Jumat, 19 Oktober 2012

Semiglobalisasi


Oleh: Andre Vincent Wenas

“The future, including whether the direction of globalization creates headwinds or tailwinds for global strategies, certainly has a bearing on the success or failure of those strategies. But it should not be allowed to crowd out consideration of other factors that also matter, including those in the here and now.”– Pankaj Ghemawat, ‘Redefining Global Strategy: Crossing Borders in a World Where Differences Still Matter’, Harvard Business School Press, Boston 2007.

***


     Untuk meningkatkan hubungan dengan Indonesia, maka wakil presiden Iran Ebrahim Azizi dikabarkan akan menunjuk pejabat khusus demi menangani program kerjasama
bilateral, terutama ekonomi dan perdagangan. Kebijakan pemerintah Iran baru-baru ini menarik dikaji. Walaupun minyak masih menjadi sumber utama pendapatan Iran, namun dana yang diperoleh dari minyak tidaklah lagi dipakau untuk membiayai operasional administrasi pemerintahan, paling tidak dalam 5 tahun kedepan. Hasil dari minyak Iran hanya dipergunakan untuk investasi dan program pengembangan. Dilaporkan juga (Kompas, 23 Juni 2012) bahwa saat ini Iran juga membuat kas khusus untuk menampung dana yang disisihkan dari hasil penjualan minyak yang nilainya mencapai 30 miliar dollar AS atau sekitar Rp 283 triliun per tahun.

     Dengan negara jiran Malaysia, kita bertikai lagi. Indonesia pernah marah soal pelanggaran tapal batas, perlakuan buruk terhadap TKI, sampai ke soal pencurian ikan. Baru-baru ini Malaysia mendaku (meng-klaim) warisan budaya kita, tari tortor, yang dari Sumatera Utara itu. Tarian yang energetik ini memang unik dan dinamis gayanya. Cocok untuk menyimbolkan keakraban dan membangun suasana kekerabatan yang erat. Kita akui bahwa Indonesia memang lalai dan lengah dalam menjaga dan apalagi mengelola dengan baik aset-aset warisan budaya serta mengapitalisasikannya secara ekonomis demi kemaslahatan bangsa Indonesia sendiri.

     Terpicu oleh munculnya dua fenomena itu (soal hubungan bilateral dengan Iran, dan persinggungan budaya dengan negara jiran Malaysia) kita seolah kembali diingatkan bahwa ditengah arus globalisasi yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai fenomena runtuhnya batas-batas demarkasi negara-bangsa, dan semakin uniform-nya kultur mondial, justru keunikan dan pelbagai perbedaan yang nyata ada dunia saat ini (the reality of the here and now) adalah merupakan kekayaan pasar yang bisa juga digarap jika saja kita menyadari dan punya kerangka analisa yang bisa membantu.

***

     Dunia yang oleh banyak cendekiawan disebut semakin global, dalam arti semakin menyatu dengan runtuhnya batas-batas pergerakan arus barang, arus uang, arus informasi dan arus orang, di mata Prof.Pankaj Ghemawat belumlah seterbuka atau sedahsyat yang dikira oleh banyak orang. Menurutnya, posisi gerak globalisasi dunia saat ini paling banter hanya layak disebut sebagai semiglobalisasi. Studinya yang dilengkapi dengan informasi tentang ‘level of internationalization’ masihlah dalam kisaran ‘the 10 percent presumption’. Indikator-indikator internasionalisasi yang diukur misalnya ‘telephone calls’ (yaitu: international component of total calling minutes) yang bahkan belum mencapai kisaran 5%. Indikator lainnya: immigrants (to population), university students, management research, private charity, direct investment, tourist arrivals, patents, stock investment, dan trade (to GDP) yang rata-rata perbandigan dunianya belum mencapai 10 persen.

     Untuk mendeteksi berbagai perbedaan yang relevan dalam penyusunan strategi global, Prof.Pankaj Ghemawat dari Harvard Business School, USA, yang saat ini sedang menjadi gurubesar tamu IESE Business School di Barcelona, Spanyol, mengusulkan tiga kerangka kerja (framework) analisis dan praktis.

     Pertama adalah ‘CAGE distance framework’ yang berargumentasi bahwa perbedaan antar negara bisa diukur dalam dimensi Cultural, Administrative, Geographic, dan Economic. Dengan memahami keberjarakan masing-masing negara dalam dimensi-dimensi itu bakal membantu mengenali setiap kendala dari strategi global Anda yang mesti diatasi.

     Kedua adalah ‘ADDING Value scorecard’ yang terdiri dari 6 komponen, yaitu: Adding volume or growth, Decreasing costs, Differentiating or increasing willingness-to-pay, Improving industry attractiveness or bargaining power, Normalizing (or optimizing) risk, Generating knowledge (and other resources and capabilities).

     Ketiga adalah ‘AAA triangle’ yang bisa dipakai dalam penyusunan strategi besar untuk melintasi batas-batas perbedaan yang ada: Adaptation, untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan. Lalu Aggregation, untuk mengatasi perbedaan. Dan akhirnya Arbitrage, untuk justru menarik keuntungan dari ketidakseimbangan antar pasar yang memang tidak terhindarkan. Seyogianya, strategi ini mampu melebarkan ruang gerak korporasi untuk melampaui strategi konvensional “one-size-fits-all”.

***

     Pesannya, dalam menyikapi fenomena globalisasi ini, janganlah kita terburu-buru untuk menyamaratakan semua situasi pasar dengan strategi satu pendekatan untuk seluruh medan dengan mengabaikan realitas perbedaan yang nyata ada disini dan pada saat ini.  

     Sekedar contoh saja, dalam CAGE distance framework, perbedaan budaya (Cultural) sangatlah berarti tatkala produknya sarat dengan konten bahasa (misalnya program televisi tertentu), soal selera lidah masyarakat tertentu, gaya keunikan dalam tarian, motif-motif, ekspresi berkesenian dan lain-lainnya. Dalam aspek Administrative distance contonya misalnya pemerintah Iran yang punya policy unik soal pengelolaan dana dari penjualan minyaknya. Aspek Geographic distance dan Economic distance adalah kenyatan perbedaan letak geografis suatu negara atau bangsa dan realitas kinerja ekonominya. Keunikan dan pelbagai perbedaan ini justru adalah potensi yang bisa dikapitalisasi sedemikian rupa.

     Memang dibutuhkan kreatifitas serta kerja keras serta tekan untuk tidak lagi lengah dan lalai dalam menjaga serta mengelola warisan aset budaya. Semoga.
 ----------------------------------------------------------
 Artikel ini telah dikontribusikan oleh Kontributor ke Majalah MARKETING edisi Juli 2012. Segala hal yang berkaitan dengan sengketa Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor
Selasa, 10 Juli, 2012 01:00

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar