Minggu, 08 Januari 2012

Dahlan Iskan dalam Perspektif Ekonomi & Manajemen (Seri-2)

 Oleh:  Ratmaya Urip

Pak Iming, Pak Liman, Pak Agus Waluyo, Bu Emmy Iriani, serta Bpk/Ibu yang lain,

Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Bagi yang suka pada suatu subyek/obyek pasti akan melebih-lebihkan kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Sedangkan bagi yang tidak suka pasti menutup-nutupi kelebihannya dan menonjolkan kekurangannya. Itu tergantung kepentingan masing-masing. Untuk obyektif dalam menilai diperlukan kebesaran jiwa dan kerendahan hati. Hati dan pikiran wajib dapat "sumeleh". Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau SARA. Bersikap sebagai negarawan bukan sebagai politisi.

Untuk selanjutnya, saya akan melanjutkan catatan saya tentang Dahlan Iskan, dari perspektif yang lain.

Saya hanya menyampaikan catatan saya selama mengamati sepak terjangnya selama beberapa tahun dalam suatu risalah yang saya namakan track record, bukan beropini, karena saya hanyalah pengamat, bukan apa-apa dan bukan siapa-siapanya Dahlan Iskan. Kepentingan saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu selama saya menggunakan seluruh pancaindra saya dalam kurun waktu yg menurut saya cukup untuk memberikan penilaian bagi seseorang yg saat ini sedang dalam sorotan, baik buat yang pro maupun yg kontra. Silakan menilai menurut nurani dan benak masing2. Saya tidak sedang beropini, maka saya berusaha utk seobyektif mungkin. Jika catatan saya ini tidak benar, mohon ditegur atau dikoreksi. Karena saya juga memiliki keterbatasan.
Terima kasih dan salam.

¤¤¤¤¤¤¤¤¤


DAHLAN ISKAN DALAM PERSPEKTIF EKONOMI DAN MANAJEMEN

Setelah saya sampaikan catatan saya tentang Dahlah Iskan dari Perspektif Antropologi dll, maka untuk berikutnya akan saya sampaikan analisis saya dari Perspektif Ekonomi & Manajemen sbb:


DAHLAN ISKAN DALAM PERSPEKTIF EKONOMI

Sejak rezim Orde Baru menguasai Republik ini pada tahun 1966, diakui atau tidak, rezim ekonominya adalah rezim kapitalis, dengan berkuasanya Mafia Berkeley. Hal tersebut berlanjut di Orde Reformasi. Meski rezim yang berkuasa selalu campur tangan di pasar, sehingga selalu berkilah, bukan murni kapitalis, karena ada campur tangan pemerintah terutama di sektor fiskal dan sektor moneter.

Kalau dicermati, pemerintah yg berkuasa menggunakan Western Style dalam kebijakan MONETER  maupun kebijakan FISKAL-nya. Lihat saja indikator2 Moneter/Makro selalu bermuara pada tingkat pertumbuhan an sich (tanpa aspek Pemerataan dan kesejahteraan), inflasi, suku bunga acuan, pasokan uang,  dll, di sektor Moneter. Serta subsidi, hutang luar negeri dan dalam negeri, penetapan harga komoditas strategis, defisit neraca, dsb.

Sementara di dunia  Usaha atau sektor Bisnis atau sektor RIIL, dominasi dipegang oleh Japan Style, dengan dominasi perusahaan berafiliasi ke Jepang di Indonesia, untuk manufacturing dengan dominasi bisnis kendaraan bermotor, alat berat,  elektronik, dll. Sementara untuk Agrobisnis, didominasi Western Style, dengan dominasi Produk gandum dan derivative-nya,  susu dan derivativenya, dll.

Saya mencoba untuk mengurai benang kusut "benturan" kebijakan yg berbeda style tersebut dalam suatu study khusus, yg mungkin saja merupakan salah satu penyebab atau kontributor bagi rendahnya competitiveness Indonesia di dunia internasional. Namun study-nya belum selesai, sehingga tidak layak jika saya sampaikan saat ini. Sampai kemudian muncul 2 (dua) style baru, yaitu China Style dan Malaysia Style.

Mengapa ini perlu saya sampaikan? Karena terkait pada fenomena, bahwa Dahlan Iskan dalam Perspektif Ekonomi, cenderung memiliki Style yang beda dengan pengelolaan kebijakan ekonomi dari rezim yg berkuasa yg selama ini menganut Western Style. Sementara dalam dunia usaha atau sektor RIIL, kebijakan atau pengelolaan bisnis yg banyak mendominasi di Indonesia, adalah Japan Style untuk manufacturing, electronics, heavy equipments, transport equipments, dll, serta Western Style utk Agrobisnis, seperti Gandum dan derivatifnya, peternakan dan derivatifnya, dll.

Dahlan Iskan, saya catat memiliki aliran China Style.
Karena interaksinya yg panjang dengan gaya manajemen China selama ini.

Catatan: Tentang berbagai Style ini, coba simak kembali artikel2 saya sebelum ini, di Blog;

http://themanagers.org


Perlu diketahui, dalam pengelolaan ekonomi dikenal apa yg disebut sebagai Kebijakan di Sektor Moneter, Sektor Fiskal dan Sektor Riil. Yang jika diperlukan akan saya bahas secara khusus, di lain kesempatan, di luar thread ini.

Sebagai salah satu pemegang  otoritas di sektor RIIL, karena sebagai Menteri BUMN (Kementerian Teknis), Dahlan Iskan yang saya katagorikan sebagai penganut China Style, saya duga akan sering terjadi benturan kebijakan dengan pemegang otoritas di sektor Moneter maupun sektor Fiskal lainnya (meski ada peran Dahlan Iskan di Sektor Fiskal).

Tentang Western Style dan Japan Style, tdk hanya berkembang dalam korporasi atau dunia manajemen  saja namun juga dalam pengelolaan ekonomi negara.

Dalam aktifitas korporasi atau dunia manajemen, Western Style dan Japan Style telah mendominasi ekonomi dunia selama lebih dari satu abad. Dibuktikan dengan dominasinya dalam Fortune 500 Global. Namun sejak krisis ekonomi 1998 dan 2008 yang berlanjut sampai saat ini, keduanya rontok terhantam China Style dan Malaysia Style.

Dengan munculnya bak meteor Dahlan Iskan (China Style), dalam percaturan Moneter, Fiskal dan terutama  Sektor Riil dlm aktifitas ekonomi di Indonesia, bukan tidak mungkin akan terjadi hambatan dari penganut Japan Style dan Western Style di Indonesia.
Dengan kata lain, dimungkinkan adanya hambatan dari pihak2 yg merasa kepentingan bisnisnya akan terganggu


(BERSAMBUNG)

(Tentang Western Style, Japan Style, dan China Style, saya persilakan mengintip kembali artikel2 saya sebelumnya. Sedang tentang Malaysia Style, akan saya sampaikan kemudian.

Analisis berikutnya, yaitu:

"Dahlan Iskan  dalam Perpektif Manajemen", dan

"Dahlan Iskan dalam Perspektif Leadership & Followership", mohon ditunggu).


Salam Manajemen

Ratmaya Urip
Senin, 2 Januari, 2012 01:50

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar