Selasa, 21 Februari 2012

3 Sikap Spiritual Unggul

Oleh:  Harry "Uncommon"  Purnama

Apakah kita sering harus berdebat dalam "ambiguity"  dan mencari-cari definisi yang paling pas dan operationally aplikatif untuk
manajemen menggambarkan beberapa sikap kerja "soft competen" seorang pemimpin? Yang kebetulan beberapa candidat pemimpin
di kantor kita atau di klien kita, sedang dalam sorotan "performance appraisal" atau dalam  hujan lampu penerang "fit & proper test"
konsultan atau bisa saja tim HC sedang menyaring beberapa senior manager dalam keranjang "talent pool" company yang agenda
diskusinya  harus memakai 1 of 3 soft qualities berikut atau semuanya of 3 sikap spiritual unggul:   dewasa, matang dan bijak.
Pengertian "dewasa" saja, sering manajemen harus buka 1-2 kamus, belum lagi jika si kandidat  VP yang akan dipromosikan
ternyata belum "matang" untuk posisi eksekutif as SVP, menurut kaca mata 1 manajemen, tapi dianggap sudah matang pohon oleh
manajemen satunya. Perdebatan semakin seru, jika harus mendefinisikan kualitas "bijak" dari seseorang VP. 

Anggaplah explanation terhadap 3 sikap spiritual unggul ini,  semacam guideline terhadap "batasan" operasional kita tentang
kualitas soft managerial competence dari seorang Manager atau SM,  VP atau SVP atau bahkan BOD, dalam frame human capital
development sbb.:

1.Dewasa 
Perbedaan nyata, antara sifat kekanak-kanakan dan dewasa, terletak pada stabilitas dan
tanggung jawabnya. Kualitas terkuat dari pribadi dewasa oleh karenanya adalah stabil, berani
menghadapi masalah dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Seorang manager/leader
yang dewasa, oleh karenanya memiliki core soft-competent yang utama adalah  : "responsibility." Dalam bahasa
yang lain adalah amanah, tanggung jawabnya penuh/full. Semua otoritas yang ia miliki, ia berani
mempertanggung-jawabkannya, ia tak mencari kambing yang bisa dihitamkan atau melempar kewajibannya
ke pihak lain. Ia firm dan tegas dalam perilakunya sehari-hari, tidak plin-plan dan mencla-mencle, apalagi 
lari dari persoalan [maaf, mencla-mencle adalah bahasa Jawa yang sudah jadi bahasa manajemen kita di kantor].  

2.  Matang 
Perbedaan nyata, antara pribadi tidak matang dan matang, terletak pada jam terbang mengarungi
kehidupan [tak otomatis senior].  Kekuatan pribadi matang terletak pada pengalamannya yang luas atas berbagai hal
dalam hidup. Ia rela menjalani segala persoalan hidup dan keluar sebagai orang yang
berpengalaman [yang tidak harus selalu menjadi pemenang] dan memiliki wawasan yang sangat luas akan
berbagai persoalan [tertempa]. Oleh karenanya,  ia mampu mendengarkan gagasan / keluhan orang lain
[pendengar yang baik]. Sekaligus  ia mampu memberikan pendapat, nasehat dan masukan kepada orang lain
[pemberi solusi yang baik]. Ciri corenya pemimpin yang sudah matang adalah bukan terletak pada jam terbangnya saja
[kuantitas], tetapi justru pada kualitasnya, i.e. sudah memiliki wawasan yang sangat luas, mampu mendengarkan
[listening ability] secara tajam dan empatik dan terakhir ia dianggap oleh lingkungannya sebagai rujukan. Matang,
tak identik dengan senioritas, apalagi usia, karena itu hanya kuantitas belaka. 

3.  Bijak 
Perbedaan nyata, antara pribadi tidak bijak dan bijak adalah pada cara ia mengambil keputusan.
Orang bijak mendasarkan keputusannya pada banyak hal, agar keputusannya adil, baik dan benar
bagi sebanyak mungkin orang. Jadi jelaslah, pemimpin bijak, bukan pemimpin yang usia dan masa kerjanya
sudah lama / senior, ini tidak menjamin ia bijak.  Tetapi pemimpin bijak, core terkuatnya, diukur oleh karakter terdalamnya
ketika  ia mengelola krisis.  Ia sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, kecil apalagi besar [berdampak luas dan
berjangka waktu lama, mis. public policy atau company regulation / instruction mis code of conduct]. Keputusannya
meski tidak dapat diterima oleh pihak yang curang / tidak bijak, tetapi selalu dapat diterima dengan elegan oleh orang-orang
yang common-sensenya normal dan wajar, apalagi oleh pihak yang pro perubahan dan kebenaran. Pemimpin bijak ini
sering dianggap terlalu lama menimbang dan memutuskan. Banyak orang tidak sabaran akan hal ini. Tetapi kerendah-
hatiannya, tetap menjaganya dari perbuatan salah dan pada akhirnya kita mengenali pemimpin jenis ini, ketika ia
mengambil keputusan. Bijak, tak identik dengan pribadi yang kalem, kebapakan dan ketua-tuaan.   
 

Salam work & life balance [WLB]
Harry "uncommon" PurnamaMature Leadership Center [MLC]
Pesona Khayangan DS 4, Depok 16411, Jabar


Kamis, 9 Februari, 2012 05:27

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar