Senin, 09 Januari 2012

Score TOEFL dalam Perspektif Knowledge Management sebagai Manifestasi Human Capital Development

Oleh:  Ratmaya  Urip

Dear All,

Heboh pro-kontra Score TOEFL yang dipicu statement Gita Wiryawan dalam kapasitasnya sebagai Pejabat Publik, menurut saya perlu kita sikapi secara utuh dan komprehensif dari kajian Ilmu dan Aplikasi disiplin Ilmu Manajemen. Sebagai individu yang salah satunya mendalami Manajemen, maka saya berusaha menganalisisnya dari kajian Strategic Management, Human Capital Management, Operation and Maintenance Management, dsb.

Karena kalau kita melihat nilai TOEFL dari siapa yg melontarkan, atau posisinya dalam jabatan publik, pasti  akan banyak bias, karena rawan politisasi yg penuh intrik, untuk melanggengkan kekuasaan bagi incumbent maupun menggusur kekuasaan bagi yang ingin menggusur kekuasaan. Dalam politik itu sah-sah saja.

Contohnya jika isu Score TOEFL dilontarkan oleh Individu yg sedang dielu-elukan publik pasti beda responsnya, dibandingkan jika dihembuskan oleh pejabat publik yg sedang berkuasa, sementara kekuasaannya sendiri sedang dalam kritikan pedas, karena kinerjanya dipandang kurang memenuhi harapan publik. Sekalipun pejabat publiknya sebenarnya mungkin bertindak sesuai kaidah2 keilmuan.

Karena pada hakekatnya, benturan kepentingan itu akan selalu terjadi antara yang mapan versus yang tidak mapan secara ideologi, politik, ekonomi, budaya, hukum, dsb.

Itulah mengapa dalam forum milis ini, yg konon mengusung visi yg berkaitan dengan Manajemen ini, saya mencoba untuk menyodorkannya dalam Perspektif Manajemen di pusaran Ring 1 Ilmu Manajemen.

Semoga dapat menjadi alternatif kajian dan dapat diterima. Jika jauh dari kaidah2 keilmuan dan menggusur obyektifitas, mohon saya ditegur secara langsung. Supaya saya tahu kekurangan saya, untuk dapat saya perbaiki.

TOEFL SCORE DALAM PERSPEKTIF KNOWLEDGE MANAGEMENT

Bahasa Inggris adalah suatu Knowledge. Baik bagi native apalagi bagi yang non-native speakernya. Itu terbukti karena menjadi mata pelajaran atau mata kuliah di seluruh strata pendidikan di dunia ini, termasuk di Indonesia ini.

Sebagai Knowledge, Bahasa Inggris tentu saja ada kaidah2 yang telah ditetapkan bersama sebagai standar baku yg diakui secara luas. Di antaranya adalah menggunakan acuan TOEFL SCORE.

Mencapai nilai score Toefl yg tinggi mengindikasikan bahwa individu yang bersangkutan dianggap memiliki kompetensi yg baik. Asal dilakukan secara baik dan benar. Itupun ada penjenjangan bagi test-nya. Ada yg berkatagori International TOEFL Test yg hanya lembaga2 tertentu yg diakui utk dapat menyelenggarakan Test tsb. Ada yang di bawah kelas tsb, dsb.

Diakui atau tidak TOEFL TEST System sudah menjadi bagian dari Knowledge Management yg established. Sehingga dalam penerimaan tenaga kerja, dalam penerimaan mshasiswa, dsb, sering menjadi salah satu acuan keberterimaannya.

TOEFL SCORE DALAM PERSPEKTIF HUMAN CAPITAL MANAGEMENT

Bagi institusi yg ingin merekrut tenaga kerja, TOEFL SCORE yg tinggi merupakan advantage. Dengan score yg tinggi komunikasi yg baik dan benar akan mudah terjalin. Juga miss communication yg kadang berujung pada kegagalan goal and objective akan dapat dikurangi.

Bagi usaha yg berorientasi ekspor akan mempercepat proses. Bagi pejabat publik, khususnya yg interaksi internasionalnya tinggi akan memudahkan diplomasi dan penyerapan informasi. Mengingat Bahasa Inggris adalah Bahasa Dunia.

Dengan kata lain, Bahasa Inggris dengan standar tinggi akan menguntungkan bagi banyak stakeholder.

Mengapa tenaga kerja skilled dari Filipina, Malaysia, India, Singapura, laku keras di pasar kerja internasional, ya karena salah satunya memiliki komunikasi yg baik.

Penguasaan Bahasa Inggris yg baik yg sering direpresentasikan dengan Toefl Score, sangat mendulang Motivasi dan Kepercayaan Diri, sehingga membawa lebih ke pencapaian produktifitas.

Profesionalisme sering menambahkan Komunikasi berbahasa Inggris sebagai kriteria.

TOEFL SCORE DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN STRATEJIK

Stratejik sering kali berkonotasi "sustainable" dan "long term". Jadi kemampuan Bhs Inggris akan memberikan sustainability bagi banyak aktifitas, baik dalam Manajemen Bisnis maupun Manajemen Pelayanan Publik.

Tentu saja itu bukan satu-satunya. Namun mandatory untuk aktifitas internasional.

TOEFL SCORE DALAM PERSPEKTIF OPERATION and MAINTENANCE MANAGEMENT

Diakui atau tidak, kemampuan berbahasa Inggris yg standarisasinya adalah TOEFL SCORE, akan memuluskan Operasi kita dalam aktifitas2 kita, khususnya yg berorientasi internasional.
Begita pula dalam Maintenance-nya.

TOEFL SCORE DALAM PERSPEKTIF QUALITY, SAFETY, HEALTH AND MANAGEMENT (QSHE MANAGEMENT) AND RISK MANAGEMENT

Kemampuan untuk QSHE Management banyak didukung referensi2 dan manual2 berbahasa Inggris. Di bidang engineering kita berkutat dengan ASME, ASTM, ISO, API, ACI dan sebagainya. Saya tidak bisa membayangkan jika engineer tidak menguasainya.

Juga bagi Risk Management yg manual dan standar bakunya masih banyak yg berbahasa Inggris, memerlukan kemampuan Bhs Inggris yg prima.

TOEFL SCORE DALAM PERSPEKTIF EKONOMI

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini banyak didulang dari konsumsi dalam negeri (consumption-driven growth). Sementara dari Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment)  sangat memprihatinkan dibanding negara lain (Investment-driven growth). Juga dari Ekspor.
Padahal China menjadi Raksasa Ekonomi Dunia karena kemampuan dalam mendatangkan Investasi Asing Langsung dan Ekspornya. Para official dr China berlomba-lomba meningkatkan kapasitas profesionalisme mereka, yg salah satunya adalah kemampuan komunikasi Bhs Inggris mereka.

Maka ketika Gita Wiryawan menyampaikan ttg isu TOEFL SCORE, komentar saya satu2nya adalah "terlambat".
Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


KONKLUSI

Saya selalu menghindari opini dari perspektif politik praktis. Selalu beropini positip atau negatip hanya karena aksi atau reaksi yg disebabkan oleh adanya individu "siapa" atau posisinya dimana atau sebagai apa saat melontarkan trigger dari isu tertentu, hanya akan membuat kegaduhan politik yg penuh intrik atau kegaduhan publik yg tdk produktif.
Yang untung hanya media, karena semakin laku saja jualannya. Sementara rakyat jelata tidak menangguk apa-apa.
Yang berseberangan dengan pengumpan trigger biasanya nemberikan opini negatif. Sementara yg satu grup akan beropini positif. Karena hakekat friksi atau bahkan benturan, sebenarnya adalah benturan antara yg mapan vs yg mencoba merebut kemapanan. Atau sekurang2nya yg peduli vs yg anti terhadap kemapanan, khususnya jika kemapanannya tidak memberikan kontribusi bagi rakyat banyak. Atau syahwat politisi yg kebablasen vs nurani kenegarawanan.

Salam Manajemen

Ratmaya Urip
Rabu, 4 Januari, 2012 20:14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar