Kamis, 26 Januari 2012

Siapa yang curi tenda kita?

Oleh: Andre Vincent Wenas

“How do you know that you know the stuff you think you know? Take away the
option of answering, “I just do!” and what’s left is epistemology.”– Thomas
Cathcart & Daniel Klein

***

    Upaya pemerintahan Obama merangsang pasar dari sisi demand mulai
menggeliatkan industri otomotif dan perumahan di AS. Seperti laporan Bloomberg
yang dimuat The Jakarta Post (Sept 14, 2009, p.14) mengatakan, “The US
government’s auto trade-in program probably lifted retail sales in August to
their biggest gain in more than three years and boosted factory output.” Lalu
Brian Bethunem chief financial-economist di HIS Global Insight, menambahkan,“The
production recession is over and the housing recession is over. When you combine
those two, they add up to a fair amount of traction in the overall economy.”
Wallahuallam, semoga saja.

    Karena jika AS sebagai lokomotif ekonomi global sudah menunjukkan indikasi
sembuh dari flu beratnya, maka impuls-impuls kesegaran pun bisa diharap mulai
merayap sampai ke sini. Inilah salah satu konsekuensi globalisasi perekonomian
dunia (flow of information, flow of goods, flow of money & flow of people) yang
mengalami gerak perentangan dan sekaligus kompresi yang ekstrim, demarkasi
negara tak lagi dikenal.

***

    Anda pernah dengar humor ini: suatu kali detektif Sherlock Holmes dan
sobatnya Dr. Watson pergi camping ke gunung. Mereka tidur di dalam tenda. Tengah
malam, detektif Holmes terbangun lalu menyenggol Dr.Watson supaya bangun juga.
“Hei Watson,” ujarnya, “…lihat ke arah langit di atas, dan beri tahu aku apa
yang kau lihat dan pahami?” “Oh, aku melihat jutaan bintang, sobat Holmes,”
jawab Watson. “Dan, apa yang kau simpulkan dari pengamatan itu Watson?” lanjut
Holmes. Maka Dr. Watson pun merenung sejenak dan akhirnya menjawab, “Well,
secara astronomis artinya ada jutaan galaksi dan potensinya ada milyaran planet.
Kalau secara astrologis, aku melihat bahwa Saturnus ada di dalam Leo. Secara
Horologis, aku mendeduksikan bahwa waktu telah menunjukan jam 3 lewat 15 menit
pagi hari. Secara meteorologis, aku meramalkan bahwa esok adalah hari yang
cerah. Secara teologis, aku melihat bahwa Tuhan maha kuasa dan kita adalah
makhluk kecil tak berarti.” Dr.Watson mengambil napas kemudian balik bertanya,
“Lalu…eh, buat kau sendiri sobat Holmes, apa yang kau lihat dan pahami?” Dengan
singkat detektif Holmes menukas, “Watson, kamu bodoh betul! Artinya adalah,
seseorang telah mencuri tenda kita!”

***

    Sewaktu tembok Berlin runtuh (9 November 1989), terbongkarlah tembok
pembatas perbedaan ideologis blok Barat (dengan perangkat militer NATO) dengan
blok Timur (Pakta Warsawa). Namun, sewaktu Netscape go-public (9 Agustus 1995)
menandai mulainya revolusi arus informasi (via internet). Sejak itu nampaknya
pelbagai sekat penghambat arus informasi-barang-uang-orang dijebol dan
peredarannya semakin hari semakin lancar-bebas. Globalisasi, dari salah satu
perspektifnya, memang bisa juga dilihat dari sisi gerak atau arus-informasi
(yang semakin tumpah ruah), arus-barang yang telah terkontainerisasi dan masuk
jalur logistik (supply-chain) dunia (lewat laut, darat dan udara). Lalu,
arus-uang yang telah terdigitalisasi sehingga ‘the blinking-money’ ini bisa
merembes ke mana saja dan kapan saja tapi tidak oleh siapa saja. Akhirnya,
arus-orang yang terus bergerak (dalam rangka wisata, business-travel atau
migrasi ke negara lain yang lebih menjanjikan).

    Buat kita, tatkala pengelola arus informasi, misalnya Indosat beserta
anak-anak perusahaannya, diambil alih pihak asing, lalu jalur-jalur logistik dan
rantai-pasok barang semakin dikuasai perusahaan pelayaran, penerbangan, logistik
asing, artinya arus-informasi dan arus-barang kita telah terbuka dan
dioperasikan oleh entitas asing.

    Sekarang arus-uang. Dunia perbankan kita, dengan fungsi intermediasinya,
sebagian (besar?) juga telah dilakukan oleh pihak asing. Penetrasi bank-bank
asing ini luar biasa cerdiknya. Dengan menggandeng PT Pos Indonesia, maka
Citibank bakal punya akses usaha eceran perbankan lewat 3500 cabang di seluruh
Indonesia. ‘Sumpah Citibankers’ – bukan ‘sumpah Palapa’ – yang telah menyatukan
sistem intermediasi keuangan di Nusantara. Tentang arus-orang, fenomena yang
perlu direnungkan adalah, baik di tataran TKW/TKI maupun di level
eksekutif-profesional (ekspatriat) kita rada kedodoran bersaing dengan Filipina
dan India. Konon lantaran kompetensi komunikasi (termasuk berdebat) dalam bahasa
Inggris.

***

    Film The Great Debaters yang dibintangi Denzel Washington bercerita tentang
tim debat sebuah college kecil yang akhirnya menang kompetisi debat melawan team
Universitas Harvard yang legendaris.  Yang menarik adalah, kita melihat bahwa
kebiasaan berdebat, beradu argumentasi yang sehat adalah kebiasaan yang
mencerdaskan. Orang di latih untuk sportif, waspada, berpikir logis-runtut,
bisa mengambil jarak ontologis, dan terbiasa mempertanggungjawabkan
pengetahuannya secara epistemik. Disiplin epistemik ini imperatif bagi para
pengambil keputusan di organisasi pelat merah maupun partikelir. Jangan sampai
kita tidak (terlambat) sadar bahwa tenda kita ternyata sudah dicuri orang.

-------------------------------------------------
(Artikel ini pernah dikontribusikan ke Majalah MARKETING oleh Kontributor. Segala hal yang menyangkut sengketa atas Hak atas Kekayaan Intelektual menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh Kontributor)

Kamis, 19 Januari, 2012 06:17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar