Jumat, 19 Oktober 2012

Iri Hati - Part 01


Oleh:  A.C.  Huang

Iri hati adalah bentuk terjadinya dinamika psikologis, dimana Id merasakan adanya sebuah stressor yang menyebabkan Ego menjadi kuat sehingga mengalahkan fungsi kontrol Super Ego. Iri hati sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan Ego (Ego Defense Mechanism) yang muncul untuk mengurangi rasa tidak nyaman sebagai akibat dari adanya stressor. 


Iri hati dialami oleh setiap orang, dan merupakan suatu proses Id-Ego-Super Ego yang lazim terjadi di semua orang, tanpa memandang ras, agama, warna kulit. Sehingga tidaklah heran apabila banyak sekali perselisihan antar teman, perselisihan antar pejabat, dan sebagainya yang dilatarbelakangi oleh Iri Hati. Iri hati ini juga -pada umumnya- muncul karena persoalan kecil yang menjadi besar karena dibesar-besarkan. Oleh sebab itu, dalam tayangan ini saya mengambil judul "Iri Hati adalah musuh terbesar yang harus diatasi dan bisa menjadi penghambat kesuksesan"

Mengapa demikian ?

Bapak, Ibu, Brother, Sister, dan rekan-rekan pirsawan tayanganku, saya bertanya: 
"pernahkan anda semua tidak mengalami iri hati ?"

Diriku bukan cenayang, tapi dapat daku sampaikan bahwa jawabannya adalah "Tidak" dan jangan takut untuk mengakui bahwa pernah mengalami iri hati...tidak perlu delete tayanganku karena daku tidak mengatakan diriku ini tiada pernah iri hati, melainkan daku juga pernah dan sering juga iri hati. *pengakuan*
Seperti yang sudah daku sebutkan di atas, iri hati dapat terjadi karena hal sepele. *beep beep* BBM berbunyi...eh ada yang tanya:

"Huang, kenapa kamu katakan bahwa diriku iri hati karena hal sepele. Sepele menurutmu tapi tidak menurutku."
*senyum-senyum baca BBM* ...dan dalam hati berkata : 
"Temukan jawabannya di milis"

Hehehe...kok menemukan jawaban di milis...khan dia bukan member milis...tapi masa bodo akh...yang penting ku diamkan saja dulu.
*beep beep* ...BBM berbunyi dan isinya : "selamat siang pak Huang, sudah lama loch ngga nulis di millis."
*kaget dan langsung membalas* "Sebentar baru ditulis"
Para pemirsa, di atas terdapat dialog kecil yang mungkin (sekali lagi "mungkin") dianggap aneh dan tidak sesuai dengan konteksnya. Mungkin ada yang berkata "Huang ini apa-apaan  tho. BBM ngga mutu kok ditulis". (dan kalau ada yang beranggapan demikian...daku hanya senyum-senyum saja).

Sebenarnya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan yaitu di BBM ke dua, saya ditanya (diingatkan) bahwa saya sudah lama tidak menulis di millis. Apabila saya lakukan analisa asal-asalan (tapi tidak ngawur) maka telah terjadi sebuah dinamika psikologis pada si pengirim pesan. Begini ceritanya :
Si A adalah member millis X, dan saya juga member millis X.
Si A membaca bahwa saya sering post di millis X, dan tidak pernah post di millis Y, sementara si A mengangkat saya menjadi membernya.

Nah, post saya di millis X adalah sebuah stimulus yang ditangkap oleh Ego...dan si Ego ini nakal karena menggelitiki si Id. Si Id terbangun dari sadarnya...dan mendorong Ego untuk BBM : "Huang, sudah lama loch ngga nulis di millis"

Pemirsa semuanya, ada juga iri hati yang muncul dari sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana seperti letak tempat duduk di kantor. Iri hati ini kalau tidak segera ditangani akan bisa berakibat tidak bagus untuk organisasi secara keseluruhan. Perpecahan kerjasama bisnis bisa terjadi gara-gara iri hati ini. Kalau iri hati jenis ini, daku ada cerita menarik yang terjadi beberapa bulan lalu di kantorku. Begini ceritanya :

Salah satu divisi di perusahaan telah berkembang menjadi besar, dan dengan tenaga kerja yang jumlahnya banyak sehingga ruangan kantor yang ada sudah tidak dapat lagi menampung mereka. Melihat ini, BOD memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang akan digunakan untuk usaha tersebut, dan akibatnya terjadi perpindahan yang menyebabkan ruang kantor yang saat ini ada menjadi lengang. 

Untuk mengisi space yang ada, tentunya dilakukan penataan kembali layout yang ada, dan ada Direksi yang harus pindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya, termasuk ada pula Manager yang dulunya di ruang khusus harus pindah ke ruang lain untuk mengisi kekosongan yang ada. 

Pemirsa, urusan pindah ruangan ini memang hal yang –menurut saya- wajar terjadi dan tidak akan menimbulkan kehebohan. Tetapi kenyataan berbicara lain, dan ternyata ada senior manager yang menolak untuk pindah. 

Alasannya sederhana : dia merasa iri karena rekan manager (junior-junior) ternyata mendapat ruang tersendiri, sementara dia harus menyatu dengan staffnya di sebuah ruangan yang terbuka. 
Sebenarnya, keputusan ini dilakukan bukan untuk membedakan dia dengan manager lainnya, tetapi karena dia mempunyai staff banyak dan tidak ada ruangan tertutup yang bisa menampung dia dan staffnya. Sementara manager lain tidak mempunyai banyak staff dan bisa satu ruangan dengan staffnya tersebut. Untuk merubah sekat dan layout secara keseluruhan juga tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat.
Dia sempat mempengaruhi yang lain supaya tidak mau pindah ruangan, dan langsung protes karena dia ingin bertahan di ruangan semula. Saya panggil dia dan saya ajak sharing. 

Saya berkata :
“Pak, ruangan bapak direncanakan untuk digunakan bagian keuangan. Mengapa ? karena ruangan bapak cukup luas dan bagian keuangan memerlukan space lebih besar untuk penyimpanan dokumen. Selanjutnya, karena ruang bagian keuangan tidak luas, maka akan digunakan untuk ruangan tenaga ahli dari rekanan kita. Mana mungkin mereka tidak ditempatkan di ruang khusus, karena mereka memerlukan ruangan untuk dapat menyelesaikan teknis dan desain." 

Saya diam dan menanti reaksinya, tak lama keluarlah kalimat yang menggelegar bagaikan halilintar :
"Pak, saya sudah tua. Saya sadar bahwa bapak sudah tidak mau pakai saya. Banyak tenaga muda di kantor ini. Jadi wajarlah saya tidak mendapat ruangan karena saya sudah tidak diperlukan."
Ting Tong !

Saya pun berkata :
"Astaga…astaga….astaga ! Saya tidak menyangka bahwa soal pindah ruangan dapat membuat Bapak menjadi merasa dibuang dan tidak dihargai jasanya. Justru Bapak perlu tahu bahwa ruangan Bapak terletak di sebelah ruang BOD, yang artinya adalah Bapak ini setingkat dengan BOD. Coba lihat ruangan lainnya. Khan mereka tidak sejajar dengan ruangan BOD. Saya berkata lagi, Bapak lihat apakah saya punya ruangan khusus ? Saya merelakan ruangan saya untuk Administrasi Sales dan Marketing dan saya justru duduk di luar ruangan dan membaur dengan yang lainnya."

Sayangnya si Bapak tetap ngeyel dan bersikeras. Akhirnya, saya bilang saja :
"Pak, ruangan tidak mungkin dibuat lagi di kantor kita. Solusinya adalah Bapak diberi ruangan di kantor baru. Kami akan renovasinya dan silahkan Bapak desain sendiri."

Apakah jawabnya :
"ternyata Bapak memang benar-benar membuang saya."
Saya diam saja, sampai akhirnya dia berkata :
"pak, saya berterima kasih atas kebaikan perusahaan kepada saya, dan besok saya akan sampaikan pengunduran diri saya. Saya tahu bahwa proyek yang sedang saya tangani akan Bapak berikan ke orang lain, dan saya relakan itu. Lebih baik saya mundur daripada saya dibuang."
Jujur saja, saya diam saja...dan benar-benar bingung dengan si Bapak. Mengapa gara-gara ruangan saja sampai dia memutuskan untuk mengundurkan diri. Padahal, perusahaan tidak membuangnya. Penjelasan apapun yang daku sampaikan sudah ditolaknya dan dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.
Apakah yang terjadi selanjutnya ?

*to be continued dan saya tayangkan di Part 2*

Good day...Good Luck...God Bless You
-----
A.C. Huang
Motooneshop - quality helmet, accessories, apparels.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar