Sabtu, 28 Januari 2012

Presenting The Future

Oleh:  Dadang  Kadarusman


Hore, Hari Baru! Teman-teman.
 
Catatan Kepala: ”Tidak seorang pun tahu pasti yang akan terjadi dimasa depan. Namun kita bisa memperkirakannya dari cara hidup masa kini.”
 
Presenting the future. Kalimat yang menarik, bukan? Membawa masa depan kepada kekinian. Maaf, kalimat ini bukan sebuah jargon yang sekedar enak didengar atau keren untuk diucapkan. Bagi saya, kalimat itu memiliki makna yang teramat dalam. Mengapa? Karena kita semua menginginkan masa depan yang lebih baik, bukan? Kita terikat kepada masa depan. Itulah sebabnya mengapa kita menabung. Mengapa kita bekerja. Mengapa kita menjalani hari-hari kita dengan yang seharusnya. Karena jika tidak ada masa depan, mungkin kita sudah sejak lama menyerah. Jika tidak ada masa depan, mengapa Anda mau bersusah payah melakukan pekerjaan itu? Jika tidak ada masa depan, mengapa Anda masih mau keluar rumah pagi-pagi sekali, berjibaku dibawah tatapan matahari, dan baru pulang dimalam hari? Masa depan, itulah alasan kita. Pertanyaannya adalah; masa depan kita akan menjadi seperti apa ya……?    
 
Pekan lalu, saya berkesempatan untuk menjadi narasumber dalam sharing session di The Jakarta Futures Exchange (JFX). Dalam hubungan dengan JFX itulah saya pertama kali mengenal motto itu. Sekarang Anda tahu jika kalimat itu bukan saya yang membuat. Saya meminjamnya dari JFX yang tengah berbenah diri melakukan perubahan untuk menuju masa depan yang lebih baik. Jauh-jauh ngomongin JFX, buat kita pribadi apa manfaatnya? Oh, banyak sekali. Kalau JFX melakukan perubahan di tingkat korporasi, maka kita bisa melakukannya di tingkat pribadi. Perusahaan berbicara soal visi. Kita pun sama-sama ingin melihat masa depan yang lebih baik. Maka presenting the future itu memiliki revelansi yang tinggi dengan proses pertumbuhan setiap pribadi. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar dari motto presenting the future, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:
 
1.      Mulai dengan membidik ke masa depan. Membidik ke masa depan adalah langkah pertama yang perlu kita lakukan. ‘The future’, kalau kata teman-teman di JFX. Dimasa depan ada begitu banyak alternatif atau pilihan berupa berbagai kemungkinan. Nah, kita mau memilih kemungkinan yang mana. Sederhananya, kita ingin mewujudkan masa depan seperti apa. Jadi dasarnya bukanlah menebak-nebak masa depan kita ‘akan’ menjadi seperti apa. Melainkan kita merancangnya ‘supaya’ menjadi seperti apa. Lho, apakah ada bedanya? Ada. Meramalkan akan menjadi seperti apa masa depan itu hanya sekedar ‘nrimo’. Hanya meneropong. Apapun yang akan terjadi, ya kita sekedar tahu. Kalau sudah tahu, so what? Kalaupun ada gunanya hanya sedikit. Tetapi merancangnya supaya menjadi apa, memiliki arti yang berbeda sekali. Itu adalah geliat. Cita-cita. Atau tekad.  Kita melihat adanya kemungkinan bahwa masa depan kita akan menjadi seperti yang kita inginkan. Maka begitu melihat alternatif itu, kita membidiknya kearah itu. Bukankah kita selalu mempunyai kemerdekaan untuk berjalan kearah mana saja? Jika demikian, kita pun merdeka untuk membidik masa depan pada opsi atau pilihan kemungkinan yang mana pun.
 
2.      Tetap berpijak kepada hari ini. Mengejar masa depan sering membuat kita lupa untuk berpijak pada hari ini. Padahal, tidak ada masa depan yang ‘putus hubungan’ dengan hari ini. ‘The present’, teman-teman di JFX bilang. Ada keterkaitan erat antara the future dengan the present. Maka tugas kita adalah ‘presenting the future’, yaitu; menjadikan masa depan sebagai agenda utama kita hari ini. Sederhananya, kita perlu mengindahkan tindakan dan perilaku kita hari ini agar bisa mendukung terwujudnya masa depan yang kita inginkan. Mari perhatikan sekali lagi, betapa kita mengimpikan masa depan yang indah dan menyenangkan. Kita tahu bahwa untuk mewujudkannya kita harus memiliki kualitas pribadi tertentu, misalnya. Namun, hari-hari kita tidak dijalani dengan usaha untuk mengasah diri hingga mencapai tingkatan yang memungkinkan kita mewujudkan masa depan itu. Jika kita menyia-nyiakan hari ini, maka jalan menuju ke masa depan yang kita inginkan akan menjadi semakin panjang. Sebaliknya jika kita benar-benar mengoptimalkan ‘hari ini’, maka kita memiliki peluang lebih besar untuk meraih apa yang kita inginkan.  
 
3.      Lintasi naik-turun perjalanannya. Jika kita masih merasa perjalanan ini hanya menanjak saja atau menurun melulu, mungkin kita belum berjalan cukup jauh. Jadi, jangan dulu mengeluh. Beratnya tanjakan. Atau mengerikannya turunan curam. Itu hanya sementara saja. Jika yakin bahwa itu jalan terbaik menuju ke masa depan yang kita inginkan itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali menjalaninya, bukan? Kecuali jika Anda tidak yakin. Ya jangan tinggal terus di jalan itu dong. Cari, jalan mana yang Anda yakini. Harga komoditas juga sama; kadang naik, kadang turun. Saat naik teman-teman di JFX gembira karena kenaikan itu mengindikasikan peluang mendapatkan laba. Pada saat turun juga teman-teman JFX tetap gembira, karena itu mengisyaratkan untuk bersiap-siap menanamkan investasinya. Kita, mungkin perlu belajar kepada mereka. Agar ketika melintasi jalan mendaki kita tetap optimis bahwa pendakian itu akan membuat nilai diri kita semakin tinggi. Sedangkan ketika meluncur pada turunan curam, kita juga tetap yakin bahwa turunan itu bisa menumbuhkan rasa syukur yang mendalam. Dengan begitu, kita selalu memiliki optimisme yang ditemani oleh rasa syukur. Sebab, optimisme memberi kita energy untuk terus melangkah. Sedangkan rasa syukur memampukan kita untuk menikmati apa yang kita miliki. Jadi, saat melintasi jalur naik dan turunnya; ya jalani saja.
 
4.      Waspada terhadap berbagai godaannya. Di sepanjang perjalanan kita ada banyak sekali persimpangan, perempatan atau pertigaan. Banyak juga jalan kecil dan gang. Semuanya bisa membelokkan kita kearah yang tidak menuju ke tempat yang kita ingin datangi. Perjuangan kita juga selalu dirubungi oleh berbagai macam godaan. Diantaranya berupa kenikmatan dan kesenangan yang memiliki daya tarik sedemikian besarnya. Sejak kemarin misalnya, layar televisi kita dipenuhi oleh tayangan sebuah sidang yang menghadirkan saksi seorang pejabat tinggi keuangan di sebuah perusahaan. Dari kesaksian beliau, terungkap nama-nama populer yang sesungguhnya memiliki masa depan yang cemerlang. Dalam 10-30 tahun mendatang beliau-beliau itu bisa meraih pencapaian yang sangat tinggi. Namun persidangan itu mengungkapkan betapa besarnya godaan kenikmatan. Jika semuanya itu terbukti, mungkin kita akan melihat perjalanan orang-orang cemerlang terhenti di sebuah belokan tajam yang pada awalnya terlihat indah; namun ternyata membawa para penempuhnya ke jurang kejatuhan. Perjalanan kita menuju masa depan pasti diwarnai berbagai godaan. Semoga kita semua mampu untuk mengatasinya.
 
5.      Menyiapkan masa depan yang sebenarnya. Masa depan yang Anda maksud itu seperti apa sih?  Usia 45 tahun sudah kaya raya? Pada saat pensiun sudah punya sawah atau kantor megah? Percayalah, saya pun memiliki keinginan yang sama dengan semua yang Anda inginkan itu. Pertanyaannya adalah; jika nanti kita sudah mencapai semua itu, lantas kita akan menggunakannya untuk apa? Diwariskan pada keturunan. Bagus. Dibelikan pulau pribadi. Mantap. Dibuatkan tugu peringatan. Keren. Apa lagi? Jika hanya sekedar seperti itu, apa iya yang kita lakukan untuk meraihnya benar-benar sepadan? Jika setelah meninggal kita tidak lagi menikmatinya, apa masih layak dikejar ya? Oh, tentu saja. Kita pantas mengejarnya. Namun, kita perlu selalu mengingat bahwa ada ‘masa depan’ lain yang menanti kita. Yaitu masa depan yang kualitasnya ditentukan oleh jawaban atas pertanyaan ini;’selama hidup, elo ngapain aja?’. “Duit elo yang banyak itu, datangnya dari mana?’. “Pegimane cara mendapatkannya?’. Dan satu lagi; “Pegimane elo membelanjakannya….?’. Secara pribadi saya mengharapkan pertanyaan seperti itu. Bukan hendak menantang Tuhan. Melainkan mengharapkan keadilan. Supaya orang-orang baik mendapatkan imbalan atas kebaikannya. Sedangkan orang-orang yang telah berbuat semena-mena belajar bertanggungjawab atas perbuatannya. Dengan kesadaran itu, semoga kita lebih tertarik untuk menyiapkan masa depan yang sebenarnya itu.
 
Di JFX, kita bisa membuat kesepakatan tentang harga komoditas untuk jangka waktu tertentu dimasa depan. Begitu jatuh tempo, kita mendapatkan jaminan harga sesuai yang tertera dalam kontrak, meskipun di pasar sedang terjadi kekacauan. Guru kehidupan saya bercerita tentang sebuah kontrak yang sudah disepakati oleh setiap insan. Yaitu kontrak yang dibuat antara dirinya dengan tuhannya jauh sebelum dia dilahirkan. Bunyinya begini; “Alastu birobbikum?” (Bersediakah engkau bersaksi bahwa aku adalah satu-satunya tuhanmu?) Begitu Tuhan bertanya. Lalu ruh yang belum dipertemukan dengan jasad itu menjawab; “Balaa, syahidna” (Benar Tuhanku, aku menjadi saksi atasnya). Perjanjian itu terjadi antara setiap pribadi dengan Sang Pencipta. Dan dimasa depan, Tuhan akan menagih janji itu. Janji yang sepatutnya tidak berubah. Karena apapun yang terjadi diluar sana, nilai perjanjian kita tetap berlaku. Siapkah kita untuk memenuhi seluruh isi perjanjian itu jika kelak tiba saatnya naskah perjanjian yang kita buat itu telah ‘jatuh tempo’? Semoga.
 
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman  26 JaNEWary 2012
Trainer of ADAPTING TO CHANGE In-house program
 
Catatan Kaki:
Masa depan kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Maka berbaik-baiklah pada hari ini.
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya. 
 
Rabu, 25 Januari, 2012 20:48

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar