Rabu, 29 Februari 2012

Bukik Bertanya: Laku Semar Ngawur @SujiwoTedjo


Oleh:  Budi Setiawan

Sujiwo Tejo, seorang dalang, yang menjalankan laku Semar, meski seringkali dimaknai ngawur oleh banyak orang. Simak kisah ngawurnya…

Pada suatu ketika, aku menyaksikan lagu “Titi Kala Mangsa”, merinding rasanya. Ada nestapa, titik nol, sekaligus optimisme akan hari esok yang lebih baik. Suasana di titik akhir derita, lagu ini menerbitkan sebuah asa untuk tetap bertahan dan berjuang demi kehidupan. Bukan optimisme berkobar ala motivator. Tapi sebuah optimisme yang lahir dari kesabaran aktif untuk menanti datangnya waktu. Segelap-gelapnya malam, akan datang juga terbit matahari pencerahan.  Dari lagu itu, aku kemudian kenal dengan sesosok bernama Sujiwo Tejo. Lagu wajib yang kudengarkan ketika semua jalan terasa pekatnya gelap.

Lama tak bersua, aku menemuinya kembali di Twitter. Aku menemui dan mengenal pribadi Sujiwo Tejolebih lengkap di Twitter. Aku jadi tahu celotehannya, kesukaannya, umpatannya, mengalir begitu saja. Apa adanya. Aku menyukai setidaknya dua hal dari linimasanya: Jancuk dan Senja.

Sebagian besar orang pasti merasa risih bila mengikuti linimasa @SujiwoTedjo yang banyak diwarnai dengan “Jancuk”. Jancuk diasosiasikan sebagai hal jorok, vulgar dan tidak pantas. Tapi Sujiwo Tejo berbeda pandangan. Jancuk merupakan penegas emosional. Jorok atau tidaknya sangat tergantung pada konteks komunikasinya.

Tapi mengapa Sujiwo Tejo begitu peduli dan menggalakkan gerakan “jancuk”? Nah ini yang menarik. Baginya, bangsa ini telah terjebak dalam kemunafikan tingkat kronis. Bangsa yang lebih mengedepankan sopan santun meski secara subtansi justru kosong atau malah keji. Perhatikan salah satu tweetnya yang kuambil dari sini :
Munafik! Munafik! Munafik! Lbh baik ngomong #JANCUK tp gak korupsi dari pada soooooopan tapi korupsi,taaaaiiiik! Munafik!!! Jancuk bangsa ini
#jancuk adalah ktika teroris diburu Densus 88 dan britanya digede2in tp koruptor yg jauh lebih sadis dr teroris ndak diDor!!!
Cara pandangnya memang unik. Sujiwo Tejo seolah mengajak orang untuk tidak berhenti pada apa yang terlihat, tapi masuk lebih dalam untuk mengenal subtansi suatu perkara.

Senja adalah topik pilihan Sujiwo Tejo untuk mengajak orang mengabadikan keindahan senja di seluruh penjuru nusantara. Banyak followernya, termasuk aku, memention tweet dan foto senja ke @SujiwoTejo. Mau melihat keindahannya? Klik saja di sini. Ditengah ketegasannya dalam jancuk, ada sisi feminin senja dalam diri Sujiwo Tejo hehehehe

Ingin tahu lebih jauh perjalanan hidup Sujiwo Tejo? Simak……
Tentang Identitas Diri
Aku Agus Hadisujiwo. Teman-temanku di SD sampai SMA memanggilku Agus. Lengkapnya Agus Bulek. Bulek dalam bahasa Madura berarti Belok. Mungkin karena mataku belok. Kalau di rumah, keluarga memanggilku Adi, dari Hadi.

Tentang Pengalaman yang Menggetarkan
Ketika saya melawan ayah. Saat itu aku tidak boleh mendengarkan musik-musik lain kecuali gamelan. Itu aku kelas tiga SMA. Aku ambil pisau. Untuk ditahan oleh ibu. Ibu menangis. Tapi akhirnya ketika sudah jauh, sudah di Bandung, suatu malam aku mendengar gamelan dari radio di daerah Kiaracondong, hatiku mengakui bahwa gamelan itu indah. Gamelan itu kelihatan sederhana, gampang, namun sangat rumit. Saya nangis, kangen Ayah, diam-diam saya putuskan untuk melanjutkan karir beliau sebagai dalang.

Tejo itu bukan nama saya. Tejo nama bapakku. Sejak itu aku pakai nama Tejo, dan teman-teman di kampus pelan bertahap mulai memanggilku Tejo. Aku pun masuk ke Persatuan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK ITB) malah kemudian menjadi ketua bidang pedalangan di unit kegiatan kampus itu.

Semua pengalaman bersama ibu itu menggetarkan hati. Setiap aku pergi dari rumah, aku selalu sujud di pintu keluar membujur utara-selatan dan ibu melangkahiku tiga kali. Adegan ini pernah aku pakai ketika menyutradarai film “Bahwa Cinta Itu Ada” tahun 2009. Pelakonnya Aryo Wahab dan Niniek L. Karim. Produser dan teman-teman tanya, itu tradisi dari mana…aku jawab “nggak tahu…pokoknya dulu aku seperti itu…”

Meski semua menggetarkan bersama ibu, tapi mungkin yang paling menggetarkan adalah ketika aku putuskan meninggalkan ITB. Ibuku pingsan ketika itu. Tapi aku menghibur diri. Tak apa-apa, toh dulu di wayang Dewi Kunti juga pingsan ketika anaknya, Bima, kuku pada pendiriannya yang berbeda dengan pendirian ibu. Waktu itu Bima bersikukuh mau mencebur laut selatan untuk meniti cita-citanya. Kunti tidak setuju. Dengan meninggalkan ITB, aku kan juga ingin meniti karir kesenian.

Tentang Kejadian yang Mengubah Diri
Dulu aku suka komik-komik silat, termasuk karya-karya asmaraman Kho Ping Hoo. Serial film Bruce Lee termasuk yang aku ikuti. Nah, cita-citaku jadi pendekar. Saya sering pakai caping tapi sepatu bigboss ala Bruce Lee, meniup seruling bambu duduk di pantai. Itu di Situbondo, kota kecil di Jatim.

Menginjak SMA saya mulai membaca buku-buku politik. Kamar saya ada poster Bung Karno. Saya bersepeda pancal dari Situbondo ke Blitar, berdua dengan teman, untuk berziarah ke makam Soekarno. Dua hari dua malam perjalanan.

Cita-cita jadi pendekar saya lupakan. Yang ada saat itu cita-cita menjadi politisi. Masuklah saya ke ITB. Karena Soekarno berasal dari situ, dan mahasiswa ITB dikenal suka politik, suka demo. Hehehe….

Eh, ketika di Bandung ternyata teman-teman saya lebih banyak dari kalangan seniman…Di kampus itu tahun 1983 saya malah mendirikan Unit Ludruk ITB. Jiwa dalang saya yang sudah muncul sejak kanak-kanak, karena ayah saya memang dalang, tiba-tiba muncul lagi justru di tanah Sunda.

Keluar dari ITB ditolak oleh Srimulat dan diterima jadi wartawan Kompas, makin membuat pergaulanku erat sama seniman-seniman seperti Rendra, Teguh Karya dan lain-lain. Jadilah aku ya ndak karu-karuan seperti sekarang ini. Hehehehe….

Tentang yang Dihargai
Dari diri sendiri aku nggak tahu harus menghargai apa…Mungkin kegelisahan. Saya orangnya selalu gelisah. Bukan galau ya. Gelisah adalah dasar pijakan berkreasi. Galau cuma dasar pijakan buat bingung.

Dari keluarga, istri dan anak-anak, aku mendapatkan kemerdekaan.

Dari orang lain akan banyak mendapat pertolongan yang aku tak bisa duga …

Dari Indonesia …hmmm…nggak tahu apa…Mungkin problem ya…ketidakpastian hukum…ketidakadilan…kemunafikan…semuanya justru menjadi pemicuku untuk bikin musik, puisi, melukis…dan lain-lain…Kalau Indonesia baik-baik saja…mungkin saya justru tidak bergairah buat berkarya….termasuk buat apa aku bikinSujiwotejo.com segala… 

Tentang Simbol Diri
Lukisan itu benar-benar lukisan. Saya lukis sendiri. Oil on Canvas 85 x 115 cm. Hitam putih. Ada sosok Semar secara abstrak, berdiri di antara gereja, kuil, candi, mesjid dan pura. Judul lukisan itu Pangeling-Eling Semar to Pamong Nagari. Saya buat tahun 2007.

Saya bayangkan secara Ge Er, Semar itulah saya. Berdiri di pelataran agama-agama resmi Negeri ini, termasuk “agama-agama” yang cuma diakui sebagai keyakinan.

Bayangan saya, kelak manusia Nusantara semakin beragama secara inti, bukan beragama kulit-kulitnya saja. Ketika semua orang beragama secara inti, bukan untuk jualan partai dan dagangan-dagangan lain, semua agama itu bertemu di satu titik menyongsong kejayaan Nusantara. Ini seperti pernah diramalkan Jayabaya dalam tulisan Ronggowarsito, melalui simbol kembali munculnya Sabdo Palon-Noyo Genggong bersamaan ramalah kiamat Suku Maya. Kiamat itu kan sebenarnya justru berarti Hari Kebangkitan.

Soal Sabdo Palon-Noyo Genggong yang aku plesetin jadi Sabda Polan-Naya Gonggong itu aku tulis secara serial di blog Beritasatu.com

Tentang Imajinasi Indonesia 2030
Semakin banyak terdengar perempuan cekikikan. Semakin banyak terlihat perempuan tersenyum. Parfum tak lagi laku, karena bau badan justru lebih ekstotis ketika itu.

Orang-orang menjalani hidup dengan berbagi senyum. Tidak ada lagi perempuan yang cuma tersenyum pada layar monitor HP-nya. Setiap kali mereka tersenyum pada monitor HPnya, mereka langsung membagi senyumnya pula kepada orang-orang di sekitar.

Berdehem…ehm ehm ehm…. Itulah yang saya lakukan untuk mewujudkan bayangan Indonesia 2030

Tentang Judul Biografi
“Raja Ngawur Karena Benar”

Tentang Hal Konyol
Ketika iseng-iseng ikut tes masuk ITB. Itu tahun 1980. Eh diterima di Jurusan Matematika. Lalu tahun berikutnya nyoba lagi, Eh diterima lagi di Jurusan Teknik Sipil. Jadi aku kuliah di dua jurusan. Tapi dua-duanya saya tinggalkan karena bosan. Mungkin karena faktanya lalu lebih banyak temanku yang seniman di Badung. Pergaulanku dengan banyak kalangan sastrawan dan pemain teater maupun pelukis di Kota Kembang itu. Jadi penyiar radio juga, acara sastra. ITB aku tinggal, terus pergi ke warung Asmuni di Slipi Jakarta. Markas Srimulat. Itu penghujung 80-an. Saya melamar jadi pemain Srimulat. Eh, ndak diterima.

Tentang Arti Kematian
Aku udah lama nggak ngucapin “turut berduka cita” pada kematian sahabat atau siapapun. Yang aku sampaikan biasanya “selamat jalan…sampai jumpa” termasuk pada meninggalnya Franky Sahilatua, pelawak Aom Kusman, Uta Likumahua. Buat apa kematian didukacitai. Kematian justru kebahagiaan menuju alam hidup yang sebenarnya. Tapi langkah ini sering menimbulkan selisih pendapat. Misal waktu wafatnya istri Saiful Jamil saya diomelin oleh banyak orang kok ngucapin “turut berduka cita.”

Lho, aku bilang, kematian itu agung. Lihatlah suku-suku yang masih terlihat asli di kita. Di sana kematian dirayakan. Di Bali, di tanah Batak, Toraja…di pedalaman Jawa. Tradisi pakai baju hitam-hitam saat kematian itu kan dari Eropa. Asli kita nggak seperti itu. Busananya malah warna-warni. Kematian itu merupakan sesuatu yang gak harus ditangisi.

Seniorku dalang Ki Gondo Darman di Sragen waktu mati, seperti wasiatnya, diantarkan dari rumah ke kuburan dengan kaset lawakan pelawak legendaris Alm Basiyo. Kenapa, ya karena kematian memang nggak perlu ditangisi.

Terus ada yang protes, “Ucapan duka cita itu bukan untuk yang meninggal, tapi untuk yang ditinggalkan…” Lho, justru yang ditinggalkan harus dididik pelan-pelan untuk tidak mendukacitai mati. Agar semua orang nanti tidak mendewa-dewakan kehidupan di dunia. Menangisi kematian berarti mendewakan kehidupan dunia. Ini justru gawat. Makanya korupsi merajalela.

Setiap saat setiap orang harus saling diingatkan bahwa kematian itu agung. Kematian, kelahiran dan jodoh, adalah tiga pasangan abadi yang sudah digariskan. Makanya ketika tahun 90an saya jadi wartawan, tak pernah sekalipun saya menulis “si A meninggal karena serangan jantung, kecelakaan atau apa…” saya selalu menulis “si A meninggal setelah serangan jantung, setelah kecelakaan”…Bukan KARENA….Karena kematian, sebagaimana jodoh dan kelahiran, adalah urusan Tuhan.

___________________________________________
Dari kisah Sujiwo Tejo, aku belajar untuk tidak menerima begitu saja apa yang diyakini secara umum. Pandangan banyak orang belum tentu benar. Aku jadi lebih kritis dan melihat dari sisi yang berbeda. Karena bila pandangan umum itu sudah benar, kehidupan tak perlu ada lagi kan. Tapi karena belum tentu benar, tugas kita lah untuk bersikap kritis dan menciptakan pandangan baru yang lebih baik bagi kehidupan.
Apa inspirasi yang anda dapatkan dari kisah Sujiwo Tejo? 

Selasa, 28 Februari, 2012 06:13

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar