Senin, 09 Januari 2012

17 Penyakit Akibat Memendam Emosi




Mind and body is connected.
 (NLP Presuposition)
Saya teringat dengan penjelasan dosen mikro teaching saat di IAIN Ar-Raniry tentang persepsi manusia. Bahwa persepsi seseorang terus berkembang-berkembang dan berkembang. Selama dia mau terus mengamati. Beliau menganologikan, seperti kita melihat foto album kenangan bersama teman-teman. Pertama sekali yang kita lihat dan yang kita cari dari foto tersebut, pasti di mana wajah kita? Sehingga yang teringat dari foto tersebut adalah diri kita sendiri, sedang berdiri, duduk atau entah melompat.
Tetapi, saat kita melajutkan pengamatan kedua, maka kita mulai melihat ada wajah lain di foto tersebut. Kemudian, kita memperhatikan lagi, otak kita menangkap wajah lain lagi. Hingga seterusnya, selama kita tidak bosan untuk mengamati. Maka, kita bisa menyadari keseluruhan isi pada foto tersebut dengan spesifik. Bahkan, ornamen-ornamen dan pernak pernik yang ada, kita ingat dengan jelas. 
Semakin mengamati semakin menyadari
Ternyata demikian pula dalam hal lain. Otak kita, akan menyadari hal-hal yang sebelumnya tidak tersadari, selama kita mau terus mengamati. Seperti para atlet terus melakukan evaluasi dari latihannya. Juga, yang terjadi pada penemu bohlam, Thomas alva edison. 
Hal itu pula yang saya alami. Semenjak tahun 2007 fokus menekuni tentang kinerja pikiran dan cara mengoptimalkannya. Terutama untuk penyelesaian masalah yang berhubungan dengan pikiran dan perasaan. Seperti, trauma, phobia, merasa tidak dicintai, perasaan dikorbankan, tidak bisa menerima diri sendiri, homoseksual, perilaku tidak memberdayakan diri, sulit memaafkan, dan hal lainnya.
Hipotesa: sakit fisik karena emosi terpendam
Menariknya, pengalaman menyelesaikan persoalan diri dan membantu mendapatkan solusi sebagaimana harapan klien. Membawa saya kehipotesa, bahwa beberapa penyakit fisik itu sebenarnya efek dari persoalan pikiran dan perasaan yang tak tertuntaskan. Atau ada emosi yang masih terpendam dan tidak terselaraskan.
Lalu, saya mencoba mencari jawaban atas penasaran saya di internet dan buku-buku psikologi milik istri saya. Ternyata, memang ada beberapa kasus permasalahan fisik seperti alergi, maag, diabetes dan lainnya, disebabkan oleh permasalahan pikiran. Dalam dunia klinis dikenal dengan istilah Psikosomatis. (Psychosomatic).
Dan pada saat saya mengikuti kelas Energy and Healing Paradigm pun, ada penjelasan tentang efek-efek atau permasalahan yang sering muncul akibat dari tidak selarasnya energi dalam tubuh. Di kelas tersebut menggunakan istilah cakra, dan setiap cakra berhubungan dengan emosi tertentu. Seperti cakra di area tenggorokan (saya lupa namanya), erat kaitan dengan iri dan dengki.
Setelah saya menghubungkan data-data yang saya peroleh dari pembelajaran di kelas, bahan bacaan, ceramah bengkel hati ustaz Danu, dan pengalaman nyata yang dihadapi oleh klien yang berkonsultasi dengan saya. Saya menyimpulkan;
Ada 17 macam problem fisik yang mungkin yang terjadi akibat memendam emosi (psikosomatis), diantaranya:
1. Alergi, karena penyangkalan akan kekuatan dan kemampuan diri.
2. Radang sendi, karena perasaan tidak dicintai, ditolak dan perasaan dikorbankan.
3. Demam, karena perasaan marah yang tidak mampu diekpresikan.
4. Ginjal, karena kekecewaan, perasaan gagal, rasa malu yang ditekan.
5. Maag, karena takut, cemas, perasaan tidak puas pada diri sendiri.
6. Penyakit paru-paru, karena putus asa, kelelahan emosional, luka batin.
7. Sakit punggung, karena ketakutan akan uang, merasa terbebani.
8. Sakit pinggang, karena rasa tidak dicintai, butuh kasih sayang.
9. Jantung, karena rasa kesepian, merasa tidak berharga, takut gagal dan marah.
10. Kanker, karena kebencian terpendam atau makan hati yang menahun.
11. Diabetes, karena keras kepala, tidak mau disalahkan.
12. Glaukoma, karena tekanan dari masa lalu dan tidak mampu memaafkan.
13. Jerawat, karena tidak menerima diri sendiri, tidak suka pada diri sendiri.
14. Pegal-pegal, karena ingin dicintai dan disayangi, butuh dipeluk dan kebersamaan.
15. Obesitas, karena takut, ingin dilindungi, kemarahan terpendam, tidak mau memaafkan.
16. Mata minus, karena takut akan masa depan.
17. Mata plus, karena tidak mampu memaafkan masa lalu.
 
Mohon mengingat
Saya memohon kepada Anda, supaya menyikapi informasi ini dengan bijak. Bahwa 17 macam gangguan fisik di atas, bukanlah hasil penelitian ilmiah, melainkan kesimpulan saya berdasarkan perbandingan informasi pengalaman diskusi dengan orang-orang yang berkonsultasi tentang permasalahan emosi mereka, dan efek fisik yang mereka hadapi. Juga diskusi dengan para praktisi holistik healing yang saya kenal. 
Jadi bila Anda membantah atau tidak percaya, sah-sah saja. Karena, tujuan saya menuliskan ini, ingin berbagi cerita. Bila Anda mengalami terus berulang-ulang salah satu dari 17 permasalahan di atas. Mudah-mudahan memudahkan Anda mencari solusi nya.
Ciri psikosomatis
Mungkin Anda bertanya, bagaimana cara mengetahui bahwa masalah yang Anda hadapi sekarang karena faktor memendam emosi? Cara nya sangat gampang. Pertama konsultasi dengan dokter, dan bila perlu cek laboratorium. Bila menurut dokter dan hasil lab Anda baik-baik saja, tetapi Anda merasa bermasalah, itu mungkin ada yang tidak selaras dengan emosi Anda. Seperti kasus yang pernah saya tangani, sudah berobat kebeberapa dokter, dan cek lab beberapa kali, hasil nya baik-baik saja. Tetapi beliau merasa diri nya sakit.
Cara yang kedua, setelah Anda mendapat treatmen medis, tetapi kemudian penyakit Anda balik lagi berulang-ulang. Itu bisa jadi ada emosi yang tidak selaras (psikosomatis). Karena, emosi yang terpendam itu, menjadi pemicu kambuh lagi penyakit Anda. Jadi selesaikan pemicunya.
Cara mengatasinya
Untuk menyelesaikannya, Anda bisa melakukan dengan 2 cara. Pertama jujurlah kepada diri Anda sendiri, apa emosi yang Anda pendam? Kemudian selesaikan. Tapi, bila Anda belum tau caranya. Maka, bisa menempuh cara kedua. Yaitu, konsultasikan kepada yang memahaminya. Dan yang paling penting adalah kepada orang yang Anda percaya dan yakin, bisa menjadi wasilah untuk penyelesaian masalah Anda. 
Kembali dengan cerita dosen micro teaching di atas. Beliau melanjutkan, itulah pentingnya melakukan pengulangan saat mengajar. Bisa dengan bertanya kepada peserta ajar setiap memulai kelas, menyampaikan kesimpulan di akhir sesi, atau meminta mereka membuat rangkuman pribadi, berdasarkan pengamatannya sendiri dari yang kita ajarkan. Sehingga, keseluruhan materi, tersadari dengan jelas oleh mereka. (siswa mendapatkan keseluruhan persepsi materi yang kita ajarkan).


Ciganjur, Minggu, 25 Desember 2011 

Rabu, 4 Januari, 2012 07:20

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar