Selasa, 21 Februari 2012

Bank Account Part 1



'Bang bing bung yok... Kita nabung.'

Lagu itu karangan Tante Titiek yang pernah dipopulerkan oleh Saskia dan Geofani (ngomong-ngomong ke mana ya mereka sekarang?)

Dari lirik lagunya saja kita sudah tahu bahwa Tante Titiek mengajak kita untuk gemar menabung. Sedikit demi sedikit jadi bukit katanya. Nah... Kebiasaan menabung sangatlah baik. Bisa menjaga masa depan kita, di saat-saat butuh, kita masih punya.. (Saya masih kurang ok dalam menabung.. :'( hiks).

Nah, dalam hidup, kita menabung secara finansial dan non finansial. Selama ini kebanyakan dari kita menabung finansial, tanpa mereka sadari, tabungan non finansial ini juga sebenarnya sangat bermanfaat.

TABUNGAN EMOSI

Nama tabungannya adalah Tabungan Emosi. Emosi... Yap. Emosi. Jadi setiap orang menurut Stephen Covey dalam bukunya 7th Habit, mempunyai sebuah rekening tabungan emosi.

Yaitu rekening seseorang terhadap orang lain dalam hal emosionalnya - interaksi mereka sehari-hari. Sama seperti layaknya rekening bank, kita memiliki rekening untuk masing-masing individu yang pernah, masih berinteraksi dengan kita.

Jadi, setiap orang yang berinteraksi dengan kita, diumpamakan layaknya sebuah bank yang sering kita kunjungi. Misalnya kita berinteraksi dengan A, B dan C hari ini, maka di hari itu, kita membuka rekening atas nama kita di A, B dan C. Dan rekening itu akan selalu ada di 'bank' A, B dan C.

Saldo awal dari masing-masing rekening yang ada adalah nol. Karena kita masih belum ada tabungan terhadap orang yang baru kita kenal dan sebaliknya. Namun seiring berjalannya waktu, rekening itu dapat bertambah (tabungan) ataupun berkurang (penarikan) dan akhirnya ada saldo akhir terhadap masing-masing rekening.

TABUNGAN

Jadi kapan kita menambah rekening alias menabung di rekening atas nama kita yang ada di orang-orang sekitar kita? Kalau di bank kan kita menyetorkan sejumlah uang ke rekening agar tabungan bertambah (+). Nah dalam rekening emosi ini, kita menambah saldo jika kita memasukkan yang positif pula, namun bukan uang. Melainkan sikap, sifat, interaksi, pengalaman.

Saat kita berhadapan dengan seseorang, sebenarnya kita sedang melakukan tabungan atau tarikan sesuai dengan perilaku, perkataan, dll kepadanya tanpa kita sadari. Coba saja kita lihat kembali interaksi kita dengan seseorang sehari-hari, sebenarnya saat itu kita sedang 'menilai' apakah orang tersebut sedang menabung ataukah menarik tabungan dari rekeningnya yang ada di kita.

Ilustrasi:
Suatu hari kita bertemu dengan seseorang yang baru, sebut saja Bun. Bun ini adalah seorang pria yang sekarang ini sering dikenal dengan kaum metroseksual. Dia sangat pandai dalam penampilan. Dan dari seorang kawan yang sudah lama mengenalnya, kita tahu bahwa Bun itu memiliki posisi penting di perusahaan tempatnya bekerja.

Nah... Tahap awal pertemuan itu, kita membentuk rekening tabungan atas nama Bun di dalam diri kita. Saldonya? Mungkin sudah +5 atas ucapan teman yang mengatakan dia memiliki posisi penting di perusahaan tempatnya bekerja. Dan saat bertemu dan melihat penampilannya, kita menambah lagi rekening dengan 5 point. Sehingga saldonya +10 (btw, +5 adalah angka yang saya gunakan untuk memudahkan perhitungan saja. Contoh.:d jangan dijadikan standard. Suka-suka poin yang diberikan).

Nah... Ilustrasi di atas menunjukkan pembentukan rekening plus first impression kita terhadap orang itu menambah rekening emosinya di dalam diri kita. Dan dalam perjalanannya mengenal orang itu lebih dalam, kita akan melihat bagaimana interaksi akan sangat berpengaruh dalam rekening itu.

Kita lanjut dengan ilustrasi:
Saat berbincang-bincang dengan Bun, kita mulai menyadari bahwa dia ternyata sangat supel (+5), berwawasan luas dan terbuka (+5), dan sangat tegas dalam memutuskan (+5).

Seperti dalam ilustrasi, mulai poin demi poin diraih oleh Bun dalam interaksinya (total 15 poin) sehingga saldo akhir rekening Bun saat ini adalah +25.

Dalam kondisi seperti itu, interaksi kita dengan Bun sangatlah enak. Menyenangkan berinteraksi dan berkomunikasi dengannya.

Kondisi seperti inilah yang diharapkan ada dalam rekening setiap individu yang berinteraksi dengan kita.

Namun, seperti layaknya rekening tabungan, rekening emosi ini juga dapat ditarik. Nah.. Kondisi apa saja yang dapat membuat terjadinya penarikan? Kita bahas di Part 2.

Ryan
060212 1730
Best Regards,
Febriyan Lukito
Rabu, 8 Februari, 2012 01:56

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar