Sabtu, 30 Juni 2012

(Renungan) Perjuangan sang Pemberontak

 Oleh: 

Aku memandang ufuk timur,
Menantikan sang fajar yang mulai menggeliat,
Sinar indahnya membawaku ke suatu masa,
Dan ku melihat seorang anak muda mulai mendayung sampan,
Sampan kecil tanpa layarpun mulai melaju,
Melaju ke laut lepas, dan terombang-ambing oleh gelombang,
Anak muda mendayung penuh semangat,
Cucuran peluh tiada surutkan dirinya,

Dari caranya berpakaian, tak nampak si anak muda adalah pelaut,
Pakaiannya rapi dan bersih, tetapi mengapa dia mau melaut ?
Apakah yang ingin diraihnya ?
Akupun merenung yang kemudian membawaku pada kehidupan sang anak muda sebelumnya.

Nampak sebuah keluarga kecil yang bahagia,
Ku melihat si anak muda sedang duduk bersama bapa ibunya,
Aku melihat sebuah perbincangan,
Dan tak berapa lama,
Aku melihat si anak muda keluar dan menuju ke pantai,
Ku dengar bapa-nya berteriak
"kembalilah nak, jangan melaut. Tekuni saja pekerjaanmu sekarang"
Si anak muda menjawab :
"bapa, aku tidak mau selamanya menjadi seperti yang Bapa minta"
Si bapa pun menjawab :
"nak, kedudukanmu sudah bagus, dan sayang kalau kau tinggalkan"
Si anak muda tidak menjawab dan terus berjalan menuju ke pantai,
Bapa dan ibunya berlari menyusul, tetapi langkah mereka terkalahkan,
Mereka hanya dapat menyaksikan bayangan anaknya yang mulai sirna ditelan lautan...

Tahun berganti tahun, perahu si anak muda mulai oleng,
Tenaga mendayung mulai lemah, tetapi tetap mendayung,
Telapak tangan melepuh, tetapi semangat tetap tinggi,
Entah sampai kapan akan terus mendayung, semangat mendayung tiada pernah padam,
Sampai suatu hari, saat matahari tenggelam di ufuk Barat, nampak sebuah pulau,
Kecepatan mendayung ditingkatkan, terus dipercepat dengan sisa tenaga yang ada,
Sampai akhirnya, pulau kecil tercapai olehnya.

Perahu mendarat di pulau kecil, yang penuh bukit padas, dan tiada nampak keindahannya ataupun kehidupan,
Si anak muda nampak kelelahan, dan nampak raut putus asa di wajahnya,
Dia duduk di pantai, termenung sendiri sambil menahan lapar,
Kelelahan dan kelaparan membuatnya mengantuk, dan diapun tertidur.

Sayup-sayup terdengar alunan musik, si anak mudapun tergugah dari tidurnya,
Dia mulai mencari sumber suara, dan ikuti kemana angin membawanya pergi,
Bukit padas didakinya, tiada peduli dengan malam yang mulai larut,
Tiada peduli lelah dan lapar, dia terus mendaki dan di atas bukit padas matanya terkesima,
Oooh ternyata ada kota Indah di balik bukit padas,
Kota yang gemerlap oleh emas dan berlian,
Kota yang penuh dengan madu dan susu...
Semuanya tersedia di hadapannya,
Dia berjalan menuju gerbang kota, bersujud dan bersyukur kepada Tuhan,
Sayup-sayup terdengar suara "inilah hasil jerih payahmu, pergunakanlah sebaik-baiknya untuk sesama"

-------------------
Good day...Good Luck...God Bless You

A.C. Huang

Kamis, 14 Juni, 2012 10:57

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar