Jumat, 19 Oktober 2012

Personalism#6: Kematangan Emosi Dalam Profesi




Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Kalau kita melihat para senior yang sudah hebat-hebat, kadang-kadang ada perasaan campur aduk ya. Kagum pada kecanggihan dan kepiawan mereka. Juga minder setiap kali berhadapan dengan mereka. Jika kita perhatikan; semakin canggih mereka, semakin percaya diri penampilannya. Rasanya kita ini tidak ada apa-apanya dihadapan mereka. Lalu seribu tanya pun memenuhi benak kita. Adakah dimasa depan kita mempunyai peluang untuk meraih pencapaian seperti mereka? Bagaimanakah caranya mereka mencapai kematangan emosi dan profesi seperti itu?
 
Diruang tunggu dokter gigi, saya menyaksikan acara ‘Master Chef’ di sebuah stasiun televisi swasta. Para peserta terlihat tegang sekali menghadapi tantangan yang harus mereka selesaikan. Sementara para juri, santai saja karena sepertinya mereka sudah menguasai segala hal. Ada yang mengejutkan buat saya. Karena salah satu juri itu adalah mantan peserta Master Chef episode sebelumnya. Ketika menjadi peserta di episode sebelumnya Sang Juri tamu itu pernah terlihat sama stressnya. Tapi sekarang, beliau berdiri dan berbicara dengan rasa percaya diri yang tinggi. Inilah contoh dari orang yang telah berhasil mencapai kematangan emosi dalam profesinya. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar meraih kematangan emosi dalam profesi, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini: 
 
1.      Semua buah pada awalnya mentah. Tidak ada kan, buah yang langsung matang? Begitu juga dengan karir dan profesi kita. Tidak ada yang langsung matang begitu memulainya pertama kali. Memang sudah menjadi fitrahnya begitu. Semua orang yang sekarang kita lihat telah berhasil menjadi pribadi-pribadi mumpuni sekalipun, memulai karir mereka dari awal yang sama. Yaitu awal yang penuh debaran dan ketidaktahuan, serta lemahnya keterampilan. Proses tempaan sepanjang waktulah yang kemudian membawa mereka kepada tingkatan keterampilan yang tinggi. Jadi, kalau melihat seseorang yang sedemikian suksesnya dalam karir dan profesinya; tidak usah berkecil hati. Kita pun bisa mencapai tingkatan itu jika terus gigih meningkatkan diri. Bersabarlah dengan posisi dan situasi yang kita hadapi saat ini. Kegigihan akan mengantarkan kita kepada pencapaian yang tidak kalah bermaknanya.
 
2.      Tantangan terberat membuat kita kuat. Kadang ada momen tertentu dalam karir yang membuat kita tertekan, depresi bahkan dipermalukan. Lalu ingin rasanya kita berhenti saja. Juri tamu Master Chef itu pernah menangis di musim kompetisi sebelumnya ketika beliau menjadi peserta. Ketika itu beliau ditantang untuk membuat kue lapis. Sederhana, tapi sulit. Hingga membuatnya frustrasi. Sekarang, beliau memberikan tantangan yang sama kepada para peserta juniornya. Namun kali ini, beliau menyampaikan tantangan itu dengan percaya diri yang tinggi. Perhatikanlah, betapa orang-orang yang telah berhasil menaklukan tantangan terberat dalam hidupnya bisa tampil jauh lebih baik, lebih terampil, lebih mumpuni disisa kehidupannya nanti. Jadi, jika saat ini kita menghadapai tantangan berat, hadapilah. Maka dia akan membuat kita semakin kuat.
 
3.      Tidak tahu, bukan tidak bisa. Ketika orang lain melakukan hal-hal yang hebat, kita sering terkagum-kagum. Apalagi jika mereka melakukan sebuah kemustahilan. Sama seperti halnya para peserta lomba yang terkagum-kagum pada sang juri yang jago  membuat kue lapis itu. Mereka bingung dari mana harus memulainya. Juri senior itu kemudian memberi tahukan beberapa trik kepada mereka. Eh, ternyata bisa. “Oooh, begini toh…” kata mereka. Ternyata, kita ini bukannya tidak bisa melakukan sesuatu. Hanya saja, kita tidak tahu bagaimana caranya. Begitu kita tahu caranya, satu dua kali mencoba pun kita sudah langsung bisa. Begitu pula halnya dengan orang-orang hebat yang sering membuat kita kagum itu. Mungkin kita hanya perlu mencari tahu bagaimana mereka melakukannya. Lalu belajar mempraktekkannnya, sampai kita bisa. Maka kita pun menjadi orang yang sama bisanya.
 
4.      Tahu, tidak berarti mampu. Diantara orang-orang yang sudah diberitahu itu, masih ada juga yang tetap tidak mampu melakukannya. Di sekitar kita lebih banyak lagi orang yang tahu, tetapi nyatanya mereka tidak mampu. Kenapa bisa begitu ya? Rupanya, mengetahui cara melakukan sesuatu sama sekali tidak menjadi jaminan jika kita akan secara otomatis mampu melakukannya. Ada ongkos yang harus dibayar, yaitu; kesediaan untuk mencoba dan melatih diri hingga terampil. Memang, pengetahuan itu penting. Tapi dalam soal profesi, pengetahuan hanyalah sebuah modal awal. Dia baru bisa menjadi kekuatan kalau sudah dikonversi menjadi keterampilan.  Makanya, janganlah mudah berpuas diri hanya karena kita sudah tahu tentang sesuatu. Kita, perlu menggunakan pengetahuan itu untuk menjadi lebih mampu melakukannya.
 
5.      Kematangan itu seperti kue lapis. Ketika kita pertama kali bekerja dulu, kita pernah merasa menjadi anak bawang. Setahun kemudian ada orang baru yang diterima bekerja, kita merasa diri sudah lebih senior dari orang itu. Namun, kita tetap merasa lebih junior dari orang lain yang sudah lebih dulu berada disitu. Orang yang kita anggap senior pun ternyata masih lebih junior dibandingkan dengan orang-orang yang lebih senior dari mereka. Betapa relatifnya senioritas. Dan betapa nisbinya kematangan emosi dalam profesi seseorang. Persis seperti kue lapis. Pertanyaannya adalah; kematangan emosi profesi kita sudah berada pada tingkatan yang mana? Sekarang mungkin kita tidak berada di lapis terbawah lagi. Tapi mungkin kita belum menempati lapisan yang paling atas. Kita akan bisa meraihnya jika terus malatih diri tanpa henti.
 
Setiap tahapan dalam hidup kita ternyata merupakan sebuah proses pematangan diri. Termasuk jika dalam perjalanan hidup itu kita menghadapi masa-masa sulit yang kurang menyenangkan. Cocok dengan nasihat Rasulullah, bahwa semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini tidak ada yang sia-sia. Semuanya mengandung pelajaran bagi setiap hamba yang bersedia memikirkannya. Merenungkannya hingga menemukan hikmah dalam setiap kejadian. Karena setiap kejadian yang kita alami itu tiada lain adalah anak tangga menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi. Hal itu berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita. Termasuk didalamnya soal kematangan emosi dan profesi kita. Mengingat hal ini, kita lebih tenteram menjalani setiap lekuk liku kehidupan kita ya. Semoga.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
 
Catatan Kaki:
Seperti ban berjalan, akan ada saat dimana kita kebagian giliran menapaki lapisan tertinggi kematangan emosi dalam profesi. Jadi, bersabarlah sambil mempersiapkan diri untuk menjadi sebaik-baiknya pribadi.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Selasa, 17 Juli, 2012 21:05
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar