Senin, 17 Oktober 2011

Membangun Hubungan yang Sehat

Oleh:  Dadang Kadarusman

Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Salah satu istilah umum yang nyaris menghilang dari kamus kita adalah kata ’kuper’ alias ’kurang pergaulan’. Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk berteman dengan semakin banyak orang dalam jumlah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dulu, jika memiliki teman sampai 100 orang saja Anda termasuk orang yang supel. Padahal, tidak mudah untuk mendapatkan teman sebanyak itu. Untuk berhubungan dengan mereka kita mesti menulis surat lalu mengirimkannya melalui kantor pos. Dan kita, harus menunggu hingga seminggu untuk mendapatkan balasannya. Itu dulu. Sekarang? Bahkan orang paling ’kuper’ pun bisa memiliki teman ribuan. Orang pintar bilang;’kita semakin terkoneksi’. Pertanyaannya adalah; apa yang kita dapatkan dari kesalingterhubungan itu?
 
Pertanyaan itu sama sekali tidak bertendensi untuk mementingkan diri sendiri. Kita memang berhak untuk mendapatkan manfaat dari setiap hubungan yang kita bangun, kok. Sebaliknya, pertanyaan itu juga mengingatkan kita untuk memastikan bahwa hubungan itu bisa memberi manfaat kepada teman kita juga. Lantas, bagaimana kita bisa membangun hubungan yang saling memberi manfaat seperti itu? Salah satu model paling sempurna yang ditunjukkan oleh alam adalah hubungan yang terjalin antara kupu-kupu dengan bunga-bunga yang bermekaran. Kupu-kupu itu mendapatkan nektar, sedangkan bunga-bunga berhasil melakukan penyerbukan. Proses saling memberi manfaat itu berlangsung dalam koridor dan norma-norma positif, sehingga mereka berhasil membangun hubungan yang sehat. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar membangun hubungan yang sehat, saya ajak memulainya dengan mempraktekkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn) berikut ini:
 
1.      Memberi manfaat kepada orang lain.

Ini adalah prinsip mendasar yang perlu kita miliki dalam membangun hubungan yang sehat. Karena sebuah hubungan yang produktif itu selalu ditandai oleh adanya perolehan manfaat, maka dalam membangun hubungan dengan orang lain, kita perlu memastikan; manfaat apa yang bisa kita berikan kepada orang lain. Kesediaan untuk ’memberi manfaat’ kepada orang lain bukanlah sekedar cermin dari kemurahan hati. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang ini memiliki harga diri. Sedangkan harga diri hanyalah milik orang-orang yang bermental sehat. Tahukan Anda bahwa salah satu ciri orang yang terkena depresi itu adalah; merasa dirinya tidak berguna? Makanya, kemampuan untuk memberi manfaat kepada orang lain juga merupakan indikasi apakah seseorang sehat secara mental atau tidak. Apakah Anda sehat secara mental? Tentu saja. Maka, berfokuslah kepada upaya-upaya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Atau, apakah Anda ingin terbebas dari depresi? Sederhana; berikan manfaat yang lebih banyak kepada orang lain. Karena kesehatan mental kita terlihat dalam kemampuan kita memberi manfaat kepada orang lain.
 
2.      Menjembatani hubungan orang lain.

Pada umumnya, benang sari dan putik terdapat pada bunga yang berbeda. Bunga-bunga itu membutuhkan bantuan dari pihak lain untuk mempertemukan antara tepung sari dengan putiknya. Disekitar kita, begitu banyak orang baik yang membutuhkan penghubung. Saat Anda tahu tentang kebutuhan itu, maka Anda bisa mengambil peran untuk menjembatani terbentuknya hubungan itu. Hal ini tidak hanya berlaku soal mencari teman hidup atau soul mate.  Melainkan juga berlaku pada aspek kehidupan lainnya. Saya pribadi telah banyak berhutang budi kepada orang-orang yang bersedia menjadi penghubung seperti itu. Sebagian besar order program pelatihan saya diperoleh atas jasa mereka bahkan tanpa saya minta. Mereka tahu saya punya jasa pelatihan yang baik dan unik. Mereka juga tahu ada orang yang membutuhkan pelatihan itu. Sayangnya, saya tidak terhubung dengan orang atau perusahaan yang membutuhkannya. Sedangkan teman-teman saya berada diantara kami berdua. Lalu mereka dengan sukarela menghubungkan kami. Sungguh, rasa terimakasih dan respek saya kepada orang-orang yang telah berjasa ini tetap abadi didalam hati. Mereka selalu bersedia untuk menjembatani hubungan orang lain.  
 
3.      Membantu orang lain untuk lebih produktif.

Mungkin Anda pernah mempunyai tanaman yang tidak pernah berbuah. Meskipun pohon itu selalu berbunga dengan jumlah yang sangat banyak, tetapi bunga-bunga itu terus berguguran dan berserakan diatas permukaan tanah. Hal itu pasti terjadi jika proses penyerbukan gagal dilakukan. Padahal, sebagian besar tanaman dimuka bumi ini baru disebut produktif jika buah yang dihasilkannya banyak. Manusia juga begitu. ‘Apa yang kita hasilkan’ merupakan ukuran produktivitas kita. Dizaman ini, nyaris tidak ada produktivitas yang dihasilkan dari usaha dan kerja keras sendirian. Justru produktivitas kita semakin tinggi ketika kita ditolong oleh orang lain. Sebaliknya, pertolongan yang kita berikan kepada orang lain juga bisa membantu mereka untuk menjadi pribadi yang lebih produktif lagi. Tanpa penyerbukan, tidak akan pernah ada buah yang dihasilkan. Banyak pohon yang ditebang karena tidak pernah bisa berbuah. Padahal, pohon itu butuh bantuan untuk proses penyerbukannya. Banyak orang yang merana karena produktivitasnya rendah. Bahkan ada yang sampai kehilangan perkerjaan. Padahal sebagai seorang teman, kita memiliki kesempatan dan kemampuan untuk membantu mereka agar lebih produktif. Bersediakah Anda menolongnya?
 
4.      Mendapatkan imbalan yang sepadan.

Kupu-kupu mendapatkan nektar yang dijadikannya sebagai makanan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita perlu belajar menghargai kontribusi orang lain. Juga tidak usah sungkan menerima ucapan terimakasih dari orang lain. Tidak terlalu penting apakah take dulu baru give, atau sebaliknya. Selama memberi dan menerima itu terjalin secara seimbang dalam batas-batas kewajaran, maka hal itu bisa membuat hubungan yang kita bangun jauh lebih sehat. Apakah imbalan selalu dalam bentuk uang? Tidak. Ada kalanya imbalan itu berupa rasa puas yang menelusup kedalam kalbu. Meski hedonisme mengukur segalanya secara materialistik, tapi hati sanubari kita membisikkan bahwa kita membutuhkan lebih dari sekedar pemenuhan aspek fisik. Kita, membutuhkan pemenuhan atas dorongan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah Anda merasa sangat bahagia ketika bisa menolong orang lain mendapatkan kebahagiaan yang dibutuhkannya? Saat bersedakah, Anda merasa senang. Waktu menolong, Anda merasakan kepuasan batin. Ketika berbuat baik, Anda merasakan kedamaian. Itu menunjukkan bahwa meskipun tidak selalu mendapatkan uang, kita pasti mendapatkan imbalan yang sepadan.
 
5.      Harapkan imbalan yang paling hakiki.

Selain dilakukan oleh kupu-kupu, penyerbukan juga dibantu oleh angin. Jika kupu-kupu, lebah dan kumbang mendapatkan manfaat dari interaksi dan kontribusinya kepada bunga; apa yang didapatkan oleh angin? Meski tidak mendapat apapun, angin tetap memberikan bantuan untuk mempertemukan tepung sari dengan putiknya. Inilah contoh tindakan tanpa pamrih. Kita juga bisa berkontribusi kepada orang lain tanpa harus selalu menuntut pamrih. Ada kalanya kita membantu teman menemukan pekerjaan idamannya. Atau merekomendasikan seseorang yang memiliki produk dan jasa yang baik.  Atau sekedar menjadi penghubung agar orang-orang baik saling terkoneksi. Jika Anda tidak mengharapkan imbalan, maka nilai kebaikannya sangatlah tinggi. Lantas, apa yang didapatkan oleh angin? Dia memperoleh fitrahnya untuk menjalankan fungsi sebagai mahluk Tuhan. Lalu, apa yang Anda dapatkan dari tindakan tanpa pamrih itu? Nanti, jika Anda membutuhkan bantuan; teman-teman Anda akan dengan senang hati menolong Anda, bahkan dengan cara yang tidak terduga. Dan buat Anda yang tidak pamrih, ada pahala yang sangat besar dihadapan Tuhan. Bagi setiap insan yang mau berkontribusi tanpa pamrih, tidak ada imbalan yang lebih baik daripada pahala yang disediakan Tuhannya.
 
Sudah menjadi fitrah setiap pribadi untuk berteman dengan individu lain. Saling mengenal. Saling berbagi. Saling berkontribusi. Jika kita bisa berfokus kepada hal-hal positif seperti itu, maka kesalingterhubungan kita akan menghasilkan berkah yang melimpah. Sekalipun demikian, tetap saja kita perlu waspada. Sebab, tidak semua orang berteman dengan tujuan konstruktif. Terbukalah terhadap pertemanan yang baik. Namun, tegaslah untuk selalu menjaganya dalam koridor yang tetap positif. Teman yang baik, bisa membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jika itu terwujud, maka pertemanan kita tidak menghasilkan apapun selain kebaikan. Bersediakah Anda untuk membangun hubungan yang sehat bersama saya?
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - Deka –  29 September 2011
Penulis buku ”Natural Intelligence Leadership” (jadwal terbit Oktober 2011)
 
Catatan Kaki:
Teman terbaik adalah seseorang yang bersedia mengulurkan tangan ketika temannya membutuhkan bantuan, tanpa terlebih dahulu bertanya; what in it for me?
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Kamis, 29 September 2011  08:55

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar