Selasa, 21 Februari 2012

TALENAN

Oleh:  Ietje Sri Umiyati Guntur
 
Dear Allz…
 
Apakabaaaarrr ???  Waaadooohhh…lama nian ya, saya tidak muncul dan tidak menyapa teman-teman dan sahabatku sekalian. Semoga dalam rentang waktu kita tidak saling menyapa, atau saling tidak berjumpa, kita tetap dikaruniai kesehatan dan keceriaan…amiin…
 
Sebetulnya siiichh…kalau mau dikatakan kangen, saya kangen dan rindu berat kepada teman-teman dan sahabat tersayang. Kangen ingin berkicau dan berceloteh riang. Kangen ingin mencurahkan ide-ide yang berseliweran di dalam kepala…tapi entah kenapa, seperti mesin yang butuh istirahat, maka saya pun mendadak jadi seperti kue yang terlalu lama disimpan di dalam stoples…agak melempen…hahahaha….
 
Namun untunglah…kerinduan dan dukungan teman serta sahabat tersayang membuat saya tergugah lagi. Lalu saya bongkar-bongkar catatan ide yang sempat berhamburan di berbagai tempat…dan muncullah ide sederhana yang ingin saya bagikan kepada teman-teman dan sahabat semua.
 
Ceritanya seputar dapur…mengenai Talenan. Eeh, ini bukan uang talen, atau setali alias 25 sen jaman dahulu kala, ya. Ini cerita tentang talenan dari kayu, yang menemani hari-hari kita tanpa kita sadari. Apa saja sih pengalaman kita dengan talenan ? Yuuukk…kita berbagi cerita….
 
Boleh saya mulai dulu dengan secuplik kisah Talenan ? Kalau boleh…saya masuk duluan yaaa….Selamat menikmati…semoga inspirasinya menjadi warna hidup kita hari ini…
 
Uhuuuyyyy….cemangaaattsss….
 
Jakarta, 7 Februari 2012
 
Salam sayang,
 
 
Ietje S. Guntur
♥♥♥

 
 
 
TALENAN
 
 
Hari libur. Hari keluarga. Saat yang sudah saya tunggu hampir seminggu penuh, untuk unjuk kebolehan…hehehe…Maklum, namanya Emak-emak karir, tidak bisa sepenuhnya hanya memikirkan urusan pekerjaan dan urusan kantor. Naluri untuk berkutat di dapur tetap menyala, walaupun kadang on-off…hiiikss…Jadi deeh…mulai tengah minggu sudah ada beberapa rencana untuk memasak makanan yang istimewa. Resep-resep andalan dari berbagai majalah dan tabloid sudah siap di dapur. Dicatat dengan baik, dan dihafal…Uuuh…rasanya tiap akhir pekan seperti mau ujian …hahahaha…
 
Resep sudah. Ada masakan pesanan si Cantiq-anak semata wayang saya, dan ada masakan pesanan Pangeran Remote Control-Sang Suami Tercinta . Dua orang, dengan kesukaan yang saling bertolakbelakang....hehe…Kebayang kalau sekeluarga anaknya setengah lusin, dengan selusin selera yang berbeda…ohlalaaa…
 
Jadi deh, di pagi hari yang ceria ini saya siap-siap dengan bahan yang sudah dibeli di Pasar Bidadari. Ada ikan segar, udang, ayam kampung, dan ikan pindang tongkol – special niiih…kesukaan Pangeranku. Sayuran pun sudah setumpuk. Siap untuk membuat sup campur, dan sayur ca. Halaah…sama-sama sayuran tapi beda aliran. Untuk saya sendiri, yaaaa…ikut sajalah dengan selera kiri-kanan anggota lain…hmmh…
 
Pisau dapur khusus, yang biasa saya pergunakan sudah tersedia. Piring-piring alas dan wadah sudah siap. Wajan, panci berbagai ukuran, centong, sutil…sudah berbaris rapi di meja dapur. Naaah…sekarang siap kerja. Eeeh…mana nih talenannya ? Biasanya sih talenan ada di rak piring. Lho…kok menghilang ?
 
Setelah dicari di sana sini, ternyata talenan saya sedang dijemur agar kering dan bebas jamur…ohoooyy…Untunglah ! Mana bisa saya bekerja, mempersiapkan dan memotong bahan tanpa bantuan talenan. Saya mengambil talenan kayu yang agak lebar, lalu mulai beraksi dengan pisau kesayangan.  Gress…gresshh…Bahan terpotong rapi, lalu dibariskan sesuai dengan peruntukannya. Sebagian ditempatkan di piring, sebagian tetap berada di talenan, agar nanti mudah dicemplungkan ke dalam panci.
 
 
Ngomong-ngomong soal talenan…hmmh…kayaknya semua dapur dan semua ahli masak punya satu talenan kesayangan yang biasa dipergunakan untuk persiapan memasak. Saya punya tiga talenan. Dua terbuat dari kayu, dan satu dari plastik. Yang dari kayu, satu agak besar, dan satu agak kecil. Masing-masing ada fungsinya sendiri. Yang besar itu biasanya untuk alas kalau memotong sayur, daging, ikan, dan bahan yang agak besar. Sedangkan yang kecil biasanya untuk memotong bawang, tomat dan bahan-bahan atau bumbu yang lebih mungil bentuknya.
 
Yang plastik ? Itu jarang saya pergunakan. Paling untuk memotong bahan basah seperti tahu atau tempe. Tapi itu pun tidak mesti. Saya kurang suka memakai talenan bahan plastik, karena bila dicuci masih meninggalkan bekas dan agak bau apa gitu deh…Nggak enak. Barangkali ada yang Tanya : kenapa beli kalau jarang dipakai ? hehehe…ada 102 alasan ! Tapi yang jelas, talenan plastik ini bisa dibawa kemana-mana, kalau ingin masak di luar. Sedangkan si Talenan kayu, adalah properti rumah yang tidak boleh keluar dari area dapur.
 
Kalau cerita soal talenan, eeehh…apa, ya bahasa lainnya ? Ya, talenan deh…! Ibu saya adalah orang yang sangat fanatik terhadap talenannya. Ibu sayalah yang mengajarkan, bahwa setiap orang yang bekerja di dapur harus punya paling tidak dua buah talenan. Ya, itu tadi alasannya. Tapi ibu saya memang luar biasa. Selain talenan standar yang dua model tadi, beliau juga punya talenan yang besaaaaar sekali. Dibuat dari bahan kayu nangka yang bulat, tebalnya sekitar 10-15 cm, dan kalau menimpa kaki bisa gepeng seketika… hihihiiii…
 
Talenan super besar dan super tebal ini biasanya dipergunakan ibu saya untuk menjadi alas pemotong daging atau tulang-tulang. Dengan pisau besar seperti kampak, maka bekerja di talenan besar ini menjadi mudah dan cepat. Mirip deh dengan talenan penjual daging di pasar, atau penjual ayam yang memotong-motong dagingnya dengan tenaga dalam.
 
Selain itu ibu saya juga punya talenan super mini, dengan kaki penyangga. Modelnya hampir segitiga, dan kaki penyangganya juga tiga. Kalau saya bilang, ini talenan keramat milik ibu saya. Entah dibuat dari kayu apa, tapi kelihatannya kuat dan praktis. Dengan kaki penyangga itu, ibu saya bisa membawa talenan kemana-mana, bahkan sambil memotong sayuran di depan televisi pun bisa…hahaha…Saya pernah iseng meminta talenan ini, tapi dengan serta merta ibu saya mendelikkan matanya. Beliau bilang, lebih baik dia membelikan saya talenan baru di pasar, daripada talenan kaki tiga ini diberikan kepada orang lain…halaaah…!!!
 
Masih ada lagi. Tapi ini memang tidak umum. Yaitu talenan terbuat dari lempengan marmer. Betuuuulll…dari batu marmer yang biasanya untuk lantai rumah ! Ibu saya punya sekeping talenan marmer yang tebalnya kurang lebih satu inchi. Ini memang khusus untuk membuat roti dan tingting kacang. Jangan ditanya beratnya seperti apa. Dan saya tidak mau mencoba untuk menimpakannya ke atas kaki saya…uuuhh…
 
Berhubung saya tidak terlalu sering turun ke dapur, dan saya juga kurang ahli membuat roti ( baca : belum bisa bikin roti…hehehehe…), maka urusan pertalenan itu bagi saya cukup dengan tiga ukuran dan bahan saja. Bagi saya, perangkat kerja itu sudah sangat membantu . Apalagi kalau kadang-kadang saya masak di luar bersama teman-teman dan keluarga, salah satu talenan saya pasti ikut menemani. Itu semacam paspor juga untuk masuk ke dapur. Rasanya memang lebih nyaman menggunakan pisau kerja dan talenan sendiri, sehingga sudah hafal dengan lekuk-lekuk dan karakter bahannya.
 
 
Sekarang semua bahan sudah siap dipotong. Panci sudah dijerang di atas kompor. Wajan sudah siap sedia menerima bahan yang akan dimasak.
 
Dengan kelincahan tersendiri, saya mengayunkan talenan di atas panci, menggeser bahan-bahan di atasnya hingga masuk dengan pas ke dalam air yang sudah mendidih. Bawang putih yang tadi digeprek di atas talenan juga sudah ikut nyemplung ke dalam wajan yang telah diisi minyak, dan sekarang menebarkan aroma wangi yang menggelitik hidung.
 
Tidak lama. Hanya kurang lebih satu jam saja…* kok kayak lagu, ya ? *…semua masakan sudah selesai dan matang. Tinggal ditata di dalam mangkuk dan piring saji. Lalu dihidangkan….hmmh…Hari keluarga yang ditunggu seminggu pun sukses dengan cerah ceria…ahaaayyy…
 
Lalu…semua peralatan dibersihkan. Talenan dicuci bersih. Diangin-anginkan, dan dijemur sebentar. Agar tidak tumbuh jamur di permukaannya. Talenan bersih akan menjamin makanan sehat. Talenan kotor, menjadi sumber penyakit . Hmmh…siapa bilang talenan tidak harus mendapat perhatian khusus ?
 
 
Melihat dapur yang sudah bersih, dan talenan yang sudah berbaris rapi di rak piring saya tersenyum.
 
Berkat talenan, kerja saya menjadi cepat dan mudah. Padahal kalau dipikir-pikir, apa sih talenan itu ? Hanya sebilah papan, atau sepotong kayu. Tapi tanpa dukungannya, maka urusan persiapan makanan akan terganggu dan barangkali menjadi repot.
 
Di dalam hidup kita ini pun, kadang-kadang ada orang yang hanya berfungsi seperti talenan. Menjadi alas bagi aktivitas orang lain . Ia hanya pendukung sebuah proses. Tapi tanpa dukungannya, proses tidak akan berjalan lancar.
 
Kita pun seandainya bisa memilih, lebih baik menjadi seseorang yang berada di depan atau di atas. Namun, bila semua orang menjadi yang di atas, siapa yang akan mendukungnya ? Menjadi talenan bukanlah pilihan yang terakhir. Ia sama mulianya dengan pilihan lain. Yang penting, walaupun hanya menjadi talenan, ia tetap memiliki integritas di dalam menjalani hidup ini…
 
Semoga kita dapat belajar dari sebilah kayu yang bernama talenan…
 
 
Jakarta, 7 Februari 2012
 
Salam hangat,
 
 
Ietje S. Guntur
 
 
Special note :
Terima kasih untuk Ma tersayang…begitu banyak ilmu dan cinta yang Mama berikan dalam hidup ini…I loveeeeee U …muuaachh…J

Senin, 6 Februari, 2012 23:44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar