Sabtu, 25 Februari 2012

Saya Benci Pak Gede Prama



“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
 (Al Baqarah 2:216)

Tiga tahun yang lalu, 2007. Saya jalan-jalan ke toko-toko kecil penjualan DVD bajakan, di Stasiun kereta Api Pasar Minggu. Salah satu kebiasaan saya dalam mengisi waktu luang adalah menyaksikan film yang mengandung pesan-pesan moral kehidupan. Terkadang, sengaja saya nonton, kemudian saya jadikan referensi untuk materi training. Seperti 3 Idiot. Film Bollywood mengisahkan tentang dunia pendidikan di India. Selain menyindir tentang pendidikan, film tersebut bagi saya, menvisualkan tentang passion. Kuliah bukan karena nilai atau ijazah. Tetapi karena dorongan jiwa dan menikmati (enjoy) prosesnya.

Saya tidak suka film Monalisa smile

Sambil saya lihat-lihat DVD yang terpanjang pada toko tersebut. Saya melihat cover bertema “Monalisa Smile”. Lalu, saya membaca sinopsis di belakangnya. Film mengisahkan tentang seorang guru yang mendobrak dogma, bahwa wanita tugasnya bukan hanya untuk melayani suami dan menetap di rumah.

Setelah memegang dan membaca sinopsisnya. Tidak ada rasa penasaran dan ketertarikan sedikitpun dalam diri saya. Jadi saya letakkan kembali pada tempat saya ambil. Dan, saya tidak membelinya.

Sementara itu, tepatnya mei, 2010. Saya membaca artikel pak Rhenald Kasali,Ph.D pendiri Rumah Perubahan. Beliau menulis artikel tentang “Bagaimana selayaknya seorang pengajar di dalam kelas, saat mengajar (strategi) kepada peserta ajar?” Pada artikel tersebut, beliau menceritakan kisah seorang guru sejarah yang diperankan oleh Julia Robert dalam film “Monalisa Smile”. Guru kreatif, dia memiliki cara mengajar berbeda dengan guru lainnya. Sehingga membuat kejutan-kejutan bagi siswanya.

Setelah membaca catatan pak Rhenald Kasali tersebut, hadir penasaran yang sangat mendalam dalam diri saya. Lalu, saya ketik di google “Monalisa Smile” saya pilih gambar, supaya bisa melihat foto-foto tentang film tersebut dan covernya. Karena, dari judul tersebut, seolah saya pernah melihat dvd tersebut. Maka, untuk meyakinkan diri, saya cari info di mbah google. Ternyata, memang benar, film tersebut pernah saya pegang DVD nya, tetapi saya tidak membelinya. Karena saat itu saya tidak memiliki rasa suka. Tapi sekarang, saya sangat menyukainya.

Saya tidak suka Gede Prama

Pengalaman lainnya, terjadi sekitar tahun 2006. Waktu itu, saya lagi senang-senangnya membaca artikel motivasi di blog para motivator, atau tulisan mereka di majalah-majalah. Seperti Andriewongso, James Qwee, Anthony Dio Martin, Arvan Pradiansyah, Ari Ginanjar, Krishnamurti, Ronny FR dan Hari Subagya. Mengapa nama-nama beliau yang saya tulis di sini, karena merekalah yang saya kenal saat itu (2006). Tapi sekarang, saya sangat banyak mengenal nama-nama para pembicara publik, baik bidang soft skill maupun hardskill.

Suatu hari, saya membaca majalah swa, saya lupa edisi berapa persisnya. Saya membuka halaman yang biasanya sering saya baca. Di sana ada artikel dan tercantum nama penulisnya Gede Prama. Bahasanya tidak memotivasi bagi saya. Spontan saya artikan “Tidak menarik”. Bahkan, di majalah yang lain. Saya melihat ada event seminar, pembicaranya Andriewongso, Pojianlaw dan Gede Prama. Di situ saya melihat foto pak Gede Prama. Dengan sombongnya saya mengatakan kepada diri saya “Ah, orang seperti ini motivator,  tidak meyakinkan”.

Bintang tamu Kick Andy

Begitulah diri saya yang dulu, sebelum mengetahui, siapa sebenarnya Gede Prama. (Wahai diriku, maafkan aku, aku mencintaimu. Dan teruntuk guruku, maafkan muridmu ini). Tahun 2007, Bang Andy F Noya, menghadirkan seorang tamu dari Bali, kiprah nya pernah menjabat sampai ke pucuk tertinggi perusahaan besar di pulau jawa. Dan, beliau mencapai jabatan tersebut sebelum usianya 40. Selain itu, beliau juga menjadi pembicara publik dan inhouse, dengan tema memotivasi dan spiritual. Tamu tersebut, bapak Gede Prama.

Setelah saya selesai menyaksikan program Kick Andy. Tumbuhlah penasaran untuk mengetahui lebih dekat sosok sang pembicara. Saya googling di internet. Banyak tulisan beliau bertebaran di sana. Karya yang telah hadir lewat tangan beliau sampai dengan sekarang hampir 24 buku, diterbitkan oleh penerbit yang berbeda. Salah satunya penerbit ternama Gramedia.

Saya telusuri satu persatu tulisan beliau yang terlist di google. Bahasanya sangat sederhana. Menyentuh sampai ke dalam. Reflektif. Kemudian, karena tidak puas dengan artikelnya, saya mencari buku-buku karya beliau di Gramedia. Buku pertama yang saya beli Jejak-Jejak Makna. Sungguh saya sangat suka. Dan semenjak itu sampai dengan sekarang, sedikitnya ada 10 buku karya beliau, telah menjadi koleksi pustaka saya. Bahkan, beberapa pola pikir beliau dalam menjalani hidup, tanpa saya sadari terinstal dalam value saya.

Seperti, ujian dan musibah yang melanda, bukan mengantar hidup ke pelukan penderitaan. Tetapi, ujian dan musibah, vitamin bagi jiwa-jiwa yang sedang tumbuh.

Apa yang saya tidak suka, sebenarnya saya suka

Dua pengalaman hidup di atas. Mengajarkan saya satu hal. Sesuatu yang saya anggap tidak menyenangkan, tidak saya sukai, belumlah betul ia seperti saya duga. Melainkan itu hanya persepsi sesaat, pada waktu itu. Entah karena emosi, atau kurangnya informasi yang saya peroleh. Mungkin juga pencerahan belum mencerahi saya. Dan, tidak ada yang mengetahui, bisa jadi, justru yang tak kita suka, sebenarnya itulah yang akan sangat-sangat kita suka nantinya.

Oleh karena itu, “Cintailah sesuatu sekedarnya saja, karena bisa jadi itu menjadi yang kita benci. Dan bencilah sesuatu sekedarnya saja, karena bisa jadi itu yang kita cinta”.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mempunyai pengalaman yang sama seperti saya?

Ciganjur, Selasa, 10 Januari 2012 

======== =======
Dikontribusikan ke milis TMI:  Rabu, 22 Februari, 2012 20:53

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar