Senin, 09 Januari 2012

Jokowi dalam Perspektif Antropologi, dan Perspektif Lainnya.

Oleh:  Ratmaya Urip

Dear All,

Mencuatnya kembali Isu Mobnas, diakui atau tidak, salah satunya adalah kontribusi Jokowi ketika secara eksklusif mengganti kendaraan dinasnya dari Camry ke Kiat Esemka.

Dalam kesempatan ini saya kembali akan menganalisisnya dari berbagai perspektif, tentang pribadi dan ketokohan Jokowi. Untuk itu jika saya tidak obyektif mohon diingatkan. Karena saya hanya berusaha untuk mengkajinya sebaik mungkin.

Jokowi, walikota Solo kelahiran 21 Juni 1961 atau lahir di bulan yang sama dengan Presiden RI yg pertama dan kedua, dan yg menjabat Walikota Solo sejak 2005 dan saat ini tengah menjabat untuk periode kedua sampai 2015, cukup menarik dikaji sepak terjangnya dalam berbagai perspektif. Untuk itulah berikut ini saya akan berusaha mengkajinya.

JOKOWI DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI BISNIS/EKONOMI:

Jokowi lahir dan dibesarkan di Surakarta, atau di tengah Etnis Jawa, khususnya Sub-Etnis Jawa Mataraman seperti halnya Dahlan Iskan. Wilayah Jawa Mataraman adalah wilayah di Jawa dengan nomor polisi yg menggunakan huruf ganda, yaitu AA, AB, AD, AE, dan AG. Sedang wilayah lain di Jawa selalu menggunakan huruf tunggal, mulai A (Banten), B (Jakarta), D (Bandung), H (Semarang), L (Surabaya), dst sampai Z. Hanya kalau Dahlan Iskan dari AE (eks karesidenan Madiun), sedangkan Jokowi dari eks-Karesidenan Surakarta (AD).

Etnis Jawa, terbagi dalam beberapa sub-etnis, yaitu mulai dari Barat ke timur, yaitu sub-etnis Jawa Cirebonan, Jawa Banyumasan, Jawa Tegalan, Jawa Semarangan atau Jawa Kulonan (untuk istilah teman2 di Jatim bagi penduduk di Wilayah dengan no polisi huruf  S), Jawa Mataraman, Jawa Arek, Jawa Tengger, Jawa Osing, dan Jawa Perantauan (berdomisili di luar negeri dan dalam negeri secara turun temurun, seperti etnis Jawa yg ada di Suriname, New Calidonie,Jawa Lampung, Jawa Deli, Jawa Tondano, Jawa di Banten Utara).

Seperti saya sampaikan sebelumnya, pada umumnya, sub-etnis Jawa Mataraman adalah etnis dengan stereotip  budaya yg tidak suka merantau, tidak suka dengan risiko apalagi risiko tinggi, maunya sedang-sedang saja, "adem-ayem", atau main-streamnya selalu di tengah atau menjadi penengah. Itu terbentuk dan terformulasi dari jargon atau pemeo: "mangan ora mangan kumpul" (makan atau tidak makan harus kumpul), "gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja", "negeri bak zamrud khatulistiwa", "tongkat kayu jadi tanaman", "bukan lautan hanya kolam susu", dll.

Etnis Jawa Mataraman secara umum mendiami wilayah yang subur, maka keengganan untuk merantau merupakan konsekuensi logis. Namun ada wilayah "enclave" dengan ciri atau stereotip sempalan di Jawa Mataraman yg beda, karena suka sekali merantau, karena lingkungannya tdk dapat  memberikan janji bagi kehidupan yg lebih baik karena gersang dan sulit utk tercapainya kehidupan yang layak. Wilayah "enclave" tersebut adalah Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Trenggalek, sebagian Tulung Agung dan sebagian Blitar.

Jokowi, sebenarnya lahir dan dibesarkan di wilayah yg subur di tepian Bengawan Solo, namun kebetulan dari lingkungan keluarga sederhana.

Kuliahnya di Fakultas Kehutanan UGM diselesaikan dengan upaya keras karena ketiadaan biaya.

Selepas selesai kuliah seperti halnya Dahlan Iskan Jokowi langsung mengembara, menuju Aceh, untuk bekerja di BUMN. Namun panggilan utk menjadi pengusaha lebih kuat, maka akhirnya terdampar sebagai pengusaha, yang tidak jauh dari apa yg dipelajarinya semasa kuliah, yaitu sebagai pengusaha Furniture. Padahal tahun 1985, saat dia lulus, biasanya lulusan UGM mendambakan bekerja sebagai birokrat, atau perusahaan negara. Jadi ada anomali dalam diri Jokowi, dengan stereotif Jawa Mataraman pada umumnya. Dengan kata lain, Jokowi, seperti Dahlan Iskan, adalah "pemberontak" terhadap stereotip antropologisnya.

Apalagi pilihan hidup Jokowi sebagai SAUDAGAR atau Pengusaha, bukan PRIYAYi yang dimanifestasikan sebagai birokrat, guru, polisi, militer dan profesi lain yg menjanjikan kemapanan, semakin menguatkan pribadi Jokowi sebagai "pembangkang" bagi stereotip antropologi bisnis/ekonomi yg berkembang pada masa itu.

Namun langkahnya membawa Jokowi menuju kearifan-kearifan, yg memegang peranan bagi kesuksesannya di kemudian hari.

Kearifan bisnis, berkembang sejak menjadi pengusaha furniture. Apalagi interaksinya dengan negara tujuan ekspor, membawa knowledge-nya tidak sekedar hanya menabung kearifan bisnis, namun juga kearifan sosial (kepiawaian menghandle massa tanpa gejolak ketika pembebasan lahan), kearifan budaya (berhasil membawa Solo sebagai tempat penyelenggara atau tuan rumah Organisasi Kota-kota Warisan Dunia thn 2008 dan penyelenggara Festival Musik Dunia thn 2007 dan 2008, dll), kearifan lingkungan (revitalisasi Balekambang dan keaktifannya semasa mahasiswa dalam aktifitas naik gunung dan camping), kearifan dan kesantuan serta kelugasan komunikasi sosial  yang bermuara pada kearifan politik di kemudian hari, sehingga lebih TACIT setelah menjabat sebagai walikota Solo.

Kearifan manajemen khususnya Manajemen Publik erbukti dengan disabetnya penghargaan yg diraihnya ketika dia menjabat Walikota Solo.

Kearifan Ekonomi dan  Bisnis, dll.

JOKOWI DALAM PERSPEKTIF ANTROPOLOGI POLITIK:

Sambil berseloroh, jika berandai-andai sambil bercanda, maka Jika 5 Presiden dari 6 Presiden RI yang dari etnis Jawa, dimana 4 sub-etnis dari Jawa Mataraman (Soekarno, Soeharto, Megawati, SBY), dan 1 etnis dari sub-etnis Jawa Arek campur Jawa Mataraman (Gus Dur) itu di tambah calon Presiden/Wakil Presiden yg banyak diusulkan publik, meskipun pro-kontra masih kental mengiringinya, seperti Dahlan Iskan (AE) atau Jokowi (AD) atau Prabowo Soebiyanto (AA), maka dominasi Jawa Mataraman akan sulit terkejar sementara ini. Maaf ini analisis dari Perspektif Antropologi Politik.

Wilayah Jawa Mataraman adalah wilayah dengan dominasi utama Abangan (Nasionalis), Priyayi (Nasionalis),  Santri Modernis di wilayah urban, Santri Tradisional di wilayah rural, serta sedikit  Santri Fundamentalis yg minoritas.
Maka Partai-partai Nasionalis berjaya di wilayah ini. Disusul Partai Islam Modernis.

Jokowi sendiri adalah seorang Nasionalis Religius yang Modernis.

Komunikasi Politik Jokowi sangat bagus, sehingga banyak diterima oleh banyak kalangan, meski itu lawan2 politiknya. Itulah mengapa Jokowi dapat terpilih utk 2 kali masa jabatan sbg Walikota dengan suara yg relatif hampir mutlak.

Maka ketika lembaga Survey Cyrus Network yg bekerja sama dengan Universitas Indonesia cq. Laboratorium Psychologi Politik mengadakan Survey Politik dalam rangka pencalonan sebagai Gubernur DKI, dia menduduki ranking pertama yg direkomendasikan kepada partai tertentu (The Jakarta Post). Katagori  penilaian waktu itu adalah:
Leadership, intellectuality, political skill, political communication skills, emotional stability, leadership style and physical appearance.

Meskipun menurut saya masih harus dibuktikan dengan pertarungan riil di lapangan. Karena di DKI, kekuatan Nasionalis terpecah2 menjadi beberapa partai, sementara kekuatan partai Islam sangat solid, meskipun juga terpecah dalam berbagai partai. Namun dari beberapa pengalaman pilkada di Indonesia menunjukkan, bahwa partai tdk berpengaruh secara signifikan dibanding ketokohan seorang individu.

JOKOWI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI/BISNIS

Sebagai marketing yg andal sudah terbukti, dengan keberhasilan Jokowi dalam negosiasi2 dagang di luar negeri semasih menjadi pengusaha furniture dan juga dalam kapasitasnya sebagai Ketua Asmindo sebelum menjabat Walikota Solo. Ditambah perannya sebagai "salesman" dalam penjualan Mobnas Kiat Esemka.


JOKOWI DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN

Dalam manajemen bisnis sudah terbukti dengan kesuksesannya membawa perusahaannya waktu itu menembus pasar manca negara, yg kemudian diteruskan dengan kepiawaiannya dalam manajemen pelayanan publik setelah menjabat sebagai Walikota. Terbukti dengan adanya penghargaan utk itu.
Matriks atas kepiawaian dalam Manajemen Bisnis dan Manajemen Publik, diharapkan dapat menancapkan stigma Jokowi  (individu maupun institusi yg di bawah kendalinya) sebagai Pro Bisnis dan Pro Rakyat. 

JOKOWI DALAM PERSPEKTIF KENEGARAWANAN

Jokowi sangat teguh dalam pengambilan keputusan jika dipandangnya itu tidak benar. Itulah mengapa dia berani berseberangan dengan Gubernur Jateng, meski masih satu partai pengusung.

Jika tidak sebagai pamong (Walikota atau Gubernur), kenegarawannya, cocok jika menjadi Menteri Kehutanan (kembali ke jalur basic education), atau Menteri Perdagangan (karena experiences semasa menjadi pengusaha). Jika diberi kesempatan.

Sementara sekian dulu.
Salam Manajemen.

Ratmaya Urip.
Rabu, 4 Januari, 2012 17:44

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar