Senin, 26 Desember 2011

Melodramatisme dalam Perspektif Antropologi

Oleh:  Ratmaya Urip

Secara umum faktual dan dari studi empirik riil, bangsa Indonesia konon termasuk bangsa yang melodramatik. Cepat bersimpati atau berempati pada mereka yang tertindas, atau teraniaya, atau yang menderita, asal didramatisir sedemikian rupa, karena itu kadang hasil dari rekayasa sosio-kultural. Dengan kata lain simpati dan empati yang kemudian terusung  lebih krn adanya rekayasa genetika sosial, meskipun kadang "trigger"nya adalah "pseudo facts", bukan "real facts"

Kalau tokh kemudian, anarkisme, kebrutalan, kekerasan, dan tindak tak terpuji lain itu kemudian sering terjadi di era mutakhir, itu karena ketidakberdayaan akut telah terjadi. Khususnya karena kemapanan yg extrim telah memamerkan perilaku yang membuat pihak yang tidak mapan cemburu dan marah. Itu akan semakin diperparah jika rezim materialisme absolut, dengan pragmatisme yg menjerat ketat telah menghalalkan segala cara dalam melanggengkan kekuasaan. Kalau tokh ada idealisme atau ideologi, itu hanyalah "pseudo idealism".

Contoh riil, adalah ketika Megawati naik daun dan partainya memenangkan Pemilu selepas Soeharto jatuh. Waktu itu Mega
wati digambarkan sebagai pihak yang teraniaya. Karena melodramatis adalah bagian dari stereotif antropologis bangsa, maka dengan memanfaatkan stereotif tsb, maka popularitasnya naik.

Demikian juga, ketika SBY naik panggung politik di awal kekuasaannya, sedikit banyak terkontribusi oleh nuansa melodramatik yang dihembuskan secara kuat oleh media, sebagai pihak yang tertindas. Ditambah lagi postur ragawi-nya yang gagah, tampan, dan terkesan santun membuat banyak yang tergila2. Waktu itu tidak terungkap kekurangan2nya. Sehingga ketika dalam perjalanannya kemudian mulai menyembul kekurangan2 yg dimilikinya, pers mulai berbalik menyerangnya.

Indonesian Idol, Idola Cilik, dan lain-lain,  yg merupakan ajang penelusuran minat dan bakat di media elektronik, sering dimenangkan oleh hasil explorasi dan exploitasi atas keteraniayaan yg terjadi pada diri pemenangnya.

Berangkat, dari perspektif antropologis bangsa tersebut, nampaknya, pelaku bakar diri di depan istana, mencoba memanfaatkan stereotif antropologis yg melodramatis sebagai landasan pola pikir dan pola tindaknya. Efektif atau tidaknya, tergantung dari banyak hal yang lain.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip
Sabtu, 10 Desember, 2011 22:50

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar