Sabtu, 25 Februari 2012

Elektabilitas Calon Pemimpin dalam Perspektif Antropologi Bisnis dan Antropologi Politik


Oleh:  Ratmaya Urip


PROLOG:

1.  Liman PAP:

Wow! Sri Mulyani Kuasai 81% Polling Calon Presiden Bank Dunia

Sabtu, 25/02/2012 12:37 WIB
Wahyu Daniel - detikFinance
 
Jakarta - Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani terus diunggulkan menjadi calon Presiden Bank Dunia menggantikan Robert Zoellick yang bakal mundur akhir Juni 2012. Sri Mulyani menguasai 81% suara polling!
Dalam situs www.worldbankpresident.org, dibuat sebuah polling soal siapa yang bakal menjadi Presiden Bank Dunia selanjutnya. Ada 9 calon dari negara berkembang yang masuk poling tersebut.

Namun polling ini memang tidak bisa dijadikan patokan Sri Mulyani bakal terpilih jadi Presiden Bank Dunia. Apalagi sejak 1944 posisi Presiden Bank Dunia selalu 'dimonopoli' oleh AS.
Hasil sementara poling tersebut, Sri Mulyani menguasai 81% suara polling dengan 6.815 pemilih. Padahal kemarin suara untuk Sri Mulyani baru 3.566 pemilih.
Tempat kedua diikuti Kemal Dervis yang menguasai 13% suara polling dengan 1.078 suara. Situs ini merupakan hasil monitoring soal kandidat yang berpotensi menjadi Presiden Bank Dunia.
Dalam siaran pers Bank Dunia dikatakan, Dewan Eksekutif Bank Dunia telah menyepakati 5 kriteria untuk calon Presiden barunya yaitu:
  1. Terbukti memiliki rekam jejak yang kuat sebagai pemimpin
  2. Berpengalaman memimpin organisasi besar yang aktif di tingkat internasional dan terbiasa bekerja dengan sektor publik
  3. Mampu menjabarkan misi pembangunan Bank Dunia secara jelas
  4. Memiliki komitmen dan apresiasi kuat terhadap kerjasama multilateral
  5. Dapat berkomunikasi secara efektif dan diplomatis, dan menjalani kewajiban seorang Presiden secara imparsial dan obyektif.
Batas waktu pencalonan nama Presiden baru adalah Jumat 23 Maret 2012. Pencalonan dapat dilakukan oleh anggota Dewan Eksekutif, atau anggota Dewan Gubernur melalui Direktur Eksekutifnya.
Seorang calon harus berasal dari salah satu negara anggota Bank Dunia. Setelah proses pencalonan ditutup, Dewan Eksekutif akan membentuk shortlist berisikan maksimum tiga nama, lalu mempublikasikan shorlist tersebut dengan persetujuan ketiga nama yang bersangkutan.
Selanjutnya, Dewan Eksekutif akan mewawancarai ketiga calon dengan harapan bisa mencapai konsensus sebelum 'Spring Meetings' (pertemuan tahunan musim semi) pada April 2012 mendatang.
Jika menjadi Presiden Bank Dunia, Sri Mulyani bakal mendapatkan gaji sebesar US$ 734.707 atau sekitar Rp 6,6 miliar per tahun.
(dnl/dnl)
=============== ==========

DISKUSI & OPINI:


1.  Sweetheart  (dexter.summer):


Cool.. Semoga ibu dosen itu bs pimpin bank dunia
Sabtu, 25 Februari, 2012 01:35
============= =========


2.  rdyan180882

Mantabbbb.....
Sabtu, 25 Februari, 2012 02:50
================= ====

3.  Nugroho Setiatmadji

Ibu Sri Mulyani memang putra eh putri terbaik dimiliki negara kita. Beliau adalah sosok ideal untuk memimpin lembaga penuh tantangan namun srikandi secerdas Sri Mulyani menurut hemat saya mampu menjalankan tugasnya. 

Sabtu, 25 Februari, 2012 04:51
================ ====

4.  ImingTesalonika:

Bro n sister manajer,
Mana lebih bergengsi buat publik Indonesia, presiden world bank or NKRI?
Buat anda, enakkan SMI jadi presiden WB dulu baru NKRI or sebaliknya nih?
Buat Indonesia, lebih strategis SMI jadi presiden WB dulu baru NKRI or sebaliknya nih?
Salam,
Iming
Sabtu, 25 Februari, 2012 05:18
================ =====

5.  Emmy Kasim:


Pokonya saya mendukun Sri Mulyani menjadi bank dunia...siapa tahu pooling calon president Indonesia.....

Selamat dan bangga deh sebagi kamum sekaum....

Salam
Emmy
Sabtu, 25 Februari, 2012 08:35
====================== ==

6.  Tom_feyhung:

Rasanya berat selain warga negara AS untuk bisa jadi presiden Bank Dunia, karena ini "jatahnya" AS. Sepanjang berdirinya Bank Dunia presidennya selalu warga negara AS, sedangkan IMF selalu dipimpin oleh warga negara2 Eropa. Sepertinya ada perjanjian tidak tertulis antara AS dan Eropa bahwa WB jatahnya AS, sedangkan IMF jatahnya Eropa.
@widodojokoutomo

Sabtu, 25 Februari, 2012 18:48
================ ====

7.  Liman PAP:
Salam,
Presiden Bank Dunia sudah di depan mata. Sedangkan tugas dari NKRI masih 2 tahun lagi. Mengabdi pada NKRI bukanlah berarti harus menjadi Presiden RI, tetapi mengharumkan nama NKRI dan menjaga martabat bangsa di forum internasional sangat berarti.
Prabowo adalah calon Presiden NKRI yang ideal juga.

Sabtu, 25 Februari, 2012 19:32
=============== =====


8.  Hery  Marijanto:


Mending jadi presiden RI saja, kalau tidak ada lagi stok laki laki yg mampu memimpin negeri ini dgn jujur, amanah, cerdas, tegas menyampaikan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
Salam hangat.
HMA
Sabtu, 25 Februari, 2012 20:08
============ ====== ===


9.  ervan1420:


Kalau memang aturannya presiden WB harus warga negara USA, lebih baik Sri Mulyani pindah warga negara USA aja, untuk apa mempertahankan ke-WNI-an nya kalau dinegeri sendiri aja dia dilecehkan, dihina dina, tidak dihargai dan dibuang.
Saya dukung Sri Mulyani jadi presiden WB dgn pindah warga negara USA dulu.
Salam,
Ervan
Sabtu, 25 Februari, 2012 20:13
=============== =====

10.  akbar.faisal:


Pak Iming,
Kalau menurut saya, alangkah baiknya bila menjadi presiden WB. Punya modal yang baik, sehingga ketika terpilih menjadi presiden RI tidak akan mudah disuap. :-)
Rgds,
Faisal A
Sabtu, 25 Februari, 2012 21:35
============== =======

Artikel  Ratmaya Urip:


Dear TMI members,
Menyimak diskusi tentang thread ini, khususnya tentang pandangan Pak Liman di bawah ini, saya memiliki pandangan dalam suatu artikel di bawah ini. Kajian saya ini mencoba untuk berbasis pada Ilmu Antropologi Terapan yang sekarang sedang saya kembangkan secara praktis di lapangan. Karena Ilmu Terapan relatif lebih dinamis daraipada Ilmu yang Teoritis.
Yang pasti dalam Perspektif Antropologi, menjadi seorang Pemimpin tidak cukup hanya dengan kapasitas/kapabilitasnya dalam operational, tactical, strategic, and  visionary activities maupun leadershipship-nya,  namun dalam dunia yang penuh intrik dan banyak kepentingan ini diperlukan pendekatan lain, yaitu Antropologi Terapan, khususnya Antropologi Bisnis dan Antropologi Politik.
Dalam kajian saya ini, saya mencoba untuk obyektif, dan netral, untuk menghindari persepsi negatif. Karena sebagai pribadi maupun keterlibatan saya dalam institusi, saya kebetulan tidak memiliki kepentingan secuilpun dalam case ini.
Kebetulan saya tengah akrab dengan Ilmu ini, khususnya ilmu yang terapan atau praktek-praktek lapangannya. Itu saja latar belakang saya menganalisis thread ini:

Elektabilitas Calon Pemimpin dalam Perspektif Antropologi Bisnis dan Antropologi Politik

(Studi Kasus Elektabilitas Sri Mulyani di Bank Dunia dan Prabowo Subiyanto sebagai RI-1)

Oleh:  Ratmaya Urip*)

1. Elektabilitas Sri Mulyani di Bank Dunia

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bank Dunia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari lobby-lobby Jews. Karena peletak dasar bagi founding history-nya adalah Jews sebagai otoritas keuangan resmi maupun tidak resmi di Amerika Serikat, yang berkolaborasi dengan mayoritas etnis Irish, yang kebetulan banyak mendominasi pemerintahan atau birokrasi Amerika Serikat sepanjang sejarahnya.
Amerika Serikat merupakan tempat pijakan yang kuat, sekaligus sebagai pengawal  "Bank Dunia". Kolaborasi historis antara etnis Irish di birokrasi dan Jews di Finance telah membawa Amerika Serikat mewarnai dunia seperti sekarang ini. Apalagi selain Finance, etnis Jews juga mendominasi bidang-bidang Information Technology, Media & Entertainment, Oil Business, Education, Medicine, Surgery, dan lain-lain.
Sementara IMF didominasi oleh kepentingan-kepentingan Eropa. Perebutan hegemoni antara Amerika Serikat dengan Eropa merupakan issue klasik. Khususnya di bidang Keuangan dan Pertanian. Itulah mengapa dalam sidang-sidang WTO maupun ILO maupun FAO sering terjadi perdebatan sengit antara Amerika Serikat dan Eropa. Terakhir yang diperdebatkan adalah masalah subsidi bagi sektor pertanian.
Hal ini karena mereka saling berebut hegemoni, sebagai potensi bawaan yang sudah ada sejak jaman baheula. Karena mereka penuh dengan pola pikir etnis yang berakar pada keunggulan hegemoni ("hegemony-based competitiveness"). Lihat saja perang antarnegara di Eropa antara Inggris dengan Perancis, Inggris dengan Jerman, Inggris dengan Perancis, dan lain-lain yang kemudian berpuncak pada Perang Dunia1 dan ke-2. Perang-perang tersebut pada hakekatnya adalah perebutan hegemoni yang berpuncak pada keinginan menjadi "uber alles", atau yang menjadi No. 1.

Sementara Amerika Serikat sebagai dunia baru bagi imigran miskin dari Eropa, di abad 16 sampai 19 seperti Irish, Scottish, Bavarian, Jews, Sicilian, Spaniard, Poland, dan lain-lain telah menjadi "Eropa Baru" yang penuh perebutan hegemoni. Meskipun semula competitiveness-nya berbasis survival, karena mereka kebanyakan miskin sehingga dapat disebut "survival-based competitiveness" kemudian setelah mulai menjadi kaya, sifat dasarnya muncul kembali, yaitu "hegemony-based competitiveness".
Ingat persaingan seru dalam ajang kontes kecantikan antara "Miss Universe" (Amerika Serikat dalam hal ini Donal Trump) dengan "Miss World" (Eropa/Inggris dalam hal ini Eric Morley). Juga persaingan antara Badan-badan Tinju Dunia, seperti WBC, WBF, IBF, WBA, dll.
Terlepas dari masalah-masalah politik, agama, kepentingan tertentu dan lain-lain yang sering terbawa jika kita membahas etnis Jews, saya mencoba untuk selalu berkiblat pada pemikiran Dr. Mahathir Mohammad, yang mencoba untuk berpikir profesional dan proporsional, dalam menyikapi hal ini (simak artikel saya: "Keunggulan Bersaing Bangsa dalam Perspektif Antropologi Bisnis" di Blog saya:  http://ratmayaurip.blogspot.com atau Blog The Managers Indonesia (TMI) http://themanagers.org)
Etnis Jews yang di seluruh dunia jumlahnya "hanya" sekitar 16 juta jiwa, dimana yang sekitar 7,5 juta jiwa bermukim di Amerika Serikat di antara  312.913.872 jiwa  penduduknya (Sensus 2010), sangat mendominasi di bidang-bidang IT, Economics & Finance, Education, Media & Entertainment, Surgery, etc.

Sementara etnis Irish mendominasi Presiden Amerika Serikat (simak artikel saya seperti tersebut dalam uraian di Blog). Kolaborasi antara etnis Jews dan Irish kemudian menjadi wajah Amerika Serikat selama ini. Sementara etnis Jerman yang merupakan etnis terbanyak di Amerika Serikat lebih suka bergelut di bidang konstruksi, manufaktur, militer, dan sebagian pertanian. Etnis-etnis lain tacit di bidang-bidang lainnya.

Sejak berdirinya pada tahun 1946, Presiden Bank Dunia hampir seluruhnya dipegang oleh orang Amerika Serikat. Di antara 11 Presiden yang menjabat sejak dari Eugene Meyer (tahun 1946) sampai Robert B. Zoellick (saat ini), hanya pernah 1 (satu) kali dijabat oleh bukan orang Amerika Serikat, namun karena harus menjabat Presiden Bank Dunia kemudian dinaturalisasi menjadi warga negara Amerika Serikat, pada periode ke 9 (sembilan) antara tahun1995-2005. Pada periode tersebut Sir James Wolfensohn dinaturalisasi dari semula warga negara Australia menjadi warga negara Amerika Serikat karena harus menjabat sebagai Presiden Bank Dunia. Apalagi dia menjabat selama 10 tahun.

Jadi betapa kuatnya lobby-lobby Jews dalam peta finansial dunia, tidak ada yang dapat memungkirinya.

Bagi Sri Mulyani, jika ingin medapatkan posisi Presiden Bank Dunia, maka sekurang-kurangnya wajib untuk menarik simpatinya. Atau mungkin saja Sri Mulyani sudah termasuk dalam Ring-1 mereka. Tinggal menaturalisasikan dirinya sebagai warga negara Amerika Serikat. Mengingat salah satu di antara 11 Presidennya kemudian juga harus pindah warga negara dari Australia menjadi Amerika Serikat. Jika tokh karena begitu cinta mereka kepada Sri Mulyani, karena kepentingan-kepentingan mereka terakomodasi, sehingga Sri Mulyani bersedia untuk dinaturalisasi, itu masih merupakan misteri. Misteri lain adalah jika Sri Mulyani tidak bersedia meninggalkan kewarganegaraan Indonesia-nya, atau mereka mau menerima Sri Mulyani apa adanya dengan segala visinya (untuk yang ini kok rasanya berat bagi mereka).

Sri Mulyani konon memang dianggap sebagai penganut ekonomi neo-liberal. Untuk yang satu ini memang sebenarnya sudah cocok sebagai salah satu kriteria menjadi Presiden Bank Dunia. Tinggal mampukah dia menjaga kepentingan-kepentingan Amerika Serikat (baca: Jews), itulah sebenarnya inti pokoknya. Karena untuk sektor "global finance" kepentingan-kepentingan Jews, diakui atau tidak memang sangat dominan. Tentang maukah Sri Mulyani pindah warga negara, itu tergantung dari sikapnya dalam memandang "nasionalisme". Apakah "nasionalisme" kuno atau "nasionalisme" modern.

Bagaimana jika sampai terjadi, bahwa kepentingan Amerika Serikat berbenturan dengan kepentingan Indonesia, itulah PR untuk dapat dijawab. Untuk hal ini, Jews dengan dominasi media-global nya yang sangat interogatif dan spionatif , pastilah mudah untuk menyelidiki sikap Sri Mulyani terhadap kepentingan-kepentingan mereka. Ingat di tataran global, ranking 1 dan 2 media global dipegang oleh Jews, yaitu Walt Disney dari Disney Media Network dan Rupert Murdoch dari NewsCorporation.

Ingat sebagai 1-st rank global media dengan revenue US$ 36,1 billion (2009) Walt Disney menguasai ABC Television, ESPN, Disney Channel, SOAPnet, A&E and Lifetime, 277 radio stations, music and book publishing companies, production companies Touchstone, Miramax and Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, the cellular service Disney Mobile, and theme parks around the world.

Sedangkan News Corporation dari Rupert Murdoch sebagai 2nd rank global media yang mengantongi revenue US$ 30,4 billion mendominasi dengan Fox Broadcasting Company; television and cable networks such as Fox, Fox Business Channel, National Geographic and FX; print publications including the Wall Street Journal, the New York Post and TVGuide; the magazines Barron’s and SmartMoney; book publisher HarperCollins; film production companies 20th Century Fox, Fox Searchlight Pictures and Blue Sky Studios.

Apalagi jika ditambah bisnis-bisnis mereka yang lain, yang semuanya mendunia.

Dengan kehadiran China sebagai kekuatan ekonomi dunia yang dapat menggoyangkan posisi mereka (konon dalam suatu jajak pendapat, warga Amerika Serikat sendiri menganggap China sebagai kekuatan ekonomi dunia no 1 pada tahun 2013 nanti, mengalahkan Amerika Serikat), maka Sri Mulyani diduga juga harus dapat membendung arus akselerasi kemajuan ekonomi China di pasar global. Ingat dominasi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat meskipun pelan namun pasti sudah tergerogoti secata masif dalam Global 500 Fortune. Masuknya Sinopec Group, China National Petroleum, dan State Grade di 10 Besar menghadapi Walmart, Exxon Mobil dan Chevron dari Amerika Serikat serta Toyota Motor, dan Japan Post Holding dari Jepang, membuat pengamat ekonomi global semakin yakin bahwa China adalah raksasa ekonomi baru yang sudah siap mengambil alih tahta ekonomi dunia. Tentu saja Amerika Serikat (cq. Jews) khawatir tentang ancaman ini. Tindakan dengan menempatkan duta besar baru dari Amerika Serikat untuk China yang beretnis Tionghoa, Gary Locke nampaknya sebagai salah satu cara untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan meredam akselerasi pertumbuhan dan  perkembangan ekonomi China. Penampilan duta besar Amerika Serikat untuk China yang berdarah Tionghoa tersebut memang antik, karena kemana-mana sering membawa ransel di pundaknya (yang mengingatkan saya pada penampilan sahabat saya yang juga ekonom  Faisal Basri yang lebih suka membawa ransel punggung dan sepatu sandal, meski dalam kesempatan resmi)

Dengan kata lain untuk menjadi Presiden Bank Dunia, maka Sri Mulyani, wanita Jawa kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962, yang juga berpredikat wanita paling berpengaruh di dunia ranking 23 versi Forbes 2008 tersebut wajib untuk  dapat mendahulukan kepentingan-kepentingan mereka. Ini adalah bisnis. Bisnis yang kapitalistik. Dalam bisnis global selalu ada politik bisnisnya.

Terlepas dari semua kriteria tersebut di atas, sebenarnya menurut saya, apakah posisinya tersebut menguntungkan atau tidak bagi bangsa dan negara Indonesia. Itulah yang terpenting. Namun jika Sri Mulyani konsisten dengan apa yang ditulis dalam facebook-nya yaitu:  "hidup hanya sementara, lakukan yang terbaik dan berikan yang terbaik buat bangsa, negara, agama, dan keluarga", maka nampaknya sulit bagi Amerika Serikat untuk dapat mempengaruhi visinya. Sebab pilihan antara menggadaikan hidup bagi pihak lain yang mungkin berbeda visi, sementara keinginan untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa, negara, agama dan keluarga juga menggebu, seperti tertulis di akun FB-nya tersebut, nampaknya sulit untuk dikompromikan. Meskipun saya tidak begitu yakin akun Facebook-nya adakah akun resmi Sri Mulyani, karena bisa saja digawangi oleh orang lain.

Entah nantinya jika ada sesuatu yang lain yang dapat membuat kedua pilihan tersebut dapat bersinergi.

Bagaimanapun juga, jika Sri Mulyani mampu memenangkan perebutan kursi World Bank-1 itu merupakan suatu anugerah dan kebanggaan tersendiri bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Sementara bagi yang berseberangan mungkin dapat menjadi sandungan.




2.  Elektabilitas Sri Mulyani dan/atau Prabowo Subiyanto sebagai RI-1

Sri Mulyani beretnis Jawa, meski kelahiran Bandar Lampung. Sebagai etnis dengan jumlah terbanyak di Indonesia, tentu saja sentimen etnis masih dapat berbicara dalam percaturan perebutan RI-1.

Dalam sejarah modern Republik Indonesia, dari 6 (enam) Presiden dijabat oleh 5 (lima) Presiden dari etnis Jawa. Sedang Pak Habibie (yang bukan etnis Jawa) kebetulan waktu itu karena wajib memenuhi amanat konstitusi menjadi pengganti Presiden ke-2 (Soeharto yang dilengserkan) menjadi Presiden ke-3. Jika waktu itu Wakil Presidennya Umar Wirahadikusumah, atau Adam Malik, atau Sri Sultan HB IX, atau Sudharmono, pastilah lain ceritanya.

Dalam perspektif yang lebih detail, dan jika kita mau jujur, sentimen etnis dimanapun juga sering masih sulit ditinggalkan. Taruhlah sebelum Presiden SBY (yang pemilihan Presiden sebelum tahun 2009) masih dilakukan tidak secara langsung (karena dipilih MPR), tokh dengan suara terbatas di dalam MPR masih saja etnis Jawa mendominasi. Apalagi jika pemilihan dilakukan secara langsung dengan melibatkan seluruh rakyat Indonesia. Kekuatan etnis Jawa yang konon terbanyak di Indonesia masih sulit ditandingi.

Dalam pemilihan langsung prestasi atau pesona individual lebih mudah dijual, apalagi ditambah asal etnisnya. Krn secara umum etnis2 di Indonesia, mayoritas memiliki emosi melo-dramatis dibanding rasional.
Bagaimana dengan Pemilihan Presiden dari Perspektif Antropologi Politik?
Untuk Pemilihan Presiden apalagi secara langsung, meski ada Partai Politik yg mengusung, tetap saja sentimen etnis sulit dihilangkan selama tingkat pendidikan rata2 masih rendah. Meski juga sekarang lebih cenderung pragmatis.

Dari 6 Presiden selama ini , 4 Presiden dr etnis Jawa-Mataraman, 1 Presiden etnis dari Jawa Arek yang ada Jawa Mataramannya, 1 Presiden lagi dari Sulawesi. Itupun jadi Presiden krn kebetulan Pak Harto lengser, shg sebagai Wakil Presiden mewarisi jabatan Presiden utk mengembang amanat Undang2 Dasar.

Dari calon yg dijagokan bbrp pihak saat ini muncul nama: 1. Sri Mulyani (Jawa Semarangan-H meski kelahiran Lampung). 2. Prabowo Subianto (Jawa- Mataraman-AA). 3. Ibu Ani Yudhoyono (Jawa Mataraman-AA), 4. Anas Ubaningrum (Jawa-Mataraman-AG), 5. Surya Paloh (Manado-Minahasa). 6. Aburizal Bakrie (Lampung) 7. Pramono Edie Wibowo, adik Ibu Negara yg KSAD ( Jawa Mataraman-AA). 8. Dahlan Iskan (Jawa Mataraman-AE), 9. Joko Widodo (Jawa Mataraman-AD). 10. Hatta Rajasa (Palembang). Nama2 lain belum banyak dibicarakan. Catatan: Nama tersebut di atas ditulis tidak berdasar pada hasil survey, namun lebih pada masukan yang ada di sejumlah media.

Terlepas dari fenomena Golput yg semakin membesar, tetap saja sentimen etnis yg mengemuka, meski tidak ditunjukkan secara vulgar.
Nah saya tetap memegang pilihan bahwa etnis Jawa masih memegangnya krn alasan sentimen etnis dan sifat melo-dramatis yg ada.
Kecuali suara etnis Jawa terpecah2 menjadi beberapa pilihan krn calon Presidennya banyak yg dr etnis Jawa. Nah di sini baru calon Presiden dari etnis non-Jawa bisa tampil.
Tapi saya pesimis juga, karena ada teorema, bahwa etnis non-Jawa selalu saling berebut posisi kedua di bawah etnis Jawa, mengingat anggapan, bahwa mengatasi etnis Jawa sangat sulit. Apakah 2014 lain situasinya? Kita tunggu saja. Semoga ada calon dari non-Jawa yang kuat. Saya akan analisis secara antropologi politik setelah calon2nya jelas dan ditetapkan.

Perlu diketahui, data terakhir jumlah etnis di Indonesia sebelum Sensus Penduduk 2010 adalah (saya belum mendapat data terbaru. Mohon masukan dari anggota milis jika ada data terbaru):

1. Jawa: 86 juta atau 41,7%
2. Sunda: 31,765 juta,15,4%
3. Melayu: 8,789 juta, 4,1%
4. Tionghoa: 7,776 juta 3,7% dr sub-etnis Cantonese, Hakka/Khek, Tiociu/Teochews, Hokkien
5. Madura 6,807 juta, 3,3%
6. Batak 6,188 juta, 3%
7. Bugis 6 juta7n 2,9%
8. Minang 5,569 juta, 2,7%
9. Betawi 5,157 juta, 2,5%
10.Arab 5 juta,
11. Dilanjut Banjar, Banten, Aceh, Bali, Dayak, Sasak, Makassar, Cirebon, Ambon, dst.

Dengan kata lain, dari perspektif Antropologi Politik, etnis Jawa hanya dapat dibendung jika calon RI-1 dari etnis Jawa banyak calonnya. Sehingga suaranya akan terpecah-pecah. Dan itu harus 1 (satu) putaran. Jika sampai 2 (dua) putaran dimana dalam pemilihan Putaran ke-2 melibatkan 1 (satu) calon dari etnis Jawa vs 1 (satu) calon dari etnis non-Jawa, banyak kemungkinan etnis Jawa yang akan menang.

Bagi calon-calon dari non-Jawa, saya sarankan agar mengondisikan agar calon-calon dari etnis Jawa banyak jumlahnya, supaya suaranya terpecah-pecah. Sementara dia wajib membuat solid suara seluruh etnis non-Jawa maupun sebagian etnis Jawa.

Dengan kata lain, jika Sri Mulyani maju sebagai calon RI 1, elektabilitas dari perspektif Antropologi Politik dapat bersaing. Demikian juga Prabowo, Dahlan Iskan, Jokowi, dan lain-lain yang ber-etnis Jawa. Namun jika mereka maju secara bersama-sama, suara mereka mungkin akan terpecah-pecah, yang akan menguntungkan calon dari non-Jawa.

Ingat ketokohan dan sifat melodramatis adalah kunci dari keberhasilannya. Bukan karena partai politik yang mengusungnya, atau karena iming-iming sejumlah uang. Visi dan misi yang biasanya sebagai embel-embel dalam pemilihan tidak akan banyak dilirik, terutama oleh pemilih yang kebanyakan masih banyak yang rendah tingkat pendidikannya. Meski dengan politik uang, dengan semakin meleknya warga negara mungkin apa yang saya sampaikan tetap seperti pandangan saya tersebut di atas.

Di Amerika Serikat saja, yang tingkat pendidikan rata-ratanya sangat tinggi, tokh etnis Irish-lah yang mendominasi Presiden Amerika Serikat.Sekitar 22 dari 44 Presiden-nya dari etnis Irish.

Salam,

Ratmaya Urip

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar