Minggu, 03 Juni 2012

Natin Melayani Dan Dilayani




Telinga Opri  masih terasa panas. Setelah sekitar tiga puluh lima menit lamanya diomeli pelanggan habis-habisan. Padahal sumber kemarahan pelanggan itu nggak secara langsung ditimbulkan oleh apa yang sudah Opri lakukan. Tapi mau gimana lagi? Pelangggan kan tahunya hanya orang yang bertugas menerima telepon aja. Mereka langsung komplen, tanpa peduli pada apapun.
 
Makanya. Biarpun pelanggan marah gara-gara salah urus orang sales atau orang marketing. Yang kena marah ya orang front liner di help desk seperti Opri. Begitu juga kalau produk yang diterima pelanggan cacat. Atau nggak sesuai dengan spek yang dijanjikan. Mestinya orang produksi atau quality control dong yang bertanggungjawab. Cuman yaitulah. Pelanggan tahunya kan orang yang mengangkat telepon. Ya kepada merekalah semua kemarahan tertumpah.
 
Mau gimana lagi?
Soalnya kalau teleponnya di sambungin ke departemen terkait juga malah bisa membuat mereka semakin marah. Nggak ketulungan deh marahnya. Sampai uang bayar pulsa aja dipermasalahkan. Ngomongnya juga udah sampai teriak-teriak segala; “Kamu tahu berapa pulsa yang harus saya bayar karena kamu oper sana, oper sini, eh?!” katanya.
 
“Jangan mentang-mentang kamu itu operator ya. Maen oper-operan aja. Mau lari dari tanggungjawab, eh?” Cape, deh pokoknya.
 
Nggak jarang loh pelanggan yang sok banget. Sampai dia bilang; ‘Kamu tahu siapa saya, eh?” Ngomongnya songong gitu. “Jangan macam-macam ya! Saya ini blablablablabla… tahu, kamu!!?” Emang gue pikirin siapa elo?
 
Ngakunya aja orang terhormat. Tapi kelakuannya sama sekali nggak menunjukkan kalau beliau itu orang yang pantes dihormati. Ya… mau gimana kita menghormati orang yang nggak mau menghormati orang lain. Iya, kan?  Tapi ya sudahlah. Sabar aja. Percuma melawan orang-orang yang kayak gitu. Orang setres dilawan. Kita bisa jadi ikutan setres juga.
 
Biarpun udah sabar dan ikhlas, tapi ya tetep aja suka ada yang menusuk kedalam hati. Udah dikasih tahu sih sama trainernya waktu kita ditraining soal service excellence. Kalau ngadepin pelanggan ya mesti sabar. Jangan diambil hati kalau mereka mengatakan sesuatu yang tidak patut. Tapi, kalau sudah kesel. Ya kita juga kan manusia dong. Susah banget ngelupainnya.
 
Jangankan cewek-cewek normal. Cewek macho kayak Opri aja kadang-kadang sampai merah padam mukanya, tahu nggak seeeh… Antara mau marah dengan mau nangis gitu deh. Seperti yang terjadi hari ini.
 
Keadaan sunyi karena semua orang sedang konsentrasi pada pekerjaannya masing-masing. Paling-paling hanya terdengar suara-suara kecil seperti bunyi printer dan sesekali ada yang bicara dengan temannya. Tapi nggak sampai bikin keributan gitu. Pokoknya, tenteram dan damai deh. Sampai ada suara bernada tinggi seperti ini: “Iyya Pak nanti akan saya catatkan dulu keluhan Bapak, lalu saya teruskan kepada departemen marketing……”
 
Sesaat kemudian. Hening lagi. Lalu terdengar lagi suara itu.
“Maaf Pak, saat ini pimpinan sedang tidak dapat menerima telepon Bapak. Izinkan saya untuk membantu Bapak mendapatkan apa yang…….” Kelihatannya penelepon itu memotong kata-katanya.
 
Opri nggak bisa berbuat lain selain mengurut dada sambil mendengarkan ocehan dari seberang telepon itu. Hanya sesekali saja dia berkata ‘baik Pak…’, atau ‘kalau begitu…” dan kalimat pendek lainnya yang nggak sempat dia selesaikan. Kayaknya. Kali ini Opri berhadapan dengan orang yang nggak bisa dilawan. Bukan karena dia nggak sanggup. Tapi karena etika pekerjaannya mengharuskan dia demikian.
 
Lebih dari setengah jam dia dicecar. Sampai akhirnya telepon itu terputus secara tiba-tiba. Mungkin penelepon itu sudah puas menumpahkan unek-uneknya. Mungkin juga dia sudah dibaikin lagi sama istrinya. Mungkin juga dia sudah kehabisa pulsa buat ngoceh dengan handphone-nya.
 
“Anj…!” Opri berteriak sambil setengah membanting gagang teleponnya. Dia berusaha untuk menahan diri supaya bunyi terakhir dari kosa kata kasarnya itu tidak jadi keluar. “HAH!!!!” katanya. Dia berhasil mengeluarkan tekanan itu dengan lontaran nafas yang leluasa menyembur.
 
Semua teman-teman di kubikal maklum kalau dia barusan mendapatkan telepon dari pelanggan yang menyebalkan.
 
“Elo baik-baik aja, Pri?” tanya Jeanice. Dia berdiri di kubikalnya sambil nongolin kepalanya diatas dinding pembatas.
 
“Enggak!” jawab Opri ketus.
“Tarik nafas panjang non, kalo gitu….” Kata Jeanice lagi.
“Nafas gue sudah lebih panjang dari jarak bumi ke langit, Jean, “ balas Opri. “Mesti sepanjang apa lagi?”
 
Sebagai cewek tangguh. Biasanya Opri tidak bisa dipengaruhi semudah itu. Pasti deh yang nelepon tadi itu sudah sangat keterlaluan. Sampai Opri bisa sekesal itu. Emang sih. Opri itu kan bukan tipe orang yang sabar. Tapi kalau soal menjalankan pekerjaannya, dia itu jagonya. Profesional banget. Makanya kalau dia sampai sekesal itu tuch pasti orang itu sudah sangat kelewatan.
 
Biasanya sih, orang yang suka kelewatan kayak gitu itu orangnya sok kuasa. Sok punya jabatan gitu deh. Makanya suka bawa-bawa jabatan segala. Atau yang punya saudara pejabat juga. Padahal yang pejabat itu iparnya doang, bukan dia sendiri. Eh dibawa-bawa juga. Atau kemungkinan juga orang lagi pada seteres. Jadinya mereka numpahin kekesalan sama orang-orang yang pas kebagian tugas mengangkat telepon.
 
“Ya udah… kita makan aja dulu yuk…” ajak Jeanice.
“Baru juga jam dua belas kurang seperempat, Jean…” kilah Opri.
“Ya udah, kalau gitu, elo tinggal bilang gue aja kapan pun elo mau istirahat makan siang, oke….?” Balas Jeanice.
 
“Tapi….” Opri mengerutkan dahi sambil mengacung-acungkan telunjuknya. “Kita keluar sekarang aja deh yuk…” lanjutnya.
 
Jeanice mengangguk, lalu buru-buru mematikan komputer dan radio kecilnya. Bersiap-siap untuk menemani sahabatnya. Masih kurang lima belas menit lagi sih ke jam makan siang. Tapi. Kayaknya sih nggak apa-apa juga kalau sekali itu mereka pergi keluar lebih awal. Toh nggak tiap hari. Lagian juga emang perlu untuk menghirup udara segar kalau kondisinya lagi nggak bagus kayak gitu.
 
“Gue ikut dong…” teriak Sekris.
“Woooi… tungguin gue juga dong, “ Aiti nggak kalah gesit.
“Elo pade sabar aja dulu sampai jam istirahat, Galz…,” teriak Jeanice. “Ntar kita ketemuan di taman deh ya….”
 
“Lah, elo sendiri udah istirahat sebelum waktunya….” Protes Aiti.
Jeanice nggak menjawab lagi. Dia hanya berbalik menghadap kearah Aiti. Lalu tanganya memberi isyarat khusus supaya Opri nggak tahu apa yang dikatakannya. Intinya. Jeanice menjelaskan kalau dia hanya ingin bantu Opri biar dia nggak terlalu kesal gara-gara omelan pelanggan sedeng itu.
 
Kalau diomongin juga, mungkin nggak sampai kedengeran Opri, kali. Soalnya dia sudah dari tadi pergi. Nggak memperdulikan siapapun lagi. Sampai-sampai Jeanice harus mengejarnya sambil memanggil-manggil.
 
Taman itu terletak di halaman samping kantor. Lumayan sih. Ada ruang terbuka yang nyaman buat orang-orang yang butuh melepaskan kepenatan. Ada banyak bunga-bungaan. Tanaman perdu yang ditata rapi. Dan beberapa pohon besar yang rindang. Kursi taman juga tersedia meskipun nggak pernah cukup buat menampung semuanya. Biasanya, orang-orang duduk di hamparan rumput hijau tanpa alas apapun. Kalau pas nggak ada yang merokok, taman itu benar-benar memberikan suasana yang menyegarkan setelah duduk seharian di ruang kerja.
 
Lima belas menit kemudian. Semua orang sudah berkumpul di taman itu. Kayaknya pada ogah rugi gitu deh. Langsung cabut begitu jam istirahat tiba. Bagaimana pun juga mereka jauh lebih baik daripada orang-orang yang sudah pada berhamburan keluar kantor jam setengah dua belas. Nggak tahu aturan dari mana deh. Banyak banget yang kelakuannya kayak gitu. Entah karena mereka udah pada kelaparan. Entah karena emang orangnya aja doyan ninggalin kerjaan.
 
“Ayo, kita cegat taksi didepan aja,” kata Jeanice.
“Hah? Emang kita mau makan dimana Jean?” tanya Fiancy. Dia nggak nyangka kalau sampai mesti pake taksi segala.
“Ke seberang aja kali Fi,” balasnya. Yang dia maksud adalah mall diseberang jalan yang banyak tempat makannya. Kayaknya emang perlu mengajak Opri yang lagi bête itu untuk menikmati suasana yang berbeda.
 
Emang sih, letak mall itu persis berseberangan dengan gedung kantor mereka. Tapi. Jangan kira gampang dicapai. Harus muter dulu supaya bisa naik ke jembatan penyeberangan.  Nah urusan jembatan penyeberangan itu wajib. Kalau nyeberang langsung di jalan, bisa ditangkep polisi. Lagian juga jalannya kan ada jalur cepat. Bahaya banget kalau maksa nyeberang disitu.
 
Bukannya nggak mau sehat sih. Tapi, jembatan penyeberangan itu kayaknya nggak bikin sehat juga kok. Lantainya kotor. Banyak orang jualan ngampar gitu. Terus, pijakan lantainya banyak yang udah bolong-bolong. Udah berbulan-bulan dicuekin aja tuch sama Pemda. Belum lagi debunya. Ditambah sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari siang bolong khas ibu kota. Bisa rusak deh bedak kita. Jadinya, ya mendingan pake taksi aja. Paling argonya cuman lima belas ribuan.
 
Nggak terlalu mahal, kan?
Kan berlima naik satu taksi. Biar uyel-uyelan juga tapi kan seru. Dan ekonomis, lagi. Asal bisa ngerayu sopir taksinya aja dong. Pasti bisa deh. Ditambahin sedikit doa biar nggak ada polisi yang mergokin kita… hihi… kan jalannya deket. Cuman mau nyeberang. Cari puteran. Sampai deh.
 
Mereka langsung memesan makanan dan minumannya masing-masing, ketika pelayan restoran itu datang. “Jangan pake lama ya, Mbak…” Aiti berseloroh kepada sang pelayan.Namanya pelayan. Ya pastinya nge-iya-in dong.
 
Setelah beberapa saat menunggu, pesanan minuman datang. Semuanya sudah lengkap.
“Makanannya mana, Mas?” Sekris nggak bisa lagi nahan rasa lapar.
“Ditunggu sebentar ya Mbak, sedang disiapkan…” jawab pengantar makanan itu.
“Perasaan, elo punya persediaan makanan yang banyak deh, Kris…” goda Fiancy.
“Nggak gue bawa, Fi…” jawab Sekris dengan polosnya. “Kirain nggak pergi kesini..” tambahnya.
 
“Lah, itu yang ada dipipi sama paha elo…?” Opri sudah bisa bercanda lagi.
“Emangnya…..” Sekris sedikit cemberut. “Badan gue, udah segitunya ya…..” dia menambahkan dengan nada yang sedih.
 
“Nggak kok Kris, elo tetep cantik kok…,” hibur Fiancy. Dia menyesal karena tadi dialah yang memulai melemparkan bola panas itu.
 
“Udahlah Kris, ngapain sih elo pusing dengan body elo,” Timpal Opri. “Hepi aja lagi. Lihat nih gue.” Sambil berkata begitu Opri memamerkan otot bisepnya yang menonjol.
 
“Ih, gila lo ya Pri…. Ini restoran tauk,” Jeanice yang sedari tadi diam aja tergoda untuk bicara. Kemudian mereka semua tertawa bersama.
 
Satu demi satu makanan yang mereka pesan datang. Tersaji diatas meja dengan pasrahnya. Untuk mereka santap dengan lahap.
 
“Punya gue mana?” Begitu Opri bilang ketika pelayan mengatakan ‘sudah semua ya Mbak’.
 
Ada sedikit keributan disitu. Apalagi pas menimpa Opri. Kena damprat habis deh pelayan itu. “Saya hanya mengantar sesuai pesanan, Mbak…” katanya.
 
“Mana tadi temen elo yang nerima orderannya?” hardik Opri.
Tak lama kemudian, pelayan perempuan yang tadi menerima order itu datang. Ada ketidak cocokan antara jumlah pesanan yang dicatatnya, dengan yang di klaim oleh orang-orang kubikal itu.
 
“Ya elo pake dong otak elo itu!” kali ini Opri sudah benar-benar marah. Campur aduk antara lapar. Kesal. Dan sisa-sisa gondok dia ketika menerima telepon dari pelanggan yang marah tadi. “Gue kan datang berlima, masak sih pesan makanannya cuman 4? Mikir nggak sih lu?!”
 
Pelayan itu tergopoh sambil berulang kali minta maaf. Lalu berjanji untuk segera menyajikan pesanan Opri.
 
“Awwas kalau pake lama lagi lu, ya!?!” Teriak Opri sekali lagi.
Teman-temannya nggak ada yang bisa menghalangi Opri. Soalnya mereka juga yakin kalau tadi pesan 5 porsi. Wajar sekali kalau Opri ngambek berat. Untungnya mereka masih bisa berbagi makanan. Sehingga Opri tidak harus sampai kelaparan.
 
Biarpun begitu. Semua orang terus menunggu menu ke-5 itu. Perasaan sudah lebih dari lima belas menit nggak juga datang. Sampai akhirnya Opri berteriak; “Woooi, mana pesanan gue?”
 
Seorang pelayan lari tergopoh. Kali ini bukan pelayan yang tadi datang. Cewek-cewek itu sudah ngerasa kalau itu taktik ngeles jadul yang gampang ditebak. “M-maaf, Mbak….” Kata pelayan itu. Kelihatan sekali kalau dia ketakutan. “M-Menu…. menu yang Mbak pesan sudah keburu habis…”
 
Pernyataannya membuat darah di sekujur tubuh Opri naik hingga ke ubun-ubun. Dia berdiri sambil menggebrak meja…”KENAPA ELO NGGAK NGOMONG DARI TADIIIIIIII!!!!!!!”
 
Kontan saja semua pengunjung restoran ikut kaget dengan keributan yang terjadi. “Mana Manager elo? Suruh dia kesini!!!” teriak Opri lagi.
 
Pelayan itu semakin menggigil. Bukannya pergi memanggil bossnya. Dia malah berjongkok sambil berulang kali meminta maaf. Kasihan sekali dia….
 
Disaat situasi sedang genting itu. Datanglah seorang lelaki kira-kira umur dua lima-an. Dia mengenakan dasi dan jas perlente. Lalu mendekati mereka yang sedang ribut itu dengan jalannya yang tenang dan berwibawa.
 
“Permisi Mbak,” katanya. Sopan sekali. Kelima cewek itu langsung terpana. Terutama Jeanice. Fiancy. Aiti. Dan Sekris. Wajah mereka menyembunyikan bisik hati dan debar jantung masing-masing yang nggak karuan.
 
Cuman Opri yang bisa segera menguasai diri. Lalu katanya; “Jadi elo manager restoran ini, eh?”
 
“O. Bukan, bukan.” Jawab lelaki itu. “Saya bukan manager disini…” katanya.
Opri langsung berhenti tak berkata apa-apa lagi. Kali ini dia sudah salah sasaran. Disaat kritis itu dia juga menyadari. Kenapa ke-4 temannya seperti sedang terkena setrum tegangan tinggi.
 
“Y-Ya, terus ngapain elo datang kesini kalo gitu?” Opri berusaha untuk segera menguasai diri. Sekalian menutup tengsinnya dengan pertanyaan yang nggak kalah agresif.
 
“Ah, ya. Saya lagi makan di meja sebelah sana,” kata lelaki itu sambil menunjukkan meja tempat makannya. “Barusan ada orang yang datang dan minta tolong saya untuk menyerahkan kotak ini kepada Mbak-mbak yang cantik-cantik ini…” lanjutnya.
 
Perasaan ke-4 cewek itu melayang seperti diawang-awang. Jarang banget deh ada orang yang ngomong gitu. Selama ini mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Sampai lupa jika di dunia ini ada hal-hal yang indah seperti itu.
 
Opri menyambar bungkusan itu. Lalu mengucapkan terimakasih dengan mukanya yang tetap ketus.
 
Ketika lelaki itu pergi. Ke-4 cewek lainnya masih mematung melihatnya berjalan keluar dari restoran. Mereka baru tersadar kembali setelah Opri beteriak;”Wooi, nyadar elo pade!”
 
“Iiiih… cute baanggeeet….” Jeanice menggenggam kedua tangannya didadanya sambil menginjak-injakkan kakinya di lantai.
“Siapa namanya tadi ya….?” Aiti nggak kalah gemesnya.
 
“Lah, elo itu ya. Nggak boleh liat cowok dikit,” hardik Opri sambil bergegas membuka bungkusan yang diserahkan oleh lelaki itu.
 
Ketika di buka. Ternyata didalamnya ada sepotong kue keberuntungan.
“Sejak kapan restoran pasta nyediain kue keberuntungan,” celetuk Opri.
 
“Loooh, itu kan dari cowok keren tadi Pri….” Kilah Fiancy. Matanya masih berkeliling sambil berharap masih bisa melihat cowok tadi.
 
“Heh, elo jangan pergi dulu ya!” bentak Opri kepada pelayan yang sudah gemeteran sejak tadi. Kayaknya dia sudah pasrah pada apapun yang akan diterimanya. Demi melayani pelanggan yang galak ini.
 
Opri langsung mengambil kue keberuntungan itu. Penasaran juga sama isinya. Siapa tahu dia bisa mendapatkan hadiah istimewa untuk menebus semua kesialannya seharian ini. Sudah sial diomelin pelanggan seteres. Dikerjain pelayan restoran pula. Jadi sebaiknya kue keberuntungan itu memberikan penghiburan yang bermakna. Kalau nggak, bakal…
 
“KRAAAAKKK!!!” begitu bunyi yang terdengar ketika tangan Opri memecahkannya. Ketika kue keberuntungan itu pecah. Sehelai kertas kecil nongol dari dalamnya. Opri langsung mengambilnya. Lalu membaca tulisan yang ada di dalamnya:
 
KITA ADALAH PELANGGAN BAGI ORANG LAIN
DAN KITA JUGA PELAYAN BAGI MEREKA
 
Ketika selesai membacanya. Mereka langsung teringat kepada Natin. Rupanya tadi Natin kesini. Dan menitipkan kue keberuntungan itu kepada lelaki keren itu.
 
Opri merenung. Wajahnya yang sedari tadi sangar itu perlahan-lahan melembut. Dan akhirnya menorehkan seulas senyum yang indah. Lalu dia berkata; “Tahu aja ya Natin kalau kita lagi butuh nasihatnya….”
 
Ke-4 gadis itu segera menjawabnya. Kedengarannya sih agak nggak nyambung. Tapi, lumayan nyambung juga sih, kalau disambung-sambungin. Seperti kompakan. Mereka mengatakannya bersama-sama; ”Tahu aja ya Natin, kalau kita butuh tukang pos keren…..”  Dasar cewek-cewek galau….
 
Selagi mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terdengar seseorang berkata.
“Pelayan, tolong dong cepet kesini. Saya mau pesan makanan nih…” seorang pelanggan yang baru datang masuk ke restoran itu. Dan langsung beteriak-teriak memanggil pelayan.
 
Para pelayan restoran yang masih syok dengan kejadian tadi tidak langsung menghampirinya. Sampai orang yang baru datang itu kesal dan menjadi marah-marah juga.
 
“Coba panggil pelayannya dengan sopan, deh Pak…” kata Opri.
Pelanggan yang baru datang itu terperanjat. Lalu katanya; “Lho, kok kamu pada disini sih?” Rupanya mereka sudah saling mengenal dengan sangat baik.
 
“Lah, Bapak sendiri ngapain disini?” balas Opri.
“Ngggh… anu… saya… saya ingin tahu aja apakah pelayanan di restoran ini bagus apa nggaakkkk…” katanya.
 
Hooooooh……. Orang-orang langsung merasa lemas…..
 
Tiba-tiba saja semua orang di kubikal menyadari bahwa kita semua adalah pelanggan. Sekaligus pelayan bagi orang lain. Kejadian yang menimpa Opri hari ini, membuat ke-5 gadis cantik itu bisa dengan mudah mencerna pelajaran itu. Sejak saat itu, mereka bertekad untuk melayani pelanggan-pelanggan mereka dengan baik. Seperti halnya mereka ingin dilayani oleh orang lain. Dengan sebaik-baiknya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DeKa – Dadang Kadarusman – 31 Mei 2012

Catatan Kaki:
Melayani dan dilayani itu seperti keping mata uang yang tak terpisahkan. Jika ingin dilayani dengan baik, kita perlu belajar untuk melayani dengan lebih baik.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
 
Rabu, 30 Mei, 2012 22:36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar