Minggu, 08 Januari 2012

Dahlan Iskan dalam Perspektif Manajemen (Seri-3)

Oleh:  Ratmaya Urip

Anggota Milis TMI yang berbahagia,

Berikut lanjutan analisis saya:

DAHLAN ISKAN DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN

Bicara masalah manajemen memang terlalu luas cakupannya. Maka saya hanya akan menyampaikan analisis praktis dan yg paling mudah dipahami.

Management Style

Dijelaskan di perspektif sebelumnya bahwa selama beberapa abad, korporasi global didominasi oleh Western Style dan Japan Style. Western Style sendiri dibagi menjadi European Style dan US Style.

Selama lebih dari satu abad korporasi dengan Western Style merajai bisnis global, yang disusul oleh korporasi dengan Japan Style yg menyusul setelah recovery Jepang sehabis Perang Dunia 2.

Kinerja General Motor, Ford Motor, Toyota Motor di Industri otomotif, dan Exxon-Mobil, BP,  Chevron, Shell di oil selama beberapa dasa warsa telah merajai Fortune 500 Global.

Setelah krisis thn 1998, Wallmart yg bisnisnya adalah retail business merangsek masuk, diikuti sejumlah korporasi China dengan sangat meyakinkan.
Puncaknya adalah tahun 2011 kemarin, dimana China menempatkan 3 korporasi di 10 Besar, menyamai USA yg hanya menempatkan 3 korporasi, dan di atas Jepang yang hanya 2 korporasi. Lainnya adalah masing-masing 1 korporasi direbut oleh Inggris dan Belanda.

Meskipun di Top 500 China hanya menempatkan 61 korporasi, atau ranking ke-3 di bawah USA dengan 133 korporasi dan Jepang dengan 68 korporasi, namun setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.

Dengan penempatan Dahlan Iskan yang memiliki "aliran" China Style, diharapkan akan membawa sejumlah perusahaan yg tergabung dalam BUMN untuk dapat meraih mimpi dapat masuk di Fortune 500 Global. Tentu saja merealisasikan mimpi tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena milieu atau environment "ipoleksosbud" pasti akan memberikan tekanan yg besar bagi kiprahnya.

Catatan: Tentang Western Style, Japan Style dan China Style saya sudah menyampaikan dalam artikel2 sebelumnya.

Yang belum adalah Malaysia Style. Yang akan saya sampaikan di kesempatan lain.

Yang pasti, Malaysia Style telah membawa Petronas merangsek di peringkat 86 Fortune 500 Global thn 2011, dan menjadi raja korporasi Asia Tenggara

Perlu diketahui, korporasi2 dari Asia Tenggara, hanya 4 korporasi saja yg dapat menikmati Fortune Global 500 sampai thn 2011. Yaitu Petronas sebagai raja korporasi Asia Tenggara (di samping sepak bola), di peringkat 86, disusul PTT Public Company Ltd dari Thailand di peringkat 128, dan Flextronics International Inc di peringkat 350 serta Wilmar International Ltd di peringkat 353, yg keduanya dari Singapore.

Lantas mengapa Indonesia (baik BUMN atau Swasta) kalah dengan negara2 Asia Tenggara tersebut? Kapan Pertamina, Astra, Gudang Garam, BCA, Telkom, BRI, Bank Mandiri, KPC, Adaro dapat masuk?

China Style, sebenarnya adalah alternative style yang me-matrix-an beberapa aspek yang saling berhadapan. Dengan kata lain ada fleksibilitas aksi.

Matrix atas Result-based Management vs Process-based Management.

Matrix atas knowledge-based economy vs resource-based economy

Matrix atas operation-based excellence vs innovation-based excellence

Di samping itu masih ada matrix-matrix lainnya.

Ingat China itu luwes atau flexible. Mereka selalu berbisnis berbasis antropologi bisnis.

Bisnis dengan mitra yg mendahulukan kualitas, seperti dengan Eropa dan USA, mereka dapat memenuhi requirements-nya. Benar2 produk dengan kualitas baik, namun harganya sangat bersaing.

Bisnis dengan Indonesia yg stereotip antropologisnya tdk mementingkan kualitas namun lebih ke harga murah, mereka juga ok saja.
Meskipun di negeri ini, produk2 China akhirnya berkonotasi murahan dan rusakan.

Dengan big push dan secara frontal, seluruh kawasan di seluruh dunia dimasuki berbekal kemampuan antropologi bisnis yg piawai.

Itulah nanti yang nampaknya akan dibawa Dahlan Iskan.

Kedekatannya dengan China, mungkin saja akan membuat korporasi dengan Japan Style dan Western Style gerah dan resah.

Tentu saja diharapkan, meski dengan China Style, produk2 yg dihasilkan oleh Dahlan Iskan dengan BUMN-nya, memiliki kualitas dengan standar kualitas seperti yang masuk ke negara2 maju. Bukan berkualitas seperti yg selama ini membanjiri negeri ini.

(BERSAMBUNG)

Salam Manajemen

Ratmaya Urip
Senin, 2 Januari, 2012 08:31

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar