Selasa, 21 Februari 2012

Terapi Trauma Berumah Tangga



Masa lalu yang telah terlewati merupakan kenangan. Masa depan adalah misteri rahasia sang pencipta. Dan hari ini, hadiah terindah dari-Nya.

Meski kita menyadari, hari yang telah kita lewati, tidak dapat kita ubah. Dan waktu yang telah kita lalui, tidak bisa kita rencanakan kembali. Bahkan, kita sangat-sangat menyadari, bahwa hari ini sangat berbeda dengan kemarin. Apalagi hari esok yang belum pasti kejelasannya. Tetapi, otak kita memiliki sistem berpikir. Tidak ada perbedaan antara masa lalu dan masa depan. Semuanya adalah sekarang. Sehingga, bagi mereka yang mempunyai peristiwa yang kurang menyenangkan di masa lalu. Seolah-olah kejadian itu masih terus terjadi hingga saat ini. Demikian pula dengan shahabat kita yang dihatui oleh ketakutan akan masa depan. Seakan-akan itu telah terjadi sekarang.

Trauma berumah tangga

Seperti yang dialami seorang teman. Katakan saja namanya, Suci, 25 tahun. Dia bekerja di sebuah perusahaan klinik gigi swasta yang melayani pasien-pasiennya. Suci hijrah ke Jakarta semenjak dia lulus SMA. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Suci baru satu tahun menikah (2010). Namun, selama menjalani rumah tangga bersama dengan suami pilihannya sendiri. Suci setiap hari dipenuhi dengan rasa takut yang amat mendalam. Dia khawatir dan cemas. Rumah tanggannya akan bernasib seperti orang tua dan kakak nya.

Orang tuanya bercerai pada saat dia berusia 10 tahun. Menurutnya, sebelum perceraian terjadi, dia mendapat perlakuan kasar dari Ayahnya. Demikian pula dengan ibu nya. Sehingga, kasih sayang orang tua, terutama ayah. Tidak dia dapatkan sebagaimana layaknya seperti orang lain. Kakak dan adiknya pun juga demikian. Lalu, setelah bercerai, ibunya menikah lagi. Tapi itupun tidak bertahan lama. Berakhir dengan perceraian lagi.

Suci takut, itu juga akan terjadi pada rumah tangganya. Lebih parahnya lagi, Suci bukan hanya cemas keluarganya akan usai. Tetapi, bila dia mempunyai anak, dia takut anaknya akan mengalami hal serupa seperti dirinya. Yang menguatkan perasaan mencekan dirinya itu, apalagi setelah mendengar ucapan dari atasan nya. Sosok yang mempunyai otoritas besar (tinggi) bagi Suci. Sang atasan mengatakan, “Biasanya, anak-anak dari keluarga, ayah dan ibu nya bercerai (broken home). Maka, keluarga anak tersebut akan demikian juga”.
Perkataan itu terbayang-bayang dalam ingatan Suci. Dia berpikir, kalimat sang atasan benar. Karena kakaknya menikah hanya bertahan dua tahun. Lalu berakhir dengan perceraian. Jiwanya bergejolak, takut, cemas, khawatir, perasaan tidak bisa menerima kehidupan. Terkadang dia bertanya. Kenapa dia harus menerima ujian seberat ini? Suci menceritakan pengalamannya tersebut, sambil menangis saat konsultasi kepada saya.

Proses terapi

Setelah selesai dia mengungkapkan kegelisahannya. Sebagaimana biasa setiap melakukan sesi therapy. Pertanyaan pertama yang sangat sering saya ajukan dan tak pernah lupa. “Jadi, apa yang kamu mau sekarang? Dari peristiwa hidup yang telah kamu alami, kamu ingin menyikapinya seperti apa?” Suci diam sejenak. Kemudian dia menarik nafas “Saya mau lepas dari perasaan takut dan cemas ini. Juga, bisa menerima kenyataan. Kemudian, saya berharap bisa menjalani rumah tangga saya dengan tenang bersama suami saya”.

Lalu saya mempersiapkan tiga buah kursi untuk proses terapi. Karena, saya membantunya dengan menggunakan tehnik Perceptual Position. Alasan saya menggunakan cara ini membantunya, sebab saya sedang menguji tehnik tersebut cocok untuk apa saja? Selain itu, supaya tehnik ini melekat dan saya kuasai sampai unconscius competence. Kalau saya mengistilahkannya, supaya “klik”. Ini kebiasaan saya dalam mempelajari dan mempraktekkan NLP. Sebelum satu tehnik benar-benar saya dapatkan “Klik”nya, saya tidak menggunakan tehnik lain.

Langkah-langkah Terapi
Sambil saya menceritakan pengalaman menterapi teman saya Suci. Anda boleh juga melakukannya, dengan mengikuti langkah-lankah yang saya terapkan kepada Suci.

Pertama
 
Seperti yang saya katakan sebelumnya. Saya mempersiapkan tiga buah kursi. Kemudian, saya menentukan urutan no pada setiap kursi. Sambil menjelaskan kepada Suci, posisi 1, 2 dan tiga. Juga, supaya dia mengikuti intruksi dan arahan yang saya berikan. 

Kedua
 
Saya mengajak Suci untuk duduk di posisi no 1. Dengan intruksi “Suci, di tempat yang kamu duduk sekarang ini. Mari Suci ingat dan merasakan peristiwa yang pernah suci alami. Sampai Suci benar-benar bisa melihat dengan jelas gambar, suara dan apapun yang Suci rasakan”. Saya diam sejenak memberi kesempatan kepada nya untuk mengakses memorinya. “Kalau memang sudah, boleh menberitahu saya dengan cara apapun”. Saya melihat signal anggukkan kepala.

Ketiga
 
Saya mengajak Suci berpindah ke posisi ke no 2. Dengan intruksi “Baik, di posisi ke dua ini. Sekarang, kamu bisa melihat dengan jelas. Dengan membayangkan sosok Suci duduk di posisi 1. Perhatikan saja, abaikan penasaran, biarkan saja dirimu mengamati. Kamu lihat saja, kira-kira Suci lagi ngapain. Lihat cara dia duduk. Perhatikan ekspresinya”. Saya melihat dia memantau dari bawah sampai atas. Juga sesekali menganguk dengan sangat pelan. 
Keempat
 
Saya mempersilahkan Suci berpindah ke posisi ke no 3. Dengan intruksi “Oke, di posisi ke tiga ini. Sekarang Anda bisa memperhatikan dua orang di posisi 1 dan 2. Menurut Anda mereka lagi ngapain? Apa yang sedang mereka lakukan?” Sesekali dia menatap posisi 1 kemudian menoleh ke 2. “Menurut Anda, setelah memperhatikan orang di posisi 1 dan mendengar cerita yang dia sampaikan kepada orang di posisi ke 2. Apa saran yang cocok dan tepat Anda berikan kepada nya?” 

Saya diam memberi jeda sejenak, supaya Suci mengakses intruksi saya. “Atau boleh juga, Menurut Anda, pemikiran seperti apa yang tepat dan bijak orang pertama sikapi terhadap yang dia alami. Anda bisa membantunya dengan menjelaskan, apa maksud Tuhan mengizinkan peristiwa itu kepadanya. Karena pada dasarnya, tidak ada kejadian sekecil apapun, kecuali demi kebaikan manusia. Dan supaya orang di posisi 1, bisa menerima kenyataan dan bisa tenang dan nyaman, sekarang”.

Kelima
 
Setelah Suci memberi isyarat dari posisi ke 3, bahwa dia sudah mendapatkan insight nya. Lalu saya melanjutkan dengan arahan. “Sekarang, Anda sampaikan kepada orang di posisi ke 2, ide yang Anda miliki. Bisikan saja kepadanya, persis di telinganya, supaya dia bisa memberitahukan kepada orang posisi ke 1.” Suci menghadap ke posisi ke 2. Dan membisikan kepadanya, sambil tangan dia letakkan samping pipinya seperti orang berbisik.
Keenam
 
Saya meminta Suci berpindah kembali ke posisi ke 2. Dengan arahan “Bagus sekali. Barusan, kamu sudah mendengar bisikan dari orang posisi ke 3. Bila belum jelas boleh kamu minta dia mengulanginya sekali lagi. Lalu, kamu sampaikan semua ide dan pemikiran yang kamu punya sekarang kepada orang di posisi ke 1. Supaya dia bisa menerima kenyataan, tenang dan nyaman”. Saya izinkan proses itu terjadi, sampai Suci memberi kode.

Ketujuh
 
Saya mempersilahkan Suci kembali ke posisi ke 1. “Bagus sekali. Suci duduk dan resapi. Menurut Suci, apa hikmah dibalik peristiwa yang Suci alami semua?” Dia tersenyum. “Oke Mas, I feel better now”. Saya mengulurkan tangan untuk salaman “Bagus, selamat. Jadi sekarang kamu bisa menerima masa lalu dan merasa tenang dan nyaman untuk menjalani rumah tanggamu?”. “Ya” jawabnya dengan tegas.

Hasil terapi

Expresi wajahnya telah berubah. Dan akhir sesi konseling itupun sesuai dengan harapannya. Sehingga, hari ini menjadi hari penuh bahagia dan hadiah. Hari esok merupakan misteri yang patut disambut sebagai kejutan-kejutan indah. Sementara masa lalu, adalah pembelajaran. 

Dan tahukah Anda, apa insight yang Suci dapatkan dari proses terapi di atas. Dia menberitahu “Saya bersyukur dengan peristiwa yang telah saya alami mas. Karena berkat kejadian ini, saya menjadi sangat tahu apa yang dibutuhkan oleh anak. Saya mengerti emosi seorang anak. Dan tatkala saya menjadi orang tua nanti. Saya tidak akan mengizinkan, apa yang telah saya alami terjadi kepada anak saya. Yang sangat pasti, saya menyayangi anak-anak dan akan sangat bisa memahami nya nanti. Saya bersyukur dan berterima kasih atas peristiwa masa lalu saya”.

Pejelasan Tehnik

Mungkin Anda menyadari, selama proses terapi dengan Perceptual Position di atas. Saya hanya melakukan intruksi-intruksi kecil saja. Bisa dikatakan, penemuan insight solusi, klien sendiri yang melakukannya. Sementara saya hanya membantu menjadi fasilitator. Dan memang benar, kalau saya hanya menjadi fasilitator. Itulah asyiknya tehnik ini. Tetapi, bila Anda lebih teliti lagi, Sebenarnya sayalah yang mengarahkan setiap langkah proses di atas. Dan penemuan insight pun, therapist juga memiliki andilnya.

Sebelumnya, ingin saya jelaskan secara singkat. Perceptual position, inti dan tujuan dari tehnik ini, supaya klien bisa keluar dari masalahnya. Atau dia mampu melihat persoalannya dari sudut pandang yang berbeda. Dalam kelas training, sering saya jelaskan seperti pertandingan sepak bola. Pasti sangat berbeda emosi yang Anda alami, bila menjadi pemain, menjadi penonton di lapangan, dan menjadi penonton di rumah lewat layar kaca TV Anda. 

Boleh lebih dari 3 kursi?

Demikian pula dengan setiap posisi yang kita lakukan di atas. Mungkin Anda bertanya lebih dari 3 apakah boleh? Jawabannya sangat-sangat boleh. Karena posisi hanya cara supaya yang bersangkutan bisa mencapai tujuannya. Yaitu keluar dari masalahnya. Selain dari perpindahan posisi, saya menguatkan untuk membantu klien dengan perbedaan sebutan, Suci di posisi ke 1, Kamu posisi ke 2. Dan Anda di posisi ke 3. Boleh Anda mengulang membaca intruksi yang saya sampaikan di atas.

Akhirnya, selamat mempraktekkan, semoga berhasil.

Ciganjur, Sabtu 14 Januari 2012 

Rahmadsyah Mind-Therapist


Rabu, 8 Februari, 2012 23:12

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar