Senin, 26 Desember 2011

Management Membakar Diri

Oleh:  Edward Gunawan & Ratmaya Urip


1.  Edward Gunawan menulis:

Membakar diri perlu management.
Gimana caranya aksi membakar diri terekspose luas tanpa mati.
Daripada bakar diri terus mati. Misi gak jelas. Cuman diulas sehari
dua hari, max 5 hari ama media terus hilang lenyap. Buat apa?

Harusnya pakai management.
Ada perencanaan detail dan ada teman2 yg membantu memadamkan dan ada
prediksi luka bakar yang masih bisa 'survive'.

ED
Sat, 10 Dec 2011 16:23:14 -0800

============ ================

2.  Ratmaya Urip menimpali:

Pak Edward,

Analisis saya tentang fenomena bakar diri, lebih berat ke masalah ideologis daripada pragmatis.

Tindakan yg berbasis Ideologis dapat berreinkarnasi atau lahir kembali, jika pragmatisme absolut atau materialisme absolut merajalela, sehingga penderitaan semakin akrab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mungkin saja yang terjadi adalah "instant idealism" yang tiba2 muncul di tengah2 "materialism regime", karena semakin kuatnya tekanan untuk tetap dapat hidup (survival).

Pak Edward, tentu saja beda dengan mereka, karena Bpk berpola pikir pragmatis-materialistis. Bukan ideologis.

Filosofi friksi, sebenarnya berawal dari pergulatan antara yang "mapan" dengan yang "tidak mapan". Atau yang berkuasa dengan yang teraniaya. Yang "mapan" selalu saja mempertahankan kemapanannya. Sementara yg tidak mapan, selalu saja "mengganggu" yang mapan dengan balutan "idealisme", "pragmatisme", maupun "premanisme". Meski kita kadang ragu, apakah jika itu "idealisme", apakah itu "pure idealism" atau "pseudo idealism".

Kita-kita ini memang "suka" jika visi kita selalu memprioritaskan "safety security", sehingga ada slogan "safety first" atau berupaya tetap hidup, karena itulah "visi" kita, atau visi orang-orang yang masuk katagori "mainstream" dalam kalkulasi kurva Gauss. Sementara yg "sidestream" atau yang minoritas, itulah yg sering harus diwaspadai, baik yang dibalut oleh kemasan "idealisme" maupun "pragmatisme", bahkan ada yg suka memaksakannya dengan "premanisme".

Ideologi yang kental apalagi yang radikal, sebenarnya sudah memanajemeni diri, namun goal objective-nya sudah "strike" menuju ke "pengorbanan" diri. Mereka memiliki misi, bukannya tidak memiliki. Yaitu menumbuhkan simpati dan empati publik. Mereka mencobanya melalui pendekatan antropologis bangsa yang memiliki stereotip melodramatis. Bagi yg berpola pikir pragmatis dan materialistis absolut, akan memandang "kematian" mereka sia-sia.
Sementara bagi mereka yg ideologis, tentu saja berharap ada seribu yang kemudian menyusul dari setiap kematian yang ada. Mati satu, tumbuh seribu. Apakah efektif atau tidak, bagi mereka sekurang2nya telah membuat "lawannya" sibuk berat. Ingat kasus runtuhnya menara kembar WTC, bom bunuh diri di Timur Tengah dan Asia Selatan.

Sering kali, tumbangnya kekuasaan bermata air dari "martir", asal didasarkan pada "pure idealism" or "pure ideology" bukan "pseudo idealism/ideology".

Mungkin mereka minoritas, namun bisa saja memantik emosi "floating mass". Karena di era rezim materialisme absolut saat ini, semuanya bisa saja terjadi. Karena jika ada pihak yg "claim" sbg majority, sebenarnya yang ada adalah, "pseudo-majority". Yang mudah saja bergeser karena dalam materialisme absolut, yang selalu hadir adalah "liquid mass", bukannya "massive mass", yang mayoritas adalah "swing voters".

Mengapa bom bunuh diri tetap saja terjadi? Mengapa Tibet, Basque, Irlandia Utara, Timur Tengah tetap membara dan bergolak? Karena ideologi sulit untuk mati. Khususnya yg "pure ideology".

Mengapa Timor Timur merdeka? Mengapa Papua bergolak? Semuanya karena masalah ideologi. Pendekatan kesejahteraan yang selalu digembar-gemborkan, bukanlah solusi yg ampuh. Apalagi jika pendekatannya adalah pendekatan keamanan secara refresif.
Mengapa Dalai Lhama tetap exist? Karena ideologi.
Ingat banyak dari pemimpin2 spiritual Tibet yg bakar diri juga.

Sejarah kontemporer menorehkan fakta, bahwa revolusi awal di Timur Tengah yg berawal dr Tunisia, terjadi karena dipicu aksi bakar diri seorang sarjana, MOHAMMED BOUAZIZI, 26 thn, yg bakar diri setelah tdk mendapat pekerjaan formal, yg kemudian ketika berjualan buah dan sayur dilarang polisi, sehingga akhirnya bakar diri di kota Sidi Bouzid di bulan Desember 2010. Revolusi. Tunisia yg menggulingkan Presiden Zine El-Abidine Ben Ali yg berkuasa selama 23 thn tsb telah menyeret Mesir, Lybia, Syria, dan Yaman dalam kondisi yg serupa. Bakar diri kemudian menular ke Aljazair, Mesir Tibet, dll. Termasuk Indonesia. Seperti trend bom bunuh diri yg di Indonesia yg sdh mulai akut, maka aksi bakar diri bukan tidak mungkin akan terjadi lagi.

Ideologi yang militan hanya dapat ditaklukkan dengan ideologi lain yang dapat membuat ideologi militan tersebut bertekut lutut atau tidak lagi laku dijual. Sekalipun itu "instant ideology" yg muncul secara tiba2 karena ketidakberdayaan yang absolut, atau karena dihadapkan pada kondisi antara hidup dan mati (survival).

Matinya ideology dapat dilakukan dengan cara seperti matinya komunisme global. Meskipun itu bukan berarti akan menjadi semakin jayanya kapitalisme global, karena kapitalisme-pun saat ini sedang mulai rapuh.

Sayang sekali ideologi Indonesia yang militan seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 45, hanya menjadi pajangan rak buku atau referensi semu bagi pemimpin2nya, sehingga kesejahteraan dan kemakmuran bangsa tak jua beranjak tiba. Bak ayam mati di lumbung padi, yang tak tahu kapan kemakmuran dan kesejahteraan akan menjadi kini.

Salam Manajemen,

Ratmaya Urip
Sabtu, 10 Desember, 2011 22:08

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar