Sabtu, 25 Februari 2012

Aku Kesepian di Surga-Mu



Salam sukses dan bahagia selalu untuk kita,

Saudaraku yang budiman,

Mimpi mungkin bagi sebagian orang adalah bunga tidur. Namun bagiku, mimpi dapat menjadi sarana Tuhan untuk mengingatkanku atas segala niat, perkataan dan perbuatan yang aku lakukan disaat sadar sebelum tidur. Dan banyak hikmah dari mimpi yang aku pelajari sebagai petunjuk Tuhan, bentuk kasih sayang Tuhan kepadaku agar senantiasa berada di jalan-Nya dan kembali menuju surga-Nya.

Sebuah mimpi yang aku alami malam ini dan aku ungkapkan dalam sebuah tulisan sederhana ini. Namun tulisanku belum mampu menggambarkan betapa luar biasanya kesempurnaan milik Tuhan. Semoga tulisan ini memberi hikmah bagi kita semua.

*****  

Aku berada di dalam ruang asing, besar dan luas. Seberkas cahaya menerangi tubuhku, memancarkan aura keemasan, memendar menerangi semua ruang gelap yang aku lalui.

“Selamat datang, kekasih-Ku”

Aku mendengar suara menggema, namun tiada tampak rupa pemilik suara tersebut. Ku berjalan menuju sumber suara, semakin jelas terdengar dan menggetarkan kalbu. Dimanakah aku?

Tiba-tiba, cahaya putih mengelilingi tubuhku, terasa dingin. Dan bergerak menuju hadapanku, berkumpul menjadi satu, membentuk sosok berjubah putih, berwajah rupawan.

“Salam sejahtera, kekasih Tuhanku. Hamba Allah yang mulia. Sungguh kehormatan bagiku, Jibril, mendampingimu menuju Surga Firdaus yang suci”

Masya Allah, sungguh merdu suara sosok dihadapanku, Jibril. Makhluk ciptaan Tuhan berperilaku santun itu, menuntunku menuju suatu tempat, melewati lorong gelap menuju satu titik cahaya, yang semakin besar ketika kudekati.

Tibalah aku pada satu tempat yang berujung pada Pintu besar, pintu emas berukir kaligrafi dan perjalanan kehidupan manusia, bertahtakan mutu manikam. Pintu itu tertutup rapat. Namun di setiap celah pintu tersebut, tidak mampu membendung pancaran cahaya indah di baliknya, membuatku penasaran, keindahan seperti apa yang tersimpan di baliknya.

“Selamat datang, Kekasih-Ku. Keagungan dan kesucian Firdaus siap melayani pribadi mulia dan bertakwa sepertimu”

Oh, apakah itu suara Tuhanku. Membuat seluruh tubuhku lemas, menundukkan kepala dan hatiku. Membuat aku tampak semakin kecil dan tiada arti. Namun aku tiada kuasa melihat rupa Sang Kuasa, yang hadir laksana cahaya blitz kamera.

Pintu besar itu mulai terbuka perlahan. Semerbak wewangian, menebar ke segala penjuru ruangan, membuat jiwaku melayang menuju kedamaian. Suara-suara harmoni terdengar merdu, membuat jiwa damaiku terasa semakin dalam. Dan aku langkahkan kakiku, diiringin puji-pujian yang mengalir dari mulut suci ribuan sosok berjubah putih nan rupawan, menyambut kedatanganku. Dan aku berada di Surga Firdaus.

Entah berapa lama aku lalui hidup di tempat penuh kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan. Tiada rasa haus dan lapar. Semua kebutuhan dan keinginanku terpenuhi, sangat cepat, tepat, tanpa cacat. Setiap helai daun yang berguguran pada pohon rindang di depan istanaku, melayang dan mendendangkan puja-puji keagungan Tuhan. Ketika daun itu menyentuh tanah, dia menghilang. Dan disaat bersamaan pada ranting yang ditinggalkannya tumbuh daun baru yang indah.

Aku memandangi sepasang hewan laksana Rusa, berwarna putih. Tampak berlarian menuju aku yang sedang duduk di sebuah taman yang dihiasi tanaman bunga beraneka warna, menikmati sejuknya udara saat itu. Mereka menjilati tanganku, mengelilingiku, mengendus-ngendus tubuhku, seolah ingin mengajakku untuk bermain bersamanya, berlarian di taman nan indah. Sungguh bahagia pasangan hewan itu, hidup bersama di taman yang indah.

Aku lalui kehidupan di Surga Firdaus seorang diri. Dan timbul rasa kesepian dalam diri ini.

“Oh Tuhan, aku tidak mampu melalui kehidupan seperti ini. Keindahan yang Kau-beri mulai menjadi tiada arti jika aku tetap sendiri. Aku membutuhkan seorang sahabat, saudara dan keluarga disini”

“Wahai kekasih-Ku, inilah buah dari ibadahmu di dunia. Coba kamu perhatikan film perjalanan hidupmu, kamu selalu melaksanakan perintah-Ku, mengutamakan kewajiban atas panggilan-Ku diatas hakmu dan engkau tidak pernah melanggar perintah-Ku. Namun itu engkau lakukan untuk dirimu sendiri dan cukup bagi-Ku memberikan anugrah surga ini untukmu seorang diri”.

“Tapi Tuhan, bagaimana aku bisa hidup dalam kesendirian”

“Wahai kekasih-Ku, bagaimana bisa kamu melupakan sahabatmu, saudaramu dan keluargamu untuk mengingat-Ku, melaksanakan perintah-Ku, menjauhi larangan-Ku. Kamu membiarkan mereka hidup dalam kegelapan. Kini kamu tinggal dalam kebahagiaan di Surga-Ku dan mereka tinggal dalam kesengsaraan di Neraka-Ku. Bukankah itu yang kamu mau?”

“Tuhan, bukankah setiap manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing dihadapan-Mu?”

“Benar, namun pernahkah kamu berpikir mengapa aku menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan menempatkan manusia di bumi dalam suatu lingkungan sosial?”

“Agar manusia saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kebaikan, Tuhanku.”

“benar, Kekasih-Ku. Dan tahukah kamu bahwa sesungguhnya manusia pertama Ku-ciptakan dan Ku-tempatkan di Surga. Dan Aku kembalikan manusia juga ke Surga pada saatnya nanti. Aku tugaskan manusia ke Bumi untuk belajar membangun hubungan dengan-Ku, membangun hubungan dengan sesama manusia dan membangun hubungan dengan alam semesta yang Aku ciptakan untuk kesejahteraan mereka selama di dunia agar mereka bersyukur. Dan Aku berikan manusia kebebasan untuk belajar dengan caranya sendiri di muka bumi. Dan kini engkau kembali ke Surga-Ku dengan caramu sendiri”

“Tuhan, ijinkan aku kembali ke muka bumi. Aku sadar kekhilafanku. Aku ingin merangkul sahabatku, saudaraku, keluargaku untuk bersama-sama denganku mengingat-Mu, melaksanakan perintah-Mu, menjauhi larangan-Mu, agar mereka juga menikmati kebahagiaan ini bersamaku”

“Kekasih-Ku, apakah kamu ikhlas melepaskan kebahagiaan besar di Surga Firdaus ini demi kembali ke muka bumi?”

“Aku ikhlas, Tuhanku. Surga ini masih sangat besar untuk menampung sahabatku, saudaraku dan keluargaku. Dan aku akan syiarkan kabar gembira tentang Surga-Mu”

“Baiklah, Kekasih-Ku. Pejamkan matamu dan Aku kembalikan kamu ke muka bumi”

Dan aku terbangun dari tidurku. Oh, Tuhan. Berikan aku petunjuk-Mu agar aku mampu membawa sahabatku, saudaraku dan keluargaku menuju Surga-Mu.

*****

Salam inspirasi,


Nugraha AMIjaya
 
Minggu, 19 Februari, 2012 14:53

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar