Minggu, 21 Oktober 2012

Bottle-neck!


Oleh: Andre Vincent Wenas


“Ambition is the main driving power of men. A man expends his abilities as long
as he hopes to rise. One can never set limits to one’s capacity.” – Napoleon
Bonaparte, Memoirs.

***

“Ekonomi mendorong terjadinya globalisasi, terutama melalui turunnya biaya
komunikasi dan transportasi. Namun politiklah yang membentuknya. Aturan
permainan secara luas telah ditetapkan oleh negara-negara industri maju – dan
biasanya ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu dari negara-negara
tersebut – dan, tak perlu heran, mereka telah membentuk globalisasi demi
mengembangkan kepentingan mereka sendiri.” – Joseph E. Stiglitz, Making
Globlization Work, 2006.

***

    Dalam perdagangan internasional siapa pun tahu bahwa fungsi pelabuhan laut
sangatlah imperatif. Seperti mulut dan leher botol ia merupakan pintu keluar dan
masuk barang-barang impor maupun ekspor. Kapasitas besaran “mulut/leher botol”
(baca: pelabuhan) akan menentukan kecepatan aliran dan besaran arus barang yang
pada akhirnya akan menentukan besaran total (volume) perdagangan di suatu
periode tertentu.

    Dan mengenai kinerja “mulut botol” ini, kita coba tilik satu kasus
bisnis yakni Tanjung Priok yang merupakan landmark pelabuhan di Indonesia yang
bertanggungjawab atas sekitar 65 persen arus impor-ekspor nasional. Di pelabuhan
utama Indonesia ini – menurut data Pelindo (Jakarta Post, March 22, 2011) – ada
tiga terminal container yang masing-masing pengelolanya sebagai berikut:
Terminal 1 dan 2 dikelola oleh JICT (Jakarta International Container Terminal)
dan Terminal kontainer Koja. Kecepatan aliran container di ketiga terminal ini
hanyalah 9-10 kontainer per jam, sehingga kapal jadi mesti menunggu paling cepat
empat hari untuk loading/unloading muatan kontainernya. Sehingga ALI (Asosiasi
Logistik Indonesia) menyebutkan bahwa biaya logistik di Indonesia adalah salah
satu yang tertinggi di ASEAN, yakni pada angka 25-30 persen dari GDP. Bahkan
hasil survey Bank Dunia tentang Logitic Performance Index (LPI) telah
menempatkan Indonesia diurutan ke-75 dari 155 negara yang disurvey. Sebagai
perspektif, Malaysia di posisi ke-29, Thailand ke-35, Filipina ke-44, dan Vietnam
ke-53. Survey Bank Dunia mengenai indeks kinerja logistik negara ini diantaranya
mencakup beberapa faktor: efisiensi custom-clearance dan period of shipment
deliveries yang sebagiannya tergantung pada efisiensi pengoperasian pelabuhan.

    Saat ini di Indonesia ada empat operator pelabuhan: Pelindo I berbasis di
Medan Sumatera Utara, Pelindo II di Jakarta, Pelindo III di Surabaya dan Jawa
Timur, serta Pelindo IV di Makassar Sulawesi Selatan.

    Dilatarbelakangi oleh lemahnya infrastruktur/peralatan penanganan material
di pelabuhan (port materal-handling equipments)  ini lah akhirnya PT Pelindo II
berencana merealisasikan US$342 juta (atau sekitar 3 trilyun rupiah) dalam
belanja modal (capital expenditure)nya demi mendongkrak kapasitas
terminal-terminalnya. Misalnya Tanjung Priok akan menyerap 2,7 trilyun rupiah
demi membeli 47 unit peralatan berat seperti luffing-cranes, dan
quay-container-cranes untuk menunjang kecepatan aktivitas bongkar-muat kontainer
di pelabuhan. Sementara ini, Tanjung Priok menangani sekitar 4,61 juta TEU
(twenty-foot equivalent units) kontainer  selama tahun 2010 kemarin. Kinerja
2010 ini adalah peningkatan signifikan (21%) dari kinerja tahun 2009 yang
sebesar 3,8 juta TEU. Lompatan di tahun 2010 kemarin cukup fenomenal lantaran
dibanding tahun-tahun sebelumnya tingkat pertumbuhannya cuma 2-3 persen.
Rehabilitasi besar-besaran di kawasan Tanjung Priok  demi mengejar
ketertinggalannya juga akan diikuti dengan ekspansi container-piling-yards yang
bakal mentransformasikan keberadaan 13 gudang yang ada sekarang dengan biaya
115,1 milyar rupiah. Penguatan dermaga-dermaga seluas total 20 hektar juga mesti
dilakukan dengan anggaran 82,9 milyar rupiah. 

    Selain itu, demi melebarkan kapasitas pelabuhan, Pelindo II juga segera
bakal memulai mega-proyeknya membangun konstruksi terminal kontainer Kalibaru
Utara sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang pelabuhan Tanjung Priok.
Investasi proyek Kalibaru Utara ini bernilai 22 trilyun rupiah! Terminal ini
bakal mempunyai panjang total 3500 kilometer dan dialokasikan untuk kargo minyak
dan gas. Terminal baru ini juga bakal melipatgandakan kapasitas terminal yang
saat ini sekitar  6 juta TEU menjadi 11 sampai 12 juta TEU di tahun 2016.
Peningkatan kapasitas pelabuhan ini bukan hanya di Jakarta (Tanjung Priok) tapi
juga akan merambah ke pelabuhan-pelabuhan di Palembang, Pontianak dan Bengkulu,
dengan total dana investasi yang disiapkan sebesar 1,5 trilyun di tahun depan.

***

    Pelabuhan merupakan mulut/leher botol di mana kegiatan ekonomi khususnya
perdagangan antar pulau dan antar negara terjadi dalam kenyataannya. Arus fisik
barang bakal bergerak melalui pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain. Kemacetan
di leher/mulut botol di pelabuhan-pelabuhan Indonesia ini merupakan tantangan
besar perdagangan domestik (inter-islands) maupun perdagangan antar-bangsa
(inter-nations). Janganlah sampai kita mencekik leher kita sendiri!

-------------------------------------------------
Artikel ini pernah dikirimkan oleh Kontributor ke  Majalah MARKETING edisi April 2011. Segala hal yang menyangkut sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Kontributor

Minggu, 22 Juli, 2012 22:17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar