Jumat, 13 Januari 2012

Analogi Pensil

Oleh:  Nugraha AMijaya

Salam sukses dan bahagia selalu untuk kita,

Saudaraku yang budiman,

Manusia seperti sebatang pensil, Tuhan menciptakan manusia berdasarkan fungsi, sebagaimana sebatang pensil yang berfungsi sebagai alat tulis. Ya, kita adalah alat tulis kehidupan, yang mengukir sejarah peradaban.

Bentuk dan penampilan fisik kita sangat ditentukan oleh faktor genetika orang tua kita. Dan pensil dibuat dalam berbagai bentuk dan spesifikasi berdasarkan keinginan pemiliknya, seperti orang tua yang memiliki kita. Keberadaan kita, entah di lapisan ekonomi rendah, menengah atau tinggi, terpandang atau terhina, terdidik atau terbengkalai sangat dipengaruhi oleh cara pandang orang tua dalam mendidik kita. Sama halnya bagus atau tidaknya pensil tergantung dari perlakuan pemiliknya.

Pensil baru dapat digunakan jika telah diraut. Dan kita dapat berguna jika telah teruji dan terbukti mampu menorehkan kisah hidup yang baik, mampu melewati masalah dengan bijak.

Pensil akan terus diraut jika bagian hitamnya telah menipis. Dan kita akan terus diuji jika kemampuan dan pengetahuan kita belum memenuhi tuntutan lingkungan.

Pensil yang mudah patah, akan habis dalam rautan dan sedikit dapat menorehkan tulisan. Namun pensil yang baik, habis diraut karena banyak menorehkan tulisan. Demikian manusia, jika mudah patah semangat, maka waktu hidupannya akan habis meratapi ujian dan sedikit menorehkan cerita kehidupan. Berbeda dengan manusia yang baik, dia akan belajar dan menjalani ujian dengan cerita kehidupan yang panjang dan indah.

Pensil membutuhkan penghapus untuk mengoreksi kesalahan. Jikalau tidak ada penghapus, pensil dapat mencoret kesalahan namun meninggalkan bekas yang tidak enak dipandang. Apabila rasa tidak enak itu lebih tinggi, maka satu lembar kertas penuh coretan akan dirobek dan dibuang. Sehingga kita butuh waktu untuk mengulang kembali tulisan yang terbuang.

Penghapus dapat menghilangkan bekas kesalahan dan ruang kesalahan dapat diisi dengan tulisan yang benar, tanpa ada bagian dari lembar kertas yang hilang. Dan penghapus ada yang melekat pada batang pensil dan ada yang terpisah. Sama halnya kita mengoreksi kesalahan, kita butuh introspeksi diri dan kita butuh feedback orang lain.

Rautan tidak pernah melekat pada batang pensil. Rautan selalu terpisah. Dalam hidup, ujian dan cobaan datang dari lingkungan, entah dari orang tua, keluarga, sahabat, atasan atau bawahan. Ujian dan cobaan muncul karena ada tuntutan, jika kita menolak untuk memenuhi tuntutan itu, maka masalah yang timbul dan kita akan menghabiskan banyak energi untuk menghadapinya. Dan ternyata tuntutan tidak pernah ada kata cukup, sehingga kita harus terus mengimbanginya dengan pengembangan diri kita secara terus menerus.

Pensil membutuhkan media untuk menunjukkan goresannya, yaitu buku, entah buku tebal atau tipis. Dan buku itu akan menyimpan apapun tulisan yang tergores dari sebatang pensil. Dalam hidup, buku kita adalah keluarga, pekerjaan dan lingkungan. Goresan pensil adalah perilaku, keterampilan dan pengetahuan kita. Apapun cerita tentang anda di keluarga, pekerjaan dan lingkungan sangat bergantung pada perilaku (ucapan dan tindakan), keterampilan dan pengetahuan kita. Dan semua bergantung pada pola hidup kita, baik pola pikir, pola makan maupun pola tindakan.

Pensil yang baik, membutuhkan rautan yang tajam, penghapus yang bersih dan buku yang tidak mudah robek. Manusia yang baik, membutuhkan tuntutan yang terukur, orang-orang baik yang peduli memberikan feedback dan lingkungan yang mendukung kesempatan dirinya untuk tampil.

Semoga memberikan pencerahan kepada kita,

Salam inspirasi,

Nugraha AMIjaya
Senin, 9 Januari, 2012 01:57

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar