Senin, 09 Januari 2012

Pengaruh Kepemimpinan



Pengaruh Kepemimpinan [leadership influence that exists till now on]Sekedar penyegar tentang kepemimpinan yang adalah bentuk dari hukum "pengaruh" [influence] bekerja.
Mohon dibaca dengan nuansa "human value" atau "human capital" today, sehingga kepemimpinan kita mengerti sebagai 2 sisi lengkapnya as follower and as leader. Dahulu dan sekarang, hanya ada sedikit pergeseran paradigm tentang kepemimpinan, misalnya: dari hukum kekuasaan bergeser ke hukum pengaruh. "The key to successful leadership today is influence, not authority." wejangan sejak tahun 1970-an onwards oleh om Kenneth Blanchard, penulis & speaker leadership dari San Diego, California. Tak banyak perkembangan di bidang the essense of leadership.

BagaimanapengaruhAnda bekerja kepada orang lain?
 
1. Pikiran, kata & tindakan : jika seseorang suka membuat janji kosong entah sebagai follower atau sebagai leader, pengaruhnya berkurang dan sebaliknya. Jika ia jujur, pengaruhnya meningkat tajam] "Do not do to others what you do not want done to yourself"  [Confucius, thinker, philosopher China kuno, era 400-500 SM].
2. Keteladanan : jika pengikut dan pemimpin bersikap dan bertindak senantiasa jujur, pengaruhnya pasti meningkat.  
          Jika ia rela berkorban demi tim, pengaruhnya meningkat 2x lipat. Ingat-ingat juga nasehat penyegar Zig Ziglar
          tentang "attitude, aptitude dan latitude."   
3. Visi dan misi : jika ia memiliki pandangan jauh ke depan, pengaruhnya meningkat dan jika ia berhenti berfikir, berjuang dan membawa perubahan, pengaruhnya datar-datar saja, baik di organisasi, personal dan masyarakat. Ingat nasehat Henry Kissinger, political scientist dan diplomat Amerika era th 1970-an:  "the task of the leader is to get his [and her] people from where they are to where they have not been."
   
Silahkan disimak dan diresapi nasehat-nasehat bijak tentang the core of leadership lainnya, yang disarikan dengan sangat elegan oleh pemikir dan pelaku, om John C. Maxwell abad 21 dalam “21 Hukum Kepemimpinan Sejati” [edisi bahasa Indonesia] yang populer di era kekinian. Nasehat John tentang "natural influence" yang sangat melegenda adalah: "hal pertama yang pemimpin lakukan adalah memimpin dirinya sendiri, baru orang lain dan leadership is all about influence."

Setelah kita pelajari prediksi "next generation leadership," oleh Andy Stanley pun, ternyata esensi leadership masih tetap saja di 5 C [Character, Competence, Clarity, Courage, Coaching]. Hal inipun sudah dipraktekkan lama oleh legendaris Jack Welch, ex CEO GE di era 1981-2001, abad 20. Tak ada yang baru. Leadership tetaplah leadership, is the universal human art. Harvard Business School, at working knowledge for business leaders juga menggaris bawahi bahwa the essense of leadership nothing change, keep the influence works out well. 

Dan tambah yakin lagi, John Quincy Adams, yang eks president Amerika ke 6 di era 1825-1829, secara otodidak mewarisi the art of leadership yang sampai hari ini compatible, relevant dan up-to-date untuk current generation of political and business leaders. Pemikirannya diilhimi di era abad 19, yang bunyinya:  “If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.” [dari sinilah kemudian definisi followership dikenal dunia hingga hari ini].  

Last but not least, ada lagi pepatah kuno yang up-to-date : "Do not do to others what you do not want done to yourself" [Confucius, pemikir, filsuf, guru China kuno, era 400-500 th SM] yang sampai hari ini, pengaruhnya secara emotional dan spiritual tetaplah sama saja, karena it is a universal human ethics. Karena pengaruh Confucius yang sangat besar [dikenal juga sebagai Kong Fu Tze] di zaman dinasti Zhou dan negeri Lu itulah, ia dinobatkan sebagai nabi atas agama Kong Hu Cu [ajaran Konfusianisme] atau Kongcu yang dihormati sampai hari ini oleh pengikutnya sampai di Jepang, Korea, Vietnam. Ia mengajarkan ajaran jalan tengah [Tao] yang merupakan inti pokok dari semua pemikiran Cina. Menariknya, ajaran-ajaran itu tetaplah sama jika diaplikasikan dalam leadership hari ini. Di usia 51-55 tahun, Confucius juga pernah menjabat menjadi walikota, menteri PU, menteri kehakiman dan perdana menteri di zaman pemerintahan negeri Lu. Ia sudah mempraktekkan leadership di pemerintahan, terlebih di dunia spiritualisme. 

"Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others."
— Jack Welch


Gbu, tkb

Salam work & life balance [WLB]
Harry "uncommon" PurnamaMature Leadership Center [MLC]
Jumat, 6 Januari, 2012 21:46

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar