Jumat, 24 Februari 2012

Art-Living Sos 2012 (A-12 TIRAI MELAMBAI)

Oleh:  Ietje Sri Umiyati Guntur

Dear Allz….
 
Hallllooooowww….!! Lagi ngapain niiih, teman dan sahabat-sahabatku sekalian ? Sehat-sehat, yaaaa….Semoga demikian deeeh…Soalnya sekarang musim cuaca tidak menentu. Tadi pagi hujan…sekarang masih mendung…nggak tau deh nanti sore cuaca seperti apa. Yang penting, dalam cuaca apa pun kita harus menjaga kesehatan…terutama kesehatan jiwa…hehehe… mendung boleh bergelantungan di langit, tapi hati tetap ceriaaaa….
 
Sahabat-sahabatku tersayang…di hari ini…* saat ini pas hari Minggu *…adalah saatnya bebenah…baik bebenah rumah, maupun bebenah batin…Hmmh…Setelah seminggu berpacu dengan berbagai aktivitas rutin, saatnya hari ini istirahat…break time…dan merenungi perjalanan selama seminggu yang lalu. Batin dibersihkan…rumah dibersihkan…Agar minggu depan kita semangat lagi. Semua bersih dan kinclong…dan hati pun berbunga riang…
 
Salah satu yang perlu kita rapikan adalah pintu dan jendela. Melalui pintu dan jendela banyak yang bisa masuk dan keluar.  Namun, agar terseleksi dengan optimal, kita perlu membuat sekat atau tirai pembatas…Jadi yang di dalam terlindungi, dan yang di luar tidak sembarang melongok ke dalam…hehehe…
 
Naaaah…mumpung cerita tentang tirai…Saya jadi ingin berbagi cerita mengenai Tirai ini. Barangkali ini pengalaman lama. Namun bisa saja terulang setiap saat. Entah setiap minggu, atau setiap bulan.
 
Oke dokeeeee….sambil selonjoran dan menikmati saat istirahat, saya bagikan pengalaman ini untuk teman dan sahabatku semua….Semoga berkenan….Selamat menikmati….
 
Jakarta, 19 Februari 2012
 
Salam sayang,
 
 
Ietje S. Guntur
 
♥♥
 
 
 
Art-Living Sos 2012 (A-2
Wednesday, February 08, 2012
Start : 2/8/2012 3:28:41 PM
Finish : 2/9/2012 8:00:31 PM
 
 
TIRAI  MELAMBAI
 
 
Hari libur. Menjelang lebaran. Naaah…ini saatnya berbenah rumah. Dengan waktu yang agak mepet…hehehe…( kapan sih waktu nggak mepet ?) sedikit-sedikit bagian rumah yang berantakan dirapikan. Ya, paling tidak tatanan kursi digeser sana sini, agar ada pemandangan baru di hari yang istimewa nanti . Kenapa, ya mesti menunggu lebaran, hari raya atau akhir tahun untuk berbenah ? Itulah…kalau hari-hari biasa, hanya sebagian saja yang dirapikan sekedarnya…lalu berantakan lagi…hiiikkks…hiiikks…
 
Kursi sudah. Lemari sudah ditata ulang, dan perabotan yang penting dikeluarkan dari sarangnya, kotak-kotak dan kardus yang mirip dengan peti keramat. Itulah saat semua properti rumah tangga dikeluarkan, untuk mendukung acara kumpul keluarga dan silaturahmi setahun sekali. Naaah…sekarang apa lagi, ya ?
 
Saya memandang berkeliling. Rasanya semua sudah rapi. Bahkan lukisan-lukisan sudah diputar dan direlokasi. Yang dari dalam ke luar, yang dari luar ke dalam…hahaa…padahal sih orang lain tidak tahu kalau itu sudah bertukar tempat. Tapi biar ada kegiatan saja. Lalu, mata saya memandang tirai-tirai jendela dan pintu yang mengayun ditiup angin. Hadooohhh…ini dia !!
 
Ternyata ada tirai yang sudah agak berubah warna karena sentuhan sinar matahari. Selama ini tirai itu hanya dicuci dan disetrika saja. Ditukar tempatnya sekali-sekali. Kayaknya sih, sekali ini harus ada pergantian. Hmmh….
 
Anak saya, si Cantiq, sudah beberapa kali mengusulkan agar tirai jendela ruang depan diganti dengan tirai model rumbai-rumbai. Saya yang lebih berpandangan praktis, hanya berpikir bahwa tirai itu cukup menutupi jendela saja. Rumbai-rumbai malah membuat debu dan serangga lebih mudah melekat. Tapi demi si Cantiq, dan demi penyegaran suasana, saya pun menyetujui untuk mengganti tirai yang tadinya mirip tirai kantor yang serba kaku dan formal , menjadi tirai yang agak berseni sedikit…hehehehe…
 
Akhirnya…urusan tirai jendela itu merembet ke segenap penjuru rumah. Dari tirai jendela ruang depan, ke tirai jendela ruang keluarga, merembet lagi ke tirai jendela kamar tidur. Halaaaah….
 
“ Daripada satu persatu, mendingan sekalian saja, Mak !” usul si Cantiq penuh harap. Dia pun sudah merancang model tirai jendela kamar yang agak antiq dengan desain yang khusus. Rupanya dia sudah bosan dengan tirai yang selama ini saya pasangkan di jendelanya. Maklum, beda generasi beda selera juga…hahaha…
 
Saya pun mengalah. Jadi deeeeh…sekujur rumah berdandan rapi, dengan tirai baru yang kali ini cukup serasi dari depan sampai ke belakang…hmmh…
 
 
Ngomong-ngomong soal tirai jendela dan tirai pintu, atau ada juga yang menyebutnya gorden, gordijn, gordeng atau hordeng….(lidah sampai kusut gara-gara istilah gorden )…sebetulnya ini bagian yang penting di dalam tata rias ruangan. Bahasa kerennya interior ruangan gitu deh. Kenapa menjadi bagian penting ?
 
Tirai atau gorden, terutama jendela, tidak hanya untuk memperindah ruangan, namun fungsi yang lebih penting lagi adalah menjadi penyekat atau penghalang antara dunia dalam rumah dengan dunia di luarnya. Jadi orang dari luar tidak sembarang melirik atau melongok ke dalam rumah kita, dan mengintai segala rahasia rumah tangga yang mungkin ingin disembunyikan dari orang lain.
 
Sebaliknya, dari dalam tirai juga untuk memperindah ruangan. Untuk menambah semarak suasana. Tirai itu juga menghalangi atau menyekat sinar matahari, debu atau hal-hal lain dari dunia luar agar tidak langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Tirai membuat suasana di dalam lebih sejuk dan mengurangi cahaya yang berlebihan.
 
 
Cerita tentang tirai atau gorden ternyata bukan hanya itu. Saya ingat, beberapa tahun lalu, di dalam sebuah seminar Prof. Selo Sumardjan (alm) pernah mengungkapkan mengenai salah satu hasil penelitiannya. Menurut beliau, tirai atau gorden di beberapa daerah merupakan lambang status sosial juga. Beliau meneliti tirai jendela atau gorden di asrama-asrama tentara dan polisi, serta di pemukiman-pemukiman di desa-desa.
 
Tirai yang menutupi sebagian ruang jendela tampak berwarna-warni, menunjukkan selera dan tingkat sosial pemilik rumahnya. Di asrama-asrama tentara, yang bentuk dan ukuran rumahnya sama, fungsi tirai dapat meningkatkan status sosial dan derajad si pemilik rumah.
 
Diliputi rasa penasaran, saya pun kemudian ikut-ikutan memperhatikan tirai dan gorden rumah-rumah penduduk di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ternyata memang ada bedanya. Di beberapa daerah di kawasan Priangan, bahkan hingga ke atas gunung,  terlihat tirai berwarna cerah dengan lapisan vitrase putih transparan atau warna senada yang tampak mewah. Sedangkan di daerah Jawa Tengah, khususnya di daerah pesisir selatan, umumnya tirai atau gorden berwarna netral, krem , coklat, atau putih. Tanpa embel-embel atau rumbai-rumbai untuk menambah semarak suasana.
 
Tentunya tirai atau gorden ini tidak sekedar tren. Tapi juga menggambarkan kondisi sosial dan psikologis penghuninya. Dari dua perbandingan di dua daerah ini saja, kita dapat melihat bahwa orang Jawa Barat memang lebih terbuka dan ceria. Sementara orang di Jawa Tengah, yang saya observasi, lebih kalem dan kurang suka dengan warna-warni yang menyala. Namun beberapa tahun belakangan ini sudah tampak pergeseran mode. Di banyak daerah yang saya kunjungi, urusan tirai jendela ini hampir sama di berbagai tempat. Rupanya komunikasi yang lancar dan panduan dari majalah-majalah membuat tren tirai dan gorden ini mewabah dari kota hingga ke desa-desa di berbagai tempat dan pelosok.
 
 
Urusan pertiraian alias gorden ini memang bukan barang baru. Ketika saya mengamati foto-foto dan gambar lama dari berbagai penjuru dunia, ternyata tirai ini sudah ada sejak jaman Mesir Kuno, India Kuno dan China. Jadi gorden atau tirai tidak hanya ada di masa kini, tapi sudah ada sejak beberapa abad sebelum masehi.
 
Tirai, seperti juga masa kini, menjadi karya seni yang menunjukkan kemajuan dibidang tekstil dan tenunan. Tirai yang cantik dan unik, kadang dengan simbol keluarga, tidak hanya untuk menyekat ruangan. Namun menunjukkan martabat keluarga. Perdagangan antar Negara, seperti di jalur sutera juga membawa tirai-tirai dengan beraneka coraknya menjadi barang dagangan yang mahal dan bernilai seni tinggi.
 
Belakangan corak-corak dan model tirai ala Eropa, terutama Perancis pernah menjadi panutan di berbagai penjuru dunia. Tirai yang dilengkapi dengan bandul-bandul logam aneka bentuk, memperindah penampilan ruangan. Tidak sekedar tirai, tetapi ia juga menjadi bagian dari kelengkapan ruangan yang ada di dalam rumah. Ibaratnya tidak ada rumah tanpa tirai, yang menunjukkan siapa jati diri yang empunya rumah.
 
 
Pengalaman saya dengan urusan tirai ini, selain yang biasa-biasa, ada yang lucu juga. Entah dapat ide dari mana, suatu ketika saya iseng membuat tirai kamar dari bahan seprai yang bergambar tokoh-tokoh kartun dan bunga-bunga yang – kata anak saya, kekanak-kanakan. Model tirai jendelanya juga seperti kamar anak-anak yang saya lihat di sebuah majalah keluarga. Akhirnya setelah selesai saya jahit sendiri, tirai ajaib itu pun saya pasang dengan gembira.
 
Anak saya dan Pangeran Remote Control hanya pasrah melihat tirai ajaib yang tergantung di situ. Mungkin mereka memaklumi obsesi saya tentang tirai kamar , yang sangat saya inginkan di masa kanak-kanak saya. Tapi karena jaman dulu kamar saya harus bersatu dengan semua adik-adik saya, dan selera ibu saya pasti tidak cocok dengan saya, maka keinginan itu baru muncul setelah saya berumur…hahaha…
 
 
Tirai saya masih melambai-lambai ditiup angin. Ternyata keren juga…hmm… Saya tersenyum. Pilihan anak saya tidak salah. Seleranya boleh juga.
 
Dalam hati saya merenung. Hanya urusan tirai jendela, tapi begitu banyak yang tersembunyi sekaligus terungkap dari sana. Tirai membatasi pandangan, sekaligus dapat menyembunyikan orang yang mengintai dari dalam ke luar. Seseorang dapat bersembunyi di balik tirai, berlindung untuk keamanannya.
 
Kadang hidup memang perlu tirai, perlu penutup yang transparan ataupun yang pekat dan massif. Ada hal yang perlu kita buka untuk diketahui oleh orang lain, tapi ada hal yang menjadi wilayah privasi kita. Dan itu dapat terjadi karena adanya tirai.
 
Dunia membutuhkan tirai. Bahkan di dalam kehidupan dan pekerjaan pun ada orang-orang yang berfungsi sebagai tirai. Mereka menjadi barisan terdepan untuk menutup atau melindungi orang yang ada di belakangnya. Tirai pun dapat menjadi semacam simbol status sosial atau gengsi. Sehingga apa yang ada di baliknya akan ikut terangkat martabat dan derajatnya.
 
Kalau boleh memilih. Seandainya kita hendak belajar. Barangkali tirai atau gorden juga bisa menjadi guru kehidupan kita. Bagaimana kita memilih hidup, menjadi tirai, atau justru hendak bersembunyi di balik tirai. Semoga saja…ada pembelajaran dari setiap sisi kehidupan kita…
 
 
Jakarta, 9 Februari 2012
 
Salam hangat,
 
 
Ietje S. Guntur
 
Special note :
Terima kasih untuk Ma dan anakku si Cantiq yang menjadi inspirasi tulisan ini…Terima kasih telah menjadi tirai kehidupanku di masa lalu dan hari ini…Selamanya ada cinta di balik tirai…
 

 Minggu, 19 Februari, 2012 00:08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar