Rabu, 28 Desember 2011

Kebanyakan Orang adalah Orang Kebanyakan

Oleh: Andre Vincent Wenas


“The dollar value of world trade has more than doubled in the past decade and
will exceed US$ 12 trillion in 2010. Manufactured goods and commodities account
for 74 percent of world trade. Services industries, including
telecommunications, transportation, insurance, education, banking, and tourism,
represent the other 26 percent of world trade… All nations and regions of the
world do not participate equally in world trade. World trade flows reflect
interdependencies among industries, countries, and regions and manifest
themselves in country, company, industry, and regional exports and imports.” –
Roger A. Kerin, et.al., “Marketing in Asia”, McGraw-Hill, NY 2009.

***

  Air France, flag-carrier-nya bangsa Perancis dikabarkan per 31 Maret 2010
telah merugi sebesar 1,92 milyar dollar lantaran top-line-nya (pendapatan) turun

sebesar 15%. Penyebabnya, seperti diklaim Pierre-Henri Gourgeon sang CEO,
“Krisis ekonomi global berpengaruh besar terhadap kinerja seluruh industri
penerbangan.”  Fenomena ini mengindikasikan menurunnya arus (pergerakan) orang
dan barang, yang pada gilirannya mempengaruhi arus uang bagi maskapai
penerbangan itu. Di samping Air France, diberitakan banyak maskapai di Eropa
juga sedang mengalami kerugian (yang memang diperparah setelah bencana abu
vulkanik gunung Eyjafjalljokull di Eslandia).

  Di Jerman, produsen otomotif BMW me-recall 122 ribu sepeda-motornya gara-gara
kesalahan pabrik di aspek remnya untuk motor yang diproduksi dalam periode
Agustus 2006 sampai Mei 2009 . Walau belum ada laporan kecelakaan akibat
kesalahan ini, pihak BMW telah mengambil tindakan preventif (antisipatif) dengan

inisiatif product-recall ini. Juru bicara pihak BMW mengatakan, “Dalam kasus
terburuk, rem depan bisa gagal jika semua cairan minyak rem habis. Namun belum
ada laporan kecelakaan.” Sensitivitas dan pengelolaan arus informasi yang luar
biasa baik dari pihak BMW telah membuktikan bahwa syaraf-organisasi
(organizational nerve system)nya bekerja dengan sangat baik. Feed-back loop
(arus umpan balik) tidak mengalami distorsi teknikal maupun distorsi etikal.
Sehingga keputusan yang begitu penting dapat segera diambil secara adekuat.

  Demi memperkuat otot bisnisnya, Symantec Corp yang produsen software untuk
keamanan komputer terbesar di dunia telah sepakat untuk mengakuisisi unit
layanan otentikasi VeriSign Inc. Nilai transaksinya dilaporkan sebesar 1,28
milyar dollar. Pihak Symantec Corp yang berbasis di Mountain View, California,
AS, menegaskan bahwa mereka akan membeli saham VeriSign secara kontan, targetnya

September tahun ini juga.  Bagi para pelanggan Symantec, sang CEO Enrique Salem
beralasan bahwa akuisisi ini akan semakin memperkuat keamanan komputer, “Ini
mengenai bagaimana melindungi informasi Anda.” Tentu kita juga tahu bahwa
akuisisi ini – dari perspektif perusahaan – akan menjaga (mengamankan) model
bisnisnya, sehingga arus uangnya akan terus terjamin. Inilah inisiatif bisnis
yang bisa mengamankan arus uang dengan cara mengamankan arus informasi bagi para

pelanggan Symantec (yang sekarang diperkuat dengan produk VeriSign).

***

  Penggandaan nilai transaksi perdagangan dunia memang terus melaju, namun
secara mikro dinamika yang terjadi dalam business-competitiveness juga semakin
fierce.Kesimbangan-keseimbangan baru terus diupayakan, karena setting dari
panggung dunia bisnis terus berganti-ganti.

  Caveat klasik tentang penyakit “marketing myopia” (rabun pemasaran) yang dulu
pernah dengan lantang disampaikan oleh Prof. Theodore Levitt tetaplah relevan
hingga kini. Kalau kita ingat kasus PT Kereta Api Indonesia yang baru saja
menutup jalur Jakarta – Bandung yang biasa dilayani kereta Parahyangan, kita
jadi ingat lagi contoh kasus yang disampaikan oleh Prof Levitt, yaitu bisnis
jalur kereta api. Seperti ditulis ulang oleh Prof. Roger A. Kerin, dkk dalam
buku teks teranyarnya “Marketing in Asia” (McGraw-Hill, NY 2009) dikatakan,
“…Theodore Levitt cited American railroads as organizations that had a narrow,
production-oriented statement of their business: “We are in the railroads
business!” This narrow definition of their business lost sight of who their
customers were and what their needs were. Railroads saw only other railroads as
competitors and failed to design strategies to compete with airlines, barges,
pipelines, trucks, bus lines, and cars. Railroads would probably have fared
better over the past century by recognizing they are in “the transportation
business.”

    Dengan cara pandang yang serupa, BMW melihat bahwa ia bukan sekedar
memproduksi sepeda motor. Tapi ia ada dalam bisnis alat transportasi yang
bergengsi dan aman (mengutamakan safety) bagi para penggunanya. Symantec bukan
hanya bisnis anti-virus, tapi ada dalam bisnis keamanan informasi di komputer
Anda.

    Di tengah laju pertumbuhan organisasi yang pesat serta dinamika lingkungan
bisnis global yang cenderung kaotik, justru kesetiaan untuk memaknai ulang
dirinya sendiri menjadi penting. Organisasi lahir dan berada untuk suatu maksud
(purpose), to accomplish something for someone. Itulah makanya,
pertanyaan-pertanyaan eksistensial mesti terus digaungkan,what is our business?
Who are our customers? What offerings should we provide to give these customers
value? Semakin Anda tajam dalam merumuskannya, semakin tajam pula perumuskan
jatidiri Anda. Dan, Anda bukan seperti orang kebanyakan lagi. Karena kebanyakan
orang adalah cuma seperti orang kebanyakan saja.


-------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar