Sabtu, 25 Februari 2012

Menunggu

Oleh:  Febriyan Lukito

Waiting is s*ck... Menyebalkan. Paling bete kalau disuruh menunggu. Berapa kali kita mengucapkan kata-kata itu atau mendengarnya di sekitar kita?

Yah... Memang menunggu itu 'pekerjaan' yang tak mudah. Membutuhkan banyak kesabaran dalam prosesnya, jadi semacam latihan kesabaran kita.

Tapi... Most of us, menyukai yang instant. Inginnya cepat selesai. Cepat dapat. Padahal yang instant belum tentu yang terbaik.

Kalau dalam notesnya yang dimuat di buku 'Hidupkan Suksesmu', Billy Boen mengatakan yang instant itu: easy come easy go. Jadi kalau mengharap instant and mendapatkannya, tidak akan lama pula kita menikmatinya. Percaya gak?

Coba kamu seduh mie instant - cepet kan masaknya. Terus gimana kamu makannya? Mau ditunda-tunda biar lama? Bisa lodo' (jangan tanya ini bahasa mana) mienya alias melar atau kalau mie gorengnya akan jadi kering. Seperti itulah yang instant.

INSTANT

Sebenarnya tidak semua instant itu buruk. Seperti saya contohkan untuk kartu ATM instant di bank, yang seperti itu bagus tuh. Karena bisa cepat digunakan. Tidak perlu membuang-buang waktu untuk berlama-lama di bank dan bolak-balik, apalagi untuk mereka yang sibuk.

Tapi kembali lagi, ke-instant-an ini juga terkait lagi dengan fitur yang ditawarkan. Kalau dilihat, untuk kartu-kartu instant, lebih rentan rusak dan tak ada nama dibandingkan yang konvensional. Kerentanan instant ini jika tidak dikelola dengan baik akan hilang begitu saja.

Instant sendiri diartikan dengan serba cepat, menjadi hal yang sangat dicari oleh orang-orang yang notabene memang 'berkeliaran' di dunia yang super cepat juga. Misalnya ketenaran instant. Dengan melakukan aksi-aksi yang mulai dari baik hingga 'buruk', orang mendapatkan ketenarannya.

Namun, ya kembali lagi. Semua tak bertahan selama orang-orang yang mendapatkan ketenarannya karena kerja keras dan talentanya.

Dalam dunia bisnis, pemanfaatan yang serba instant ini harus dilakukan dengan cepat dan sesegera mungkin. Harus memanfaatkan momentum yang ada, sebelum ketenaran instant ini menghilang bahkan sebisa mungkin bertahan lebih lama atau selamanya (well, nothing last forever kan ya?).

Dunia kerja juga tak luput dari instanisasi ini. Sekarang ini, dunia kerja profesional sedang diisi dengan banyaknya para manajer-manajer muda karbitan. Yang menanjak dengan instant (bukan berarti mereka tak baik ataupun pantas dalam posisi mereka sekarang ya). Mereka yang paham kondisi ini, akan memanfaatkan momentumnya dengan baik.

Mereka bekerja sebaik mungkin dalam posisi mereka saat ini, yang diperoleh dengan instan, dan membuktikan bahwa mereka memang sepadan dan pantas atas pekerjaan mereka saat ini.

Jadi, instant tak selamanya buruk. Jika dimanage dengan baik. Sama seperti mendapatkan undian, kalau dimanage, hasil undian bisa bermanfaat untuk jangka waktu lama.

Dan yang kebanyakan terjadi, umumnya adalah menggunakan yang instant dengan instant pula. Seperti dalam bukunya itu, Billy Boen mengatakan bahwa mereka cenderung merasa mudah mendapatkannya, sehingga kalau habis, dapat dicari lagi dengan mudah.

MENUNGGU

Terus, kalau kita bisa dapatkan yang instant dan memanagenya dengan baik, kenapa kita harus menunggu?

Jawabannya kembali ke diri kita masing2, apakah kita mampu mendapatkan yang instant dan me-manage dengan baik, sehingga awal yang instant tersebut dapat menjadi sesuatu yang bertahan lama dan berkembang.

Atau kita sabar menunggu sambil mengasah kepekaan dan menyiapkan diri untuk sesuatu yang lebih baik, sehingga jika saatnya tiba kita dapat berbuat maksimal. Dan hasil penantian/masa menunggu kita akan berbuah manis.

Seorang teman menuliskan dua paragraf di atas dan I couldn't agree more (thank you Ko Sugie). Menunggu di sini jangan dibaca dengan arti: 'diam dan diam' ya. Karena jika itu yang dilakukan.... Sampai bumi gonjang-ganjing (ala Ki Manteb), tidak akan datang. Kita harus tetap berusaha dari waktu ke waktu (baca juga artikel saya: Pray and Result di sini: http://wp.me/phjf8-8s).

Kita berusaha sebaik mungkin dan menikmati prosesnya sebaik mungkin. Seorang temen yang lain (Adit) mengatakan bahwa lebih enak yang tidak instant - sebisa mungkin melakukannya dan menikmati prosesnya. Inilah kelebihan dari proses menunggu.

Proses ini sendiri tidak dapat digantikan oleh apapun atau siapapun. Terkadang memang dalam 'menunggu' ini hasilnya tak seperti yang diharapkan. Tapi, proses dalam menjalaninya tak ternilai.

Pengalaman yang kita peroleh selama menjalaninya, entah itu pengalaman baik ataupun buruk, membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Contohnya jika Anda seorang yang ingin membentuk tubuh. Anda harus diet, banyak berlatih dan bahkan cenderung menghabiskan waktu di gym. Dari hari ke hari.

Berlatih dari alat yang ringan hingga yang berat, sedikit demi sedikit menambah beban agar tubuh terbiasa dan terbentuk perlahan demi perlahan.

Dan selama proses ini kita jadi mengetahui mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak, latihan mana yang perlu, mana yang tidak. Makanan apa saja yang boleh diasup, bahkan kita bisa mendapatkan teman di dalam prosesnya.

Hal-hal seperti inilah yang tidak dapat digantikan. Dan sudah pasti membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dalam hal olah tubuh. Dan hasilnya? Pasti, walau perlahan, tubuh kita terbentuk.

HASIL

Apapun yang kita pilih, instant ataupun non instant, itu adalah hak kita. Dan selama kita bertanggungjawab atas pilihan itu, saya yakin, hasilnya akan baik.

Kembali lagi, seperti yang dituliskan di atas, manakah yang dipilih???

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan sebuah kutipan. 'Pengalaman adalah guru yang berharga. Dan pengalaman hanya dapat diperoleh saat kita melakukannya.'

Ryan
220212 1202
Best Regards,
Febriyan Lukito
=== ==========
Rabu, 22 Februari, 2012 17:55

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar