Rabu, 29 Februari 2012

Elektabilitas Calon Pemimpin dalam Perspektif Antrologi Bisnis dan Antropologi Politik

,



(Studi Kasus Elektabilitas Sri Mulyani Indrawati sebagai Presiden Bank Dunia)

Oleh: Ratmaya Urip*)


BAGIAN 2


Terus terang saya hanya dapat pesimis Bu Sri Mulyani dapat terpilih, karena World Bank dan Federal Reserve (The Fed) sulit utk ditembus oleh non USA (baca: Jews). Kecuali Bu Sri Mulyani dapat memutus lobby-lobby Jews, atau Bu Sri Mulyani benar2 dapat membela kepentingan2 mereka.
Namun jika benar2 terpilih, terlepas dari masalah Bank Century yg sangat membingungkan (atau rakyat dibuat bingung?), saya sebagai bangsa Indonesia sangat bangga. Ingat pepatah lama "right or wrong my country".
Perlu saya sampaikan, kriteria2 normatif untuk seorang calon Presiden Bank Dunia yg sering di-released di media itu hanya "lips service". Karena sebenarnya ada "hidden criteria" dan "hidden agenda".

Dalam artikel saya sebelumnya saya lupa menyampaikan, bahwa satu2nya Presiden Bank Dunia yg non-USA atau dari Australia yaitu Sir James Wolfensohn (Presiden ke-9) di antara 11 Presiden yg pernah ada, adalah seorang Jews, seperti halnya Presiden yg saat ini menjabat, Robert B. Zoellick yg juga seorang Jews.
Maka ketika dinaturalisasi menjadi warga Amerika Serikat, Sir James sangat antusias. Karena sepanjang sejarahnya, banyak warga Australia yg sering pindah warga negara menjadi warga negara Amerika Serikat,karena Amerika Serikat konon adalah pusat peradaban khususnya jika ingin meraih peran dan popularitas global.
Contohnya Nicole Kidman dan mantan suaminya Tom Cruise (Mission Impossible). Juga Sandra Bullock (Speed), Mel Gibson (The Patriot), Lucy Lawless (Xena, The Princess Warrior), dan lain-lain, yang semula adalah warga Australia.
Sebenarnya ada kesempatan bagi Bu Sri Mulyani, karena kebetulan calon yg diinginkan untuk menjadi Presiden Bank Dunia usulan Amerika Serikat yaitu Hillary Clinton (etnis Irish) ternyata yg bersangkutan tidak berminat, karena lebih ingin konsentrasi sebagai Menteri Luar Negeri saja.
Saat ini Amerika Serikat sedang bingung memilih calonnya. Sehingga Bu Sri Mulyani bisa masuk.
Namun saya tetap berpendapat, bahwa Presiden Bank. Dunia berikutnya tetap seorang Jews. Jika tidak maka seorang Irish. Karena Jews sangat percaya pada Irish, mengingat kolaborasi panjang yg telah terjalin antar-mereka.
Jika Bu Sri Mulyani dapat terpilih, itu baru prestasi luar biasa. Karena masuk dalam Rink-1 di Jews Society sangat sulit. Dan itu merupakan kepercayaan yg luar biasa dari Jews Society. Namun karena mengingat Indonesia sebagai tempat asal Bu Sri Mulyani dikenal sebagai negara dengan mayoritas Muslim, itu dapat menjadi ganjalan, meski mayoritasnya dikenal sebagai Muslim moderat oleh Barat.
Sebagai referensi, sebelumnya terjadi hiruk pikuk pemilihan Managing Director IMF yg baru (di IMF top-nya adalah Managing Director bukan President).
Ketika pada puncak pemilihan top leader IMF, telah saling berhadapan 2 calon yaitu Menteri Keuangan Perancis, Christine Lagarde versus Gubernur Bank Central Mexico, Agustin Cartens.
Waktu itu Cartens lebih superior dan dijagokan untuk menang. Namun saya memilih Lagarde, karena analisis berbasis pada Antropologi Bisnis dan Antropologi Politik yg saya telah pahami. Akhirnya memang pilihan saya yg terpilih.
Analisis saya waktu itu sederhana saja. Lagarde adalah orang Perancis. Yang akan digantikan adalah Dominique Strauss-Kahn adalah orang Perancis juga. Apalagi selama ini dominasi Perancis sebagai Managing Director IMF yg sudah 4 kali di antara 10 kali (di luar Lagarde sebagai Managing Director ke-11 dan orang Perancis ke-5 yg memimpin IMF kemudian).
Ingat selama 10 periode sebelumnya (sebelum Lagarde sbg yg ke 11) IMF selalu dipimpin Orang Eropa, dengan Perancis menjabat 4 kali (menjadi 5 kali setelah Lagarde terpilih), Swedia 2 kali, dan negara2 Eropa lainnya 1 kali (Belgia, Swedia, Belanda, Jerman, Spanyol).
Waktu itu saya tidak memilih Agustin Cartens karena dia bukan Orang Eropa. Padahal IMF sejak awal berdirinya memang konon dikapling untuk Eropa. Sedang World Bank dikontrol atau menjadi kapling Amerika Serikat. Faktanya memang demikian. Sehingga waktu itu saya memroyeksikan Lagarde akan menang. Akhirnya memang dia yg menang. Hanya karena dia orang Eropa. Kapabilitasnya sih sudah tidak diragukan lagi, yg seimbang dengan rivalnya.
Kembali ke pemilihan Presiden Bank Dunia, jika Bu Sri Mulyani dapat terpilih menjadi Presiden Bank Dunia (meski saya pesimis) dan saya diizinkan untuk berandai-andai (sesuatu yg jarang saya lakukan), maka paling tidak dapat tercatat 3 rekor yg tercapai. Yaitu:
Bu Sri Mulyani Indrawati menjadi:
1. Wanita pertama yg menakhodai Bank Dunia.
2. Negara non USA pertama yg memimpin Bank Dunia (asal jangan bersedia dinaturalisasi).
3. Muslim pertama yg memimpin Bank Dunia.
Dan rekor lain dapat tercipta, mungkin saja sebagai:
4. Yang termuda yg pernah memimpin Bank dunia.
(Tentang rekor ini saya belum yakin, karena saya belum ada data. Namun semoga tidak salah. Jika ada yg memiliki data, silakan share).
Mungkin ada rekor lain? Silakan yang lain menambahkan.
Saya bukan orangnya Bu Sri Mulyani. Karena saya netral2 saja. Saya hanya bangga jika ada orang Indonesia yg berprestasi. Siapapun dia, tanpa memandang suku, agama, ras, golongan dan gender. Itu saja.
Wass
Ratmaya Urip
Senin, 27 Februari, 2012 12:48
=============== ==========

KOMENTAR:


1.  Liman PAP:

Benar Pak Ratma,

Lazimnya WB jatah AS dan IMF jatahnya orang Inggris. Kalau tidak salah memang sudah ada yang menulis bahwa polling tidak resmi, tentu akan dimenangkan SMI karena yang paling banyak mengunjungi situs tersebut dari Indonesia, sama dengan masyarakat Turki yang menduduki peringkat 2 sebagai pengunjung situs yang memilih pejabat Turki.

Poinnya bukan pemenangnya siapa, tetapi pengakuan dan penghargaan akan SDM yang dimiliki oleh Indonesia yang mampu bersaing di dunia internasional. Soal Century, mestinya diselidiki ke mana dana bail out mengalir, ke LC bodong kah, ke parpol manakah atau ke pejabat mana.

Kalau yang dipersoalkan adalah sistemik atau tidaknya, sesuai prosedur atau tidak itu permainan politisi yang Bank Dunia juga sudah tahu.


Terima kasih,

Liman
Senin, 27 Februari, 2012 18:55
============= ========

Respons dari Ratmaya Urip:

Pak Liman,

Maaf Bpk, saya luruskan, IMF bukan hanya jatah Inggris tapi EROPA.

Ini penting, karena sampai saat ini masih sering anggota European Union (EU) yg syirik pada Inggris dalam keanggotaannya di EU. Khususnya Perancis dan Jerman.

Hal ini terjadi terus menerus sejak Deklarasi Awalnya. Contohnya:

1). Inggris bukan Deklarator EU, karena mungkin waktu itu tdk berkepentingan. Malah saya mengganggap Inggris memandang rendah potensi EU di awalnya.

Deklarator EU sering di sebut The Inner Six atau The Six, yaitu Belgia, Perancis, Jerman Barat (waktu itu Jerman Timur masih ada), Italia, Luxemburg, dan Belanda.

Jika dipadankan dengan Deklarator ASEAN adalah The Inner Five atau The Five, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina.

Dalam perjalanannya EU kemudian bertambah dengan The Outer Seven, di sini Inggris baru mulai masuk.

Sampai saat ini di tahun 2012 anggota EU adalah 27 negara.

2). Ketidaksukaan Perancis lebih nampak sejak awal drpd Jerman. Ini menurut saya adalah perseteruaan klasik sejak awal yg berbasis pada perebutan hegemoni di Eropa yg sering saya sebut sebagai "hegemony-based competitiveness". Mulai dari dominasi Viking sebelum Masehi sampai Perang Dunia 2, yg berlanjut secara lebih halus di abad modern dalam kancah EU.

2. Ketika Inggris mau masuk EU, sempat akan di-veto oleh Presiden Perancis waktu itu, Charles de Gaulle, dan menganggap Inggris sebagai "Trojan Horse" atau duri bagi EU.

3). Inggris sendiri semula tidak setuju dengan mata uang Eropa bersatu "Euro". Sampai sekarangpun Poundsterling masih exist. Karena merasa Pounds lebih tinggi derajadnya drpd Euro

4). Selama ini memang dalam forum EU, Inggris sering membikin gerah yg lain. Terakhir ketika menyikapi krisis finansial Eropa yg dipicu krisis utang Yunani, sikap Inggris sering berbeda dg sebagian besar yg lain. Sehingga Presiden Sarkozy (Perancis) dan Kanselir Merkel (Jerman) terpaksa merapatkan barisan.

5). Dampaknya, Inggris belum pernah sekalipun menjabat sebagai Managing Director di IMF. Mungkin saja karena diganjal Perancis atau Jerman. Faktanya, Managing Director IMF sering dijabat oleh Perancis, termasuk yg kini menjabat, Christine Lagarde.

Kajian2 tentang friksi panjang antar negara Eropa itu sangat historis, sejak zaman Viking berkuasa, kekaisaran Romawi dan Bizantium, sampai Perang Dunia 2 dan di EU.

Jika ingin lebih jelas dapat ditelaah dari Ilmu Antropologi Terapan khususnya Antropologi Bisnis dan Antropologi Politik Internasional. Perilaku atau bahkan stereotip Viking, Irish, Scottish, Bavarian, Italian, Jews, France, dll, membawa situasi menjadi seperti itu.

Yang bisa saya petik dari pelajaran friksi panjang di Eropa yg kemudian melahirkan apa yg kemudian saya sebut "hegemony-based competitiveness" adalah, mereka haus untuk selalu menjadi nomer satu. Sehingga seluruh resource dikerahkan untuk menggapainya. Sehingga R and D berkembang pesat, supaya dapat saling mengalahkan. Inovasi banyak dilakukan sehingga "competitiveness" menjadi suatu "way of life". Beda dengan Indonesia yang relatif "hegemony-based competitiveness" nya sedang-sedang saja. Apalagi "survival-based competitiveness"-nya, yang sudah telanjur manja dengan "tongkat kayu jadi tanaman", "bukan lautan hanya kolam susu", "gemah ripah loh jinawi tata tentrem kata raharja", "bak zamrud khatulistiwa" dan pemeo-pemeo lain yg meninabobokkan bangsa.

Meskipun di negara ini sekarang semangat kompetisi supaya menjadi yg terbaik atau supaya bisa survive sudah mulai tumbuh, namun masih sporadis dan belum banyak volumenya. Belum menjadi massal dan frontal. Kewajiban kita untuk menjadikannya sebagai gerakan massal.

Jika sering melahap cerita petualangan serial Dr Karl May dalam serial Amerika (Old Shatterhand and Winnetou) maupun serial Balkan (Kara Ben Nemsi), yg banyak dibaca oleh pemimpin2 kita semasa kemerdekaan dan sesudahnya, kita akan paham arti antropologi terapan. Juga jika kita membaca petualangn "Wallace" di Nusantara yg kemudian melahirkan "Garis Wallace".
Semuanya kini diterbitkan kembali.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip
Selasa, 28 Februari, 2012 18:52

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar