Sabtu, 24 Desember 2011

Analogi Kehidupan : Ketika AKU marah

Oleh:  Nugraha AMijaya

Salam sukses dan bahagia selalu untuk kita,

Saudaraku yang budiman,

Tuhan mengajarkan kepada kita tentang MARAH. Ketika keindahan dan kebaikan alam memanjakan kita, menyediakan kebutuhan kita. Dengan atau tanpa kita sadari, kita berlomba-lomba memanfaatkan keindahan dan kebaikan alam melebihi kebutuhan kita, guna memenuhi hasrat atas nama keinginan. Dan kita akhirnya merusak keindahan, mengkontaminasi kebaikan hingga datang bencana, meninggalkan kehancuran. Saat itu Tuhan menunjukkan sikap Marah, agar kita sadar akan ukuran kebutuhan kita yang sebenarnya dan mau bersyukur akan nikmat yang diberikan-Nya melalui tindakan menjaga keindahan dan kebaikan alam tersebut. Namun ada waktunya Tuhan mengembalikan bencana menjadi hikmah dan anugrah. Dan waktu itulah sebagai momen bagi kita untuk berpikir dan sadar akan peran dalam menjaga keseimbangan.

Sejenak mari kita merenung, mengenang saat-saat kita tanpa kendali marah kepada orang lain. Mengapa kita marah? Bagaimana kita bisa hilang kendali ketika marah? Dan bagaimana akhirnya kita menyesal atau bertanya alasan harus marah?

Hakikatnya semua manusia adalah pelayan. Kita melayani orang lain, berharap orang lain seperti yang kita inginkan, namun terkadang kita tidak menyadari ukuran pelayanan yang dibutuhkan orang lain untuk puas dan bahagia. Kita terkadang lupa untuk melihat sudut pandang orang lain pada saat memberikan pelayanan, sehingga berdampak kemarahan ketika orang lain tidak memberikan apresiasi positif terhadap pelayanan maksimal yang kita berikan.

Kita akan marah jika kita memposisikan diri seperti balon yang terus dipompa mengikuti keinginan orang lain, lebih besar, lebih besar lagi dan akhirnya "duarrr" pecah tanpa pernah mampu memenuhi keinginan orang lain. Terkadang kita mempunyai idealisme, keinginan besar untuk memberikan kontribusi dalam memuaskan orang banyak, sehingga kita hanya menjadi orang yang mengikuti keinginan orang lain, tanpa menjelaskan batasan kemampuan yang kita miliki. Dan kita berusaha, terus berusaha mengoptimalkan kemampuan dan pemikiran kita, namun ketika orang lain belum merasakan kepuasan, sedangkan kita sudah berada pada kondisi puncaka, maka yang terjadi emosi kita berbicara, "mengapa mereka tidak menghargai usaha kita? Mengapa mereka tidak berterima kasih kepada kita? Mengapa...dan mengapa...?"

Disaat kita marah karena tubuh dan pikiran kita berada pada kondisi lemah dan kecapean. Tanda sadar kita menunjukkan sisi lemah kita, menunjukkan emosi tanpa terkendali, dan akhirnya menghancurkan citra yang terbangun, hubungan yang terjalin, dan mengasingkan diri. Namun kondisi ini adalah normal, butuh waktu bagi kita menetralkan emosi dan pikiran, mengarahkan menjadi dominan positif, karena pada saatnya, kesadaran akan mengajarkan hikmah kebaikan, menjadikan kita berubah menjadi pribadi dewasa dan bijak.

Saudaraku, marilah kita menjadi pelayan yang tahu kebutuhan orang yang kita layani, sehingga kita mampu memberikan pelayanan sesuai kebutuhannya. Menjalin komunikasi terbuka diantara kita dan orang lain. Sehingga kita mampu mengendalikan marah kita. marah memang ungkapan normal setiap manusia, namun menjadi tidak normal jika membuat orang antipati kepada kita dan tubuh kita menjadi tidak seimbang dari sisi kesehatan.

Salam inspirasi,

Nugraha AMIjaya
Kamis, 8 Desember, 2011 09:57

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar