Minggu, 05 Februari 2012

Kajian Antropologi Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia


Catatan Ringan Menjelang Cap Go Meh
(Kajian Antropologi Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia)
Oleh: Ratmaya Urip*)

(Hiruk pikuk Imlek 2563 telah lewat, sementara Cap Go Meh sedang menjelang di ujung petang. Menyambung tulisan saya “Sisi Lain Imlek” sebelum Imlek yang lalu, maka sebelum Cap Go Meh tiba, kembali saya torehkan sepotong tulisan, seperti di bawah ini. Rasanya momentum antara Hari Raya Imlek dengan Cap Go Meh  ini cukup pas untuk meluncurkan tulisan ini. Kebetulan saya terinspirasi untuk itu):

Cap Go Meh selalu mengingatkan saya pada kota Singkawang, Kota Amoy, kota seribu kelenteng, kota seribu kuil, San Kheu Jong, San Kew Jong, atau seribu nama lainnya. Kota indah yang memesona yang bertengger di bayang-bayang Gunung Pasi, Gunung Sakok, dan Gunung Poteng.  Kota yang ketika menyebutnya saja sudah menimbulkan kesan eksotis dan romantis.  Kota yang memiliki daya magnetis dan magis. Kota yang jika dibayangkan saja membuat sebagian lelaki mengernyitkan dahi dan memanjakan dukana maupun libidonya, meski lebih banyak absurd dan imajiner. Kota yang membangkitkan konotasi kita pada hal-hal yang lebih memanjakan lelaki. Hasrat menjadi lebih berbinar dengan indikasi berupa mata menjadi lebih bersinar, telinga menjadi lebih lebar, hidung menjadi lebih bergerak, benak menjadi lebih mempunyai riak, dan hati serasa ada gelinya onak, sehingga maunya gejolak dukana ingin memilih dobrak. Yang pasti ada rasa enak yang bergelora di dada karena ada gairah yang beranak pinak (he..he..he, kenapa, ya?). Apakah karena keindahan ragawi Amoy-nya? Yang berita tentang ketenarannya  telah mengembara dari indra yang  satu ke indra yang lainnya via banyak media. Mungkinkah karena julatan kopi pangku-nya? Atau malah karena pesona kuliner Pasar Hongkong-nya setelah senja lewat mengiringi tembang paksi yang luruh terundang kantuk? Bagi saya sih pesona Wisata Agro Pantai Gosong, atau Wisata Pantai Batu Payung, atau Wisata Pantai Pasir Panjang, lebih membuat benak saya berkelana di antara harap dan asa untuk selalu kembali  ke tepiannya.

Singkawang, adalah kota yang populasi  etnis Tionghoa-nya didominasi oleh suku atau sub-etnis Hakka atau Khek atau Ke, dengan minoritas sub-etnis Tiociu atau Tiochiu atau Tiochew. Kota yang selalu menyambut datangnya Cap Go Meh dengan sangat meriah, penuh hiruk pikuk dan  suka cita karena kehadirannya selalu ditunggu dan notable. Ritual mudik yang khas yang hanya ada di kota Singkawang. Pesta yang selalu dimeriahkan barongsai di tengah liuk-liuk naga merah yang menari-nari dalam cengkeraman irama perkusi yang berdentang nyaring dengan riuh rendah yang selalu dikebaki dengan tepuk tangan meriah yang membahana memenuhi seluruh jalanan kota, di tengah sejumlah masalah-masalah kemiskinan yang sering mendera dalam kehidupan sehari-harinya. Karena biasanya, Cap Go Meh banyak dirayakan di tengah-tengah masyarakat Tionghoa yang memang secara ekonomi sangat mapan dan berkecukupan di belahan lain di Indonesia, kecuali  komunitas Tionghoa di Singkawang dan Benteng-Tangerang. Di Singkawang perayaan Cap Go Meh selalu dapat mengentaskan kemiskinan yang mendera selama setahun  dalam satu hari yang ditunggu itu.

Telah jamak diketahui, sub-etnis Hakka atau Khek di Indonesia banyak mendiami wilayah Kalimantan Barat (di samping Bangka-Belitung), yang berdampingan dengan sub-etnis Tiochew yang lebih minoritas. Sub-etnis Hakka termasuk salah satu sub-etnis dari rumpun etnis Tionghoa (Han) di antara 6 sub-etnis yang berasal dari Tiongkok (China)  Bagian Tenggara yang banyak mendominasi etnis atau rumpun  Han (Tionghoa) di Indonesia.

Adapun 6 (enam) sub-etnis yang banyak tersebar di Indonesia, yang mayoritas berasal dari Tiongkok Tenggara, khususnya dari Provinsi-provinsi bertetangga Guangdong dan Fujian tersebut adalah sub-etnis Hokkien (Hokkian), Hakka (Khek atau Ke), Cantonese (Punti atau Konghu atau Kongfu atau Hoa), Teochew (Tiociu atau Tiochiu atau dalam dialek Mandarin-nya adalah Chaozhou),  Hockchiu, dan Hainan

Seperti halnya sub-etnis yang ada di Indonesia yaitu  Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Bugis, Batak, dan sebagainya, maka masing-masing sub-etnis yang berasal dari provinsi Guangdong dan Fujian tersebut memiliki antropologi bisnisnya masing-masing, dengan stereotype antropologi bisnis yang agak berbeda. Dari 6 (enam) sub-etnis tersebut, hanya 4 (empat) sub-etnis yang banyak dibicarakan di Indonesia, karena populasinya yang lebih dominan. Empat sub-etnis tersebut adalah Hokkien, Hakka, Cantonese, dan Teochew.

Keenam sub etnis tersebut di atas adalah sub-etnis yang pada umumnya tidak menggunakan Bahasa Mandarin sebagai bahasa sehari-hari. Karena Bahasa Mandarin yang berasal dari wilayah China Bagian Utara yang berpusat di Beijing tersebut, baru benar-benar dipelajari secara luas setelah ditetapkan sebagai bahasa resmi Negara China

Sebagai referensi, Wikipedia dalam edisinya yang berbahasa Melayu menyebutkan wilayah-wilayah penyebaran berbagai sub-etnis tersebut di seluruh Indonesia, adalah sebagai berikut:

  • Hakka:  Aceh, Sumatera Utara, Batam, Sumsel, Babel, Lampung, Jawa, Kalbar, Banjarmasin, Sulsel, Ambon, dan Jayapura
  • Hokkien: Sumut, Pekanbaru, Padang, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Jawa, Bali (Denpasar n Singaraja), Banjarmasin, Kutai, Sumbawa, Manggarai, Kupang, Makassar, Kendari, Sulteng, Menado, Ambon
  • Cantonese: Jakarta, Makassar dan Menado
  • Teochew: Sumut, Riau Sumsel dan Kalbar (Khususnya di Pontianak dan Ketapang)
  • Hockchiu: Jawa terutama Bandung, Cirebon, Banjarmasin dan Surabaya
  • Hainan: Riau (Pekanbaru dan Batam) dan Menado

ooOoo

1. Hakka (Khek atau Ke)

Situs resmi Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono    (http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2011/12/21/7541.html ) menyebutkan, bahwa suku Hakka adalah  sub-etnis yang merupakan kontributor bagi keberadaan rumpun Han (Tionghoa) yang terbesar di Indonesia  Mungkin saja pernyataan tersebut bersumber dari  klaim Ketua Umum  Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera, Sugeng Prananto  yang juga mengatakan , bahwa mayoritas rumpun Tionghoa adalah sub-etnis atau suku Hakka. Sedangkan Ketua Pembina-nya yaitu Murdaya Poo menambahkan bahwa jumlah populasi sub-etnis Hakka di Indonesia adalah 8 juta jiwa. (http://www.jurnas.com/mobile-news/48544
Data tersebut membuat saya terheran-heran, karena jika sub-etnis Hakka saja jumlahnya 8 juta, berapa totalnya jika seluruh sub-etnis (Hakka, Hokkien, Cantonese, Teochew, Hockchiu, dan Hainan) dijumlahkan. Rasanya kurang masuk akal.   Menurut saya data tersebut masih perlu ditelusuri kebenarannya, karena selama ini belum ada data resmi yang pernah disampaikan, termasuk dari Badan Pusat Statistik. Entah dari mana angka tersebut di peroleh.

Prof Wang Dong, ahli Hakkaology dari Shanghai Huadong University di hal 207 dlm bukunya  “Kejiaxue Daolun” (Introduction to Hakkaology), menyebut sub-etnis Hokkien (Hokkian) disebut-sebut sebagai sub-etnis dari rumpun etnis Tionghoa (Han) yang terbesar populasinya di Indonesia. Dalam buku tersebut di sebutkan bahwa sub-etnis Hakka berjumlah “hanya” 1,2 juta di antara 6 juta dari seluruh populasi rumpun Tionghoa di Indonesia. Buku Prof Wang memang terbit tahun 1995, sehingga mungkin saja setelah 17 tahun (karena saat ini tahun 2012),  populasi sub-etnis Hakka menyalip populasi sub-etnis Hokkien. Namun jumlah tersebut masih membuat saya mengernyitkan dahi. Taruhlah angka populasi seluruh rumpun Tionghoa (Han) benar 6 juta seperti ditulis Prof Wang Dong, maka tahun ini atau tahun 2012, atau setelah 17 tahun, dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun 1,5% (seperti angka yang di-released Badan Pusat Statistik tahun 2010) atau diproyeksikan 2% (angka yang dibuat lebih longgar kemungkinannya) akan diperoleh pertumbuhan penduduk Tionghoa sebesar 1,5 atau 2 x 17 tahun = 25,5% sampai dengan  34%. Sehingga jumlah populasi Tionghoa secara keseluruhan di Indonesia adalah (1 + 0,255) x 6 juta = 7,25 juta sampai dengan (1 + 0,34) x 6 juta = 8,04 juta. 

Sementara sumber data lain yang di-released oleh Wikipedia menyebutkan, perkiraan seluruh populasi rumpun Han (Tionghoa) dengan menjumlahkan populasi seluruh sub-etnis Hakka, Hokkien, Cantonese, Teochew, Hainan dan Hockchiu, pada tahun 2006 berjumlah 7.670.000 jiwa. Taruhlah kita pakai laju pertumbuhan penduduk Indonesia per tahun adalah 1,5% (sedikit  di atas laju pertumbuhan penduduk Indonesia periode tahun 2000 s/d 2010 yang telah di-released Badan Pusat Statistik yang “hanya” 1,49 per tahun), maka perkiraan kasar populasi penduduk seluruh rumpun Tionghoa atau Han dari ke-enam sub-etnis adalah 7.670.000(1 + 1,5% x 6 tahun dari tahun 2006 sampai 2012) = 7.670.000 + 690.300 = 8.360.300 jiwa.

Padahal selama ini selalu ada pandangan bahwa antara sub-etnis Hakka dengan sub-etnis Hokkien saling klaim bahwa mereka yang mayoritas. Karena sub-etnis Hakka telah klaim bahwa jumlah mereka adalah 8 juta jiwa seperti yang disampaikan oleh Ketua Pembinanya yaitu Murdaya Poo seperti tertulis dalam situs di atas, maka jika dianggap jumlah sub-etnis Hakka dan Hokkien dianggap populasinya sama jumlahnya, hitungannya sudah 16 juta jiwa untuk kedua sub-etnis tersebut saja. Belum termasuk 4 (empat) sub-etnis lain, meskipun jumlahnya tidak negitu banyak. Itu tidak sesuai dengan hitungan yang telah disampaikan di awal  bahwa total penduduk Tionghoa (Han) secara keseluruhan adalah 8.360.300 jiwa pada tahun 2012 ini. Angka terakhir ini lebih masuk akal. Namun yang pasti sub etnis Hakka “hanya” kuat di Kalimantan Barat dan Bangka-Belitung, wilayah di Indonesia dengan tingkat kerapatan penduduk yang rendah di Indonesia. Namun memang ada yang mengganjal, karena konon banyak dari sub-etnis Hakka yang tidak hanya mahir berbahasa ibunya yaiku bahasa Khek, namun banyak  juga yang piawai berbahasa Hokkien. Sehingga mungkin saja, karena fasih berbahasa Hokkien, mereka yang dari Hakka dianggap Hokkien. (Catatan lain dari berbagai referensi menyebutkan, Bahasa Hokkien di Indonesia konon hampir punah, karena generasi muda Hokkien sudah banyak yang tidak mempelajarinya, karena lebih suka berbahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Inggris, dan bahasa Mandarinm).

            Berbagai tulisan lain menyebutkan bahwa rumpun atau etnis Tionghoa (Han) di Indonesia sekitar 5% sampai dengan 6% dari seluruh penduduk Indonesia. Ada yang menyebutkan 4% sampai dengan 5%, ada yang menyebut sekitar 3%. Entah dari mana angka tersebut diperoleh. Karena sampai saat ini memang belum ada data resminya, termasuk data dari BPS terbaru Karena Sensus Penduduk Indonesia Tahun 2010-pun tidak melaporkan tentang hal ini. Atau saya yang kurang jeli memelototi datanya? Semoga ada pembaca yang memberi pencerahan karena memiliki datanya secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan

Kalau tokh dianggap bahwa jumlah populasi etnis Tionghoa (Han) adalah sebesar 4 sampai 5% dari seluruh penduduk Indonesia, seperti yang banyak disangkakan beberapa tulisan, maka sekarang populasinya adalah 4% sampai 5% x 242,8 juta jiwa  = 9,712 juta sampai 12,14 juta jiwa. Suatu jumlah yang fantastis, meski saya meragukan itu, karena lemahnya sumber data.

Catatan:
  • Sensus Penduduk Indonesia 2010 yang diumumkan   secara resmi oleh Presiden di depan Rapat Pleno DPR, 16 Agustus 2010 menyebut jumlah penduduk Indonesia adalah 237.556.363 jiwa.
  • Sedang saat tulisan ini disusun sudah lebih dari 1,5 tahun dari pengumuman tersebut, Sehingga saat tulisan ini dibuat, yaitu 4 Februari 2012, jumlah penduduk  Indonesia sudah bertambah menjadi 1,5 x 1,49 x 237.556.363 jiwa. (Angka 1,5 adalah 1,5 tahun sejak Sensus Penduduk diumumkan. Angka 1,49 adalah laju pertumbuhan penduduk per tahun. Sementara Angka 237.556.363 adalah jumlah penduduk pada waktu dumumkan, atau pada waktu satu setengah tahun yang lalu).
  • Sehingga saat ini penduduk Indonesia per tanggal 4 Februari 2012 diduga sudah bertambah menjadi  sekitar 1,5 x 1,49 x 237.556.363 jiwa = 242.865.747 jiwa.
  • Jika penduduk etnis Tionghoa (Han) diduga sejumlah 4%  sampai 5%,seperti yang disampaikan dalam beberapa tulisan yang menurut saya masih disangsikan kebenarannya (karena sumber datanya sulit dilacak),  maka jumlahnya menjadi 4% sampai dengan 5% x 242.865.747 jiwa = 9,712 juta sampai 12,14 juta jiwa.

Namun, bagaimanapun juga, saya “terpaksa” memilih angka 8 juta jiwa sebagai populasi sub-etnis Hakka seperti yang disampaikan oleh situs resmi Presiden SBY tersebut di atas. Karena pertimbangan, masak sih data dari situs resmi Presiden tidak akurat? Pastilah data tersebut disampaikan setelah menerima masukan dari ahlinya. Meskipun saya menduga data dari situs tersebut “hanya” mengutip dari statement Ketua Umum Pembina Hakka Indonesia

Sementara saya juga memilih bahwa sub-etnis Hakka adalah sub-etnis terbesar di Indonesia, di atas populasi sub-etnis atau suku Hokkien, Cantonese dan Tiochew. Bukannya suku Hokkien yang menjadi sub-etnis terbesar di Indonesia, seperti disampaikan oleh Prof. Wang Dong, ahli Hakkaology dari Shanghai Huadong University. Meskipun sekali lagi saya masih ragu atau belum yakin benar, bahwa sub-etnis Hakka adalah sub-etnis yang terbesar di antara rumpun Tionghoa (Han) di Indonesia. Yang pasti sub-etnis Hokkien dengan sub-etnis Hakka memang sangat bersaing.

Itulah mengapa saya tidak heran, ketika Hall D Arena Pekan Raya Jakarta, pada hari Rabu, 21 Desember 2011 mulai pukul 19.30 WIB dijejali  oleh Sub-etnis atau Suku Hakka dalam Silaturahim Nasional Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera. Event meriah yang dihadiri langsung oleh Presiden dan Ibu Negara, serta sejumlah pejabat tinggi pemerintah, di antaranya Mensesneg Sudi Silalahi, Men. BUMN Dahlan Iskan, Sekab Dipo Alam,, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono,  Kapolri Timur Pradopo, Gubernur DKI Fauzi Bowo, Ketua Pembina Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera Murdaya  Widyawimarta  Poo . Ketua Sugeng Prananto, dan lain-lain. Sedangkan pertemuan besar sub-etnis lainnya saya belum pernah mendengarnya.

Saya hanya heran, mengapa hanya suku atau sub-etnis Hakka yang secara eksklusif menyelenggarakan event tersebut dengan mengundang Presiden, bukannya rumpun Tionghoa (Han) secara keseluruhan, termasuk Hokkien, Cantonese dan Teochew.

Mungkin peran suami-isteri Murdaya Poo dan Hartati Murdaya yang berasal dari sub-etnis Hakka sangat dominan di event tersebut. Saya menduga, kehadiran Presiden SBY dalam perhelatan akbar khusus sub-etnis Hakka pada hari Rabu, 21 Desember 2011 tersebut sebagai wujud terima kasih SBY pada sub-etnis Hakka (cq.  Khusus yang tergabung dalam Federasi Perkumpulan Hakka Indonesia-FPHI) atas dukungannya dalam Pilpres 2009 yang lalu.

Dari perspektif antropologi, di sini membuktikan, bahwa sub-etnis Hakka telah menancapkan kiprah politik yang lebih menonjol dibandingkan dengan sub-etnis lain yang masih dalam rumpun Tionghoa (Han).

Dalam kajian antropologi bisnis, suku atau sub-etnis Hakka berasal dari wilayah provinsi Guangdong di daerah pedalaman yang berbukit dan bergunung. Tidak seperti suku atau sub-etnis Hokkien atau Teochew yang memiliki badaya maritim atau budaya pesisir, maka suku atau sub-etnis Hakka memiliki kultur pedalaman yang lebih agraris atau kehidupannya lebih ditopang dari kultur kontinen bukan kultur pesisir. Banyak di antara mereka lebih suka di pertambangan. Sehingga suku atau sub-etnis Hakka banyak tersebar di Kalimantan Barat yang dulu ketika jaman penjajahan Belanda banyak sekali yang bekerja  di tambang emas. Di samping itu juga menyebar di Kepulauan atau Propinsi Bangka-Belitung sebagai penambang timah. Sesudah itu suku atau sub-etnis Hakka secara atraktif memiliki pertumbuhan yang cepat di Batavia dan Jawa Barat pada akhir abad ke-19.

Sub-etnis Hakka  memiliki penyebaran dan memberi pengaruh paling luas di seluruh dunia. Di China sendiri, orang-orang Hakka menyebar sampai ke provinsi-provinsi yang lebih jauh dengan membawa keuletannya sampai di Sichuan, Chongqing dan Guangxi. Di seluruh dunia diasporanya menyebar hampir secara merata.

Secara umum imigran dari sub-etnis Hakka yang berdiaspora di Indonesia adalah imigran yang paling  miskin dari seluruh imigran dibandingkan dengan  sub-etnis lainnya. Konon di samping paling miskin juga tertindas oleh sub-etnis lain di tempat asalnya. Sehingga mereka sangat hemat, etosnya kerja keras. Mereka termasuk sub-etnis dengan kemauan belajar yang tinggi, sehingga rata-rata mereka termasuk sub-etnis yang cerdas. Padanannya di antropologi bisnis global adalah paduan antara etnis Irish (yang karena kondisi fisik geografis yang tidak ramah terhadap kehidupan terpaksa berdiaspora) dan etnis Jews (yang karena ketertindasannya yang akut membuat mereka berpikir lebih banyak untuk tetap dapat  survive), memaksa mereka untuk selalu belajar dari kehidupan dengan berupaya keras untuk mengalahkan kemiskinannya atau menghempaskan penderitaannya. Menurut saya, keunggulan bersaingnya termasuk dalam “survival-based competitiveness” (lihat artikel saya yang berjudul: “Keunggulan Bersaing Bangsa dalam Perspektif Antropologi Bisnis” di Blog:  http://ratmayaurip.blogspot.com  atau di http://themanagers.org

Memang ada pendapat atau gunjingan yang menyampaikan, bahwa sub-etnis Hakka di Indonesia tidak begitu banyak menelurkan pengusaha-pengusaha dengan skala raksasa, hanya pengusaha-pengusaha kecil sekelas pebisnis kelontong. Meskipun di bidang pendidikan meraka sangat merajai. Sehingga cerdik-cendekiawan banyak didominasi oleh sub-etnis ini.

Termasuk dalam suku atau sub-etnis Hakka yang berprestasi secara internasional adalah Dr. Sun Yat Sen-Presiden pertama Tiongkok, Deng Xiaoping, Lee Kuan Yew dan putranya yaitu Perdana Menteri Singapura yang sekarang-Lee Hsien Loong dan pendahulunya yaitu Goh Chok Tong, bintang film Mandarin  Chow Yun-Fat, mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra dan adiknya yang cantik yang menjabat  Perdana Menteri wanita pertama Thailand saat ini yaitu Yingluck Shinawatra, Corazon Aquino-Mantan Presiden Filipina. Sedang dari Indonesia dikenal nama-nama Hartati Murdaya, Murdaya Poo, Prajogo Pangestu (Phang  Jun Phen), Tommy Winata, penyanyi Indonesian Idol Delon, artis sinetron Sandra Dewi, dll.

Di Indonesia Perhimpunan-perhimpunan Hakka sangat terorganisir di sejumlah kota-kota besar, dengan banyak pertemuan rutin yang selalu meriah dan hangat. Sehingga terkesan “ubber alles” terhadap sub-etnis dari rumpun Tionghoa (Han) yang lain. Secara umum, konon karena berasal dari pedalaman maka suku Hakka memiliki kecenderungan atau stereotip yang relatif cenderung agak tertutup, namun memiliki ikatan emosional yang kuat. Bekerja dengan gigih, ulet, hemat, dan tekun tanpa banyak bicara.

Hakka di Indonesia, di samping menguasai bahasa Hakka/Khek banyak yang menguasai bahasa Teochew, khususnya di Kalimantan Barat

            Konon jumlah sub-etnis ini secara total, baik yang berada di tanah leluhur maupun yang berdiaspora ke seluruh dunia mencapai 80 juta jiwa.

2.  Hokkien (Hokkian, termasuk Holo atau Hoklo)

Sub-etnis ini berasal dari Provinsi Fujian (Hokkien) dan Guangdong Bagian Utara khususnya daerah pesisir. Sehingga budaya maritim lebih kuat dibanding budaya kontinen. Untuk menyesuaikan dengan lingkungan maritim atau bahari di tempat asalnya, sub-etnis Hokkien mendominasi wilayah pantai di antaranya pantai timur Sumatra, seperti Medan, Bagansiapiapi, Pekanbaru, Palembang, dan lain-lain. Dominasi Hokkien juga nampak di Bagian Timur Indonesia, Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta pantai Barat Sumatra.  Semuanya berada di pantai.
Sementara di Malaysia banyak mendominasi Negara Bagian  Penang.
            Budaya maritim ini pulalah yang membawa banyak sub-etnis Hokkien berbisnis restoran. Hokkien Cuisine yang lezat dan spicy sangat terkenal di seluruh dunia. Budaya maritim yang tumbuh di tepi pantai membuat Hokkien lebih terbuka terhadap interaksi dengan dunia luar, sehingga stereotip-nya lebih terbuka. Sehingga gerak bisnis di bidang jasa sangat mendominasi Hokkien, berbekal keterbukaan dan keramahannya.
Hokkien Bagansiapiapi  berbeda dengan Hokkien Medan (yang lebih dekat ke Hokkien Penang). Hokkien Bagansiapiapi lebih tradisional atau asli.
Di Malaysia dan  Singapura Hokkien merupakan rumpun Tionghoa dengan jumlah terbesar. Sedang di Filipina dan Taiwan merupakan sub-etnis dari rumpun Tionghoa yang mayoritas.

Stereotip antropologis Hokkien yang kenyal dengan budaya maritim yang terbuka, membawa mereka sukses dalam  berdagang atau berusaha berbekal hospitality-nya. Namun demikian, konon mereka tidak suka menonjolkan diri, yang berbeda dengan Hakka yang  konon lebih “ubber alles”. Konon Hokkien lebih “low profile”.

Hokkien di seluruh dunia, baik yang di Mainland maupun yang berdiaspora ke seluruh dunia, memiliki populasi  antara 40 sampai 50 juta jiwa.


3.  Cantonese (Punti, Konghu atau Kongfu atau Hoa)

            Cantonese masuk ke Indonesia  kebanyakan sebagai mineworkers (pekerja tambang). Dalam hal ini sebagaimana Hakka, banyak masuk ke pertambangan timah di Bangka pada abad ke-19.

            Cantonese sangat dekat kontaknya dengan European di Guangdong dan Hongkong. Maka mereka sangat banyak belajar tentang mesin dan industri serta manufacturing. Sehingga mereka banyak bergelut di manufacturing. Migrasinya ke Jawa sama dengan Hakka, tetapi berbeda alasan. Di kota2 Indonesia banyak yang menggeluti profesi sebagai “artisans” (pekerja yang memerlukan keterampilan), machine workers, serta menjadi pemilik dari banyak  small businesses seperti restoran dan hotel serta dunia hiburan.

Cantonese penyebarannya lebih luas ke seluruh Indonesia daripada Hokkien maupun Hakka, meskipun jumlah populasinya tidak sebanyak Hokkien atau Hakka. Konsekuensi logisnya adalah perannya  sangat kurang jika dibandingkan dengan komunitas dari rumpun Tionghoa (Han) yang lain.

            Sea food restaurants dari Cantonese sangat digemari di dunia. Dim Sum adalah salah satu jenis Cantonese cuisine yang sangat populer. Sementara dalam dunia hiburan, Cantonese telah melahirkan  aktor-aktor Jacky Chan, Bruce Lee, Coco Lee,  Andy Lau, Aaron Kwok, Jacky Cheung, Sammi Cheng.  Sedang Kung Fu Hustle sangat kental dengan budaya Cantonese.

Karena tingkat penyebarannya sangat luas maka Cantonese juga banyak dijumpai di Singapore, Malaysia, Cambodia, dan Vietnam.  Jumlah etnis Cantonese di seluruh dunia saat ini di Mainland  dan yang berdiaspora sekitar  66-70 juta juta.

4. Teochew (Tiociu, Tiochiu, DioJiu, Tiochiu, Chaozhou-dialek Mandarin, Chiuchow, Chaosan)

Teochew konon memiliki riwayat diaspora yang lebih lama ke seluruh dunia sejak serangkaian  perang saudara selama Dinasti Jin (265-420). Seperti halnya Hokkien, stereotip budaya Teochew merupakan budaya maritim atau budaya bahari. Sikap terbuka, lebih periang dan lebih mudah diajak bersahabat

Di Indonesia saja, Teochew dan Hakka hidup berdampingan di Kalimantan Barat (Pontianak, Singkawang, Ketapang), Hakka  sebagai mayoritas di Singkawang. Sementara Teochew sebagai mayoritas di Pontianak dan Ketapang. Banyak Hakka yang berbicara dalam bahasa Teochew, begitu pula sebaliknya. Itulah mengapa meskipun sama-sama berbahasa Khek, Khek Pontianak sedikit beda dengan Khek Singkawang karena pengaruh Teochew yang konon lebih sengau diftong-nya. Itu mirip dengan fenomena perbedaan Hokkien Medan dan Hokkien Penang dengan Hokkien Bagansiapi-api.

Bangkok adalah kota terbesar dengan penduduk Teochew. Sehingga ada yg mengatakan bahwa Thaksin Shinawatra mantan Perdana Menteri Thailand dan Yingluck Sinawatra, adiknya yang cantik dan kebetulan adalah Perdana Menteri wanita pertama di Thailand  adalah Teochew. Meskipun klaim sebagai Hakka lebih kuat. Dr Sun Yat Sen di samping di-klaim sebagai keturunan Hakka juga ada yang menyebutnya sebagai keturunan Teochew. Hal ini mirip dengan klaim dari etnis Scottish di Amerika Serikat, yang telah klaim, bahwa sebagian besar Presiden Amerika Serikat adalah keturunan Scot-Irish atau bahkan Scottish, meski lebih banyak yang mengatakan bahwa etnish Irish lah yang lebih dominan. Karena seperti Irish dan Scottish, Hakka dan Tiochew memang kadang sulit dipisahkan kecuali memang keturunan murni.

Bhs Tiochiu (Mandarin: Chaozhou) sebenarnya adalah salah satu logat/dialek bhs Hokkien, namun karena penduduk Tiochiu tersebar di daerah Guangdong Utara, maka bhs Tiochiu kemudian mendapat pengaruh dr bhs Cantonese menjadi logat dalam Bahasa Hokkien yg dekat Cantonese.

Teochew adalah sub-etnik yang terbesar memberikan kontribusi bagi rumpun Tionghoa di Thailand, yang kedua terbesar di Singapura (21%)  setelah Hokkien. Tapi anehnya bahasa Mandarin yang merupakan bahasa dari rumpun Tionghoa yang berdiam di China Bagian Utara justru menjadi bahasa paling banyak dipergunakan di Singapura, khususnya oleh generasi mudanya.

Teochew cuisine sangat bernuansa seafood atau vegetarian. Dimana minyak lebih sedikit dipakai dalam masakan. Lebih banyak melakukan  poaching, steaming atau braising dalam mengolah makanan.

Jumlah populasi di seluruh dunia sekitar 30 Juta.

===== ===========
Catatan: Penulis adalah pemerhati Antropologi Bisnis Global dan Antropologi Bisnis Nusantara bagi Pencapaian Keunggulan Bersaing

Salam Manajemen dan Bisnis

Ratmaya Urip

ooOoo

Masukan:

1. Indra Muliawan 
(dari milis: mailinglistamasby@yahoogroups.com)
  
Apa ga ada yang ketinggalan, setau saya Fu/Fuk Jing/Hok Jia khan juga ada?

Indra  Muliawan 
Tue, 14 Feb 2012 23:15:19 -0800

======== ======

Jawaban dari Ratmaya Urip:

 Dear Pak Indra,

Fu/Fuk Jing/Hok Jia, itu mengacu pada bahasa tutur, yg dalam kajian etnologi dan bahasa tulis lebih sering atau lebih populer disebut dengan FUQING atau Hok-Chiang, Hokchia, Hokchew, Foochowese, Fuzhounese atau HOKCHIU, sehingga sudah dibahas dalam artikel saya, namun memang tidak dijelaskan secara rinci. Karena yg saya rincikan hanya 4 (empat) sub-etnis saja, yaitu Hakka, Hokkien, Teochew dan Cantonese. Sedangkan sub-etnis Hokchiu atau Hokchia atau Hok Jia atau Fuqing serta sub-etnis HAINAN tidak kami detail-kan karena relatif lebih sedikit jumlahnya. 


Hok Jia atau Fuqing atau Fuk Jing atau Hok Chia atau Hokchiu atau Hokchew atau Fuzhounese merupakan nama sub-etnis yang mengacu pada Fuzhou Dialect. Fuzhou adalah salah satu wilayah setingkat Divisi di bagian timur laut dari Provinsi Fujian (memiliki 9 divisi). Divisi Fuzhou terbagi lagi dalam 5 districts (qu), 2 county-level cities (shi) dan 6 counties (xian). Etnis Fuqing atau Hok Jia atau Hokchia atau Hokchiu berasal dari "shi" atau "qu" atau "xian" Fuqing, Gutian dan Pingnan, di tepi laut Tiongkok Selatan, tepatnya selat yg memisahkannya dengan Taiwan sejarak 180 km. Jadi sub-etnis ini secara antropologis memiliki budaya bahari atau budaya maritim. Meski secara umum Provinsi Fujian secara tofografis bernuansa pegunungan.


Sub-etnis ini dikenal ulet, memiliki kekompakan yg tinggi, dengan kata lain saling membantu terutama dalam hal pemberian modal bagi kelompoknya.

Namun sub-etnis ini tidak terlalu mementingkan pendidikan formal. Lebih concern ke otodidak, khususnya dalam berbisnis. Karena keuletannya, maka banyak yg sukses.

Total sub-etnis ini baik yg di mainland maupun yg berdiaspora sekitar 9.700.000 jiwa.

Tokoh di Indonesia yg berasal dr sub-etnis ini adalah Om Liem Soei Liong (Sudono Salim) dan putra2nya.

Di Surabaya dikenal Tjandra Gozali, pemilik Gozco Group (Bank Yudha Bhakti, kelapa sawit, dll), yg juga kakak kandung Henry J. Gunawan, dari Surya Inti Permata Group. Serta besan dari Eddy William Katuari (Wings Groups).

Diaspora sub-etnis ini secara global adalah ke Asia Tenggara, Jepang, Amerika Utara, Australia dan Eropa.

Di Indonesia sub etnis ini banyak menghuni kota Surabaya, Bandung, Cirebon, dan Banjarmasin. 

Salam 
Ratmaya Urip
Kamis, 16 Februari, 2012 10:55
============ ========

Masukan:

2. Indra Muliawan
(dari milis: mailinglistamasby@yahoogroups.com)

Di Jatim, Surabaya khususnya Gudang Garam & Maspion adalah etnis Fuqing/Hokchia.

Salam,
 
Indra Muliawan
Fri, 17 Feb 2012 01:55:00 -0800 (PST)
============= ========

Jawaban dari Ratmaya Urip:

Pak Indra,

Terima kasih atas masukannya. Saya memang sedang mengumpulkan data tokoh keturunan Tionghoa berbasis sub-etnisnya, utk melengkapi buku saya "Antropologi Bisnis bagi Pencapaian Keunggulan Bersaing"". Jika masih ada informasi mohon disampaikan. Trm kasih sebelumnya.

Selama ini data yg lebih akurat sedang saya teliti, khusus untuk ratusan sub-etnis dr Tiongkok Daratan. Mulai dari Provinsi Zhejiang sampai Xinjiang, atau Provinsi Heilongjiang sampai Hainan. Krn Sub etnis di Tiongkok lebih rumit drpd di Eropa, Amerika, Afrika, dan Nusantara, yg kebetulan sudah saya dalami.

Sekali lagi saya tunggu informasinya. Terima kasih banyak.

Salam

Ratmaya Urip
Fri, 17 Feb 2012 11:08:51 +0000
=============== =

Masukan dari Rky Refrinal Patiradjawane 
 (milis The Managers Indonesia):

Mas Ratmaya,

Sepertinya saya tidak sabar ingin membaca buku anda, tentunya akan banyak membuka tabir wawasan.

Saat ini saya juga sedang menyusun buku 'Marketing for Not Marketer' yang telah tertunda hampir 3 tahun dan 'Marketing for Decision Maker'

Sukses sellau Pak Ratmaya..


Sukses Pak...
Rky Refrinal Patiradjawane
Jumat, 17 Februari, 2012, 11:24 PM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar