Senin, 22 Oktober 2012

Leaderism#8: Memahami Kebutuhan Anak Buah


Oleh:  Dadang Kadarusman
 
Hore!
 
Hari Baru, Teman-teman.
 
Pemimpin yang sempurna itu kayaknya tidak ada ya. Setidaknya, begitulah hasil pengamatan saya. Sebaik apapun cara kita memimpin, tidak akan bisa memenuhi harapan semua orang. Kita juga tidak bisa memenuhi semua harapan. Hal itu tidak selalu disebabkan karena terbatasnya otoritas kita, atau kesalahan kita. Melainkan juga karena ada hal-hal yang kita lakukan dengan niat yang baik namun tidak pada tempatnya.  Lho, kok bisa? Buktinya, cukup banyak kan atasan yang sudah merasa melakukan yang terbaik buat anak buahnya namun masih dinilai jelek oleh mereka. Mengapa bisa begitu ya? Bisa, jika semua yang kita lakukan untuk anak buah itu tidak dilandasi oleh pemahaman yang baik terhadap kebutuhan mereka.
 
Tidak mudah untuk memahami kebutuhan anak buah. Khususnya bagi orang yang selalu yakin bahwa apa yang dilakukannya itu adalah yang terbaik buat mereka. Padahal memahami kebutuhan itu penting sekali. Karena apapun yang kita lakukan untuk anak buah, jika tidak sesuai dengan kebutuhan mereka; maka hasilnya tidak akan optimal. Mungkin juga sia-sia. Bahkan boleh jadi malah bisa berbahaya bagi mereka. Pagi ini saya kembali diingatkan tentang betapa pentingnya memahami kebutuhan anak buah itu. Ijinkan saya menceritakannya kepada Anda.
 
Hari minggu kemarin, kami berencana menyajikan hidangan buka puasa istimewa di rumah. Saya pergi ke pasar, lalu membeli 3 ekor kepiting berukuran jumbo. Salah satunya berbobot 700 gram dengan capit yang sangat besar. Sebagai penggemar kepiting, kami bisa membayangkan kelezatan dagingnya yang tebal. Namun karena jalan pulang macet berat, saya tiba di rumah tepat ketika masuk waktu buka sehingga tidak ada waktu lagi untuk memasaknya. Maka kami pun memutuskan untuk menyajikanya saat buka puasa besok saja. Menunggu semalam lagi tidak menjadi soal. Anggap saja sebagai pengobar selera, agar besok kami benar-benar ‘all out’ menikmatinya.
 
Sepulang sembahyang tarawih, saya menengok kepiting-kepiting itu. Membayangkan mereka sudah berjam-jam dipajang pedagang tanpa air membuat saya merasa kasihan pada mereka. Tentunya mereka sangat merindukan air. Maka saya pun berinisiatif untuk memasukkan kepiting itu kedalam wadah berisi air. Maksud saya; supaya mereka bisa menikmati malam terakhirnya dengan nyaman seperti di alam bebas. “Anggap saja di rumah sendiri ya…” Lalu saya pun meninggalkan kepiting itu di dalam air bening dan menyegarkan.
 
Keesokan paginya saya menengok mereka. Dengan harapan bisa melihat capit-capit besarnya bergerak kesana-kemari. Tapi mereka malah pada diam saja. Saya menggodanya. Dengan harapan mereka menggunakan capitnya yang kuat untuk menyerang. Namun, mereka sama sekali tidak bereaksi. “Mengapa kepiting-kepiting itu tidak merespon?” saya tercekat. Lalu memberanikan diri menangkapnya. Mereka tidak melakukan perlawanan sama sekali. Duh, ternyata mereka semua sudah pada mati.
 
Saya diberitahu seseorang bahwa itu adalah kepiting air payau sehingga justru akan mati kalau disimpan dalam air tawar. Oh. Rasanya seperti disentil karena telah melakukan kesalahan besar. Ternyata, niat baik saya untuk kepiting-kepiting itu justru membuat mereka mati tenggelam. Sekarang perasaan saya bercampur aduk antara kasihan dan menyesali kebodohan diri sendiri. Gara-gara tidak mengerti kebutuhan kepiting-kepiting itu, maksud baik saya malah membahayakan mereka.
 
Di kantor, kita mungkin tidak melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa seperti itu. Namun, jika kita melakukan kebaikan untuk orang-orang yang kita pimpin tanpa mengerti kebutuhan mereka; maka hasilnya belum tentu menjadi baik. Mungkin juga kita hanya mengatakan sesuatu yang menurut kita benar. Namun, boleh jadi justru hal itu sangat menyakitkan perasaan anak buah kita. Soal ini, saya pernah mengalaminya sendiri. Ketika saya merasa telah mengatakan yang seharusnya, namun ternyata itu tidak cocok untuk orang-orang tertentu, meskipun orang lainnya baik-baik saja. Sekarang, saya lebih paham mengapa mereka begitu.
 
Kepiting-kepiting itu tampak utuh. Maka saya pun segera menyiapkan alat dapur untuk membersihkannya. Namun, ketika saya memotong bagian-bagiannya, saya menemukan bahwa daging kepiting itu sudah membusuk didalam. Tidak ada lagi yang masih tersisa untuk diselamatkan. Semuanya sudah mencair sambil mengeluarkan bau tidak sedap. Ketika kita melakukan sesuatu yang keliru untuk anak buah kita. Mungkin saja penampakan fisik mereka baik-baik saja. Senyum mereka masih bisa kita lihat. Kata-kata mereka masih terdengar ‘normal’. Namun, siapa yang tahu bisikan didalam hati mereka? Namanya juga anak buah. Tentu berusaha untuk bersikap baik pada atasannya. Namun, didalam hatinya? Tidak seorang pun tahu.
 
Maka penampilan anak buah yang terlihat baik-baik saja belum tentu menunjukkan bahwa perlakuan kita kepada mereka sudah tepat. Meskipun mereka bisa menyesuaikan diri, namun cepat atau lambat mereka akan mengalami kelelahan. Lalu, tanpa kita sadari mulai membusuk dari dalam. Kenyataannya tidak ada orang yang bisa bertahan terlalu lama di suatu tempat atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kebutuhan emosinya. Persis seperti daging kepiting yang tampak utuh dari luar, namun hancur di dalam itu.
 
Sekarang saya paham, apa yang dibutuhkan oleh kepiting air payau. Jika kelak membelinya kembali, saya tahu apa yang mesti saya lakukan untuk mereka agar tidak menyebabkan mereka menderita karena niat baik saya. Andai saja kita juga bisa lebih memahami kebutuhan orang-orang yang kita pimpin. Mungkin kita menjadi tahu persis tentang apa yang mesti kita lakukan untuk mereka sehingga tugas kepemimpinan ini bisa kita tunaikan dengan sebaik-baiknya. Insya Allah, kita akan bisa melakukannya jika kita belajar untuk lebih memahami apa sesungguhnya yang mereka butuhkan dari kita.
 
Salam hormat,
 
Mari Berbagi Semangat!
 
Catatan Kaki:
 
Memahami kebutuhan fisik dan emosi anak buah itu sangat penting untuk memastikan kita bisa melakukan yang terbaik bagi mereka.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Minggu, 29 Juli, 2012 22:40

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar