Kamis, 26 Januari 2012

JIT Seri 1: 7 Waste

Oleh:  Agus Woro

Dear rekan rekan milis, karena saya selama 23 tahun hanya bekerja di dunia manufacturing, saya akan coba secara serial sharing (bukan menggurui atau sok pinter lho)hal hal yg berkaitan dg manajemen di bagian manufacturing, khususnya yg menggunakan perusahaan perusahaan Jepang yg menganut Lean Manufacturing. Mungkin ada rekan rekan dg kompetensi sama yg bisa mengkoreksi atau menambahkan, silahkan. Saya akan mulai dg pembahasan masalah pemborosan "WASTE" yg biasa terjadi di sistem manufacturing.

7 MACAM PEMBOROSAN (WASTE)

Secara prinsip, ada 7 macam pemborosan (waste, muda) yg biasa terjadi di perusahaan manufacturing, biasanya dikenal dg istilah 4MOQS, Material, Mesin, Metode, Manajemen, Orang, Quality dan Safety.

Orang (man)
Merupakan jenis pemborosan yg relatif mudah dikenali dan diatasi, berikut beberapa jenis pemborosan yg biasa terjadi.

Orang hilir mudik
Dengan mengamati gerakan orang (Time motion study), kita bisa melihat dan membedakan gerakan mana yg memang diperlukan (added value movement ) dan gerakan mana yg tidak memberikan nilai tambah ( non added value movement ).
Cara paling sederhana untuk mengamati gerakan orang di pabrik adalah dengan menggunakan kamera video.
Rekam aktivitas di lapangan (Genba) secara detil, amati secara detil setiap gerakan kaki, tangan dan badan.
Amati dan tandai, gerakan mana yg memberikan nilai tambah dan mana yg merupakan pemborosan.
Catat waktu yg dipakai untuk melakukan setiap gerakan tsb.
Lakukan proses perbaikan dan simulasi di lapangan untuk menghilangkan setiap gerakan yg merupakan pemborosan

Orang diam sambil melihat mesin bekerja
Biasanya jenis pemborosan ini terjadi pada operator mesin/peralatan yg beroperasi secara otomatis seperti mesin NC, CNC.
Operator mesin biasanya akan diam sambil melihat mesin bekerja setelah selesai memasukkan barang ke mesin dg alasan kuatir kalau terjadi kesalahan.
Salah satu cara yg biasa dipakai untuk menghilangkan jenis pemborosan ini adalah penambahan alat bantu yg dipasang di mesin yg bisa mendeteksi dan menghentikan operasi mesin bilamana terjadi kesalahan. Cara ini biasa disebut “Jidoka” ( human automation).
Perlu difahami perbedaan antara “mesin otomatis” dg “human automation”. Mesin otomatis akan bekerja secara otomatis. Sedang “human automation”, selain bekerja secara otomatis, mesin seolah mempunyai inteligensi/kecerdasan untuk menghentikan pengoperasian mesin bila terjadi kesalahan.
Cara paling sederhana untuk membuat mesin Jidoka adalah dg bertanya kepada operator mesin, “kenapa dia masih berada disamping mesin saat mesin bekerja” ?. Lalu pikirkan alat bantu yg bisa ditambahkan ke mesin untuk bisa mengambil alih tugas tsb.

Mencari sesuatu
Biasanya pada saat awal setting mesin atau pergantian produk, operator hilir mudik mencari sesuatu untuk setting atau persiapan peralatan saat pergantian produk (dandori). Semakin tidak tertata lingkungan pabrik, semakin besar waktu yg hilang untuk persiapan.
Cara paling praktis dan umum dilakukan adalah dengan membuat lingkungan kerja se-“Ringkas” dan se-“Rapi” mungkin.
Ringkas (Seiri, Proper arrangement) dan Rapi (Seiton, Orderliness) merupakan 2 komponen 5 R (Ringkas,Rapi,Resik,Rawat dan Rajin) atau 5 S ( Seiri, Seiton, Seiso,Seiketsu,Shitsuke) merupakan pondasi yg mutlak dibangun sebelum penerapan JIT, secara lebih rinci akan dibahas di bab tersendiri.

Mesin

Penggunaan mesin/peralatan besar dg kapasitas berlebih.
Kadang dg alasan supaya bisa dipergunakan untuk segala keperluan, baik beban kecil maupun besar, perusahaan melakukan investasi pembelian mesin dg kapasitas berlebih (over capacity). Saat loading produksi kecil, maka mesin hanya beroperasi jauh dibawah kapasitas terpasang.
Selain terjadi pemborosan nilai investasi, biaya operasional juga membengkak. Sebagai contoh, tungku pemanas (oven/heater) kapasitas 50 KVA akan tetap memakan energi besar meskipun beban/loading yg dimasukkan jauh dibawah kapasitasnya. Biaya perawatan mesin lebih tinggi, ruang yg dipergunakan lebih luas. Fleksibilitas mesin juga berkurang karena harus menunggu loading minimum.
Gunakan mesin sesuai dg kapasitas produksi yg diperlukan.
Salah satu target JIT adalah “zero inventory” yg bisa dicapai dg menerapkan”single piece flow”. Kedua hal ini akan dibahas di bagian terpisah.

Pemborosan operasi mesin
Kalau kita amati lebih detil gerakan mesin saat beroperasi, kita akan bisa melihat, mana gerakan mesin yg memberikan nilai tambah dan gerakan mana yg merupakan pemborosan. Sebagai contoh, pada proses dg menggunakan mesin press (stamping), sangat mudah dilihat, gerakan mana yg hanya mengepres udara dan gerakan yg mengepres benda kerja. Kita bisa hilangkan pemborosan ini dg memperkecil gerakan mesin.
Untuk proses permesinan, bisa diamati putaran alat potong (cutting tools) yg hanya memotong udara secara sia sia.
Selain itu, kita bisa evaluasi apakah mesin sudah beroperasi pada kodisi optimum sesuai dg kondisi yg seharusnya. Sering kali terjadi, mesin beroperasi pada kecepatan rendah karena ketidak tahuan operator lapangan dalam mengoperasikan mesin, sekedar meneruskan setting pendahulunya.
Pelajari manual mesin dan kondisi pengoperasian yg seharusnya terjadi.

Mesin rusak
Saat terjadi kerusakan mesin, proses produksi berhenti, banyak waktu yg terbuang sia sia. Banyak sekali kerugian yg ditimbulkan saat proses produksi terhenti karena terjadi kerusakan mesin. Untuk itu penting sekali menjaga kondisi mesin supaya selalu bisa beroperasi secara optimal dg melakukan “Preventive Maintenance”. Ada 3 hal dasar sederhana yg bisa dilakukan dg segera untuk meminimalkan kerusakan mesin (Breakdown) yaitu penerapan CCL ( Checking, Cleaning,Lubrication) yg bisa dilakukan oleh para operator mesin.

Material

Sering kita temui banyak material yg tidak diperlukan berserakan disekitar area kerja mesin. Selain mengganggu kelancaran opersional, material ini memakan tempat, menyita waktu untuk pengaturannya, dan terutama memakan biaya saat pengadaannya (inventory cost). Gunakan strategi 5R untuk mengatasi masalah ini.

Produksi yg menggunakan sistem lot juga menimbulkan inventory (WIP, work in process) yg cukup besar di tiap titik prosesnya. Secara prinsip, inventory memberikan indikasi besarnya pemborosan pemborosan yg ada. Semakin besar inventory, semakin besar pemborosan yg ada. Bahkan salah satu target aktivitas JIT adala “zero inventory”, karena besarnya pemborosan yg ditimbulkan oleh inventory. Masalah inventory akan dibahas lebih rinci di bagian tersendiri.

Manajemen

Meeting
Dalam operasional sehari hari, banyak sekali agenda meeting yg dilakukan oleh manajemen, meeting produksi, meeting marketing, meeting ppc dll. Kebanyakan meeting berlangsung secara tidak efisien dan tidak produktif. Banyak peserta meeting yg sebetulnya tidak diperlukan, hanya diam mendengarkan tanpa aktif berpartisipasi, bahkan kadang justru terjadi pembahasan diluar agenda meeting. Waktu meeting yg tidak terkontrol, peserta yg terlalu banyak tanpa menghasilkan keputusan yg berarti. Secara prinsip, meeting adalah waste, jadi harus dikelola secara benar. Hindari meeting dg banyak peserta, khususnya pelaksana lapangan. Tentukan topik secara spesifik dg batasan waktu meeting seminimal mungkin, kebanyakan meeting diatas 30 menit sudah tidak produktif lagi.

Administrasi
Dalam banyak kasus, kelancaran opersional lapangan banyak terganggu karena aktifitas administrasi. Pengisian check sheet, formulir yg rumit, pembuatan laporan yg tidak diperlukan, proses persetujuan (approval) dll.
Evaluasi ulang “Flow Process” administratif yg ada dan form form yg beredar. Lakukan simplifikasi prosedure, hilangkan pekerjaan pekerjaan yg sifatnya paper work. Gunakan kemajuan teknologi praktis yg sesuai seperti penggunaan barcode misalnya.

Metode

Pada sistem produksi yg menggunakan sistem lot (“shish-kabob”), biasanya terjadi cukup banyak pemborosan seperti berikut ini,
-Inventory yg besar
-Lead time manufacturing yg lama
-Memerlukan Space/ruang yg besar
-Material handling

Inventory yg besar akan membuat banyak problem di pabrik yg tidak kelihatan, seperti kerusakan mesin, reject, rework, kecepatan produksi yg tidak balance, dll.

Quality

Banyak sekali energi (baca: cost) yg terbuang saat terjadi kesalahan yg menyebabkan cacat produk. Kadang kita menganggap ringan permasalahan hanya karena produk masih bisa di repair.
Untuk menjaga kualitas, banyak perusahaan yg menerapkan sistem pengecekan yg berlapis lapis yg pada dasarnya hanya akan menambah biaya produksi saja.
Dalam konsep JIT, Quality dibangun di setiap titik proses, dari awal sampai akhir, konsep ini biasa disebut BIQ ( Built in Quality). Ada 2 tools yg biasa dipergunakan dalam implementasi BIQ, Human Automation (Jidoka) dan Fault proof device (poka-yoke). Jidoka merupakan sistem otomasi yg mempunyai kecerdasan untuk menghentikan proses bila terjadi kesalahantan. Dengan demikian proses bisa berjalan secara otomatis tanpa memerlukan pengawasan operator tanpa takut terjadi kesalahan. Operator bisa mengerjakan hal hal lain yg lebih mempunyai nilai tambah dari sekedar mengawasi proses operasi mesin.
Pokayoke merupakan alat bantu yg kita tambahkan pada mesin/peralatan untuk mencegah terjadinya cacat produk karena kesalahan proses. Proses tidak bisa berjalan kalau kondisi yg diperlukan tidak dipenuhi, misalnya seharusnya ada lubang awal tapi lubang tidak ada. Dengan demikian cacat produk bisa dicegah dari dini sebelum proses berjalan. Kedua tools ini akan dibahas di chapter tersendiri .

Safety

Kecelakaan kerja merupakan salah satu bentuk pemborosan yg harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh karyawan dan manajemen. Selain menimbulkan cost yg cukup besar saat terjadi line stop maupun saat penanganan masalah, juga berdampak significant terhadap suasana kerja setelah terjadi kecelakaan.
Untuk itu, hal-hal yg berkaitan dg keselamatan kerja harus selalu disertakan dalam standar prosedure kerja yg ada (SOP), dan pihak manajemen harus selalu mengkampanyekan pentingnya mentaati prosedure keselamatan kerja yg ada.

Pemborosan di jalur Produksi

Berikut adalah jenis jenis pemborosan yg biasa terjadi di jalur produksi:

Inventory

Pada dasarnya inventory merupakan salah satu wujud akumulasi pemborosan yg ada di jalur produksi. Besar kecilnya inventory bisa menjadi tolok ukur seberapa efisien dan efektifnya sistem produksi yg ada. Dalam sistem produksi yg menggunakan sistem Lot, maka semakin besar jumlah produk dalam 1 lot, semakin besar inventory yg ditimbulkan.
Inventory merupakan salah satu target utama untuk dihilangkan dalam sistem JIT (zero inventory).

Inventory biasanya timbul karena beberapa hal berikut:

1. Kapasitas proses yg tidak seimbang antara satu proses dg proses berikutnya.
Bila kapasitas proses sebelumnya lebih besar dari kapasitas proses berikutnya, maka output dari proses sebelumnya akan menunggu antrian untuk diproses berikutnya.
Jenis pemborosan ini bisa dihilangkan dg melakukan studi untuk membuat kapasitas antar proses menjadi seimbang (line balancing, time motion study). Setelah itu, turunkan secara bertahap jumlah produk dalam 1 lot.

2. Menghindari proses pergantian model/produk.
Pada perusahaan yg mempunyai banyak produk/model, kebanyakan menggunakan sistem produksi dg jumlah satuan lot yg cukup besar dg alasan untuk menghindari pemborosan waktu saat pergantian peralatan dan setting (dandori). Akibatnya timbul inventory yg cukup besar di jalur produksi maupun di finished goods.
Lakukan improvement untuk memperkecil waktu pergantian produk dan setting, gunakan beberapa teknis otomasi dan sistem plug in – plug out.

3. Customer Service
Kadang dg alasan untuk memperbaiki pelayanan kepada pelanggan, khususnya untuk memenuhi ketepatan waktu delivery dan permintaan mendadak customer, manajemen mengambil kebijakan membuat stok finished goods. Stok finished goods yg berlebihan, selain memakan tempat dan biaya produksi yg tinggi, juga akan menenggelamkan permasalahan permasalahan yg ada di jalur produksi.

Transportasi

Pada dasarnya transportasi antar proses merupakan pemborosan karena tidak memberikan nilai tambah pada produk. Investasi alat transport yg diperlukan, operator untuk menggerakkan barang, waktu yg terbuang, resiko kerusakan yg bisa timbul saat barang dipindahkan merupakan sebagian pemborosan yg bisa dilihat.
Dekatkan peralatan antar proses, lakukan studi untuk mengecilkan jumlah barang dalam 1 lot sampai jumlah barang dalam 1 lot = 1 ( one piece flow). Sesuaikan kapasitas peralatan dg kapasitas produksi

Proses

Kebanyakan para operator dan leader di lapangan merasa sudah melakukan proses dg benar dan merasa nyaman dg kondisi proses yg ada karena sudah bertahun tahun menjalani proses yg sama.
Dengan mengamati secara detil setiap proses yg ada, kita bisa menemukan proses mana yg merupakan pemborosan dan proses mana yg memberikan nilai tambah ke produk. Amati waktu proses (cycle time) dari setiap proses yg ada, buang gerakan/proses yg tidak memberikan nilai tambah ke produk.
Evaluasi juga apakah proses yg ada saat ini sudah benar, apakah proses sudah berjalan dg menggunakan parameter yg benar, adakah proses pengganti yg lebih efektif dan efisien ?

Inspeksi

Sama dg transportasi, pada prinsipnya proses inspeksi merupakan pemborosan karena tidak memberikan nilai tambah pada produk yg di inspeksi.
Proses inspeksi dilakukan untuk menghindari komplain customer karena lolosnya produk cacat ke tangan customer. Perusahaan tidak yakin akan kualitas hasil dari proses produksi yg ada.
Dengan membangun kualitas di setiap titik proses (BIQ), dan penerapan pokayoke di tiap titik rawan cacat, secara prinsip proses inspeksi bisa dihilangkan.

Minggu, 22 Januari, 2012 06:27

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar