Senin, 09 Januari 2012

KNOWLEDGE MANAGEMENT

Oleh:  Ratmaya Urip

Ibu Barokah Sri Utami,

Knowledge Management akan lebih berhasil diterapkan pada organisasi dengan kemampuan pengelolaan people yg sudah menerapkan Human Capital Management (HCM) secara benar. Bukan yg masih menerapkan Human Resource Management (HRM), atau sdh HCM namun hanya sebatas nama, sedang aplikasinya masih HRM.

Beda antara HCM dan HRM sudah beberapa kali saya sampaikan di milis ini.
Untuk "reminding", saya kembali akan saya sampaikan secara singkat sbb:

HUMAN RESOURCE MANAGEMENT (HRM):

Masih 2 dimensi, secara umum hanya berkutat pada pengelolaan ABILITY/CAPABILITY (skill and knowledge) serta MORAL (attitude and behavior).

Maka matrix pengelolaannya hanya dua dimensi. Yang sering disebut The Iceberg Model atau Model Gunung Es. Dimana Ability adalah bagian yg ada di atas gunung es, sedang Moral adalah bagian yg ada di bawah gunung es. Bagi praktisi maupun akademisi Human Resource Management, saya yakin cukup paham.

Dalam HRM, Human Resource Frameworknya secara generik biasanya siklusnya berawal dari Corporate Strategic Business Plan, kemudian di "deploy" atau di "cascade" menjadi Corporate HR, terus ke bawah lagi menjadi Planning, Acquiring, Developing, Maintaining, Retaining dst.

Ada juga yang menggunakan HR Framework dengan siklus lain contohnya: Corporate Strategic Business Plan di "cascade" atau di "deploy" menjadi HR Planning, Recruitment, Remuneration, Personal Performance Management, Competency Development, Discipline Management, Career Movement, dst.

Dalam HRM, Knowledge Management yg ada lebih berat ke EXPLICIT KNOWLEDGE, belum begitu mengarah (meskipun ada yg sudah sampai) ke TACIT KNOWLEDGE.

Tentang apakah itu EXPLICIT KNOWLEDGE atau TACIT KNOWLEDGE, saya yakin Ibu sudah cukup memahami. Sehingga saya tidak perlu menyampaikan di sini.

HUMAN CAPITAL MANAGEMENT (HCM)

Pengelolaannya sudah harus 3 dimensi. Disamping 2 dimensi yg ada di HRM yaitu Ability (skill and knowledge) serta Moral (Attitude and Behavior), wajib ada dimensi ke-3, yaitu ARTS (creativity/innovation, acceptability, adabtability/flexibility, dll, yg wajib dapat berkontribusi pada pencapaian HUMAN CREDITABILITY atau HUMAN HONORABILITY atau HUMAN RECOGNIZABILITY, sehingga akan benar-benar diperoleh HUMAN VALUE, untuk dapat disebut sebagai HUMAN ASSET atau bahkan HUMAN CAPITAL, bukan hanya Human Resource.

Human Capital Framework (HCF) untuk HCM ada penyempurnaan jika dibanding HCF pada HRM


Dalam HRM mungkin hanya berkorelasi dengan Faktor Produksi 5M atau sampai 7M, sedang HCM berkorelasi dengan 12 M. Yang saya sebut sebagai Faktor Kelola. Intip tentang Faktor Kelola atau 12 M ini di Blog saya:

http://ratmayaurip.blogspot.com

Atau di Blog TMI:

www.themanagers.org

Dalam 12 M, ada 2 M yg wajib sebagai acuan utama bagi HCM, yaitu Manpower dan MAGNATE. Tapi jangan abaikan 10 M lainnya, karena HCM melingkupi seluruh M.

Dalam HCM kita juga wajib mengelola FOLLOWERSHIP, tidak hanya LEADERSHIP saja.

¤¤¤¤¤¤¤¤

Sekarang kita kembali ke pertanyaan Ibu. Tentang Pertanyaan Ibu, aplikasi atau letak Knowledge Management dalam Organisasi, dapat saya jawab sbb;

Jawaban saya: Tergantung dari beberapa hal. Untuk itu inilah penjelasannya:

1. Yang paling generik, bentuk saja badan ad-hoc internal atau Tim Task Force yg bertugas sementara waktu. Seperti halnya jika dilakukan penerapan awal ISO Series, TQM, 5S, MBNQA, Six-Sigma, TPM, dsb. Ada Tim Pengarah, Tim Eksekutip dan Supporting Team, dengan Job Desc. yang jelas.

Setelah jalan baru nanti diserahterimakan ke unit kerja yang paling tepat menangani. Dapat ke HCM Department. Atau Departemen Khusus, jika dipandang bahwa masalah HCM adalah masalah krusiak. Sehingga sampai ada Direktorat HCGA (Human Capital and General Affair) yang membawahi juga Knowledge Management.

2. Langsung masuk unit kerja tertentu atau dibentuk unit kerja tertentu, supaya langsung dapat menjiwai.


Yang pasti tergantung besarnya organisasi, tingkat kepentingannya, dan yang terpenting tergantung BUSINESS PROCESS-nya. Karena masalah MANNING, tergantung dari Business Process-nya.

Knowledge Management juga wajib ada KPI-nya.

Untuk penjelasan lebih rinci memang harus saya lakukan dengan tatap muka, karena lebih mudah dijelaskan dengan bagan-bagan.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip
Kredo: TEORI tanpa PRAKTEK itu OMONG KOSONG, sedang PRAKTEK tanpa TEORI itu NGAWUR

Rabu, 4 Januari, 2012 05:21

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar