Rabu, 22 Februari 2012

Aliran SDM Dalam Bisnis

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)

  Isu SDM memang selalu paradoksal. Rata-rata orang mengatakan bahwa SDM adalah
aset terpenting perusahaan, namun tatkala perusahaan mengalami kerugian maka
‘aset terpenting” itulah yang justru biasanya pertama-tama dipotong, alias PHK.
Maka kita ingin menegaskan kembali bahwa: orang bukanlah aset terpenting, tapi
hanya orang yang tepatlah (only the right people) yang merupakan aset terpenting
perusahaan.

  Peta mental yang jelas dan mantap tentang pentingnya faktor manusia (the right
people) dalam organisasi sebagai mesin pertumbuhan bisnis (business
growth-engine) yang utama sangat diperlukan. Begitu kita percaya akan hal ini,
ada empat kelompok utama dalam praktek pengelolaan SDM yang perlu dicermati: 1)
Aliran manusia dalam organisasi (flow of people), 2) Aliran pengelolaan kinerja
(flow of performance management), 3) Aliran informasi (flow of information), dan
4) Aliran pekerjaan itu sendiri (flow of work).

  Pakar manajemen SDM strategis, Dave Ulrich & Wayne Brockbank (dalam buku
mereka: The HR Value Proposition, Harvard Business School Press, 2005), mengulas
keempat tema besar ini dengan sangat komprehensif. Relevan dengan petanyaan
Anda, mari kita bahas satu persatu:

1. Aliran manusia dalam organisasi (flow of people). Ini yang biasa kita kenal
sebagai proses inti (core process) pengelolaan SDM. Apa saja sih yang terjadi
dengan aset terpenting organisasi – yaitu manusianya – mulai saat orang itu
direkrut dan masuk untuk berkarir (maka career plan-nya mesti tergambar dalam
sistem ke-HRD-an), dan orang tersebut mengalir terus dengan senantiasa merasa
dirinya berkembang dan dikembangkan. Sampai akhirnya orang itu keluar dari
organisasi (pensiun). Perhatian yang memadai terhadap aliran manusia ini paling
tidak bakal memastikan ketersediaannya bakat dan kompetensi yang dibutuhkan
organisasi untuk mencapai target dari strategi bisnisnya. Perusahaan yang
terdiri dari talenta (orang) yang terbaik, akan punya daya saing yang lebih
mumpuni dibanding perusahaan dengan talenta-talenta yang medioker karena memang
tidak berkembang dan dikembangkan.

2. Aliran pengelolaan kinerja (flow of performance management). Pada dasarnya
yang menghubungkan manusia dengan pekerjaannya adalah ukuran-ukuran dan standar
kinerja yang terhubung erat dengan faktor reward (finansial maupun
non-finansial). Ini semua mesti menceminkan kepentingan seluruh pemangku
kepentingan (stakeholders). Perhatian yang memadai terhadap aliran pengelolaan
kinerja ini bakal menjamin akuntabilitas setiap orang terhadap kinerjanya.
Akuntabilitas ini tentunya berkaitan dengan rumusan pekerjaan, catatan review
rutin yang terjadwal hingga akhirnya – kembali – menyangkut reward (ganjaran)
ataupun penalti (hukuman). Perlu diingat agar format penaltinya tetap dalam
konteks positif, tidak dengan mempermalukannya secara vulgar di depan publik.
Prinsipnya, pujilah prestasi anakbuah di depan umum, dan tegurlah kinerja yang
buruk di ruang privat.

3. Aliran informasi (flow of information). Inilah yang memastikan setiap orang
dalam organisasi sadar dan paham tentang kepentingan organisasi dan
sumber-sumber pengetahuan bersama (collective knowledge). Perhatian yang memadai
mengenai aliran informasi dalam organisasi bakal memastikan setiap orang
benar-benar tahu dan sadar tentang apa yang sedang terjadi dalam perusahaan dan
mengapa itu mesti terjadi, sehingga mereka bisa ikut melibatkan diri dan
berpartisipasi dalam proses penciptaan nilai.

4. Aliran pekerjaan (flow of work). Perhatian yang memadai terhadap aliran kerja
bakal memastikan pengaturan proses kerja, akuntabilitas dan pengaturan aset-aset
fisik yang pada gilirannya bisa menghasilkan kinerja berkualitas tinggi. Siapa
mengerjakan apa, bagaimana cara mengerjakannya, di mana dikerjakannya. Ini semua
akhirnya bisa memadukan upaya-upaya setiap individu ke dalam kepentingan
organisasi. Sehingga terciptalah sinergi.
  ========= =========
artikel telh dikontribusikan di Tabloid Bisnis KONTAN. Segala hal yang menyangkut sengkta atas Hak atas kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab Kontributor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar