Sabtu, 07 Januari 2012

KLINIK MANAJEMEN: Implementasi 5 S atau 5 R

Oleh:  Ratmaya Urip

1.  Diah Beton:

Dear Managers,
Bisa disharing bagaimana pengalaman rekan-rekan dalam mengimplementasikan program 5 S atau 5 R di tempat kerja ?
Thank you, Diah
Selasa, 27 Desember, 2011 22:41
====== ================

2.  Marmi Priarsih:


Dear Bu Diah,

Mungkin bisa dijelaskan apa itu 5R atau 5S krn tidak semua member milis paham apa maksud bu Diah, karena lingkungan/bidang pekerjaan yg berbeda

Salam
Marmi
Rabu, 28 Desember, 2011 08:29
=========== ============

3.  Ratmaya Urip:


Bu Diah,

5R atau 5S sebagai suatu sistem manajemen yg branded yg merupakan salah satu sistem manajemen yg termasuk Japan Style, merupakan salah satu bentuk sistem manajemen yang memerlukan konsistensi tinggi dalam aplikasinya.

Sebagai sistem manajemen yang pada intinya mengusung "budaya bersih" dan berkorelasi langsung pada "environment performance" pada hakekatnya akan memperkuat dan melengkapi Operation Maintenance Management (OM Management). Sehingga diharapkan akan meningkatkan Productivity Quality (P Q), serta menekan risk pada aplikasi Safety, Health Environment Management (SHE Management).

Di samping itu 5S atau 5R akan meningkatkan Budaya Disiplin. Asal konsinten dan itu telah mendarah daging sebagai soul of activities, yang merupakan kebutuhan primer bagi kita, bukan anget2 tahi ayam.
Juga bukan karena terpaksa atau dipaksa.

Bagi banyak "roles" dalam manajemen, "budaya untuk selalu bersih" secara antropologis bukan budaya yg melekat pada bangsa Indonesia. Itulah mengapa "kekumuhan" banyak hadir di berbagai tempat di Indonesia, baik di ruang publik maupun ruang bisnis. Termasuk dalam hal ini dalam aktifitas di bisnis manufacture, construction, service, dll.

Contoh:

1. Di laci-laci kantor, sering dijumpai berbagai jenis barang yang tidak seharusnya ada di situ, misalnya barang2 yg tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kadang ditemukan BH, celana dalam atau makanan dan minuman dalam laci meja kerja.

2. Di bagian maintenance, khususnya bengkel sering acak-acakan. Tidak teratur, banyak oli tercecer, kunci pas tidak tersimpan pada tempatnya, petugas bengkel tidak berpakaian yg semestinya, dll.

3. Dalam pelaksanaan konstruksi di Indonesia, banyak dijumpai onggokan puing2 barang kotor yg menggunung, sehingga menghabiskan tempat. Padahal di kota2 besar "space"nya terbatas.
Kita selalu mengumpulkan sampah-sampah konstruksi sampai banyak terkumpul, baru dibuang setelah terkumpul banyak. Sehingga terkesan bahwa pekerjaan konstruksi sering kumuh. Beda dengan Budaya Jepang atau Barat, yang selalu membuang kotoran pada saat kotoran itu ada sekecil apapun, atau meski hanya sedikit. Sehingga pekerjaan konstruksi selalu nampak rapi tidak kumuh. Termasuk kumuh di Indonesia adalah pekerjaan galian kabel, pipa, selokan, dll.

5S yg terdiri dari SEIRI, SEITON, SEISO, SEIKETSU, SHITSUKE, atau jika dalam Bhs Indonesia adalah 5R, yg terdiri dari RINGKAS, RAPI, RESIK, RAWAT, RAJIN, menuntut kedisiplinan dan konsistensi tinggi. Dalam Bhs Indonesia yg lain akronimnya tetap dapat sebagai 5S yaitu SISIH, SUSUN, SASAP, SOSOH, SULUH. Dalam Bahasa Inggris juga 5S yaitu SORT, SYSTEMATIZE, SWEEP, STRANDARIZED, SELF-DISCIPLINE, atau 5C yaitu CLEAR OUT, CLASSIFY, CLEANING, CONFORMITY, COSTUM.

Dalam Bhs Indonesia dikenal juga akronim lain di samping 5R yaitu 5P yg terdiri dari Pemilahan, Penataan, Pembersihan, Pemantapan, Pembiasaan.

Pada hakekatnya, 5S atau 5R dimaksudkan untuk pembinaan perilaku karyawan melalui perubahan tempat kerja atau lingkungannya ke arah yg lebih baik, untuk menambah konsistensi dan disiplin, serta meningkatkan tanggap kerja atau tanggap darurat atas perubahan yg pasti terjadi. Atau melatih kesigapan dan kecepatan kerja.

Untuk supaya lebih jelas dan lebih lengkap sebaiknya dengan tatap muka.
Saya siap membantu untuk itu.
Karena seperti halnya dengan Japan Style yg lain, seperti Lean Manufacturing, Kaizen, TQC/TQM termasuk Seven Tools, Toyota Way, dll memang harus lebih banyak dilakukan dengan contoh atau keteladanan.

5S atau 5R memang seolah lebih ke "process oriented" yg termasuk dalam bagian OM Management dengan pendekatan "operational-based excellence". Tujuannya untuk memperkuat "culture" dan "value" yg pada gilirannya nanti akan meningkatkan "productivity quality" melalui aspek kedisiplinan dan konsistensi secara "team work" maupun "individual".
Dalam prakteknya akan memberikan kontribusi pada pencapaian "Business Excellence" maupun "Public Service Excellence" melalui "Operation-based Excellence" maupun menumbuhkan "Innovation-based Excellence".

Salam Manajemen.
Ratmaya Urip
Rabu, 28 Desember, 2011 17:19

========== ===========

4.  Diah  Beton


Selamat sore pak Ratmaya Urip,
 
Terima kasih atas masukannya...
Saya juga senang membaca tulisan-tulisan Bapk....
 
Salam kenal, Diah
Selasa, 3 Januari, 2012 03:31

= ========= ==========

5.  Rky Refrinal Patiradjawane:


Memang sungguh berbeda, membaca uraian dari seseorang yang kaya akan pengalaman dan menguraikan dengan begitu detailnya namun mudah dipahami tanpa terlihat emosional dan menggurui..

Cermin sebuah tahapan yang sampai pada kebijakkan dan kearifan berfikir.

Semoga kelak saya bisa menjadi insan seperti beliau.

Salam Hormat Pak Ratmaya..
Rky Refrinal Patiradjawane
~Nyong Ambon~
Selasa, 3 Januari, 2012 07:36
========== ============

6.  Ratmaya Urip:


Pak Rky dan Bu Diah,

Terima kasih atas apresiasinya.

Sebenarnya apa yang saya tulis dalam artikel-artikel saya, merupakan sebagian kecil dari aplikasi KNOWLEDGE MANAGEMENT.

Roh dari tercapainya "excellences", rahimnya adalah KNOWLEDGE, baik SCIENCE, TECHNOLOGY, maupun VALUE and CULTURE (termasuk Sosiologi dan Antropologi). Semuanya wajib balance atau dapat terformulasi sebagai MATRIX.

Pola pikir CONVERGEN untuk mencari SOLUSI dan pola pikir DIVERGEN untuk MENGURAI MASALAH adalah formulanya.

Sedapat mungkin dalam pemahaman, teori dan aplikasinya, KNOWLEDGE MANAGEMENT wajib untuk diaplikasikan dengan TACIT KNOWLEDGE. Supaya dalam pengambilan keputusan dapat CEPAT, AKURAT dan
PRESISI. Sehingga kita dapat mengambil keputusan seolah secara INTUITIF, meskipun sebenarnya itu adalah ANALITIS yg dilakukan secara cepat. Atau kita sudah menjadi TACIT. Namun untuk itu memang memerlukan "basic education" yg cukup, "self learning and development", "experiences", "sharing with experts" dan mampu memanfaatkan panca indra secara proporsional dan kontekstual serta mutakhir, serta balancing antara TEORI dan PRAKTEK. Ingat pemeo yg sering saya sampaikan: "TEORI tanpa PRAKTEK itu OMONG KOSONG, sedang PRAKTEK tanpa TEORI itu NGAWUR. Apalagi tanpa TEORI dan/atau PRAKTEK".

Dalam pola pikir dan pola tindak wajib berbekal pemanfaatan pada apa yg disimbolkan sebagai 3 H (Hand,Head,Heart), dan matrix dari 3 I (Implementation,Improvement,Innovation)
Demi tercapainya 3 Q (Quality,Quantity,Quantum) dalam 3 P (Product,Process,People).

Untuk tercapainya TACIT KNOWLEDGE memang harus melalui tahapan awal berupa penguasaan dan pengayaan atas EXPLICIT KNOWLEDGE.

Jadi konklusinya, sebenarnya sangat sederhana, yaitu "managing tacit knowledge after explicit knowledge"

Dan yang terpenting jangan pelit berbagi KNOWLEDGE. Karena Insya Allah, kita akan diberkahi dengan lebih banyak diberikan KNOWLEDGE baru dan mutakhir olehNYA.
Amin.

Salam Manajemen.

Ratmaya Urip.

Note: Mohon menyebutkan sumbernya jika mengutip Artikel ini. Terima Kasih.
Selasa, 3 Januari, 2012 09:05
=============== =====

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar