Kamis, 29 Desember 2011

Malaysia truly Indonesia

Oleh: Andre Vincent Wenas


“Bukan lautan, hanya kolam susu... Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat
kayu dan batu jadi tanaman!”– Koes Plus.

“Nina bobok, ooh nina bobok… kalo tidak boobok digigit nyamuk!”– anonim.

***

    Tentu kita perlu berkonsultasi dengan para ahli psikologi-sosial, apakah
jenis lirik lagu Kolam Susu seperti ini termasuk alat hipnotis massa yang telah
ikut andil meninabobokan bangsa sejak tahun 70an, atau malahan teks Koes Plus
itulah yang terus mengingatkan – lantaran manusia senantiasa tergelincir dalam
status kelupaannya – agar senantiasa kembali dalam keadaan sadar terhadap
situasi eksistensialnya. Sehingga dengan demikian ia justru telah menjadi
semacam kritik sosial, karena terus memberi komparasi ideal (das sollen)
terhadap realitas de facto (das sein) yang ternyata detrimental.

    Sedari kecil memang kita sudah diayun-ayun dengan syair lagu Nina Bobok yang
struktur isinya terasa irrelevant, bahkan mungkin illogical. Karena – kalau
dipikir-pikir – apa sih hubungannya antara tidur/tidak tidur dengan digigit
nyamuk? Jangan-jangan pola asuh kita sejak dulu memang telah menanamkan bibit
cara pikir yang selalu tidak relevan dan tidak logis saat berhadapan dengan
realitas dan saat menafsirkannya? Wallahuallambishawab.

***

    Diberitakan bahwa Malaysia  tengah meluncurkan program ekonominya yang baru
(Kompas, 22 Sept 2010). Program ini berambisi membawa Malaysia ‘going up to the
next level’ untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju. Ukuran
sederhananya, dari GDP perkapita – yang sekarang – sebesar US$ 6700 menjadi US$
15ribu di tahun 2020. Sebagai perspektif, GDP per kapita Indonesia saat ini ada
di level US$2600an. Untuk merealisasi ambisi ini pemerintah Malaysia merekrut
seorang eksekutif (mantan bos Malaysian Airlines), Idris Jala, yang diangkat
menjadi pejabat setingkat menteri di kantor PM Najib Razak untuk memimpin
program transformasi ekonomi Malaysia Incorporated ini.

    Ada 131 proyek yang membutuhkan dana investasi sebesar US$ 444milyar.
Kompilasi proyek berjangkawaktu 10 tahun ini meliputi: pengembangan jaringan
internet, energi nuklir dan matahari, kereta cepat Malaysia-Singapura,
pengembangan industri minyak dan gas, pertanian, pariwisata, jasa keuangan dan
infrastruktur perkotaan.

    Negara jiran ini berhasil “memaksa” dirinya sendiri keluar dari zona
kenyamanan akibat keberhasilan program-program mantan PM Mahathir Mohammad yang
legendaris itu. Model ekonomi Malaysia saat itu (bahkan sampai saat ini) adalah
masih mengandalkan industri manufaktur. Pernyataan yang menarik dari Idris Jala,
“Jika kita mempertahankan model ekonomi sekarang, kita akan terjebak dan akan
kehilangan talenta yang kita butuhkan untuk mendukung pengembangan ekonomi.”
Lalu pungkasnya, “Malaysia tidak akan membuang-buang waktu. Kami membutuhkan
transformasi ekonomi yang utuh dan radikal!”

***

    Di saat yang sama ada fenomena menarik, di harian yang sama dan tanggal
yang sama (Kompas, 22 Sept 2010) ditampilkan iklan full-color dari Biro Hukum
dan Humas Kementerian Pertanian Indonesia berjudul cetak tebal merah: “Jangan
Panik, Pasokan Pangan Aman!” Dilengkapi foto seremonial kunjungan para menteri
ke gudang Bulog. Isi pesannya ingin mengatakan bahwa masyarakat tidak usah takut
kelaparan lantaran kekurangan pasokan pangan. Soal perut memang krusial, Abraham
Maslow bilang penuhi dulu kebutuhan fisik baru bicara soal rasa aman (safety
needs), dengan perut lapar orang bisa nekat menerabas apa saja. Di paragraf
akhir iklan itu dikatakan, “Selain beras, papar Mentan, pasokan daging dan telur
ayam juga surplus sampai akhir tahun. Sementara ketersediaan gula, daging sapi,
bawang merah dan cabe cukup untuk memenuhi kebutuhan menjelang lebaran tahun
ini. Atas dasar itu, Mentan meminta masyarakat tidak panik, ‘ketersediaan pangan
kita aman. Bahkan surplus,’ tegasnya.”

    Namun lucunya, headline di halaman terdepan harian yang sama itu
mengabarkan, “Cuaca Ganggu Pertanian, target produksi tak terpenuhi,” intinya
isi berita utama itu menyampaikan bahwa bakal terjadi kekurangan pasokan pangan
gara-gara gagal panen. Solusinya tentu impor beberapa dari bahan-bahan pangan
tersebut (misalnya beras, gula dan jagung). Sehari sebelumnya bahkan Kompas (21
Sept 2010) telah mewartakan bahwa Mentan dan Menperdag memberi ijin impor Beras
dan GKP (gula Kristal putih).

***

    Tanpa tedeng aling-aling kita mesti mengakui bahwa dalam banyak aspek –
utamanya aspek pengelolaan perekonomian, industri, pembangunan infrastruktur,
pendidikan umum dan kesejahteraan masyarakatnya – Malaysia semakin jauh lebih
unggul. Walau memang – dalam aspek kesenian dan warisan kebudayaan (secara
historis) – Indonesia rasanya lebih berwarna.

    Selain perselisihan soal demarkasi, omelan dengan negara jiran ini lebih
bernuansa pencaplokan properti budaya (warisan kesenian). Corak batik, lagu
jadul, tarian daerah, makanan (resep) daerah adalah sebagian dari properti
budaya Indonesia yang diganyang Malaysia.

    Di luar konflik soal demarkasi, mungkin lebih ciamik kalau kita mesti
saling berangkulan. Bangsa serumpun ini bisa saling belajar, bergaul dengan
sopan dan terhormat. Di bidang ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan
profesionalisme aparat, jelas Indonesia mesti semakin menjadi seperti Malaysia.
Belajar berpikir logis dan relevan. Dan soal cita rasa seni serta warisan
kebudayaan, keindahan Indonesia memang tak bisa dipungkiri keunggulannya. Itu
pun boleh pula dipelajari dan diserap oleh bangsa serumpun ini. Tak elok
ribut-ribut soal kesenian Pak Cik, sila nikmati budaye Indonesia, sila jadikan
Malaysia truly Indonesia.

============== ======

(artikel ini telah dikontribusikan oleh Kontributor ke Majalah MARKETING. Segala hal yang menyangkut sengketa atas Hak  atas Kekayaan Intelektual, menjadi tanggung jawab Kontributor)

Senin, 26 Desember, 2011 20:52

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar