pintu lift.
 
Opri dan teman-temannya terperanjat. “Tapi Pak…”
“Sudahlah. Nggak usah tapi-tapian. Saya tahu kamu dari warung kopi!!!” tambahnya. “Buat apa disediakan kopi di pantry kalau masih ngeluyur kesana, eh?!”
 
“Lho, kok Bapak tahu sih kami dari warung kopi?” tanya Opri. Penasaran bagaimana bisa Pak Mergy tahu soal itu.
 
“Kalian pikir hanya kalian saja yang suka sama wanginya kopi Mak Minun?” jawab pak Mergy.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…...
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa jika kita mengharapkan semua orang akan mudah diajak untuk berubah, maka kita keliru mengira jika didunia ini semuanya indah. Hanya anak Taman Kanak-kanak yang boleh mengira begitu. Tahu kenapa? Karena mereka mengira kalau dunia itu adalah kebun yang penuh dengan bunga. Ada yang putih. Dan ada yang merah. Setiap hari. Mereka menyiram semua. Mawar melati. Semuanya indah.
 
Kantor kan bukan TK lagi. Jadi, dunia kita sudah jauh lebih luas dari sekedar kebun mungil masa kecil. Makanya. Jangan tersinggung lagi kalau ajakan kita untuk berbuat kebaikan itu malah dilecehkan oleh sebagian orang. Karena tugas kita, adalah untuk menyeru kepada kebaikan. Bukan mengubah keadaan orang lain.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DeKa – Dadang Kadarusman – 5 Juni 2012

 
Catatan Kaki:
Tidak ada yang bisa mengubah keadaan seseorang. Kecuali dirinya sendiri. Begitulah teladan para Nabi. Dan begitulah firman Ilahi dalam kitab suci.
 
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Senin, 4 Juni, 2012 23:05
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar