Senin, 09 Januari 2012

Ketika Semua Saya Anggap Penting

Oleh:   Rahmadsyah Mind-Therapist

6 kebutuhan dasar 
Satu di antara 6 kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk dianggap penting (significant). Bahkan, ada pertanyaan pemberdayaan diri “Seberapa pentingkah saya?”. Saya yakin, banyak hal yang kita anggap penting dan tidak penting dalam hidup ini. Sehingga, dengan anggapan kita tersebut, saya dan Anda menemukan prioritas dalam hidup. Iyakan?
Tetapi, terkadang, anggapan penting tidak selamanya penting. Maksudnya? Tidak selamanya sesuatu yang kita anggap penting itu menjadi penting bagi kita. Karena, bisa jadi, itu hanya anggapan saja. Seperti dalam dunia yang saya geluti sebagai trainer dan penulis bebas. (Free writer).
Proyek penulisan Explore Your Potentials
Awal November 2011 lalu, saya memulai menjalankan project perdana menulis sebuah buku dalam format elektronik. Atau electronic book, yang sering kita sebut e-book. Saya menargetkan, e-book itu akan rampung dalam waktu tujuh hari. Ide menulis e-book ini datang, karena keinginan saya membagi artikel bagaimana cara saya menemukan potensi dalam diri
Setelah saya selesai menuliskannya, ada ide dalam diri saya, untuk menjadikan tips tersebut tertuang dalam format e-book. Begitu ide hadir, saya langsung mengeksekusinya. Ada peristiwa menarik yang terjadi, selama proses eksekusi ide tersebut. Sesuatu hal yang tak pernah saya jumpai dalam menulis artikel bebas, seperti yang sering saya lakukan sebelumnya.
Ide baru terus bermunculan
Sebagaimana saya ceritakan di atas. Saya meniatkan untuk menyelesaikan ide tersebut sacara tuntas, dalam waktu satu minggu. Karena tipsnya sederhana saja. Tapi, saya memiliki tantangan luar biasa dalam proses menuliskannya. Setiap ide saya tuangkan kedalam tulisan, ide-ide baru terus saja bermunculan. Sehingga, berakibat, deadline yang saya tentukan tujuh hari, sudah terlewati.
Sampai hari saya menuliskan note ini, 19 novmber 2011. E-book itu belum selesai. Karena, selalu ada saja ide hadir untuk menambah dan melengkapi. Saya menganggap, ide-ide tersebut penting dan akan sangat bagus bila saya masukkan dalam e-book tersebut. Dalam kacamata anugerah, saya sangat mensyukuri atas kehadiran ide-ide baru. Tetapi, dalam ruang produktiftas, saya mengira, ini tidaklah bagus. Karena, target yang saya rencanakan, terus mundur dan mundur.
Nasehat berharga
Akhirnya saya putuskan, menceritakan masalah saya ini kepada para penulis professional. Saat menuliskan note ini, saya sedang menanti dan menuggu nasehat bijak dari mereka. Sambil menanti jawaban, saya jadi teringat kata-kata senior saya di Tanthowi Yahya Public Speaking School. Bapak Bayu Murti saat kelas public speaking 1, di hotel Kartika Chandra.
Ada nafsu saat berbicara yang mesti kita jaga dan control, sebuah anggapan penting. Sehingga, kita terus menyampaikan-menyampaikan dan menyampaikan. Sementara, pendengar kita mungkin tidak membutuhkannya. Maka, sebagai pembicara kita harus bijak untuk memenej dan menyadarinya”.
Saya berpikir, mungkin, problem yang sedang saya hadapi sekarang adalah sama. Bila pak Bayu menjelaskan dalam konteks public speaking. Maka, kondisi saya sekarang adalah dalam hal menulis. Persis seperti yang sedang saya alami.
Kemudian, saya merenung sejenak dan membuka draft e-book saya. Serta ide-ide yang ingin saya tuangkan lagi. Saya pikir, saya harus bijak untuk memutuskan, mana yang wajar untuk saya tuangkan, dan pantas sebagai anggapan penting, tetapi tidak saya masukkan dalam e-book Explore Your Pontentials. Sehingga, mudah-mudahan e-book saya cepat selesai…
Pejaten Village Mall, 19 november 2011 

Catatan:  Artikel ini dikontribusikan oleh Kontributor ke milis The Managers Indonesia pada hari: Sabtu, 7 Januari, 2012 23:13

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar