Minggu, 21 Oktober 2012

BOOGIE Fun Trekking: the Discipline of Execution




© 2006. Nugroho Adhi W. All rights reserved.

Cerita ini bermula ketika di pertengahan bulan November 2006 yang lalu saya menerima sms dari seorang teman di Boogie yang isinya kalau diterjemahkan dari bahasa sunda adalah kira-kira begini, “Dhi, saya kesasar nih, sekarang kita lagi survey rute untuk trekking. Ternyata pemandangan dan alam disini bagus lho…”

Karena penasaran sekaligus tertarik, saya balas smsnya. ”Rute trekking buat apaan? Nanti kalau sudah jadi boleh ikutan nggak?”


”Boleh aja. Nanti dikabarin kalau program trekking udah mau jalan.” balas teman saya.

Di akhir bulan November, teman saya mengabari kalau acara trekking akan dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Desember 2006. ”Mau ikut nggak Dhi?” tanya teman saya. ”Sekalian saya kirim gambaran perjalanannya.”

Dari fax yang saya terima saya baca judulnya, ’FUN TREKKING CURUG PANJANG – GUNUNG PANCAR’. Setelah saya pelajari detailnya sepertinya asyik juga. Fun Trekking ini dimulai dari Mega Mendung dan melintasi 3 gunung di wilayah Bogor, yaitu gunung malang, gunung paseban dan gunung pancar.

Akhirnya H-1 pun tiba. Saya dengan seorang teman yang berangkat langsung dari kantornya di Cakung sengaja datang tanggal 8 Desember malam ke Bogor agar kami bisa mendapat cukup istirahat, karena menurut jadwal perjalanan akan dimulai jam 7.30 pagi. Malam itu kami menginap di saung Boogie yang terletak di tengah luasnya kebun singkong. Tidur di saung hanya beralaskan tikar buat saya merupakan latihan pendahulu untuk acara fun trekking ini.

Jam 6 pagi kami sudah bersiap-siap. Packing perlengkapan yang diperlukan. Walaupun dalam fax yang saya terima menyatakan bahwa setiap peserta disarankan untuk membawa pakaian jalan dan tidur, sleeping bag, P3K pribadi, alat makan, makanan tambahan tenda dan alat masak, tapi berhubung semua peralatan adventure saya ada di bandung, maka saya hanya membawa LowePro Computrekker yang berisikan seluruh peralatan fotografi yang saya miliki, P3K sederhana, 2 set pakaian, payung, 1 botol Aqua 600 ml dan peralatan mandi. Total berat tas saya berkisar antara 13-15 kilogram, dan perlengkapan fotografi menyumbang 80 persennya. Tadinya mau bawa tripod, tapi akhirnya dibatalkan. Kalau saya bawa kebayang ada beban tambahan seberat 2.5 kilogram.

Tolong jangan meniru apa yang saya bawa dan lakukan kalau mau trekking.

Nekat? Mungkin saja. Apalagi ketika bertemu dengan tim dari Boogie dan peserta lainnya, mereka membawa tas carrier ukuran minimal 80 liter yang biasa dipakai untuk ekspedisi pendakian dengan isi carrier seperti yang disarankan oleh Boogie.

”Kamu Cuma bawa itu aja Dhi?" tanya teman saya di Boogie ketika melihat saya cuma membawa computrekker. “Di atas sana kan dingin banget. Tingginya sekitar 1800an meter lho!”

“Yep. Hanya ini aja.” Jawab saya. ”Nggak ada yang lain. Makanan sudah pasti terjamin oleh pihak panitia. Tempat berlindung, bisa buat bivak, atau kalau ada rumah penduduk bisa numpang nginep.”

Untuk menguatkan hati, saya mencoba menyitir kalimat dari Reinhold Messner yang di majalah National Geographic edisi November 2006 mendapat sebutan the greatest mountaineer, “Without the possibility of death, adventure is not possible." kata saya di dalam hati.

Karena menunggu peserta dari Jakarta yang datang terlambat, maka jadwal keberangkatan menjadi molor. Sekitar jam 10.30 kita baru berangkat dari kantor pusat Boogie di Bogor dengan menggunakan mobil angkot yang dicarter menuju curug Panjang di Mega Mendung.

Dan tantangan pun dimulai...

Setibanya di curug panjang sekitar jam 12 siang kita mulai berjalan. Tidak tanggung-tanggung, langsung mendaki di jalan koral di tengah terik matahari. Kepala saya langsung terasa pusing karena kepanasan. Apalagi ketika melihat tanjakan di depan dan banyak peserta yang terpaksa berhenti dan beristirahat di tengah tanjakan. Sepertinya menjadi awal perjalanan yang sangat berat sekali.

Di awal perjalanan ini saya teringat pada artikel ‘the Discipline of Execution’ yang ditulis oleh Ram Charan di majalah Corporate Event yang bisa dibilang merupakan intisari dari buku Execution. Dia menyatakan keberhasilan sebuah organisasi tergantung dari eksekusinya. Dan inti dari eksekusi terletak pada tiga elemen inti, yaitu manusia, strategi dan operasional.


Manusia adalah elemen yang paling penting.
Semua proses dimulai dan juga bermuara pada manusia. Bagaimana dia melihat dan menganalisa lingkungan sekitarnya, menyadari dan mengantisipasi perubahan yang terjadi, mempersiapkan dirinya, dan mengambil keputusan yang sesuai terhadap itu semua. Dalam kasus fun trekking ini, manusianya adalah saya sendiri yang terus terang saja, dalam hal perlengkapan kalah jauh dibandingkan dengan yang lain, tetapi dalam hal yang lainnya belum tentu.

”Jangan berhenti di tengah tanjakan, berhenti ketika berada di tanah datar dan jangan duduk,” kata saya dalam hati.


Elemen kedua adalah strategi. Tujuan dari dibuatnya sebuah strategi adalah untuk mencapai sasaran yang diinginkan, jadi sederhananya strategi adalah cara yang dikembangkan untuk mencapai sasaran. Sasaran perjalanan di hari pertama adalah mencapai camping ground di Cisadon setelah melewati gunung Malang dan gunung Paseban. Untuk mencapai camping ground saya harus mengetahui beberapa hal yang menurut saya sangat penting, yaitu:

- bagaimana rutenya? Mendaki? Menurun?
- Dimana saja titik yang menjadi tempat peristirahatan?
- seberapa jauh jaraknya? Lewat berapa punggungan gunung? Kelihatan tidak?

Hal tersebut menurut saya sangat penting, karena dengan mengetahui hal tersebut saya jadi memiliki gambaran mengenai perjalanan dan tujuan akhirnya. Bahasa kerennya kalau di dunia bisnis adalah saya memahami visi dan arah perusahaan. Dengan mempunyai gambaran, maka saya bisa mengatur kecepatan langkah, menentukan waktu untuk ’mencuri’ istirahat dan berapa lama agar tidak tertinggal, dan juga mengatur stamina. Bayangkan kalau saya tidak mengetahui tujuan, bisa jadi saya berjalan dengan semangat ’45 tapi tidak lama kemudian kehabisan nafas dan stamina.

Sekarang, bayangkan juga apa yang terjadi kalau orang-orang di perusahaan Anda tidak mengetahui kemana arah dan tujuan perusahaan. Visi dan misi perusahaan hanya sekedar WOW alias Words On Wall, banyak perusahaan yang terjebak pada WOW, bilangnya ”kita sudah memiliki visi dan misi”, pernyataan visi dan misi yang dilengkapi dengan nilai-nilai perusahaan dicetak, diberi bingkai dan dipajang, tetapi ketika ditanyakan pada karyawan apa visi dan misi perusahaan, jawaban mereka jauh dari harapan.

Masalah komunikasi? Bisa jadi. Visi dan misi tidak dikomunikasikan pada semua orang di dalam perusahaan sehingga akhirnya perusahaan menjadi kurang bisa membangun komitmen dari setiap orang terhadap visi dan misi.


Elemen ketiga adalah operasional. Elemen ini merupakan gabungan dari manusia dan strategi yang diterjemahkan ke dalam rencana aksi dan semua pihak yang terlibat harus mempunyai komitmen yang tinggi terhadap rencana aksi ini.

Rencana operasional terbagi ke dalam 3 bagian yaitu:

Pertama, tentukan targetnya. Untuk menentukan target, setiap sampai di titik peristirahatan saya selalu menyempatkan diri untuk bertanya pada orang yang mengetahui rute perjalanan atau pemandu, “dimana titik perhentian berikutnya? Berapa lama perjalanan dari sini?”

Kedua, kembangkan rencana aksi jangka pendek untuk mendukung rencana jangka panjang. Rencana aksi saya tidak jauh berbeda dengan strategi yang saya ungkapkan di bagian sebelumnya. Mengatur ritme langkah, berhenti berjalan dikala perlu agar stamina tetap terjaga, dan tidak pernah duduk kecuali di titik peristirahatan yang sudah ditentukan.

Ketiga, minta persetujuan dari semua pihak yang terlibat, kembangkan cara pengukuran hasil yang dicapai, dan pastikan bahwa semua orang tersebut memenuhi komitmen mereka. Komitmen saya dalam perjalanan ini sudah tentu tidak perlu dipertanyakan. Untuk pengukuran pencapaian, di perjalanan saya selalu menyempatkan diri untuk bertanya pada pemandu, “kita sudah sampai dimana? Kira-kira berapa lama lagi kita sampai?”

Tanpa terasa, dengan menerapkan disiplin eksekusi saya bisa mencapai camping ground tanpa harus menghabiskan banyak energi, walaupun di sepanjang perjalanan kepala tetap pusing karena sempat cukup lama terkena teriknya sinar matahari. Malam itu saya habiskan dengan melihat pemandangan city lights kota Bogor sambil ngobrol ngalor-ngidul dengan teman saya.

Begitulah cerita penerapan disiplin eksekusi dalam tingkatan individu. Dalam tingkat organisasi, akan semakin kompleks karena akan melibatkan banyak orang.

Bagaimana menurut Anda?


N. Adhi W.
BOLDER: partner for excellence
helping companies and people getting better results
 

Senin, 25 Juni, 2012 21:07

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar