Rabu, 22 Februari 2012

SATU KENAKALAN SALESMAN YANG LAIN



Salesman yang menjual barang ke toko pelanggan sih sudah biasa, namun yang menjual ke kuburan adalah yang tak biasa.
Sudah dikenal di kalangan para manager penjualan bahwa salesman seringkali berusaha ’mengkadali’ atasannya. Jika atasan kurang cermat dalam memeriksa laporan anak buahnya (termasuk kurang mendalami kepribadian anak buahnya), yang terjadi adalah salesman menari-nari di atas ’kebodohan’ atasannya.
 
Sudah menjadi kewajiban salesman untuk selalu mencapai target strike rate harian hingga bulanan. Semakin hari semakin terampil salesman menjual maka semakin bagus nilai strike rate nya. Namun bagi yang memiliki sifat negatif suka memainkan angka strike rate tersebut. Walau sudah sering supervisor mereka menjelaskan dan sedikit mengancam, namun masih saja ada yang berusaha mengutakatik strike rate nya sendiri. Dan ini dilakukan jika penjualannya sedang tidak bagus.
 
Sama seperti dalam mengakali strike rate nya yang sering dilakukan salesman yang lain, namun seperti halnya pepatah sepandai-pandai tupai melompat sekali-kali jatuh juga. Karena asal saja ia membagi penjualan ke ’nama pelanggan’ yang lain, ia kelupaan behwa di jalan tersebut nomor rumahnya terbatas atau jalannya memang pendek. Sehingga nomor rumah / toko / warung yang disebutkan sebenarnya tidak ada sama sekali. Contoh ia menyebutkan Warung Bu Karjo di Jl. Parahu no. 127 padahal jalan Parahu yang pendek itu berakhir hingga rumah nomor 22 saja! Yang membuat supervisor menjadi naik darah adalah alamat yang ditulis salesman nakal tadi adalah sebuah kuburan umum (TPU), karena letaknya memang diujung jalan Parahu.
 
Apakah supervisor tahu semua detil alamat dan nama jalan di wilayah kerjanya? Tentu tidak, namun dia pasti dan harus mengenal daerah kerjanya dengan baik termasuk nama jalan yang dikunjungi anak buahnya. Oleh karena itu ia harus melakukan kunjungan ulang (back check) ke pelanggan yang telah dikunjungi anak buahnya secara acak. Karena seringkali terjadi ‘pengkadalan’ anak buah ke atasannya tersebut, maka sejak puluhan tahun yang lalu telah populer kata-kata ”Buaya kok mau dikadalin” diantara para manajer penjualan.
 
Persembahan
Penulis buku sales & marketing dan trainer
Fikri C. Wardana
fms

Senin, 13 Februari, 2012 21:33

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar