Kamis, 29 Desember 2011

Village of Darkness



Village of darkness |Refleksi akhir tahun 2011
Harry "uncommon"

Di sebuah desa yang gelap, bernama  VOD [ village of darkness], terletak persih dibawah pegunungan yang subur mirip di planet Mars dan pinggir pantainya yang kebiru-biruan banyak ikan dan harta karun mirip di planet Venus, dipimpin oleh seorang yang lemah. Ia, king of darkness [KOD] dipilih langsung oleh rakyatnya yang hidupnya gelap. Kegelapan di desa subur itu, sudah lama dikeluhkan oleh warga desa sebagai hilangnya cahaya Tuhan. Sampai-sampai beras, jagung dan kedelaipun harus diimport dari desa lain yang kalah suburnya. Desa lemah.

Kegelapan, selalu digambarkan oleh tiadanya terang. Cell photoreceptor gagal membedakan frekuensi warna dan lebar gelombang warna. Yang nampak adalah warna hitam di color space. Ketika terang sirna, Shakespeare di abad 16 dan 17, menggambarkan kegelapan itu dengan karakter setan, price of darkness atau King Lear. Gelap yang sangat dalam, disudutkan sebagai neraka. Seorang ksatria sakti di zamannya harus berusaha mengenyahkan kegelapan itu. Adakah ksatria ditemukan di desa gelap itu?

Pemimpin, KOD, senang berteori bahwa agama, kepemimpinan dan pendidikan dapat memisahkan kegelapan dari terang. Mirip seperti lukisan Michaelangelo yang menghiasi atap sebuah chapel tua bernama Sistine selama tahun 1508-15012 pada zaman renaisance baru di era Paus Julius II di Vatikan. Warga desa VOD sebenarnya tahu persis bahwa agama, kepemimpinan dan pendidikan, sebagai 3 pilar kesejahteraan dan kebahagiaan, hanya retorika belaka dari para pemimpinnya. Mereka sungguh faham, bahwa tangan Tuhan dan tangan Adam, belum saling bertaut menyempurnakan penciptaan di muka bumi, khususnya di desa VOD itu. Di desa yang meski makmur kaya raya karena alamnya, kehidupan kesehariannya bercorak animasi dan ornamen palsu. Tak ada kesan indah seperti lukisan agung Mona Lisa [nama asli dari Lisa Gherardini, istri Francesco del Giocondo, Italia], karya Leonardo da Vinci di tahun 1503-1519 yang disimpan di Musee du Louvre di Paris. Desa itu tetap menggambarkan notion dari kepemimpinan yang tidak noble.

Paling tidak ada 3 jenis kegelisahan kegelapan disana. Pertama, rakyatnya yang paling bawah senang kekerasan. Rakyat middle-class senang banget konsumerisme dan rakyat atas punya hobi keserakahan. Ketiganya telah menyengsarakan rakyat desa VOD berabad-abad. Sejenis Napoleon atau revolusi Perancis, belum berhasil mengganti aura lukisan gelap desa itu. Kemerdekaan spiritualitas dan ceramah agung di tempat ibadah, hanya nyanyian the last supper yang indah dan sakral di meja suci, tidak di dusun-dusun kecil yang jauh dari impian indah rakyatnya. Tiga [3] kegelapan itu memuhi sesaknya lorong gelap yang tiada cahaya di ujungnya. Rakyat banyak yang sesak nafas tinggal di desa VOD ini, terkadang disertai stroke, HIV/AIDS, flu nyamuk dan virus mematikan. Tak ada listrik yang cukup di dusun-dusunnya. Anehnya, laptop, Ipad dan blakberry bisa nyala 24 jam. Kejanggalan lainnya adalah, rumah mewah, istana, mobil jaguar baru, ferrari terbaru, hammer baru dan bentley besar banyak dijumpai diantara gubug derita warganya dan memacetkan jalan desa.

Suatu hari, datanglah seorang anak desa tak dikenal, kecil perawakannya, mirip Daud, David atau Daniel di ceritera Old Testament, menghadap sang pemimpin. Dia bermimpi mendapat penglihatan yang sangat visible, bahwa desanya bisa maju dan bercahaya 10 tahun yang akan datang. Si kecil, bernama Small of Light [SOL], menggambarkan bagaimana Light of God,  cahaya Tuhan, bercahaya di bilik kamarnya yang kecil, seolah melingkupi seluruh wajah desa itu.  Wajah si anak kecil itu, SOL, sangat bercahaya sampai para pemimpin dan ajudannya silau memandang ke arahnya. Begitu agungnya si anak SOL ini, sampai segala pangkat, ijasah, IQ dan medali kepongahan di seantero desa itu, runtuh dan pecah berkeping-keping. Setelah semuanya terjadi, mirip the last day, ia pun melanjutkan ceritera saktinya itu.

"Begini yang terhormat dan termulia tuan-tuan," kata ajaib dari mulut dark of the moon, transformer, the Dino, "Mohon maaf, di dalam mimpi saya itu, di bumi ini tidak akan ada lagi nabi atau rasul baru. Tuhan sudah cukup memberikan Adam dan para nabinya menjadi terang. Kiamat memang sedang dipersiapkan olehNya, tapi menunggu desa kita berubah dahulu...! Di mimpi itu, desa kita telah berganti nama, menjadi village of light, VOL, dengan cahaya penuh aluminium alloy, mirip spyder, bergerak sangat cepat dengan 8 speed... "Tuanku, di dusun yang bernama dusun "Ibu Adalah Kesuksesan," muncul puteri tidur yang terlupakan. Ia mirip peri suci yang keibuan. Ialah yang akan menebarkan kasih sayang teramat indahnya kepada masyarakat bawah, agar kekerasan di desa kita, sirna.. Rakyat yang biasanya dibayar dengan 50 sen untuk melakukan pembakaran, pembantaian dan pembunuhan, tidak mau lagi diberi sogokan murahan itu dan mendadak bertobat dan bangun dari mimpi tidurnya.. Tuanku, mereka berlomba-lomba membangun kembali gedung yang rusak akibat tragedi krisis, pulau yang terendam, dan jalan-jalan yang longsor dan hancur...dan jadilah negeri sukacita di desa kita ini... penuh berkah dan kelimpahan. Rakyat menjadi cinta perdamaian. Desa ini hidup rukun baik antar kelompok, antar golongan dan antar agama... Di dusun "Ibu Adalah Kesuksesan," warga diajarkan filosofi baru, bahwa menyayangi setiap Ibu akan memerdekan warga dari perbudakan berabad-abad akan jiwa dan karakter keras. Ibu, holy lady, adalah sumber kelembutan dan kasih sayang sejati, mirip lukisan indah di layar emas bening, bak saya membaca kisah Romeo dan Juliet di zaman kuno tahun 1595.  

Mantra Light of God, terus meluncur dari bibir mungil si SOL dan saking derasnya, ia pun sampai meneteskan air matanya, kepedihan larut dalam keheningan kebahagiaan. Ruangan itu pun berubah terang semenjak hadirnya si anak kecil itu. Cahaya wajahnya bak lampu sorot super halogen dari mercusuar pantainya. Para pemimpin terus berdecak kagum bak meteor kehilangan energi temaramnya. Terdiam dan kaku.

"Tuanku, mohon maaf, di dusun lainnya, yang bernama dusun "Bapak, the father, Kerja Produktif," muncullah air terjun deras berwarna keemasan di pinggirnya ada balon berapi bergambar banyak mesin. Disana terdapat wajah-wajah kuliner, electronic, fesion, automotive, shopping, kartu kredit berbagai merek yang luluh terbakar hangus oleh dahsyatnya balon berapi dan berkepala rajawali putih...!  Warga produktif di dusun itu, terbang bergegas meninggalkan mall-mall, apartemen mewahnya, salon kecantikan, sauna, panti pijat, club malam yang mesum remang-remang dan pergi menyalakan mesin-mesin produksi dan masuk dalam lahan pertanian dan industri sektor riil. Alhasil, ekonomi dusun itu bersinar. Mereka kini menjadi pengekspor beras, kedelai, jagung, gula, terigu, susu, tembaga, emas, gas alam, sepeda motor, televisi hingga mobil dan kendaraan industri. Meski dusun lain mengalami krisis global dan pelemahan ekonomi, di dusun  "Bapak, the father, Kerja Produktif," malah sebaliknya, sangat maju. Matinya setan konsumerisme, membuat para eksekutif middle-class, meninggalkan dan memenjarakan sikap super konsumtif yang selama ini mereka pelihara. Pejabatnya bersih, hutang luar negerinya lunas tuntas. Anggaran dusun itu kini surplus dan income per capita naik berlipat-lipat di kawasannya. Mereka terbebas dan merdeka..." Warga kelas menengah dusun itu telah belajar apa artinya produktif dan tidak konsumtif.

Sayup-sayup, di kejauhan dusun itu, terdengar kelentingan music gamelan happy new year dari 100 sungai sumber kehidupan, hundred rivers of life. Airnya bening, mirip di kutub utara dan selatan planet Mars, di bulan Europa dan Enceladus yang tegangan permukaannya yang teramat besar. Ceritera dan titisan cakrawalanya gemerlap nan indah bagai di atas sorga. Lilin berniepun redup dan berbinar kembali, bergantian. Tenang, kudus dan silent night.

"Tuanku, mohon maaf,  mimpi hamba masih berlanjut.. Meski dusun-dusun lainnya terlelap tidur dalam aroma kegelisahannya, kedua dusun tadi, tidak, malah benderang terangnya berkilatan memancar ke langit menembus batas-batas manusia [human limitation and dignity].... Tuanku, di sebelah ke dua dusun tadi, ada dusun seakan berada di bawah laut, dengan dinding-dinding dari emas dan perak, wangi dan berlimpah madu dan susunya. Tambang-tambangnya kaya raya, tak terurus, mis-manajemen, namun pejabat yang mengurusnya gendut dan perutnya buncit, karena korupsi merajalela dan perempuannya suka berdandan...!!"

"Dusun itu bernama, dusun "Bersyukur Penuh Rahmat." Namun, ombak besar lepas pantai kanagawai, terlalu besar untuk memporak-porandakan dusun biru yang kelam itu. Blaaaaaaaaar...semuanya sirna dan selesai. Keong laut dan sisa kepiting merah jingga tiba-tiba terbang menerpa perut-perut gendut nan buncit para pejabatnya, muntah darah semua dan matilah mereka, juga para sundal wanita pelacur... Dusun itu berganti baru, tertransformasi seketika. Bidadari langit menebarkan doa-doa dan pujian penyembahan kepada Yang Maha Agung.. Worhsip itu menyenangkan Sang Khalik. Warga dusun kelas atas yang biasanya serakah dan korup, sekarang berjenggot putih abu-abu dan bak orang suci arupadatu dari planet Jupiter dan kawan-kawannya yang baru dipermandikan di ruang antariksa. Fajar baru tiba. Warga kelas atas, mengganti tabiat buruknya dengan banyak bersyukur penuh rahmat... Karena syukurnya itu, planet-planet baru mirip tongkat berantai terlepaskan dari belenggu korupsi dan jiwa serakah.. Mindsetnya baru, iramanya baru, jalannya menjadi pelan, bicaranya pelan, berfikirnya banyak dan waktu-waktunya dihabiskan berdoa di bilik-bilik terang, goa doa..! Warga dusun kelas atas itu, telah belajar, bahwa banyak bersyukur, menerapkan apa artinya cukup sudah, kedalam tindakan nyata, bukan sekedar notion politika moralita, kekudusan Tuhan menjadi dekat. Dahi dan mahkota dusun berubah menjadi secercah viva astronomi yang putih seperti salju mexicano... Mereka tidak hanya makan roti kehidupan, namun menemukan air hidup yang genuine dari sumbernya di dusun yang tadinya gelap gempita itu.. "

Karena ceritera anak kecil itu berlangsung 9 jam lebih, maka SOL, mirip Light of God, si transformer mimpi itu pun terjatuh dari duduk bersilanya diatas batu meditasinya yang berwarna hijau kebiruan dan pingsan tertidur... Rupanya, ia baru saja menyelesaikan siaran suara Tuhan di akhir tahun dengan sukses dan hening... Para pemimpin pun memeluk tubuh mungilnya yang tergolek di lantai dan berusaha membangunkannya, mereka penasaran... apa kelanjutan dari ceritera mimpi si bocah itu....! Mereka berfikir dan sangat ketakutan oleh mimpi itu, jangan-jangan si bocah inilah yang akan menggulingkan tahta penguasa pada zamannya... dan menjadikan desa itu mirip kisah 3 dusun ajaib itu...village of light, VOL, desa kuat.
 

Salam work & life balance [WLB]
Harry "uncommon" PurnamaMature Leadership Center [MLC]
Senin, 26 Desember, 2011 21:22

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar