Rabu, 22 Februari 2012

Migrasi Penciptaan Nilai

Oleh: Andre Vincent Wenas

Dinamika lingkungan bisnis semakin intens. Karenanya pebisnis dan manajer sejati
tak lengah untuk: 1) memantau laporan keuangannya (arus-kas, laba-rugi, neraca
serta rasio-rasio keuangan yang relevan), 2) menjaga keintimannya dengan para
pelanggan dan pasar, lalu terus 3) me-review proses-proses kerja (kita
menyebutnya sebagai proses penciptaan nilai) di dalam organisasi, dan akhirnya
4) terus rajin meningkatkan kompetensi orang-orang yang merupakan para
pemangku-kepentingan.

  Kita paham bahwa lansekap bisnis itu dinamis, makanya harus terus menyalakan
radar-screen Anda – yang seiring dengan meningkatnya kompetensi organisasi – ia
jadi semakin lebar cakupannya dan makin peka menangkap sinyal perubahan bisnis.
Bisa menterjemahkan makna serta relevansinya buat organisasi dan membaca
trend-nya ke depan bakal seperti apa. Sehingga Anda lebih siap (dibanding
pesaing) untuk memenangkan rivalitas terhadap para pembeli, pemasok, pemberi
solusi substitusi (pengganti) maupun para pendatang baru dalam kancah industri.

  Tentunya model-bisnis turut bergeser seiring perubahan tuntutan pasar.
Konsumen dipengaruhi perubahan (serta tawaran baru) dari sisi teknologi, gaya
hidup (social life style), pertumbuhan ekonomi dan penyesuaian regulasi
pemerintah.

  Secara sederhana model-bisnis: “…is the totality of how a company selects its
customers, defines and differentiates its offerings, defines the tasks it will
perform itself and those it will outsource, configures its resources, goes to
market, creates utility for customers, and captures profit.” (Adrian J.
Slywotzky, Value Migration: How to Think Several Moves Ahead of the Competition,
1996).

  Pokoknya, model-bisnis adalah keseluruhan sistem untuk memberi kemanfaatan
pada pelanggan dan kita dapat profit. Kalau tidak profit lagi, maka ubahlah
model-bisnisnya, karena migrasi penciptaan nilai sudah terjadi. Luar biasa jika
Anda malah bisa mengantisipasi migrasi penciptaan nilai yang bakal terjadi dalam
3 sampai 5 tahun ke depan. Karena Anda bisa mempersiapkan manajemen perubahan
antisipatif. Artinya, Anda berada beberapa langkah di depan pesaing.

  Dalam buku yang sama, Adrian J. Slywotzky berdasarkan pengalaman nyata para
kliennya, menggambarkan 7 contoh pola migrasi penciptaan nilai yang bisa jadi
pelajaran buat kita:

1. Multidirectional Migration. Contoh: dari besi baja ke bahan lainnya. Komponen
mobil jaman dulu sebagian besar terbuat dari besi, namun saat ini banyak juga
terbuat dari plastik dan alumunium. Dulu Industri baja terdiri dari mills yang
terintegrasi secara raksasa, sekarang berupa mini-mills yang bisa melayani
banyak kepentingan khusus pelanggannya.

2. Migration to a Non-Profit Industry. Contoh: Airlines. Akibat deregulasi,
maraklah low-cost carriers. Banyak penerbangan tidak bisa lagi bersaing harga
(sudah mentok di bawah). Sehingga diferensiasi dilakukan lewat pelayanannya
(service). Namun strategi peningkatan layanan butuh ongkos tambahan yang pada
gilirannya bakal meningkatkan posisi struktur-biaya. Profitabilitas tergerus.

3. Blockbuster Migration. Contoh: Obat-obatan. Perjalanan model-bisnis industri
farmasi mulai dari serendipitous science (pre-1975) di mana banyak penemuannya
bersifat random, menuju desain yang fokus pada blockbuster products (1975-1990).
Sampai saat ini, dengan berubahnya struktur basis pelanggan, modelnya bergeser
ke low-cost distribution dan market-access, ini dikenal dengan managed health
care design.

4. Multicategory Migration. Contoh: Coffee. Dulu, kopi adalah soal komoditi.
Sekarang bergeser dari kategori traditional coffee shops dan office coffee
menuju gourmet cafes (misalnya Starbucks, Bengawan Solo, dll), lalu dari
kategori traditional grocery brands menuju whole-bean gourmet coffees (biji kopi
utuh yang baru digiling saat dibeli). Konsumen makin ngerti cita-rasa-aroma kopi
branded.

5. Dari Integration ke Specialization, contoh: Computing. Dulu industri
komputasi itu besar dan terintegrasi. Sekarang ada yang spesialis software (ini
pun ada spesialisasinya lagi). Ada yang cuma membuat chips, ada yang memory-nya
saja, ada yang screen-nya, dan berbagai spesialisasi lainnya.

6.Dari Conventional Selling ke Low-Cost Distribution.

7.Dari Conventional Selling ke High-End Solutions.

Bersiaplah untuk sukses.


============= ======
  Catatan:  Artikel ini telah dikontribusikan ke Tabloid Bisnis KONTAN. Segala hal yang menyangkut sengketa atas Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kotributor
Jumat, 10 Februari, 2012 03:14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar